Jika dalam sekejap aku punya uang 200 Miliar,
"Aku akan buktikan pada semua orang yang sudah menghinaku, mengusirku, dan orang-orang yang sudah merendahkanku. Aku akan mengatakan pada mereka semua, jika aku yang sekarang bukanlah Aryo yang dulu. Aryo yang miskin dan tidak punya apa-apa." Aryo menatap tajam ke arah cermin yang memantulkan bayangan dirinya.
"Masih lekat dalam ingatanku, bagaimana dia mengusirku dan memaksaku untuk bercerai dengan Rara." Terlihat dengan jelas sorot mata yang menyiratkan dendam dan kebencian.
Aryo merapikan jasnya, lalu berjalan ke luar dari kamarnya.
Sudah beberapa tahun berlalu, dan atas kerja kerasnya selama ini, Aryo mendapat penghargaan dari kantor tempatnya bekerja. Dia mendapat banyak fasilitas dan kemewahan. Rumah mewah, mobil mewah, dan uang sebanyak dua ratus milyar.
Malam ini, untuk membalas rasa sakitnya, Aryo mengundang semua orang yang dulu pernah menghinanya termasuk keluarga besar mantan istrinya ke acara pertunangannya.
Acara diadakan di hotel berbintang dengan dekorasi yang super mewah.
"Sayang," sebut Aryo pada tunangannya.
"Kamu kok baru datang sih, para tamu sudah hadir loh." Dona menyambut kedatangan Aryo di gedung itu dengan omelan.
"Aku baru datang, kamu udah ngomel aja." Goda Aryo.
Acara pun dimulai,
"Selamat malam semua, selamat datang di acara pertunangan saya malam ini. Di samping saya sudah berdiri sosok wanita yang sangat cantik, dialah yang selama ini mensuport saya untuk tetap semangat menghadapi hinaan orang. Dia yang selalu ada dari saya masih seorang gembel hingga sekarang." Tutur Aryo.
"Terima kasih sayang, kamu sudah menemaniku selama ini. Di saat orang-orang menghinaku karena aku miskin, kamu menghiburku. Di saat orang-orang mengusirku karena aku tidak punya apa-apa, kamu datang padaku dan bersedia menjadi teman hidupku." Ucap Aryo lalu memasangkan cincin berlian yang cantik ke jari manis Dona.
Acara demi acara berlangsung, hingga di penghujung acara para tamu berpamitan.
"Aryo, maafkan ibu ya karena dulu sudah berbuat jahat sama kamu. Saat itu ibu hanya bercanda, ibu nggak nyangka kamu menanggapinya dengan seriu." Tutur mantan ibu mertua Aryo.
"Mas, dari dulu hingga kini aku masih mencintaimu." Ucap Rara.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku, tapi maaf aku sudah punya pengganti dirimu." kata Aryo dengan dingin.
Beberapa minggu setelah acara pertunangan,
Aryo sedang berada di pusat perbelanjaan, meski sudah kaya dan banyak uang, Aryo tetap seperti biasa. Dia tetap bersikap seperti dulu saat dia masih hidup susah. Dia tetap rendah hati dan dermawan, kecuali pada satu keluarga, yaitu keluarga besar mantan istrinya.
"Mas Aryo," ada yang memanggil Aryo dari arah belakang.
"Ah, ternyata aku benar, kamu adalah mas Aryo. Meski sudah lama berpisah aku masih bisa mengenalimu." Tutur Rara sang mantan istri dengan wajah berbinar.
Aryo tidak menghiraukan Rara sama sekali, dia tetap melakukan aktifitas awalnya, mengambil barang yang dia butuhkan di rak dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan.
"Mas, apakah tidak ada kesempatan lagi untuk kita kembali bersatu." Ucapan Rara mampu menghentikan langkah kaki Aryo.
"Apa aku tidak salah dengar? Kamu pikir aku mau rujuk denganmu setelah apa yang dilakukan oleh keluargamu padaku? Apa karena sekarang aku seorang milyarder kamu meminta kita untuk rujuk?" Aryo menyerang Rara dengan banyak pertanyaan yang mampu membuat mulut mantan istrinya bungkam.
"Maafkan aku, Mas. Semua itu salah ibu," ucap Rara.
"Sudahlah, Ra. Aku sangat berterima kasih karena dulu kamu dan keluargamu sudah menghinaku. Aku sadar dan mulai bangkit, aku ingin membuktikan bahwa aku pasti berubah. Roda terus berputar dan sekarang aku punya segalanya. Itu semua berkat hinaan dan ejekan dari keluargamu," ucap Aryo lalu pergi meninggalkan Rara bersama sejuta penyesalan di hati mantan istrinya itu.
Selesai belanja Aryo langsung pulang menuju rumahnya, dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Maafkan aku, Ra. Jujur hingga saat ini aku masih mencintaimu. Tapi, luka yang di torehkan oleh keluargamu lebih sakit dan dalam dari rasa cinta ini. Aku tidak membencimu, aku hanya menyesal kenapa aku dulu tidak sekaya sekarang. Andai saja dulu aku punya uang, mungkin ini tidak akan terjadi. Kita tidak akan berpisah dan menyisakan kebencian yang teramat dalam di hatiku." Monolog Aryo.
Sesampainya di rumah Aryo memarkirkan mobil mewahnya di garasi, dia membawa barang belanjaannya masuk ke dalam rumah.
"Sayang, kamu ada di sini?" Aryo kaget saat melihat Dona ada di rumahnya.
"Aku tidak sengaja lewat dan aku mampir," jawab Dona.
Aryo meletakkan barang belanjaannya di meja lalu duduk di sofa.
"Ada perlu apa?" tanya Aryo, dia tahu pasti Dona datang karena ada hal yang penting.
"Ibu dan Ayah ingin pernikahan kita di percepat," jawab Dona sambil memandang wajah Aryo.
"Baiklah kalo itu mau ayah dan ibu. Jadi, konsep apa yang kamu inginkan untuk pernikahan kita?" tanya Aryo pada calon istrinya.
"Acara yang sederhana saja, yang penting pernikahan kita sah di mata hukum, negara, dan agama." Jawaban Dona membuat Aryo mengerutkan keningnya.
"Aku punya uang, aku punya segalanya dan itu berkat dirimu. Kenapa kamu malah meminta acara yang sederhana?" Aryo terlihat bingung.
"Aku tahu kamu banyak uang, tapi bukan berarti uang itu kita hambur-hamburkan. Lebih baik uang itu kita tabung untuk bekal kita di masa depan." Tutur Dona.
"Apa ayah dan ibu setuju?" tanya Aryo dan Dona pun mengangguk.
Di hari pernikahan,
Seperti yang telah disepakati bersama, acara pernikahan digelar sesederhana mungkin. Tujuan pernikahan adalah membina rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Tidak perlu pesta mewah dan wah untuk sebuah pernikahan.
"Kini kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri, kami harap kalian bisa saling melengkapi satu sama lain. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Kalian sudah pernah melewati kesulitan bersama dan kini nikmatilah hasil dari jerih payah kalian." Tutur ayah Dona.
"Terima kasih Ayah, Ibu." Ucap Aryo pada kedua orang tua Dona.
Di malam pengantin, ketika dua insan sedang bergulat saling mencurahkan rasa cintanya, ada yang menangis sedih dengan sejuta penyesalan. Dia adalah Rara.
Rara berdiri di luar pagar rumah Aryo sambil menatap ke sebuah kamar. Kamar yang lampunya tidak dimatikan. Dari situ Rara bisa melihat bayangan dua orang sedang bercumbu sambil berdiri di dekat jendela.
Tetesan air mata membanjiri wajahnya, pedih yang dia rasakan. Dulu, dia yang ada di pelukan Aryo, meneguk kenikmatan bersama lelaki itu. Tapi, kini sang suami sudah berpindah hati dan berpindah ke pelukan wanita lain. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali, yang ada hanya penyesalan dan air mata Rara.