Micha Erissca, kerap kali disebut dengan panggilan Chacha. Micha adalah gadis SMA Negeri yang duduk di bangku kelas 12, ia cantik, berkuncir dua, berkacamata, pintar, baik, dan memiliki proporsi tubuh yang cukup ideal. Walaupun begitu, Micha seringkali diejek oleh teman sekelasnya, bahwa penampilan dirinya terlihat lusuh, atau sering disebut dengan sebutan cupu. Lalu, teman-temannya mengatakan kalau Micha tidak akan punya pacar, dan hal itu karena Micha tidak pandai dalam memilih dan memakai style yang bagus seperti gadis remaja lainnya.
Wajar saja jika Micha tidak mengerti mengenai fashion, sebab Micha lebih fokus terhadap buku-buku pelajarannya dan fokus kepada ujian yang akan datang. Penampilan Micha memang terlihat biasa saja, namun tidak dengan otaknya. seringkali mendapati peringkat nomor satu di kelasnya, dan bahkan Micha juga sering memenangi olimpiade sains tingkat Nasional.
Meskipun begitu, Micha tak cukup gembira dengan apa yang sudah ia raih seperti ranking, medali dan piala. Micha merasa sedih karena ia sama sekali tidak mempunyai teman di kelasnya, karena mereka semua menjauhi dirinya.
Pada suatu hari, Micha duduk di bangkunya sembari menulis sesuatu di buku catatannya. Kemudian, ada tiga orang gadis yang tiba-tiba menghampiri Micha, yang tak lain mereka adalah gadis yang memperkirakan bahwa Micha tidak akan memiliki seorang pacar karena penampilannya yang begitu lusuh. Ketiga gadis itu bernama Diana, Tarri, dan Mona.
“Hey cupu,” sapa Diana sambil duduk di meja Micha seraya melipatkan kedua tangannya didepan dada. Namun, sapaannya sama sekali tidak dijawab oleh Micha.
“Udah dong jangan liat buku mulu elah! Lo tuh udah pinter, jadi gak perlu belajar!” Tarri menutup buku Micha dengan sangat kasar.
“Biasa Ri, dia kan cupu! Bisanya ngeliat buku terus, sampe gak sempet liat dirinya sendiri di cermin HAHA.” Ejek Diana.
Brak!
Micha menggebrak meja, dan beranjak dari duduknya. Lalu, menatap Diana dengan tatapan sinis.
“Justru itu, gue belajar biar tambah pinter. Kalian pinter aja engga, belajar juga engga? Wohoww...” balas Micha sembari bertepuk tangan.
“What?! Lo-” Ucapan Diana terpotong oleh pacarnya yang tiba-tiba datang memasuki kelas.
“Ada ribut-ribut apa nih?” tanya pacar Diana, yang bernama Aldo.
“Sayanggg, dia nya tuh! Masa dia nyentak aku sih, terus dia bilang kalo aku bodoh.” Rengek Diana kepada Aldo, sambil menggengam tangan Aldo.
“Eh gue gak bilang kalo lo bodoh ya,” ucap Micha.
“Halah, gausah banyak bacot deh lo!” Mona mendorong Micha hingga jatuh terduduk.
“Udah yuk, kita ke kantin aja. Yuk sayang,” ajak Diana.
Diana dan Aldo, serta kedua temannya pun pergi meninggalkan Micha. Disisi lain, ada seekor kucing yang dari tadi sedang mengintip dari jendela Micha. Tak lain, kucing itu adalah kucing peliharaan milik micha.
“Mioww...” tampak kucing tersebut terlihat sedih melihat keadaan majikannya yang diperlakukan seperti itu.
’Kasian juga majikan gua,’ batin kucing tersebut.
Malam harinya, Micha terbaring di ranjang sembari menatap langit-langit kamar. Kini ia sedang meratapi hidupnya yang penuh dengan kesederhanaan. Micha juga ingin hidup seperti remaja lainnya yang berpenampilan cantik dan berpakaian keren, tetapi ia tidak memiliki uang untuk membeli semua pakaian bagus. Sehari-harinya, Micha hanya memakai kaos polos dan hoodie.
Setelah memikirkan hal tersebut, Micha pun terpejam sejenak. Tiba-tiba, kucingnya yang bernama Jeon itu menghampiri Micha dan menjilati pipinya.
“Meoww...”
‘Gua lapar anjrit,’ batin Jeon.
“Hemm, Jeon lapar ya? Bentar ya, Chacha ambilin makan dulu.”
“Meoww! Meoww...”
‘Yaudah sono, yang banyak ngasih makannya! Jangan irit-iritan napa.”
Micha pun telah menyiapkan makanan untuk sang kucing, ia pun berjongkok sembari menatap ke arah nya yang sedang menyantap makanan.
“Jeon,” panggil Micha.
“Grrrr...” Jeon mendengkur. Namun, dalam hati Jeon ia berucap. ‘Naon?’
“Aku... gak tau lagi mau cerita sama siapa, temen aja gak punya. Apalagi orang tua,” ucap Micha. Selama ini, Micha tinggal sebatang kara di sebuah rumah kecil peninggalan kedua orangtuanya.
“Nyawww!”
‘Jangan ngajak gua sedih sekarang, gua lagi makan njir.’
“Aku cerita sama Jeon aja boleh ya? Tapi tunggu kamu beres makan dulu,” ucap Micha.
“Meow meow!!”
‘Nah gitu dong! Peka bet dah majikan gua.’
Lalu, makanan Jeon pun telah habis dan Micha langsung menggendongnya kemudian dibawa keatas ranjang. Setelah itu, Micha pun menceritakan semua keluh kesahnya kepada kucing peliharaan miliknya mengenai apa yang terjadi disekolah dan lingkungannya. Padahal, Jeon telah mengetahui semuanya mengenai apa yang dihadapi oleh Micha selama ini.
Selain itu, Jeon merasa bersalah karena telah merepotkan Micha atas kehadirannya. Kemudian, beberapa ucapan terlintas begitu saja dalam pikiran Jeon. ‘Andai gua jadi manusia, pasti lu udah gua jadiin pacar. Lu itu beda dari yang lain, lu perhatian, lu juga baik bangett sampe dengan senang hati lu ngebersihin bekas berak gua and ngurusin gua supaya gua bertahan hidup.’
‘Gua gak bakal tinggal diem, gua harus bertindak buat bikin temen-temen lu berhenti gangguin lu. Tapi... caranya gimana? Badan gua aja kecil, mana bisa gua lawan mereka yang segede titan.’ batin Jeon.
Lalu, tiba-tiba saja Micha pun ikut berandai-andai seperti Jeon. “Andaikan penampilan gue secantik cewek-cewek lain, terus gue punya pacar. Pfft, kayanya mustahil.”
“Meoww!!”
‘Lu jangan punya pacar dulu anjir! Tungguin gua jadi manusia, walau gak mungkin. Tapi seenggaknya lu langsung nikah aja, gua ikhlas kok dibanding lu pacaran. Gua gak mau lu sakit hati kaya cewek-cewek lainnya.’
“Meooww?”
‘Oh iya, kaya gimana ya kalo gua jadi manusia? Bakal ganteng gak ya? Pasti lah ya, jadi kucing aja gua udah cakep gini. Apalagi jadi manusia? Aghrr kenapa tiba-tiba ngehalu kaya gini? Seumur hidup gua selama jadi kucing perasaan gua gak pernah ngehalu kaya gini.’
“Nyaw? GrrRrr.”
‘Lah? Dah tidur ni majikan? Btw, cantik juga ya majikan gua.’
Tanpa disadari, Jeon pun ikut tertidur di pelukan Micha. Hingga pagi hari telah tiba...
“AAAAAAAAAAAA!!!!” jerit Micha, ia terkejut dengan keberadaan seorang pria tanpa baju yang tengah tertidur disampingnya.
“AAAAAAA!!” pria itu ikut berteriak.
Lalu, Micha langsung beranjak dari ranjang nya dan berlari ke pojok ruangan sambil menutup matanya.
“Eh majikan! Lu kenapa? Ada apa?” Ternyata, pria itu adalah Jeon.
“M-majikan?!” kejut Micha.
“Iya, majikan.” Balas Jeon.
“Eh, LAHH?!” kejut Jeon.
“Aaa tes aa ii uu, loh kok bukan meong?!” heran Jeon.
“Ha?! Apaan sih lo?! Lo maling yaa?! Ngaku!!!” panik Micha.
“Lah? Ini gua, Jeon.”
“Gak, gak mungkin!! Jeon itu kucing lucu, bukan manusia telanjang kek gini. Y-yaa, gak telanjang sih... lo pake kolor doang.”
“Eh iyaa, kenapa gua berubah?! Jangan-jangan... harapan gua tadi malem terkabul?!”
“Apaan sih lo?! Udah sana keluar!!” teriak Micha.
“Iya! Gua harus keluar dari kamar ini, minjem baju lu ya!!” Jeon mengambil baju dan celana dari lemari Micha dan bergegas keluar dari kamar Micha. Lalu, segera pergi ke kamar mandi.
“Eh lo ngapain? Gak sopan banget tau gak?!”
“Minjem dulu yaaa majikan kuu,” ujar Jeon.
“Apaan sih majikan majikan??” heran Micha.
“Apa dia...?” Micha mulai curiga.
Beberapa menit kemudian, Micha berteriak mencari Jeon. “Jeonn!” panggil Micha.
“Ha?! Iya majikaann, gua baru beres ganti baju.” Sahut Jeon sembari menghampiri Micha.
“What?! Kok lo yang nyaut?”
“Ya... karena gua Jeon.”
“Gak, gak mungkin.” Micha menggelengkan kepalanya.
“Dua hari yang lalu, lu ngajak gue ke toko makanan hewan. Tapi lu balik lagi, karena makanan disana mahal mahal. Masih kaga percaya?”
Ucapan Jeon itu membuat Micha membulatkan matanya yang menandakan ia sangat terkejut dengan ucapannya, karena yang di ucapkan oleh Jeon itu benar. Pada akhirnya, mereka berdua duduk bersampingan di atas ranjang.
“Jadi, apa bener lo Jeon?” tanya Micha.
“Iya lah.”
“Tapi kenapa lo berubah jadi manusia?!” Micha keheranan.
“Gua juga gak tau.”
Ternyata, Jeon adalah seekor kucing yang terkutuk. Dahulu, ia berbuat kesalahan di Negeri kucing dan di kutuk menjadi seekor kucing yang berpemikiran seperti manusia. Saat itu, Jeon dibuang ke sebuah Negeri yang dimana banyak sekali manusia disana. Lalu, Jeon dipertemukan dengan Micha saat Jeon terbaring lemas di pinggir jalan karena ia sangat kelaparan. Micha pun langsung membawa Jeon dan merawatnya, hingga sampai saat ini.
Lalu, Jeon akan dikutuk menjadi seorang manusia seutuhnya jika sudah jatuh cinta terhadap manusia. Tetapi, sikap Jeon sebagai kucing belum hilang dengan sempurnanya.
“Kayanya lo emang Jeon deh,” guman Micha.
“Ya memangg!” sahut Jeon.
“Tapi ini gak masuk akal bangettt,” lanjut Micha.
“Ya masukin ajaa atuh Cha!” sentak Jeon.
“Kok lu nyentak gue?!”
“Eh, ampun majikan.” Jeon menundukkan kepalanya.
“Lo beneran Jeon?!” Micha menatap wajah Jeon. Lalu, Jeon mencubit kedua pipi Micha.
“Iyaaa majikannn,” balas Jeon.
“K-kok? Ganteng,” gumam Micha.
“Euhmm! Hari ini hari sabtu, mumpung libur sekolah... gue mau cari kerja part time.” Ucap Micha.
“Gak boleh, mulai hari ini... gua yang jagain lu, rawat lu, and kerja buat lu.” Cegah Jeon.
“Ha?” heran Micha.
“Udah, lu diem aja dirumah tunggu gua balik.” Jeon pun pergi keluar untuk mencari uang demi sang majikan.
Dua hari kemudian, tiba lah hari dimana Micha kembali ke sekolah. Pada saat ini, Micha tinggal bersama Jeon yang telah berubah menjadi seorang manusia. Kini, Jeon tidur disebuah sofa ruang tamu, karena tidak memungkinkan jika ia tetap tidur bersama Micha.
Jeon dan Micha terlihat sedang sarapan bersama di meja makan. Mereka berdua sedang membahas tentang pekerjaan yang didapat oleh Jeon, tampak Jeon begitu senang saat mendapat pekerjaannya. Yang tak lain pekerjaan nya ialah seorang nelayan, kebetulan posisi daerah Micha sangat dekat dengan lautan.
Jeon memancing ikan tanpa alat pancingan, ia mengambil ikan-ikan tersebut memakai tangannya sendiri. Entah trik apa yang ia gunakan, tapi memang begitu kenyataanya. Lalu, Jeon juga mendapatkan banyak ikan dan banyak uang dari hasil kerja kerasnya.
Saat di meja makan, Jeon memberikan amplop berisi uang sejumlah 5 juta. Ia dapatkan bukan dari hasil menjadi nelayan saja, Jeon bekerja serabutan kesana kemari hanya untuk mendapatkan uang banyak. Namun meski begitu, Jeon sama sekali tidak merasa lelah karena nalurinya yang masih sama seperti seekor kucing.
Micha pun menolak uang yang diberikan oleh Jeon kepadanya, karena itu adalah hasil jerih payah Jeon. Lalu, Jeon pun menjelaskan bahwa ia berkerja bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang majikan tercinta. Yaitu, Micha.
Mendengar penjelasan Jeon, seketika membuat Micha menjadi terharu, dan rasanya ingin memeluk Jeon dengan erat. Namun, kini ia menyadari bahwa Jeon bukan lagi seekor kucing. Pada akhirnya, Micha menghargai hasil kerja keras Jeon, dan ia menerima uang tersebut.
“Eh, gue kesiangan! Gue berangkat dulu ya!” Micha pun pergi ke sekolah, dan meninggalkan Jeon sendirian dirumahnya.
“Gemess banget calon pacar,” gumam Jeon sambil tersenyum.
Setibanya di sekolah, lagi-lagi Micha diganggu oleh geng Diana. Kini mereka bertiga mengambil ponsel Micha yang tergeletak di atas meja, lalu Diana menatap layar ponsel tersebut, dan menampakkan seorang pria tampan yang dijadikan wallpaper ponsel Micha. Tak lain, pria itu adalah Jeon. Sebelumnya, Jeon menjahili Micha dan memasang wallpaper ponsel Micha dengan foto dirinya, dan Micha juga telah mengetahui hal tersebut. Namun, Micha kelupaan untuk mengubah wallpaper nya, karena ia sama sekali tak sempat untuk membuka ponselnya.
“Woah, ganteng bangett!” kagum Diana.
“Siapa tuh?!” tanya Mona.
“Gatau nih,” sahut Diana.
“Gak mungkin kalo itu pacar dia, masa orang seganteng itu mau pacaran sama cewek miskin and dekil.” Sindir Tarri.
“Iya juga, apa jangan-jangan... lo pelakor?!” tuduh Diana.
“Parahhh anjir!!” umpat Mona.
“Apaan sih lo pada.” Micha merebut kembali ponselnya, yang sebelumnya digenggam oleh Diana.
“Terus siapa? Jelasin dong, dia siapa?” paksa Tarri.
“Dia...” bingung Micha.
“Tuh kan, lo pasti pelako-”
“Dia pacar gue.” Sela Micha.
“What?!” kejut ketiganya dengan serentak.
“Gak percaya gue, kalo beneran dia pacar lo. Coba suruh dia jemput lo di gerbang, and kita bakal ke gerbang bareng buat mastiin.” Ucap Diana.
“Ha?” kejut Micha.
‘Gawat gue!’ batin Micha.
Sepulang sekolah, Tarri dan Mona merangkul Micha dan mengajak nya untuk segera pergi ke gerbang sekolah bersama. Begitu juga dengan Diana, ia menyeringai dan tak percaya jika pria yang ada dalam wallpaper ponselnya itu adalah pacar Micha.
Micha pun berjalan bersama mereka bertiga menuju gerbang depan, raut wajah Micha terlihat sangat cemas karena yang ia katakan sebelumnya itu hanya bohongan.
“Emmm, kalian.” Panggil Micha.
“Kenapa?” sahut Mona.
“Eh, gak jadi.” Ujar Micha.
“Ngapain manggil kalo gak jadi,” ketus Tarri.
Micha menunduk.
“Mana nih pacar lo? Kok kaga dateng?” tanya Diana.
“Bohong lo yaa?!” sambung Mona.
“Apaan s-”
Ucapan Micha tersela oleh mobil yang tiba-tiba datang ke hadapannya. Mobil tersebut berwarna merah cerah, dan terlihat sangat mewah. Lalu, dari mobil itu keluar seorang pria tampan yang memakai style seperti seorang model. Ternyata, pria itu ialah Jeon, sontak membuat Diana dan kedua temannya melongo melihat Jeon, begitu juga dengan Micha.
“Hai sayangg, nunggu lama ya? Maaf yaa, tadi aku kejebak macet jadi lama deh nyampe sini nya.” Ujar Jeon, sambil merangkul Micha.
“L-lo...?” heran Diana.
“Kenapa? Gua? Gua pacarnya Micha, gak heran sih gua pacaran sama dia. Karena Micha tuh beda dari yang lain, dia punya hati yang baik, lembut, penyayang, terkadang humoris, dan... dia juga cantik.” Ucap Jeon, seraya memuji Micha.
“Gak usah berlebihan,” bisik Micha kepada Jeon.
“Huh... heran banget ada orang yang bilang cewek gua cupu? Lusuh? Kira-kira, mata mereka dikemanain ya?” Sindir Jeon, sambil menatap wajah Micha seraya tersenyum.
“Yaudah dehh, kita gak ada waktu lagi nih bentar lagi makan siang. Bye,” pamit Jeon sambil menuntun Micha dan membukakan pintu mobil untuk Micha.
“Gilaaaa, cowok nya lebih ganteng dari yang di foto.” Kagum Mona.
“Gak mungkin! Pasti itu cowok bayaran.” Ucap Diana.
“Iri mah iri atuh, cowok lo kalah tuh sama cowok si culun!” ledek Mona.
“Kurang ajar lo!” kesal Diana.
***
Di keberadaan Micha dan Jeon...
“Jeon, kok lo bisa tau situasi gue tadi?” heran Micha.
“Gak tau, insting aja sih.” Balas Jeon, sambil memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.
“Terus ini mobil siapa? Itu, baju sama jaket nya lo dapet darimana?” tanya Micha.
“Mobil sih gua sewa hehe, kalo pakaian gua beli pake uang sendiri kok. Jadi uang yang 5 juta tadi gua simpen aja buat lu.” Jawab Jeon.
“What?! Lo dapet uang secepet ini darimana?” heran Micha.
“Tadi di pinggir jalan, gua liat ada konten lomba makan ikan terbanyak and yang menang nanti dapet 7 juta. Yaudah tuh gua ikutan, and... gua menang HEHE,” balas Jeon.
“AHAHAH, gue lupa kalo lo itu kucing.” Tawa Micha.
“Heheee.” Jeon tersenyum sembari menggaruk kepalanya.
“Tapi lo keren sihh langsung bisa ngendarain mobil,” puji Micha.
“Gua bisa semuanya,” sahut Jeon.
“Terus, ini kenapa berhenti? Kenapa gak maju?” tanya Micha.
“Sebenernya ada hal yang mau gua omongin,” ucap Jeon.
“Apa tuh?” Micha penasaran.
“Gua suka sama lu.”
Seketika suasana berubah menjadi hening dan jantung Micha berdebar kencang. Jeon dan Micha pun saling bertatapan tanpa berkedip.
“Ha? Apaan sih Jeon?”
“Gua serius, saat gua masih jadi kucing juga gua udah ada rasa sama lu. Tapi dari hari ke hari gua makin tertarik sama lu, lu sering perlakuin gua dengan baik, pengertian, perhatian, bahkan lu sering bikin gua seneng dan ngerasa jadi kucing yang paling beruntung diantara kucing lainnya.” Ucap Jeon.
“Sekarang, gua mau gantiin posisi lu. Posisi yang dimana dulunya lu ngelindungin gua, jagain gua, and sekarang... gua yang bakal jadi pelindung hidup lu, jagain lu dimanapun dan kapanpun itu.” Tambah Jeon, dengan sangat serius.
“So... sekarang lu jadi milik gua, mulai detik ini lu jadi pacar gua. Gak ada penolakan,” ujar Jeon, sambil mendekat ke wajah Micha. Setelah itu, ia langsung mencium bibir Micha dengan sekilas.
Sontak membuat Micha membulatkan matanya dan sangat terkejut dengan apa yang dikatakan dan dilakukan Jeon. Tanpa berpikir panjang lagi, Micha pun langsung mencium pipi Jeon sambil tersenyum.
“Apa nih?!” kejut Jeon.
“Lu... beneran jadi pacar gua nih?” tanya Jeon.
Micha pun tersenyum dan mengangguk-angguk.
“Gak ada penolakan kan? Lagian aku juga gak bakal nolak,” ujar Micha.
“AAAAAA, sayangggg!!” Jeon gembira, ia pun tak henti-hentinya bergerak-gerak kegirangan sambil menyalakan mobilnya dan menekan-nekan klakson mobil.
“Heh! Jangan berisik, nanti orang lain marah.” Usul Micha.
“Oh ya, maapp babee aku terlalu senenggg!!” teriak Jeon.
“AHAHAHAH, aku juga senengggg!!” balas Micha sembari berteriak juga.
“Cium lagi donggg, uummmm!!!” Jeon pun memanyunkan bibirnya sendiri, sembari menghadap ke arah Micha.
“Ih apaan sih! Udah ayok maju-in mobilnya.”
“Oke oke! Kita mau kemana nih?? Ke taman? Atau ke danau? Atau kita makan?!” tanya Jeon dengan bersemangat.
“Oh! Mending makan aja gak sih? Kamu belom makan siang kan?” lanjut Jeon.
“He'em ayok!” Micha mengiyakan ajakan Jeon.
“Tapiii... aku liatin kamu makan aja deh, soalnya aku dah kenyangg sama ikan.” Ujar Jeon.
“Yaudahh, ayokk cepett!!” teriak Micha, kegirangan.
“Bentarr, aduhhh lemes bestie!! Abis di cium ayang AHAHAH.” Jerit Jeon, sambil menginjak pedal gas mobilnya.
“Ih jangan di bahas mulu dong! Aku malu!”
“Gemes banget cewek gua,” gumam Jeon sambil tersenyum.
‘Makasih Dewa, kau telah mengusirku dari Negeri kucing, dan kau juga sepertinya telah mengutukku menjadi seorang manusia yang berpikiran seperti kucing dengan seutuhnya.’ Batin Jeon.
Alhasil, Jeon dan Micha hidup bersama di rumah peninggalan orang tua Micha, beberapa bulan yang lalu kedua orang tua Micha meninggal karena kecelakaan, dan hanya meninggalkan sebuah rumah itu saja untuk ditinggali oleh Micha. Lalu, Mereka berdua pun membangun sebuah restoran ikan di sebelah rumahnya, dan banyak sekali pengunjung yang datang ke restoran tersebut. Hal itu dikarenakan penyajiannya yang sangat menarik serta lezat, dan pelayanannya yang sangat baik pula.
Hingga pada akhirnya, Jeon dan Micha pun hidup berbahagia bersama. Walau sang kekasih Micha itu ialah seekor kucing yang terkutuk.
- THE END -