Aku membanting tubuh di sofa ruang tamu, setelah menguluk salam. Kulucuti beberapa benda yang menggelantung di tubuh. Tas selempang, masker dan kacamata, sukses mendarat acak-acakan di meja.
Kemudian, aku mencari posisi duduk yang enak untuk berleha-leha.
"Baru pulang, Dek?" Suara lembut kakak perempuanku itu sukses mengejutkanku. Celemek bergambar hello kitty menempel di tubuh rampingnya.
"Ya, Mbak," sahutku dengan suara diseret, masih malas.
"Makan gih!"
Aku hanya mengangguk ketika Mbak Lani beranjak pergi dari ruang tamu.
Beberapa menit kemudian, dengan masih malas, aku membereskan barang-barangku yang tercecer di meja. Meletakkan pada tempatnya di kamar, lalu menuju ke dapur.
Mbak Lani menengokkan kepala saat aku membuka tudung saji di meja. Sebuah piring penuh busa di tangan berjari lentik itu dan sponge di tangan lainnya. Gerakan tangan perempuan itu pun terhenti seketika.
"Cepet makan, keburu basi, Nduk! Kadang aku heran, perasaan baru saja kumasak. Tapi kenapa cepet basinya, ya?"
Aku hanya meringis, sejenak mengamati sosok yang berdiri tak jauh dari meja. Ukuran tubuh yang tidak wajar, kulit hitam legam, mata merah berair. Ia menyeringai, aku pura-pura tidak melihat.
"Lain kali, baca do'a sebelum masak, Mbak. Kalau bisa, baca ayat kursi sekalian," celetukku dengan melipat tangan di dada. Sosok itu makin memelototkan matanya. Aku membuang muka lalu ngeloyor pergi, melewati kakakku itu.
"Maksudnya, Nduk?" Terlihat kerutan di dahinya saat wajah keibuan itu memandangiku. Aku mempercepat langkah.
"Ada yang suka masakan Mbak Lani selain aku dan Mas Khalid," teriakku dari ruang tengah.