Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya....
Namaku, Risa Ratasya. umur 23 tahun.
Sebelum bertemu dengan kekasihku, bisa dikatakan aku adalah wanita yang berada dalam posisi titik terendah, ayahku meninggal secara mendadak. Bangkrut dalam sekejap, meninggalkan aku bersama dengan Ibu dan adik kecilku.
Sebuah tanggung jawab besar, sebagai anak pertama, menggantikan posisi Ayah, untuk mencari nafkah.
Aku memutuskan untuk bekerja disebuah kafe, yang tepatnya berada di Negara R. Sebuah gemerlapnya dunia hiburan malam, memanjakan semua pengunjung yang datang.
Tuntutan dan beban yang aku pikul saat ini, mau tidak mau harus rela menemani para pelanggan untuk minum. Lelah, cape, tersiksa, semua aku rasakan saat ini. Namun, bagaimana juga aku tetap harus bertahan, Ibu dan Adik kecilku yang masih bersekolah, membuatku kuat dan tidak menyerah.
"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan?" lirihku tak percaya.
Mataku membulat, membelalak, ketika melihat dua orang yang aku kenali, tengah berada diatas ranjang yang sama.
Begitu sakit, pedih, hancur, rasanya terasa seperti ditusuk-tusuk sepuluh ribu pedang.
"Kamu, kenapa bisa ada disini?"
Wanita itu malah balik bertanya kepadaku, kenapa aku bisa ada disini? sungguh pertanyaan yang konyol, kalau bukan disini, lalu aku harus berada dimana.
Wanita itu adalah sahabatku, Dewi. Dia adalah rekan kerja ditempatku bekerja kala itu.
"Kamu bertanya kenapa aku disini?" aku balik bertanya kepada Dewi penuh rasa tak menyangka.
Dadaku sakit, terasa begitu sesak dan menyayat hati, setelah kusaksikan suguhan panas diatas ranjang dari kekasihku sendiri, dengan sahabatku.
Aku menatap wajah Rey, mencoba bertanya, kenapa kamu melakukan ini kepadaku Rey?
"Ya, seperti yang kamu lihat, aku dan Dewi tidur bersama," sahutnya dengan santai dan tanpa rasa bersalah.
Ia bangkit dari atas ranjang, seraya mengenakan pakaian, diambilnya sebatang rokok dan menyalakannya, dengan santai, ia duduk diatas ranjang, tepat disamping Dewi yang terdiam seraya membalut tubuhnya dengan selimbut.
Rey menatapku dengan santai, seraya ia menikmati rokok ditangannya.
"Bagaimana perasanmu, sakit tidak?"
Suara pelan yang serak milik Rey, seketika terasa bagaikan sambaran petir disiang bolong, tubuhku terasa begitu lemas bagaikan dihantam batu besar, hanya ini yang kau ucapkan.
"Sakit, sangat sakit. Terimakasih Rey."
Air mata yang semula kutahan-tahan, kini tak dapat lagi aku kendalikan, aku hanya bisa memangis terisak-isak tak berdaya.
"Kalau begitu kita impas."
Rey berkata dengan lantang, bahkan menatap wajahku tanpa rasa kasihan, impas dia bilang, memang apa yang telah aku lakukan kepadanya, kesalahan apa yang telah aku perbuat.
Bruk.... Seketika tubuhku ambruk ke lantai, aku tak dapat lagi berpura-pura untuk kuat, sakit semua ini samgat menyakitkan.
Hiks... Hiks... Hiks...
Akhirnya aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya, tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Rey mendekat kearahku, ia menghapus air mata di pipiku, memeluk erat tubuh yang sudah tak berdaya.
"Lepaskan aku Rey!"
Aku berusaha mendorong tubuhnya, agar tidak memeluk diriku seperti ini, apalagi ini, hinaan apa lagi yang akan kau berikan Rey.
"Ayo, kita mulai lagi dari awal, kita lupakan apa yang sudah terjadi." ujarnya yakin.
Aku seketika hanya bisa ternganga, mulai lagi dari awal, apa dia sudah gila.
"Rey, kenapa kamu sejahat ini, kenapa kamu menyakiti aku seperti ini, wanita lain aku bisa terima, tapi dewi, dia adalah sahabatku. Mana janji yang kau tawarkan kepadaku, mana sumpah yang kau ucapkan dahulu. Pembohong, kamu pembohong Rey, mulai lagi dari awal, luka seperti apa lagi yang ingin kamu berikan kepadaku, membuatku benar-benar tidak mampu bangkit lagi? apa kau ingin membuat aku mati sungguhan?"
Hiks... Hiks... Hiks...
Tangisanku, teriakan dan jeritanku menggema mengisi kamar apartemen milik Rey malam itu, mungkin bisa terdengar sampai keluar, karena pintu masih terbuka.
"Bertahanlah, dan lupakan semua hal yang terjadi, kita sudah menjalin hubungan selama empat tahun, apa kamu ingin kita berakhir begitu saja?" ujarnya, seraya ia mulai sedikit tertunduk.
Reynaldi Adrian. berumur 27 tahun.
Dia adalah kekasihku saat ini, ia adalah seorang pria yang telah mengangkatku dari atas lumpur. Semula, ia memanjakan aku, mencintai dan menyayangiku sepenuh hati, seolah-olah aku adalah sebuah berlian berharga dimatanya.
Dahulu, sebagai pelanggang tetap di cafe tempatku bekerja dia beberapa kali menyatakan perasaannya terhadapku, akan tetapi, bekerja seperti ini, kekasih mana yang rela, aku bisa menebak, kalau dia akan memintaku agar berhenti bekerja. Karena tanggung jawabku yang besar, walau aku sedikit menyimpan rasa suka kepadanya, aku selalu menolaknya dengan sopan. Hingga suatu hari, ia menawarkan sebuah jaminan kepadaku.
"Berhenti bekerja! jadilah wanitaku! jadilah kekasihku! keluargamu, aku yang akan tanggung, semua kebutuhanmu, semua keinginanmu, apapun yang kamu mau, akan aku berikan, sebulan segini, apakah cukup?"
Aku berfikir berkali-kali, aku takut terjebak dalam sebuah kata kepalsuan. Namun akhirnya, aku memutuskan untuk menerima, meninggalkan semua dunia hitam ini.
....................................................................................
"Rey, terimakasih untuk empat tahun ini. Maafkan aku."
Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan kamar itu, masih terdengar jelas ditelingaku teriakan Rey,
"Kalau sampai aku melihatmu dengan pria lain, akan aku lenyapkan kalian berdua."
Kata-kata terakhir yang ia ucapkan, benar-benar begitu indah, seolah-olah akulah yang bersalah besar.
............................................................................................................................................................................................................................................................
3 tahun kemudian.
...................................................................................
Tok! tok! tok!
"Masuk!"
"Bu, orang itu datang lagi, katanya dia disarankan kesini oleh---"
Ucapan Julia tertahan, ia sedikit ragu untuk melanjutkannya. Julia adalah sekretarisku sekaligus asisten pribadiku, dia telah melihat banyak hal dari awal ia memutuskan bekerja untuku.
"Siapa?"
Aku menatap Julia penuh tanya, pasalnya ia tidak pernah ragu-ragu untuk mengatakan segala hal.
"Itu, dari teman ibu, tuan Derry." ujar Julia gelagapan.
"Oh, tumben sekali. Baiklah, suruh dia masuk!"
Aku hanya bisa menghela napas dalam, Julia mengagetkanku. Lagi-lagi aku melamun, menatap keluar arah jendela, Ketika aku mengingat masa lalu, tetap saja sampai sekarang begitu terasa menyakitkan, setelah kejadian itu, aku benar-benar menjalani hidup seolah-olah bukan diriku yang dulu.
"Sebelumnya, maaf jika tidak sopan. Kedatangan saya kesini, ingin menawarkan kerja sama perusahaan."
Deg! Deg! Deg!
"Suara ini?"
Aku mendongakkan kepala, menatap tajam arah suara itu berasal. Aku tercengang, dan ia juga begitu terlihat syok.
"Risa?"
Ya, dia adalah Rey, mantan kekasihku dahulu, penyelamatku, penolongku, dan juga seorang iblis.
bukan hanya iblis, bahkan da juga seolah-olah seperti seorang malaikat untuku.
"Aku telah mencarimu selama ini, kemana saja kamu?"
Entah Rey sadar atau tidak, ia berlari, dan seketika memeluku dengan erat.
"Dasar tidak sopan dan tidak tahu etika. Lepaskan! atau aku akan memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar." teriaku seraya mendorong tunuhnya menjauh, dan menginjak keras pamgkal kakinya.
"Apakah ini benar kamu Risa? ini aku Risa, aku Rey, aku sangat merindukan kamu Risa."
Rey mencoba kembali untuk memelukku, sehingga membuat aku refleks berteriak, "Keamanan, keamanan." Teriak aku dengan keras.
"Nona, ada apa?"
Beberapa detik berlalu keamanan datang bersama Julia
"Seret keluar orang tidak tahu etika ini!" pekikku memerintah.
"Baik Nona."
"Risa, ini aku Risa." Rey meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkraman para keamanan.
Aku sedikit menatap tajam kearah saat itu Rey diseret.
TAMAT
....................................................................................