Aisyah bergelut dengan bunga-bunga yang ditangannya. Wanita cantik itu hanya tersenyum tipis melihat tingkah anak-anaknya yang bermain di halaman belakang rumah yang juga menjadi kebun bunganya. Sementara depan rumahnya menjadi gerai flower miliknya. Biarkan kecil dia mensyukuri karena dari bunga dia mendapatkan tambahan penghasilan. Dia juga memperkerjakan dua karyawan yang membantu pekerjaannya. Mereka mengirimkan dan juga merangkap merangkai bunga jika ada yang datang untuk membelinya.
Aisyah ibu dua anak, anaknya masih balita dan belum bersekolah. Aisyah memutuskan untuk membuka gerai flower miliknya ketika hamil anak pertama. Dia mencobanya untuk mendapatkan hasil tambahan saja dan berhasil. Walaupun sedikit kerepotan, setelah itu ia sudah terbiasa. Sang suami bekerja di perusahaan swasta dan sering keluar kota untuk urusan di perusahaan.
Rumah tangganya berjalan harmonis dan nyaris tak ada konfliknya.
Hubungan dengan kedua mertuanya juga baik. Hingga akhirnya ia menemukan kejanggalan dalam diri sang suami. Dia menemukan beberapa struk pembelian dan pembayaran terhadap barang yang tidak dimiliki oleh dirinya. Dia masih mengumpulkan barang-barang yang menarik perhatiannya. Seperti kemeja yang tidak pernah dia beli. Dia simpan bersama struk pembelian dan pembayaran itu. Sekarang ada jepit rambut di mobilnya. Saat dia diminta untuk mengambil oleh-oleh untuk anak-anaknya.
Akhir-akhir ini lelaki itu royal membeli barang dan perhatian dengan keluarga. Aisyah gadis yatim piatu dia membeli rumah kecil ini dengan pinjamannya di bank sebelum bertemu sang suami. Rumah minimalis ini di renovasi setelah mereka menikah dengan uang pesangon saat dia berhenti bekerja, dan sisanya adalah hasil dia berjualan itupun belum selesai.
"Bun. Baju Abi mana ?" Tanya Fajri saat selesai mandi dia masuk ke kamarnya dan melihat sang istri melamun saja. Aisyah tergagab kemudian melayani permintaan Fajri tanpa suara mereka duduk bersama makan malam. Dengan ceria anak-anaknya bercerita dan Fajri menanggapi sekedarnya. Dia berubah menjadi dingin. Walaupun kalimat-kalimat sapaannya masih sama lembut. Batinnya Aisyah.
Di mall Aisyah dan Sulastri pegawainya berjalan beriringan menuju butik yang baru dibuka dengan membawa bunga yang dipesannya.
"Makasih ya mbak. Sudah dikirimkan tepat waktu." Kata si pemilik. "Iya sama-sama, terimakasih sudah menjadi langganan kami." Jawab Aisyah. Aisyah dipersilahkan untuk melihat isi butik karena pembukaan masih nanti masih dua jam lagi. Aisyah dan Sulastri melihatnya pajangan baju bermerk dan indah mereka berdiri di depan kaca manakala dia melihat Fajri bersama seorang wanita lebih muda darinya dan berpakaian seksi. Mereka berjalan sambil saling berangkulan melewati mereka.
"Bu itu. " Sulastri terpaku sambil menunjuk ke arahnya dengan jari tangan nya.
"Ikuti mereka. Kamu kan tidak di hafalin Suamiku. Foto mereka dan kirimkan ke aku." Aisyah memberikan uang lembaran ratusan kepada Sulastri, wanita itu langsung melesat keluar.
Fajri asyik berjalan beriringan menuju gerai-gerai mall terbesar kota melihat apa saja yang diinginkan wanita itu dan mereka terkadang bertukar Slavina tanpa peduli sekitarnya. Mereka tidak mengira jika diikuti dari belakangnya yang dengan santai mengambil foto nya yang berbagai pose. Wanita itu menempel di badannya Fajri mesra sekali. Setelah puas Sulastri kembali ke tempat parkir karena Aisyah sudah menunggu dan mengirimkan pesan singkat bahwa dia sudah menunggu diparkiran mall.
Sudah ada bukti tambahan tanpa aku bersusah payah mencari keberadaan kamu, Abi. Batinnya bermonolog dalam hatinya. Mereka kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasa.
Dua hari kemudian Aisyah menemui mertuanya tanpa menelepon terlebih dahulu. Di depan halaman ada mobil baru dua dan motor besar keluaran terbaru. Danny adik bungsunya kebetulan berpapasan dengan Aisyah di depan pintu masuk rumah. "Mbak ?" Dia terbelalak terkejut melihatnya.
"Danny berangkat kuliah ?" Tanyanya sambil berjalan, Pemuda itu hanya mengangguk sambil tersenyum kaku. "Iya ." Buru-buru dia naik motornya dan berlalu. Rumah ini jauh lebih baik lagi. Ada perabotan baru dan dulu tidak sebagus ini, dua tahun dia tidak datang karena mertua yang sering ke rumahnya. Katanya sama saja tak perlu susah-susah dia datang katanya, apalagi ada si kecil.
Dia melihat ke arah dalam sang ibu sedang bercanda ria dengan wanita itu yang dia lihat di mall. "Aisyah." Dia terpekik melihatnya dan wanita itu hanya tersenyum tipis.
"Habis beli mobil baru ya Bu ? Rumah juga seperti habis rehab dan..." Belum selesai berkata bahwa dia potong kalimat itu.
" Fajri kebetulan ada rejeki jadi semua Fajri yang melakukan nya." Sahut sang mertua. "Fan dia sepupunya yang akan bekerja disini jadi kita kumpul saja daripada kost ya,kan ?" Lanjutnya seraya menunjuk makanan kecil dimeja. "Ayo di cicipi ini dari kota M Lo enak, asli." Katanya lagi dengan gugub.
Aisyah menurut saja apa kata mertuanya dengan melihat ekspresi wajah keduanya. Tak banyak kalimat yang dia katakan. Toh tujuannya hanya mengantarkan makanan. "Bu mengenai perayaan besuk malam bagaimana persiapannya ?" Belumlah selesai Fajri berkata dia sudah diberikan kode sang ibu. Fajri menoleh ke arah samping. "Aisyah ?" Wanita itu hanya tersenyum sinis.
"Ini tak seperti kamu kira, aku pulang baru semalam dan sangat larut juga tidak tega dengan mu jadi.." Belum selesai dia bicara Aisyah bangkit dan menarik dasinya kasar. "Terserah apa katamu Abi. Nyatanya ada buktinya." Dia menunjukkan bekas cupang di lehernya di depannya dan semua yang ada. " Baguslah kamu mengerti. Tak perlu susah-susah ibu menjelaskan. Dia istri barunya dan kamu hanya wanita biasa jadi terima saja." Kata mertuanya angkuh. "Ibu." Fajri membentak matanya terbelalak melihat ekspresi Aisyah yang tegar dan masih tersenyum. "Baiklah. Jika itu keinginan anda. Segera urus surat cerai nya. Dan sisa barangmu akan aku kirimkan. Sekarang talak aku !" Katanya dengan nada dingin menatap tajam kearah dirinya. "Lakukan perintah nya Fajri." Teriaknya lantang. Fajri menatap wajah cantiknya dengan pasrah, dan melakukan hal yang diinginkan Aisyah. Sebelum dia pergi Aisyah berkata ," Semoga anda bahagia bersama suami. Awal yang salah akan berakhir ricuh, karena kebohongan suatu hari pasti akan terbongkar cepat atau lambat. Assalamualaikum." Aisyah pun pamit pulang. Fajri hanya menatapnya penuh kebimbangan. Wanita itu hanya ingin cepat keluar dari sana, sepanjang perjalanan dia menangis, cukup sudah dia dibodohi dan kelak dia akan menyambut hari kemenangan. Sakit iya sakit wanita mana mau diperlakukan seperti itu. Namun bukan berarti harus menerima patuh. Kita harus berusaha lebih keras lagi agar hidup bahagia. Bahagia tidak harus menyakiti perasaan orang lain. Dan semua tergantung pada orangnya sendiri.