"Bisa ketemu gak? Buat khilaf bentar. "
"Gak jelas. "
"Aku serius. "
"Serius mau khilaf?"
"Mau ketemu. "
"Tapi aku ada acara. "
"Gak bisa ya?"
"Bisa. Tapi benar doang. "
"Makasih."
"Otw"
Pip
Ara mematikan sambung teleponnya kemudian lekas berganti baju untuk menemui Lukas, pacarnya.
"Ara mau kemana?" tanya Diana, mamanya yang sedang sibuk di depan meja rias.
"Keluar bentar, ma. "
"Ini hari penting mama. Kamu tetap mau pergi?"
"Nanti aku langsung nyusul ke tempat resepsi, ma. "
"Mama harap begitu, jangan terlambat. "
"Iya ma. Daa, mama. Love you"
Ara melambaikan tangannya lalu berlari keluar rumah. Ia berjalan kecil sembari menunggu Lukas menjemputnya. Dia dan Lukas menjalani hubungan backstreet. Karena ia tahu betul ibunya tidak akan setuju jika ia berpacaran disaat pendidikannya belum tuntas.
Mamanya takut kalau pacaran hanya akan menggangu fokusnya pada kuliah. Tapi nyatanya Ara bisa membagi waktu untuk belajar dan berpacaran. Nilainya juga tidak pernah mengecewakan.
Sebenarnya Ara belum setuju jika mamanya menikah lagi. Ia belum siap memiliki ayah tiri. Karena tidak ada yang bisa menggantikan posisi mendiang ayahnya.
Tin Tin
Lukas datang dengan mobilnya dari arah belakang.
"Kita mau kemana?"
"Tempat khilaf yang enak dimana ya?" Lukas menyeringai nakal.
"Jangan mulai deh", Ara menatap Lukas jengah. Suasana hatinya sedang buruk sekarang.
Dan disinilah mereka sekarang. Danau. Tempat kencan pertama mereka. Suasananya juga sangat mendukung untuk healing. Mereka mendudukkan diri di bawah pohon besar yang rindang.
"Sepertinya kau sedang kesal?" Lukas menangkap wajah murung Ara.
"Begitulah."
"Aku juga."
"Kau sedang ada masalah?" Ara menatap wajah sendu lelaki yang duduk disampingnya.
"Begitulah", Lukas menirukan ucapan Ara.
Sunyi.
Lukas merebahkan diri, menjadikan paha Ara sebagai bantal. Ara tersenyum sambil mengelus lembut rambut Lukas.
"Aku harap kita bisa cepet wisuda, biar aku bisa melamarmu", ucap Lukas menatap intens wajah Ara dari bawah.
"Belajar dulu yang rajin. Habis itu cari kerja. Pasti mama setuju deh kalau kita langsung nikah. "
"Kayak udah gak sabar aja pengen cepet nikah. Kebelet apa gimana--akhh"
Ara mencubit keras pinggang Lukas. Membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Kau ada masalah apa? Tumben ngajakin kesini?"
"Emang gak boleh? "
"Tumben aja"
"Papaku mau nikah lagi"
"Apa?! " Ara terkesiap mendengar jawaban Lukas.
"Kenapa? "
Dahi Lukas mengkerut.
"Kok sama, mamaku juga mau nikah lagi. "
"Haha bisa kebetulan gini?"
"Semoga saja hanya kebetulan. Kapan papamu nikah?"
"Be--aduh!! "
Lukas melompat dari posisi berbaringnya.
"Ada apa?! " Ara terkejut dan ikut melompat.
"Semut", jawab Lukas sambil mengusap kakinya.
" Ya ampun kirain ada apa. "
"Makan yuk"
"Boleh"
Dua sejoli itu pun pergi dari sana sambil bergandengan tangan dan sesekali bercanda, menjahili satu sama lain.
"Mau makan apa? " tanya Lukas saat mereka sudah ada di dalam mobil.
"Terserah"
"Kok terserah? Tentuin dong. "
"Apa ya.. Steak mau gak? "
"Oke, meluncur. "
Mereka menghabiskan waktu bersama hingga melupakan sesuatu.
"Astaga! Jam berapa ini?!" seru Ara panik sambil menarik tangan Lukas yang terpasang jam tangan hitam di sana.
"Aku lupa ini hari penting mama. Gimana ini?!"
"Aku anterin gimana?" tawar Lukas.
"Tapi aku belum dandan", Ara memanyunkan bibirnya.
Cup!
Lukas mengecup bibir Ara sekilas lalu menarik tangannya keluar dari restoran, mengabaikan tatapan orang sekitar yang tak sengaja melihat ulahnya tadi.
Lukas segera mengantarkan Ara ke gedung resepsi pernikahan mamanya. Setelah sebelumnya mengajaknya ke butik untuk membeli gaun dan ke salon untuk mendapat riasan wajah yang sempurna.
"Kau cantik", bisik Lukas di telinga Ara sebelum gadis itu keluar dari mobilnya.
"Makasih, bye Lukas", balas Ara.
"Tunggu!" Lukas menahan tangan Ara sebelum ia menginjakkan kaki ke luar mobil yang pintunya sudah terbuka itu.
"Ada apa?"
"Aku gak dikasih hadiah nih udah muji kamu", Lukas menaikturunkan alisnya sambil menunjuk pipinya sendiri.
"Hmm, modus rupanya. Muwahhh". Kecupan lembut mendarat di pipi Lukas dengan mulus.
Ara turun dari mobil lalu berjalan ke dalam gedung sambil berusaha menutupi pipinya yang sedang merona. Lukas memang selalu bisa membuatnya salah tingkah.
"Ara, kamu terlambat. Acara sudah dimulai setengah jam yang lalu", omel bibi Arin yang langsung menyambutnya.
"Maaf, tadi susah nyari taksinya", kilah Ara.
"Ya sudah, beri selamat sama mama kamu sana".
"Iya bibi. "
Ara berjalan menuju altar yang disambut dengan muka masam mamanya.
"Maaf ma, Ara terlambat", bisik Ara sembari bercipika-cipiki dengan mamanya.
"Tidak apa-apa sayang. "
*
Ara nampak kesal saat ia harus dengan terpaksa menuruti mamanya untuk pindah ke rumah papa barunya. Ia tidak rela meninggalkan tempat masa kecilnya yang banyak menyimpan kenangan dengan mendiang ayahnya.
Ara masih mematung saat ia sudah sampai di depan pintu rumah mewah itu.
"Ayo Ara masuklah", suara bariton milik papa barunya memecah lamunan Ara.
"Iya om"
Ara mendapat tatapan sinis dari mama Diana.
"Oh, maksud Ara, papa", Ara segera meralat ucapannya saat mengetahui kesalahannya.
Setelah sampai di ruang tamu Ara kembali mematung saat bertemu dengan manik mata milik orang yang sangat ia kenal.
"Lukas?" gumam Ara.
"Ara, kenalkan ini anak papa. Lukas Ardinata", papa Steve memperkenalkan anak semata wayangnya.
"A-Azzahra Faradisa", Ara mengulurkan tangannya yang bergetar di hadapan Lukas.
Lukas membuang muka dan langsung berbalik menuju kamarnya tanpa menghiraukan Ara yang menunggu sambutan tangan darinya.
"Maafin anak papa, dia memang seperti itu. Susah diatur. "
"Gak masalah, pa. "
Ceklek
Ara menoleh saat pintu kamarnya terbuka. Menampakkan wajah lelaki yang ia cintai dalam keadaan yang berantakan. Tidak seperti biasa yang ia temui saat di kampus atau saat sedang berkencan.
"Kenapa kau begitu kusut?" sindir Ara yang dapat melihat sorot kesedihan di mata Lukas.
"Kalau sudah tau jawabannya kenapa harus bertanya? "
Ara terdiam. Ia juga sedih sekarang ini. Bagaimana dengan kelanjutan kisah cinta mereka? Apakah akan berakhir seperti ini?
Mereka adalah saudara tiri sekarang.
Lukas merebahkan tubuhnya di ranjang Ara.
"Ini tidak adil", gumam Lukas sambil menatap nanar langit-langit kamar.
"Apa yang bisa kita lakukan sekarang? " tanya Ara putus asa.
"Kemarilah", Lukas menepuk bantal disampingnya.
Ara pun menurut. Ia merebahkan diri di samping Lukas.
"Aku pikir tidak adil jika kita tidak bisa melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan hati kita."
"Apakah kita harus bertahan atau--"
"Jangan lanjutkan!" Lukas memotong ucapan Ara yang tak ingin ia dengar.
"Aku akan bilang sama mereka kalau kita saling mencintai", tekat Lukas.
"Orang tua kita baru saja menikah, apakah kau mau menghancurkan pernikahan mereka."
"Apakah kau akan menyerah?" Lukas menoleh menatap Ara.
Padahal ia tadi yang melarang Ara mengucapkan kata itu, namun malah ia sendiri yang mengucapkannya.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak ingin menyakiti siapapun. "
"Tapi disini kita yang tersakiti, Ara!" protes Lukas mulai kesal dengan pikiran Ara yang membuatnya semakin takut.
" Maaf, kau benar", lirih Ara.
"Maaf jika aku menyakitimu. Aku tidak bermaksud membentakmu", ujar Lukas sambil menarik Ara ke dalam pelukannya.
Ara memejamkan matanya menikmati aroma tubuh Lukas yang ia sukai.
"Tidurlah"
"Apa kau akan tidur disini?" Ara mendongakkan kepalanya menatap wajah sendu Lukas.
"Iya"
"Apa boleh? "
"Hanya tidur, apa salahnya? "
"Baiklah", Ara pun menyamankan posisinya dalam pelukan Lukas yang hangat dan memenangkan.
"Aku harap aku bisa melupakan hari ini. Hari dimana kita menjadi saudara", lirih Lukas sebelum ia menyusul Ara yang sudah terlelap.