"Apa yang harus aku lakukan?", menengadah menatap awan.
"Kapan semua ini akan berakhir?".
"Mengapa harus aku?", tiga pertanyaan itu terus menghantui perasaannya.
Iris duduk termangu di depan jendela kamarnya. Baru dua bulan ia tinggal di tempat penampungan ini. Keluarganya membuangnya, mereka jijik melihat wujudnya saat ini.
"Apa salahku?", sambil menangis, selama ini ia adalah anak yang kuat, tidak pernah mengeluh menerima semua perlakuan semena-mena dari orang-orang terdekatnya.
Kecelakaan itu menambah parah deritanya, mobil yang ditumpangi Ibunya dan juga Iris terbalik gara-gara supirnya mabuk, Ibunya meninggal saat itu juga, sedangkan ia harus menerima kenyataan wajahnya rusak.
Sebenarnya ia tidak mempermasalahkan wajahnya rusak asalkan Ibunya masih hidup. Tapi perlakuan Ayah dan juga isteri barunya membuat dirinya mau tidak mau harus menerima kenyataan pahit. Mereka tidak mau menerimanya.
Sebuah mobil memasuki pekarangan, Iris memperhatikan dari jendela kamarnya. Terlihat seorang pemuda yang usianya sekitar 25 tahun keluar dari mobi, wajahnya ditutupi topeng. Iris tercekat, entah mengapa tiba-tiba sekujur tubuhnya menggigil. Dengan cepat ia mengunci pintu kamarnya.
Tak lama setelah itu terdengar bel makan siang berbunyi. Iris tetap tidak bergeming dari tempat duduknya. Keuntungan dari rusaknya wajahnya ini adalah tidak ada satu orangpun yang mau sekamar dengannya. Sehingga ia punya ruang privasi sendiri.
Tok..tok..tok, " Iris , keluarlah, saatnya makan siang".
Dengan gontai ia menuju ke ruang makan, di sana seperti biasa orang-orang menjauhinya. Ia duduk di meja paling ujung di dekat jendela. Tempat yang paling menyenangkan bagi dirinya.
"Boleh saya duduk di sini?", suara itu membuyarkan lamunannya. "Silahkan", jawabnya tanpa melihat siapa yang mengajaknya bicara, pikirnya sebentar lagi orang itu pasti akan pindah begitu melihat wajahnya. Iris meneruskan makannya.
"Mengapa kamu tidak memakai topeng?", tanyanya.
"Memakai atau tidak, itu sama saja. Aku tahu wajahku buruk, terima saja, biar kita tahu mana yang tulus mau berteman dengan kita dan mana yang tidak".
"Aku sudah selesai makan", kata Iris tanpa melihat siapa rekan semejanya itu, ia berjalan membawa peralatan makannya itu ke tempat cuci piring. Pemuda yang bernama Max itu terdiam dan melihat Iris yang pergi meninggalkannya.
Tiga hari kemudian, Iris sedang duduk sendirian di bawah pohon belakang rumah penampungan, ia suka sekali menatap langit biru, rasanya begitu tenang.
Terdengar langkah kaki mendekatinya, tanpa menoleh ia pun berkata," Untuk apa mendekatiku lagi, pergilah, kamu tidak baik dekat-dekat denganku, aku ini perempuan berwajah monster".
"Tidak masalah buatku, karena aku juga laki-laki yang mempunyai wajah monster", jawabnya.
Seketika Iris menoleh, alangkah terkejutnya ia, ternyata yang berada didekatnya itu adalah pemuda bertopeng yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Tubuhnya lalu gemetar dan wajahnya memucat.
"Hai, aku Max", katanya sambil mengulurkan tangan. Dengan gemetar Iris menjabat tangan tersebut dan berkata," Aku Iris, senang berkenalan denganmu".
Max tertegun mendengar jawaban Iris, lalu bertanya, "apakah kau takut kepadaku?".
"Tidak, hanya saja aku belum terbiasa duduk berdekatan dengan lawan jenis", jawabnya terbata-bata".
"Tenanglah, aku tidak akan memakan mu", sahut Max.
Lewatlah segerombolan remaja laki-laki dan perempuan seusianya melihat Iris dan Max duduk berdampingan, mereka tertawa dan dengan nada menghina berkata," Wah ada raja dan ratu monster, cih, merusak pemandangan saja".
Iris diam saja, ia sudah terbiasa dengan panggilan itu, berbeda dengan Max, ia merasakan kesedihan Iris. ternyata perbuatan para remaja itu tidak hanya sampai disitu, mereka melemparinya dengan tanah dan tepat mengenai mata Iris, Iris menangis karena terasa perih , melihat hal itu, Max langsung membawa Iris ke tempat cuci muka yang ada di dekat situ.
Akibat perbuatan mereka mata Iris iritasi, sehingga matanya harus ditutup dengan kain kasa.
Iris tetap tinggal di kamarnya, setiap hari Max membawakan makanan untuknya, begitu seterusnya. Kondisi matanya bertambah parah, tidak ada yang mengobatinya, fasilitas kesehatan di penampungan sangatlah minim.
Semakin hari suasana di penampungan semakin sepi. Ia lalu bertanya kemana semua orang, Max menjawab bahwa banyak anak yang sudah menemukan orang tua asuhnya. Iris hanya bisa mengatakan betapa beruntungnya mereka.
Di suatu tempat rahasia terdengar suara sret..sret..sret, ruangan itu berbau amis darah. Terdengar suara rintihan. Di ruangan itu seseorang sedang melakukan hal yang mengerikan. Dengan tenang ia mengambil organ dalam dari tubuh seseorang dan menyimpannya di sebuah kotak. Hari ini adalah hari terakhir ia mengumpulkannya. Ia tersenyum puas.
Iris heran tiap hari terasa semakin sepi, ketika Max datang, ia menanyakan apakah semua orang telah pergi, Max menjawab iya. Hati Iris terasa perih. Kemudian Max mengatakan kalau Iris harus ikut pergi dengannya, karena tempat penampungan itu sudah kosong. Iris menyetujuinya.
Iris dan Max akhirnya sampai pada suatu tempat, ia bertanya kepada Max, mau dibawa kemana dirinya, Max hanya berkata bahwa sekarang mereka berada di tempat yang aman.
Sesampainya di tempat itu, Iris merasa familiar dengan baunya, tempat itu berbau karbol. Iris dibawa ke sebuah ruangan, ia disuruh berbaring. Tak lama ia merasa mengantuk. Ketika terbangun ia mendapati seluruh wajahnya sudah ditutupi perban, mau teriak tidak bisa. Ia mendengar seseorang datang ternyata dia adalah Max.
"Bersabarlah Iris, sebentar lagi kamu bisa meraih impianmu?", kata Max.
Iris hanya terdiam, ia tidak mengerti.
12 Minggu kemudian, perban di muka Iris di lepas, ia disuruh membuka matanya perlahan-lahan, samar-samar matanya dapat melihat kembali. Begitu melihat kaca alangkah terkejutnya Ia, wajahnya kembali seperti semula.
Iris bahagia sekali ia lalu berterima kasih dan memeluk Max, tanpa sadar ia mencium topeng yang di pakai Max di bagian pipinya. Max terkejut dan tertawa.
Semenjak saat itu hidupnya berubah, ia kembali bersekolah, Max yang membiayainya.Hubungannya dengan Max semakin dekat, ia tidak mempermasalahkan tentang kondisi Max.
Tapi ia tidak pernah tahu, mata itu adalah mata salah satu anak perempuan yang telah melemparkan tanah kepadanya. Dan uang yang dipakai untuk memulihkan wajahnya serta uang biaya sekolahnya adalah uang dari hasil menjual organ dalam anak-anak penampungan.
Pemerintah daerah setempat tidak ada yang perduli dengan menghilangnya anak-anak di penampungan , karena bagaimanapun anak-anak itu adalah anak yang tidak punya keluarga.
Bagaimana orang-orang yang bekerja di sana? mereka masih ada. Mereka semua bekerja untuk Max.
TAMAT
Jangan pernah menilai seseorang dari wajahnya. Bagaimanapun kita semua juga memakai topeng, kita tetap tersenyum dan tertawa padahal saat itu hati kita menangis, saat berbohong dan juga saat kita berpura-pura suka padahal tidak.