Biarkan Cinta Kami Tumbuh Menyatu.
Waktu sudah menunjuk pukul 21.30, suasana kantor mulai lengang, karena karyawan sudah banyak yang pulang. Beberapa orang masih berkumpul di ruang depan sambil nonton televisi.
Di ruang kerjaku, tinggal aku dan seorang office boy sedang membersihkan ruangan, sementara di ruangan bersebelahan dengan tempatku, tampak Donny (nama samaran) masih sibuk di depan komputer.
Setengah jam kemudian, Donny datang menghampiriku. Malam itu, aku sudah janji dengan Donny akan pulang bersama, sebab tempat tinggal kami memang searah.
Awalnya, hubunganku dengan Donny hanya sebatas hubungan profesional yang biasa-biasa saja. Sebab kendati kami sekantor, tapi berlainan divisi. Kami kerja di sebuah bank swasta ternama di tanah air, aku di unit public relation sedangkan Donny di bagian penyelesaian kredit bermasalah.
Donny (28), ayah 2 anak ini baru sekitar 2 tahun bergabung kerja ditempatku, sebelumnya ia bertugas di salah kantor cabang yang ada di daerah. Sedangkan aku –sebut saja “Yanthi,” sejak awal, bertugas di kantor pusat.
Usia terpaut 5 tahun di atas Donny, namun hingga menapak usia 32 tahun masih tetap melajang. Pada hal rekan-rekan seusiaku sudah banyak berkeluarga, bahkan memiliki putera-puteri.
Memang, ada beberapa pria –baik rekan sekerja mau pun teman kuliah dulu—yang pernah mendekatiku. Bahkan ada beberapa diantaranya yang sempat akrab denganku. Tapi, tak ada satu pun yang jadi “istimewa” di hatiku. Tak heran bila ada yang menganggap aku seorang kelewat perfectionis, atau desprate girl. Pada hal sebenarnya tidak demikian.
Kuakui untuk, ada beberapa pertimbangan yang menyebabkan aku menunda niat untuk menikah, antara lain tak ingin melibatkan anak orang yang jadi suamiku dalam urusan keluargaku yang cukup ruwet.
Tapi, sikapku berubah setelah di suatu pagi, ketika pada e-mail pribadiku tertera sepenggal kalimat: “Yanti, gimana kalau selesai lembur kita pulang bareng? Tujuan kita searah. Donny (HP: 0813110200XX).”
Tulisan tersebut membuat aku agak penasaran sebab yang tahu e-mail pribadiku hanya kalangan terbatas. Karena itu aku coba mengirim SMS pada nomor yang Donny berikan. Dan dari balas-balasan SMS aku terima tawarannya, asalkan ia mau menunggu, karena hari itu aku harus kerja lembur hingga larut malam. Donny ternyata bersedia. Bahkan kepada pimpinan ia sudah lapor akan kerja lembur dengan alasan menyelesaikan laporan investigasi lapangan.
Lewat pukul 22.30, Donny datang mengajak pulang.. Sambil menunggu aku membereskan meja kerja, Donny mengutarakan niatnya mampir sejenak di Taman Ismail Marzuki (TIM), untuk sekedar makan malam. Aku pun mengiyakannya. Aku sendiri heran, mengapa aku cepat akrab dengan Donny. Apakah karena sikapnya yang sangat terbuka, sehingga dalam waktu singkat seakan tak ada lagi yang patut ia rahasiakan padaku?
Menurut Donny, sebenarnya tak ada kerjaan kantor yang harus diselesaikan hingga larut malam. Baginya, kerja lembur hingga larut malam, adalah pelarian atau pelampiasan rasa kesal terhadap isteri yang selalu menyepelekannya.
“Di rumah aku selalu serba salah, karena semua yang aku lakukan hampir tak ada yang benar di mata isteriku,” kata Donny seakan hendak melepaskan beban yang menggelayuti perasaannya.
“Kuakui isteriku dalam segala hal ia lebih hebat aku. Usianya 2 tahun lebih tua dari aku, berasal dari keluarga berada dan terpandang, lulusan sekolah luar negeri, dan memegang jabatan penting di instansi pemerintah. Sedangkan aku, orang desa, dari keluarga sederhana, yanghanya dengan susah payah dapat menyelesaikan studi di perguruan tinggi swasta. Tapi aku, kan suaminya,” seraya menarik nafas panjang.
Mendengar keluhan Donny, hatiku tergugah. Ada rasa senasib, karena aku pun kerap sakti hati oleh ulah pacarku yang doyan selingkuh. “Sebenarnya hati juga serasa kosong, Don. Kalau pun saat ini aku pacaran dengan seseorang, dan ia mengutarakan niatnya akan menikah denganku, bagiku hanyalah demi memenuhi permintaan keluarga. Terus terang, hingga saat ini aku belum bisa menerimanya dengan hati, meski kami telah berencana akan menikah dalam waktu dekat, ” kataku.
Kebersamaanku dengan Donny pada malam itu, sangat membekas dihatiku. Kekalutan yang lama membelit hatiku seakan menemukan jalan keluar yang lapang. Sementara bagi Donny, dengan kehadiranku ia merasa telah menemukan wanita yang mau mengerti perasaannya sebagai lelaki, dan dapat dapat memperlakukannya sebagaimana layaknya pasangan hidup. Karena itu, kami sepakat untuk lebih sering bersama.
Tanpa terasa, benih-benih cinta kini mulai mekar, sehingga setiap kesempatan selalu kami manfaatkan untuk bermesraan, baik saat kantor sedang sepi atau di beberapa tempat di luar kantor. Donny, yang selalu memanggilku, “Yank,” sudah tak canggung lagi merangkul tubuhku bila kami duduk di kafe seraya melepas lelah. Sebaliknya, aku yang selalu menyapa Donny, dengan panggilan “Mas,” juga merasa teduh bila bergelayut dibahunya seraya dengan manja menyenderkan kepala dalam pelukannya.
Pun demikian, di depan rekan-rekan kerja kami selalu membatasi diri dengan bersikap profesional. Karena itu, tak seorang pun diantara rekan-rekan kerja mengetahui jalinan cinta antara aku dan Donny. Beberapa kali, Donny mengutarakan niatnya menceraikan isteri, dan menikah denganku. Tapi selalu kucegah, sebab kasihan pada anak-anaknya bila orang tua mereka bercerai.
Sedangkan aku, kendati rencana menikah dengan pacarku sudah semakin mantap, dan telah direstui oleh keluargaku, namun masih sangat sulit menerima kehadirannya didalam hatiku. Akibatnya, kebimbangan selalu menyelimuti pikiranku bila membicarakan rencana pernikahan, yang sudah semakin mendekat.
Orang lain, tentu akan menganggap aku hanya sebagai kekasih gelap Donny, tapi tidak bagi kami berdua, karena yang kami rasakan justru adalah aroma cinta sejati (true love). Karena itu, bila kebimbangan terasa kian menggelisahkan, ku tulis sepenggal doa:
Ya Tuhan, kami sadar semua yang terjadi di bumi sudah merupakan rencanaMu. Karena itu segalanya kami pasrahkan pada kehendakMu.
Bila Kekasihku adalah milik yang aku peroleh dariMu. Jangan biarkan segala angan-angan ini hanya menjadi impian indah dimalam hari.
Oh Tuhan... mengapa Engkau tidak membiarkan cinta kami tumbuh hingga menyatu ?
*Tamat*