Callista sibuk mematut dirinya di cermin. Gadis itu menelisik dengan seksama penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Setelah memastikan semua benar-benar sempurna, ia bergegas keluar dari kamar untuk berangkat ke kantor, seperti biasa.
Senandung lagu bernada ceria tak luput dari bibir mungil Callista. Selama seminggu terakhir ini, gadis itu memang terlihat lebih ceria dari biasanya. Ia begitu bersemangat ke kantor, mengerjakan berbagai macam tugas yang menumpuk dengan suka cita, bahkan sampai mengajukan diri untuk lembur hampir setiap hari dengan hati gembira. Tak terkecuali hari ini.
"Lembur lagi, Cal?" tanya Amora, teman kerjanya yang duduk tepat di seberang gadis itu. Ibu muda beranak satu itu sepertinya tengah bersiap-siap untuk pulang.
"Iya." Jawab Callista dengan raut wajah bahagia.
"Ada apa, sih? Kau sepertinya senang sekali lembur akhir-akhir ini." Amora memasang wajah penasaran akan tingkah laku teman sekantornya itu. Mungkin bukan hanya dia saja yang demikian, melainkan seluruh penghuni ruangan ini juga.
Callista tersenyum kecil. "Rahasia." Jawabnya sembari berbisik.
Mendengar jawaban tersebut, Amora menekuk bibirnya sejenak lalu tertawa. Tak ingin mengorek privasi teman sekantornya lebih jauh, ia lebih memilih pamit pulang.
Lampu-lampu di ruangan lain sudah mulai dipadamkan, begitu juga dengan bagian lorong-lorongnya. Hanya tinggal ruangan Callista saja yang masih terang benderang. Security memang sengaja membiarkannya, agar Callista tetap merasa nyaman dalam mengerjakan beberapa tugas kantor.
Gadis itu tersenyum hangat, saat sebuah ketukan pada meja tempat duduk Amora mulai terdengar. Sesosok pria tampan dengan bola mata sejernih lautan menoleh ke arahnya.
"Lembur lagi?" tanya Louise, nama pria itu.
Callista mengangguk malu-malu. Melihat itu, Louise tertawa kecil.
Inilah alasan mengapa Callista senang mengambil jatah lembur. Louise merupakan pria yang dikenalnya saat ia sedang lembur pertama kali. Kedekatan keduanya semakin intens, setelah Callista sering menghabiskan malam di kantor pada hari-hari berikutnya.
"Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Louise sembari berpindah tempat duduk ke sebelah Callista.
"Aku sedang menyusun grafik penjualan." Jawab Callista.
"Boleh kubantu?" Louise menawarkan diri.
"Memangnya bisa?" tanya Callista dengan raut wajah jenaka.
Louise tersenyum lalu mengambil alih tempat duduk Callista. Dengan cekatan pria itu mulai mengerjakan tugas Callista hingga selesai.
Melihat itu, Callista berdecak kagum. "Kau pintar sekali," pujinya tulus.
"Terima kasih," jawab Louise.
"Eh! Aku jadi tidak melakukan apa-apa, dong!" pekik gadis itu, begitu tersadar tugasnya sudah selesai dalam waktu kurang dari satu jam.
Louise kontan tergelak. Suara tawanya terdengar sangat merdu di telinga Callista. "Tidak apa-apa. Kita jadi bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama, bukan?" tangan pria itu mulai menggenggam lembut tangannya.
Semburat merah muncul menghiasi pipi ranum Callista.
Louise kemudian mengajak Callista naik ke rooftop kantor. Pria itu memintanya untuk duduk bersama di salah satu sudut rooftop.
Kilauan cahaya bintang tampak menghiasi langit malam ini. Beberapa bahkan berkelip indah, seolah sedang menggoda kebersamaan mereka.
Callista tersenyum, menatap Louise yang tengah asik menikmati Keagungan Ilahi. Ingatan saat dirinya pertama kali bertemu dengan Louise mulai berseliweran memenuhi isi kepala Callista.
Keistimewaan yang dimiliki Callista sejak lahir, membuat dirinya bisa bertemu dengan pria itu. Sejak awal mereka bertemu, ia sudah tahu bahwa menaruh perasaan pada Louise merupakan hal yang tidak seharusnya. Sejak awal mereka bertemu, ia sudah tahu bahwa Louise tidak akan pernah bisa bersamanya sampai kapanpun.
"Ini hari terakhir, bukan?" tanya Callista tiba-tiba. Sorot mata gadis itu mulai meredup.
Louise sontak menundukkan kepala. "Ya." Jawab pria itu dengan suara nyaris tak terdengar.
Mendengar jawaban Louise, Callista tersenyum samar. "Ternyata satu minggu cepat sekali berlalu." Ia menoleh, lalu menatap lembut pria yang telah mengambil hatinya selama satu minggu terakhir itu. "Tak bisakah kau terus berada di sini?" tanyanya lirih.
Louise mengangkat kepalanya. Sorot matanya yang lembut membalas tatapan gadis itu. "Kau tahu, itu tidak mungkin." Jawab Louise sembari memasang senyum terindah yang belum pernah Callista lihat.
Keheningan melanda keduanya kini. Hanya ada suara desir halus dari angin malam yang mulai menerpa tubuh mereka.
Setitik air mata mulai jatuh membasahi pipi Callista. Berkali-kali ia merapalkan sebuah kalimat dalam hati, untuk berhenti menaruh perasaan pada pria di sebelahnya itu. Ia tengah berjuang menguatkan diri. Ia tengah berperang batin dengan hatinya sendiri.
Sentuhan tangannya yang dingin, menyadarkan Callista, jika Louise memang tak dapat dimiliki.
"Aku pergi, ya?" pamit Louise. Mereka kini sudah berdiri seraya saling berpegangan tangan. "Jangan pernah memaksakan diri untuk lembur lagi," pesannya.
Callista tertawa sumbang. "Untuk apa lembur, kalau kau sudah tidak ada di sini bersamaku."
Louise terdiam. Tangannya yang dingin mulai merambat, membelai pipi Callista.
Louise mendekatkan wajahnya pada wajah Callista. Seolah mengerti, gadis itu mulai memejamkan matanya. Kecupan yang didaratkan Louise sebagai tanda perpisahan, memang terasa hambar. Tetapi tetap terasa sangat manis bagi gadis berusia 24 tahun itu.
Air mata Callista semakin deras mengalir, tatkala keberadaan Louise semakin lama semakin menghilang. Wujudnya kini tak lagi setegas sebelumnya. Gadis itu bahkan dapat melihat pantulan lampu kota dari balik tubuh pria itu.
"Aku mencintaimu, Callista," samar-samar ia dapat mendengar suara merdu Louise. Pria yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun tak mampu diraih karena 'perbedaan' yang ada di antara mereka.
"Aku juga mencintaimu, Louise," jawab Callista, seiring dengan kepulan asap yang membawa tubuh pria itu menghilang, menuju kedamaian abadi.