Dea gadis berusia 23 tahun yang terjebak dengan perasaan tanpa kepastian.
Hari ini Dea memutuskan tidak lagi bermain Apk. dia takut akan terjebak lebih dalam kedalam perasaan yang tak terbalaskan. Dia menyukai sosok virtual yang sering dia jumpai di Apk. Dia merasa sosok itu baik, dan dia mulai nyaman menghabiskan waktu bersama sosok itu.
6 bulan berlalu sejak dia memutuskan berhenti bermain Apk, tapi dia masih merasakan hangatnya perasaan itu. bahkan sekarang dia merindukan orang itu.
Dea mengambil 1 Minggu cuti, dia ingin pergi jalan-jalan untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dea tersenyum sendiri ketika memikirkan orang itu semakin dia ingin melupakannya semakin dia merindukannya. orang yang belum dikenalnya dengan baik sekarang sudah memenuhi isi pikiran dan hatinya.
Dea membeli tiket ke Lombok, dan berangkat pada hari itu juga. Dea melihat pemandangan yang sangat indah dibalik jendela pesawat yang ditumpanginya. Turun dari pesawat Dea langsung menuju hotel yang sudah dipesannya.
" Nyaman ... " kata Dea
Dea berbaring, memejamkan mata sejenak, kemudian bangun kembali, berjalan menuju jendela matanya tertegun melihat pemandangan didepan matanya
Pantai terbentang luas, air laut yang berwarna biru jernih dan langit cerah yang menyatu dengan laut. Dea tersenyum, dia berfikir kenapa tidak dari dulu dia pergi ketempat seperti ini.
Setelah berganti pakaian Dea turun kebawah, menyusuri pantai dengan kaki kecilnya yang bersentuhan dengan ombak, matahari yang berwarna Oren menambah keindahan pantai tersebut.
Hari mulai gelap, tapi masih tetap saja ramai. warna lampu dipingir pantai menambah kemeriahan pada malam itu. Rasanya dia tidak ingin kembali ke hotel, tapi kakinya sudah terasa lelah. Akhirnya Dea memutuskan kembali kehotel. ketika sampai dilobi Dea merasakan getaran, sejenak Dea terhenti merasakan dan melihat sekeliling, semua orang disekitar terlihat biasa saja. Dea pikir mungkin hanya perasaan dia saja Dea kembali melanjutkan langkahnya. tapi terjadi gempa lagi dan kali ini cukup kuat, semua orang berlari keluar begitu pula dengan Dea.
Semua orang terlihat panik, segera meninggalkan tempat tersebut karena takut akan terjadi semua sunami. Ketika sampai didepan hotel, tiba-tiba sebuah papan iklan terjatuh menimpa Dea. Dea kaget dan tidak sadarkan diri.
Dea membuka mata dan melihat sekeliling
" ini rumah sakit?" pikir Dea
" hallo nona, anda sudah sadar? apa yang anda rasakan? tanya salah seorang suster
Dea masih terlihat binggung, Dea melihat sekeliling semua orang terlihat sangat sibuk, ada banyak orang lalu lalang, terdengar rintihan dari beberapa pasien lain. Dea melihat berita di TV. terjadi sunami dipesiair pantai selatan, dan hotel yang ditinggali nya telah hancur karena dampak sunami tersebut. Dea menghela nafas dan terlihat lemas.
" apa yang anda rasakan nona?" tanya salah seorang dokter
Dea hanya melihat dengan tatapan kosong, tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dea tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. apa lgi melihat hotel itu telah hancur, dan dia masih bisa melihat dunia ini lagi.
" nona?"
" Iya dok... apa yang terjadi dengan saya?" kata Dea matanya sudah berkaca-kaca menahan air matanya
" Anda dibawa kesini karena kaki anda patah, apa anda ingat apa yang terjadi?" tanya dokter
Dea mengingat kembali apa yang terjadi, Dea ingat dia berlari saat gempa dan sebuah papan iklan jatuh menimpanya.
" Aku menginap dihotel tersebut dok." kata Dea sambil menunjuk ke TV
Dokter dan suster melihat ke TV, mereka terdiam sejenak, melihat seberapa parah hotel tersebut mereka tidak percaya Dea masih bisa selamat dengan hanya luka dikakinya saja.
" Anda beruntung."
" Aduuh ... " Dea mulai merasakan sakit pada kakinya Dokter segera mengambil tindakan.
Dea diberi obat bius dan pereda nyeri, Dea mulai tidak sadarkan diri, tidak sengaja dia mendengar suara yang sangat mirip dengan orang yang ada dipikirannya. Dea mencoba mencari asal suara tersebut tapi dia mulai terlelap.
Dua hari berlalu, rumah sakit masih sibuk. Dea juga harus berbagi ruangan dengan beberapa pasien lain. Dea sudah terbiasa melihat dokter dan suster lalu lalang disana.
Matanya tertuju kepada sosok non medis yang sejak tadi lalu lalang disana membatu para medis menangani pasien, tiba-tiba mata mereka bertemu, kemudian Dea memalingkan wajahnya karna malu. Pria itu melanjutkan pekerjaannya tapi kembali melihat Dea dan tersenyum.
" apa tadi... dia tersenyum kepadaku?" pikir Dea
Hari berlalu, pasien dengan luka ringan telah diperbolehkan pulang, ada juga beberapa pasien serius yang dirujuk kerumah sakit yang lebih lengkap ada juga yang dibawa oleh keluarganya. masih banyak pasien disini tapi tidak sebanyak kemarin. para medis juga tidak sesibuk hari-hari kemarin.
Dea masih bertahan disini, dia tidak mengingat nomer siapa pun, semua tertinggal dihotel. Dea juga tidak memberitahu siapa pun tujuan dia berlibur. Dea mencoba tersenyum, tapi sebenarnya dia menahan air mata, tidak seorang pun yang menemaninya.
" Dia siapa?" tanya Ezza
" namanya Dea, Dia turis dari Bandung, semua barang-barang nya hilang, dia juga tidak mengingat nomer siapa pun yang dapat dihubungi."
" Dea... Bandung? nama lengkapnya? "
" kalau gak salah, Dea Amanda, loh ngapain kamu kepo...hayooh"
Ezza hanya tersenyum dan pergi, Ezza adalah seorang satpam dirumah sakit tersebut, dia sering membantu kalau ada pasien yang membutuhkan bantuan. apa lagi setelah bencana tersebut.
" Eh... bang Ezza ngapain disini?"
" pasien atas nama Dea belum ada keluarga yang datang kah?"
" Sepertinya belum, itu kak Anna yang lagi bantu'in."
Ezza mendekati ruangan Dea, melihat Anna membatu Dea, Dea dan Anna sudah dekat, terlihat senyuman diwajah Dea saat Anna mengodanya. Ezza tersenyum melihat kedekatan mereka.
Setelah hari itu Ezza sering melihat Dea, meskipun Ezza tidak berani lebih dekat. tapi dia cukup puas melihat senyuman diwajah Dea. Dea masih belum bisa berjalan dengan susah payah dia menjalankan kursi rodanya menuju taman rumah sakit.
" mau kemana?" kata Ezza sambil mendorong kursi roda Dea
" eh... siapa ya?" tanya Dea
Ezza tidak menjawab pertanyaan Dea, dia terus saja mendorong kursi roda Dea.
" mau ketaman kan?" kata Ezza dingin
" iya tapi....." Dea mencoba melihat sosok pria yang ada dibelakangnya.
" tidak usah banyak bertanya, aku tidak ada maksud apa-apa, aku hanya membatumu jadi jangan salah paham." kata Ezza
" iya terima kasih..." kata Dea sambil terlihat tidak enak.
" mungkin dia hanya kasihan kepadaku " pikir Dea
Ezza melihat Dea, dia semakin penasaran siapa Dea yang sebenarnya, dari sifat dan cara bicara nya sepertinya Dea adalah sosok yang dikenal Ezza. tapi Ezza masih tidak begitu yakin.
Mereka telah sampai ditaman, terlihat Dea sangat bahagia, senyumnya begitu indah, Dea memejamkan matanya sambil mengirup nafas dalam-dalam. pelan-pelan Ezza meninggalkan Dea, sebelum pegi dia menatap kembali Dea yang tersenyum, terlihat pula senyuman di wajah Ezza.
Hari sudah malam tapi Dea tidak bisa tidur, dia ingin keluar tapi tidak berani. sangat sepi berada di ruangan ini sendiri. saat itu Dea sadar begitu berharganya sebuah keluarga. Dea menirukan air mata merindukan keluarganya. tiba-tiba samar-samar Dea mendengar orang bernyanyi. Dea duduk dikursi roda dan mengintip ke jendela. Dea melihat seseorang bernyayi sambil memainkan sebuah gitar. Suara yang tidak asing, Dea melihat dengan jelas siapa yang ada disana.
" Bang Ezza..." gumam Dea
Setelah Dea mencoba mencari tahu siapa sosok Ezza yang sebenarnya.
" kak Anna, bang Ezza itu siapa? tanya Dea
" Kenapa? kamu suka sama dia?" goda Anna
" nggak lah kak, cuma tanya aja, emang gak boleh?" kata Dea malu
" Dia adalah sekuriti disini, dia orang yang baik kok. dan yang penting dia masih jomblo." kata Anna sambil tersenyum
Hari-hari berlalu, Dea sudah akan menjalani rehabilitas. Anna selalu menemani Dea, memberikan semangat dan dukungan kepada Dea. Anna sudah menganggap Dea sebagai adiknya, rasa sayang itu terlihat dari kedekatan mereka.
Dea menatap keluar jendela, melihat sosok yang sedang memainkan gitar, meskipun tidak terdengar suara gitar maupun lantunan lagunya pandangan Dea tidak berpaling dari sosok pria itu, yaitu Ezza
Tiba-tiba Ezza juga menatap kearah Dea, sejenak mata mereka saling bertemu. entah perasaan apa yang mereka rasakan saat itu tapi terlihat senyuman dikeduanya.
Seharian ini Dea menjalani rehabilitas, Dea berusaha dengan keras agar bisa berjalan kembali. dia ingin segera pulih. Setelah hari yang berat Dea Kembali kekamar, membersihkan diri dan beristirahat. sudah sore tapi dia tidak melihat Ezza sama sekali hari ini. Hari sudah malam tapi Dea belum bisa tidur, dia ingin pergi kekamar mandi tapi tidak ada seorang pun, dia mencoba naik kursi roda, tapi tiba-tiba Dea terjatuh.
" Aduuuh...."
Ezza mendengar suara dari arah kamar Dea. dia melihat Dea sudah berbaring dilantai. Ezza buru-buru masuk dan membantu Dea kembali ke ranjang. tidak ada yang keluar dari mulut Dea, dia hanya menatap Ezza, tapi ketika Ezza menatap Dea, Dea memalingkan wajahnya dan wajahnya terlihat merah.
" kamu tidak apa-apa? ada yang sakit gak, kalau ada aku akan panggil kan dokter kesini. Apa yang terjadi?" tanya Ezza
" aku tidak apa-apa, terima kasih." kata Dea
Sejenak ruangan menjadi hening, Hari itu Dea sangat ingin sekali bertemu Ezza, tapi dia tidak menyangka akan bertemu seperti ini. Dea merasa malu, tapi karna kejadian itu mereka berbicara secara dekat untuk pertama kalinya dan hati mereka bergetar.
Akhirnya mereka saling mengenal, Ezza sering menyelinap masuk hanya sekedar melihat Dea. memberikan makanan kecil di meja kamar Dea dan hal-hal kecil lainnya.
Hari ini saat ditaman.
" bang Ezza... Dea boleh minta satu hal gak? kata Dea
" kalau Abang bisa laku'in, boleh."
" Bisa nyanyi satu lagu aja gak buat Dea?"
" emmm... gimana ya."
" ayolah satu lagu aja, aku sering liat bang Ezza nyanyi tapi gak begitu jelas. sekarang aku minta satu lagu aja." kata Dea dengan tatapan memohon
Ezza tersenyum, dia bersikap menyanyikan sebuah lagu untuk Dea.
Suara merdu Ezza seakan menghipnotis Dea. Dea sangat menyukai suara Ezza dia terus tersenyum dan tidak memalingkan pandangannya.
" Wah... bagus sekali..." kata Dea sambil bertepuk tangan
" Aku denger bang Ezza nyanyi nginget'in aku pada seseorang."
" Seseorang... siapa?" tanya Ezza penasaran
" Seseorang yang aku kenal di Apk." kata Dea tapi wajahnya berubah menjadi muram
" kenapa cerita aja." kata Ezza sambil duduk disamping Dea bersiap mendengarkan Dea bercerita.
Dea menatap wajah Ezza, dia masih ragu untuk menceritakan masa lalunya. tapi mungkin dengan bercerita dia akan merasa lega. Dea mulai bercerita dari pertama bermain Apk, menganal sosok pria dia Apk dan perasaannya yang tak terungkap kan.
Ezza terus dia menatap Dea yang masih bercerita. dia merasa ada sesuatu, dia merasa Dea sosok yang tidak asing dengan dirinya. jangan-jangan Dea adalah sosok wanita yang terus bersama Ezza beberapa bulan di sebuah Apk. mendengar cerita Dea, Ezza mulai yakin kalau Dea adalah wanita itu. dan kini dia tahu perasaan Dea yang sebenarnya, kenapa dia tiba-tiba mengilang, tidak bermain Apk lagi.
Kini Ezza tahu siapa Dea, dia juga tahu kenapa hatinya bergetar saat bersama Dea. waktu pertama kali melihat Dea pun dia merasa ada sesuatu yang menariknya kepada Dea.
Semakin hari mereka semakin dekat, Ezza selalu mengunjungi Dea dan membantu Dea menjalani rehabilitas. Semua yang melihat mengira Dea dan Ezza sudah menjadi sepasang kekasih. banyak gosip yang beredar dirumah sakit, tapi mereka tidak memperdulikannya.
" mungki besok aku tidak bisa menemanimu menjalani rehabilitas." kata Ezza
" iya gak papa, emang mau kemana? tanya Dea
" Ada acara keluarga, mungkin dua atau tiga hari aku gak akan ke rumah sakit, kamu jaga diri baik-baik ya." kata Ezza
" iya... kamu juga hati-hati."
Tiga hari pun berlalu dengan cepat, Ezza tidak sabar ingin bertemu dengan Dea, pagi-pagi dia langsung menunju ke rumah sakit. tidak lupa membawakan sarapan untuk Dea.
" kak Anna... Dea kemana?" tanya Ezza yang kembali dari kamar Dea karna tidak melihat Dea disana.
" oh Dea... diruang rehab." kata Anna
" oke... aku kesana dulu ya..." kata Ezza yang langsung pergi begitu saja
" eh.... tunggu zaaa" teriak Anna
Ezza tidak memperdulikannya, dia langsung berjalan menuju ruang rehab, dia ingin segera bertemu dengan Dea.
Senyuman yang tadi menghiasi wajah Ezza berubah seketika, dari balik pintu dia melihat Dea bersama seorang pria yang membantunya menjalani rehabilitas. mereka terlihat sangat akrab
" kan aku sudah bilang tunggu..." kata Anna melihat Ezza terdiam di depan pintu.
" siapa dia kak ..." tanya Ezza, matanya tidak berpaling dari Dea dan sosok pria tersebut
" Dia baru datang pagi ini, dia bilang dia keluarga Dea." kata Anna
" Oh... " gumam Ezza sambil pergi meninggalkan Anna
" Ezza tunggu ... kamu mau kemana, kamu tidak menemui Dea dulu, Meraka akan pergi hari ini loh." kata Anna
Langkah kaki Ezza terhenti, dia melihat kearah ruangan dimana Dea berada. Tapi tanpa berbicara sepatah kata pun dia berbalik dan berjalan kembali. terlihat kekecewaan diwajah Ezza.
Dan tibalah saat Dea pergi meninggalkan rumah sakit. Dea berpamitan kepada semua staf yang ada disana baginya mereka sudah seperti keluarga, tapi mata Dea terus mencari seseorang yaitu Ezza.
" kak... bang Ezza belum kembali? tanya Dea
Anna tidak menjawab, dia hanya diam saja
" Padahal aku ingin pamit sama dia." kata Dea dengan wajah kecewa
Dea meninggal kan rumah sakit. tapi dia merasa kecewa tidak melihat Ezza untuk terakhir kalinya. akhirnya dia menulis surat dan menitipkannya kepada Anna. semua terlihat sedih melihat Dea meninggalkan rumah sakit. tapi mereka juga bahagia Dea bisa bertemu dengan keluarganya. dari kejauhan Ezza melihat Dea pergi meninggalkan rumah sakit, dia tidak berani mendekat karna tidak ingin merasakan kehilangan lagi.
" Ezza tunggu ..." teriak Anna
" Ini....."
Anna memberikan selembar kertas yang dititipkan Dea untuk Ezza.
* Aku harap suatu saat nanti Allah akan mempertemukan kita kembali, ketika saat itu tiba aku akan memberitahu semua isi hatiku padamu *
" Ezza kalau kamu beneran suka sama Dea, jangan pernah lepaskan dia." kata Anna
Ezza tidak berkata apa pun, dia langsung pergi menyusul Dea kebandara. dengan nafas terenggah-enggah Ezza mencari sosok Dea dibandara, berlari kesana kemari tapi tidak juga menemukan sosok Dea. sampai ketika dia hampir putus asa dia melihat Dea, tanpa ragu dia berlari menghampiri Dea.
" Dea...." kata Ezza sambil menghentikan kursi roda Dea
" Bang Ezza, kamu disini? Kata Dea
Dea ingin menceritakan semuanya tapi Ezza menahan nya.
Ezza menghela nafas dalam-dalam
" Aku berjanji... jika Allah mempertemukan kita lagi, aku tidak akan pernah melepaskanmu. jadi tunggulah sampai saat itu tiba." kata Ezza
Dea tersenyum dan mengangguk. tapi Dea harus buru-buru pergi karna pesawatnya akan segera lepas landas. Ezza melepaskan tangannya dan Dea pun berlalu meninggalkan Ezza yang melambaikan tangan kepadanya.
" siapa lagi pria itu? tanya Eno
" Kakak jangan kepo deh." kata Dea tanpa penjelasan apa pun
Sampai dirumah, keluarga Dea hanya bisa menangis sambil memeluk Dea. mereka tidak menyangka ketika Dea berlibur dia mengalami hal yang menakutkan. Mereka menyesal, mereka hidup nyaman disini tanpa tahu apa yang terjadi kepada Dea di Lombok.
" Jangan menangis lagi... Dea sudah kembali kok." kata Dea
Dea tidak akan melupakan hal luar biasa yang terjadi di Lombok, dari ketika sunami terjadi, ketika dirumah sakit, bahkan ketika dia merindukan sosok keluarga disampingnya saat itu. tapi dia bahagia, setidaknya dia memiliki sediki kenangan indah disana.
Di Bandung Dea terus melanjutkan rehabilitas nya. dan sekarang Dea sudah bisa berjalan meskipun belum lancar. Meskipun sudah membaik Dea belum kembali bekerja. karna kejadian yang menimpanya Dea diberi kesempatan untuk cuti sampai dia sembuh total.
Karna seharian dirumah saja, Dea merasa bosan. dia kembali memainkan Apk yang dia mainkan dulu. Dea ngobrol denga teman-teman virtualnya. sekedar tanya kabar atau ngobrol karena sudah lama sekali Dea tidak terlihat. ketika sedang asik ngobrol, tiba-tiba datang Reza.
Pria yang dulu pernah mengisi hati Dea, pria yang tidak pernah bisa Dea lupakan.
" Vee... geser dong aku ingin duduk samping Dea." kata Rezza
" Hay Dea... apa kabar?"
" Alhamdulillah baik bang, kamu sendiri gimana?"
Terdengar dari suara Dea, Dea sangat gugup berbicara dengan Rezza. meskipun sudah lama, Dea masih merasakan getaran dihatinya. Rindu itu masih ada.
" Aku lagi gak baik, aku sedang menahan rindu pada seseorang." kata Rezza
Dea terdiam ketika yang lain sedang menggoda Reza dengan berbagai pertanyaan. Dea sedikit kecewa mengetahui sekarang ada seseorang yang sudah mengisi hati Rezza saat ini.
" Kalian jangan mengoda aku, nanti ada yang salah sangka."
" iya kan Dea?" tanya Rezza
" hah kenapa aku, aku tidak tahu apa pun."
" Iya lah kamu cukup tahu isi hati aku." kata Rezza
Dea bingung dengan kata-kata Rezza
" Oh ya... bagaimana kaki kamu? udah sembuh?" kata Rezza
Dea terdiam sejenak, dia terus berfikir kenapa dia tahu kalau kakinya sedang sakit, padahal dia tidak cerita kepada siapa pun selain keluarganya dan Eno, dan tidak mungkin Eno yang memberitahu.
" Kenapa... kamu tidak mengenal'i suaraku? tanya Rezza lagi
Dea kembali mengingat saat berada di Lombok, tiba-tiba semua ingatan tentang Ezza yang muncul.
" Mungkinkah....." gumam Dea
" Iya Dea... ini aku... Ezza yang bersama mu selama ini di Lombok.'' kata Ezza
Dea hanya terdiam, air matanya mengalir.
Jadi selama ini dia menyukai Rezza, sosok yang ingin dia hindari malah Allah mempertemukan mereka di real.
Setelah hari itu mereka bertukar nomer ponsel. berawal dari sebuah aplikasi dibawa ke WhatsApp. mereka saling bertukar kabar, berjanji suatu saat nanti mereka akan bertemu.
Beberapa bulan berlalu, Dea sudah sembuh dan sudah kembali bekerja. dia berhenti main Apk tapi dia masih berhubungan baik dengan Rezza.
Hari ini Rezza datang ke Bandung tanpa memberi tahu Dea. dia sudah menyiapkan rencana lamaran dibantu oleh Eno sahabat Dea. sebuah kejutan manis setelah pulang kerja sudah disiapkan dengan sangat rapi oleh Rezza dan Eno.
Eno yang pergi menjemput Dea mengajaknya makan malam disebuah restoran. disana Rezza sudah menunggu dengan bunga yang berada ditangan nya.
Dea terkejut, melihat sekeliling, rasanya tidak percaya orang yang sangat dia sukai berada dihadapannya sekarang.
" Dea... maukah kamu menikah denganku?" kata Rezza sambil mengeluarkan sebuah cincin
Dea tidak percaya dengan apa yang terjadi. perlahan dia mengangguk, air mata bahagia menetes di pipinya.
Dan mereka pun hidup bahagia selamanya
TAMAT