Dimalam pernikahan mantan pacar, aku hamil.
Rasa tak percaya saat aku melihat Anton, kekasih yang memutuskan hubunganku siang tadi. Dia memintaku untuk menjauh dari hidupnya, kini berdiri dengan gagahnya, bersanding di pelaminan bersama wanita lain. Tempat yang seharusnya aku di sana.
Inikah alasannya, meninggalkanku tanpa sebab. Bahkan saat aku mengatakan jika aku sedang hamil anaknya dan meminta dia untuk bertanggung jawab, dia malah menuduhku sebagai wanita murahan dan memintaku untuk menggugurkan kehamilanku.
Dengan langkah sedikit cepat, aku berjalan menuju pelaminan. Dia sangat terkejut saat melihatku datang menghampirinya.
Plak!!
Semua mata tertuju padaku juga Anton, mantan kekasihku itu.
"Arini! Apa yang kamu lakukan?" Anton terlihat marah dan sama sekali tidak terlihat bersalah sedikit pun.
"Kamu tanya apa yang aku lakukan? Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu di sini. Aku hamil, Anton. Hamil anakmu, darah dagingmu." Arini pun mulai terisak. Rasa malu pun sudah hilang, yang dia ingin hanyalah pertanggung jawaban dari Anton terhadap janin yang sedang dikandungnya.
"Apa kamu yakin itu anakku?" Sindir Anton sambil tersenyum sinis.
"Apa maksud kamu, Anton?" Arini tidak menyangka, lelaki yang selama ini dia puja telah berubah.
"Bisa saja 'kan anak itu hasil hubunganmu dengan laki-laki lain." Sira, mempelai wanita ikut nimbrung.
"Aku bukan wanita murahan, aku juga bukan mainanmu, Anton. Andai saja malam itu kamu tidak mencekok aku dengan minuman, hal ini tidak mungkin terjadi."
"Apa benar yang kamu katakan, Arini?" Dengan tutur yang lembut mamanya Anton mendekati Arini.
Pesta pernikahan sudah berubah menjadi cerita kisah nyata, bagai sebuah sinetron di televisi.
"Aku hanya melakukannya sekali, Ma." Anton membela diri.
"Diam kamu!" Papa Anton pun membentaknya.
Papa dan mama Anton mengajak duduk Arini, dan meminta Arini menjelaskan semuanya. Setelah mendengar penuturan Arini, mereka pun tidak tau harus berbuat apa. Anton dan Sira sudah sah menjadi suami istri, mereka tidak mungkin menikahkan Anton dan Arini saat itu juga.
Anton turun dari pelaminan, lalu perjalan menuju Arini. Mukanya sudah merah padam, antara marah dan malu akibat ulah Arini. Ditambah lagi para tamu undangan yang memperbincangan tentangnya dan Arini.
"Keluar kamu!" Dengan kasar Anton menarik Arini dan menyeretnya ke arah pintu keluar.
Anton mendorong Arini hingga hampir terjatuh, untuk ada seseorang yang dengan sigap menangkap Arini.
"Sudah aku katakan padamu, anak itu bukan anakku, bukan darah dagingku. Aku sudah memintamu untuk menggugurkannya, kenapa kamu keras kepala. Ingat baik-baik, setelah hari ini jangan lagi kamu menemuiku. Anggap kita tidak pernah saling kenal. Bahkan saat kita tidak sengaja bertemu sekali pun" Arini tak kuasa lagi membendung air mata kesedihannya. Hatinya terasa sakit dan hancur berkeping-keping.
"Dengar Anton, aku tidak rela kamu buat begini. Aku bersumpah, demi langit yang kujunjung dan demi bumi yang kupijak, kamu tidak akan pernah menemukan kebahagiaan di sepanjang hidupmu. Kamu akan menderita, bahkan lebih menderita dari penderitaanku saat ini." Arini berteriak dengan seluruh sisa tenaganya.
Duarrr
Tanpa angin dan hujan, tiba-tiba kilat dan suara petir menggelegar memekakkan telinga.
Dengan langkah terhuyung, Arini meninggalkan gedung itu. Meninggalkan mata yang sedang menatap iba dan jijik ke arahnya.
"Aku akan hidup lebih lama, aku akan menyaksikan secara langsung bagaimana kamu begitu tersiksa menjalani karmamu." Arini menghentikan sebuah taksi lalu pergi dengan taksi itu pulang ke rumahnya.
Beberapa bulan kemudian,
Arini sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Hari ini dia sedang membeli segala kebutuhan untuk bayinya yang akan segera lahir.
Meski tanpa suami dan keluarga, dengan kegigihannya, Arini bisa melewati hari-harinya. Dukungan dari teman dan atasan di tempat kerjanya, kini Arini hidup bahagia.
"Arini." Terdengar suara orang memanggil Arini. Suara yang tidak asing baginya.
"Apa kita saling kenal? Atau mungkin kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Arini.
"Sayang, aku mohon, maafkan aku. Aku ngaku salah, aku berdosa padamu juga anak kita." Anton memegang kedua tangan Arini, tapi Arini menepisnya.
"Maaf kamu bilang? Gak salah? Setelah istrimu lari dengan laki-laki lain dan melahirkan anak dari laki-laki lain, kamu datang padaku dan minta maaf. Tidak semudah itu, Anton yang terhormat!" Arini sengaja menekankan kata-katanya.
Arini mendengar kabar, jika pernikahan mantan kekasihnya hancur. Sira ternyata hamil dengan laki-laki lain dan menjadikan Anton sebagai korban.
Setelah beberapa bulan menikah, Sira melahirkan seorang anak. Bukan anak Anton melainkan anak dengan laki-laki lain. Setelah itu, Sira pun kabur bersama kekasihnya dan meninggalkan Anton bersama bayinya.
"Aku menyesal meninggalkanmu, aku tidak tahu jika ternyata Sira sudah hamil. Aku tidak bisa menceraikannya waktu itu, karena ... "
"Karena orang tuanya lebih berkuasa 'kan? Dasar laki-laki matre. Sekarang nikmatilah penderitaanmu." Arini bergegas meninggalkan Anton, dia tidak ingin terluka lagi.
Anton mengejar Arini, tapi langkahnya terhenti saat seorang lelaki datang menghampiri mantan kekasihnya itu.
"Berhenti mengejar calon istriku," ujar Rama. Rama adalah atasan Arini di kantor.
"Dia kekasihku!" Anton tidak mau kalah.
Rama menyeringai. "Kekasih? Wanita yang kau campakkan lebih tepatnya." Tegasnya.
"Arini, dengarkan penjelasanku, aku mohon." Anton menghalangi jalan Arini dan Rama.
"Cukup, Anton! Di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk melupakanmu, menganggap bahwa kita tidak pernah bertemu dan saling kenal." Arini meluapkan semua apa yang ada dalam hatinya.
"Tapi, anak yang ada di dalam perutmu adalah anakku." Anton bersikeras.
"Kamu salah, anak ini milikku." Rama menggandeng tangan Arini lalu mengajaknya pergi.
Anton berdiri mematung melihat kepergian Arini, wanita yang dulu dia sia-siakan, yang dulu dia permalukan.
Sementara itu, di mobil Rama.
"Terima kasih, Pak." Arini sangat lega karena Rama datang di waktu yang tepat.
"Sudah aku katakan berulang kali, jika kita sedang berdua, jangan memanggilku pak."
"Terima kasih, Mas." Arini mengulangi ucapannya.
Rama menyukai Arini, tapi gadis itu selalu jaga jarak.
"Kapan kamu bisa menerimaku dan mau menikah denganku?" Entah sudah berapa kali pertanyaan itu Rama lontarkan pada Arini.
"Aku bukan wanita yang baik, Mas. Kamu bisa melihatnya sendiri," tutur Arini.
"Sudah berulang kali aku katakan, aku tidak peduli. Aku menerimamu, apapun yang terjadi." Perkataan Rama selalu sama setiap kali Arini berusaha untuk menolaknya.
Rama terus mengemudikan mobilnya menuju ke suatu tempat. Tempat di mana Arini tidak mungkin menolaknya.
"Bukankah ini jalan menuju rumahmu?" tanya Arini.
Rama diam saja, tidak berniat sedikit pun untuk menjawab pertanyaan Rama.
Sesampainya di rumah Rama,
"Ayo masuk." Rama mengajak gadis idamannya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Dengan terpaksa Arini mengikuti langkah Rama.
"Sore, mama, papa." Rama menyapa kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang keluarga. Mereka sedang duduk santai sambil menonton TV.
"Siapa yang kamu bawa, sayang?" tanya papa Rama.
"Mama tau, ini pasti Arini." Mama tersenyum pada Arini lalu mengajaknya untuk duduk.
"Mama kenal sama gadis ini?" tanya papa.
"Mama nggak kenal, Pa. Tapi, Rama sering bercerita tentang Arini pada Mama." Perkataan mama membuat Arini tersipu malu. Bagaimana bisa Rama menceritakan tentang dirinya pada kedua orang tuanya tersebut.
"Hemmm ... sepertinya sebentar lagi kita akan punya menantu nih, Ma." Papa tersenyum sambil melirik ke arah Arini.
"Tidak, Pa." Rama terduduk lesu.
"Kenapa?" tanya papa dan mama bersamaan.
"Arini menolakku," jawaban Rama sontak membuat papa dan mamanya tertawa.
"Kamu lihat Arini, mereka mentertawakanku." Rama terlihat sangat kesal.
Arini hanya terdiam dan serba salah di hadapan kedua orang tua Rama.
Mama Rama mendekati Arini, lalu duduk di sampingnya. Mama mengusap perut Arini dengan lembut.
"Sudah berapa bulan?" tanya Mama.
"Sudah ... Awh." Arini merintih sambil memegangi perutnya.
"Ma, sepertinya Arini sudah mau melahirkan." Rama terlihat sangat panik.
"Bawa ke rumah sakit." Mama membantu Rama memapah Arini sampai ke mobil.
Mama duduk di bangku belakang bersama Arini, sedangkan Rama mengemudikan mobilnya.
"Loh, kok aku ditinggal." Papa bengong melihat mobil Rama yang sudah menjauh.
Di rumah sakit,
Rama dan Mama tersenyum bahagia, melihat bayi mungil yang baru saja terlahir ke dunia ini. Bayi laki-laki yang tampan, sangat mirip dengan wajah Arini.
"Rama, adzani bayi ini." Mama meminta Rama untuk mengadzani bayi Arini. Mendengar permintaan mama Rama, Arini pun meneteskan air matanya.
Dengan suara yang lembut dan terdengar sangat merdu, Rama mengadzani bayi Arini.
"Menikahlah kalian, sebelum anak itu besar. Dia butuh orang tua yang lengkap." Tiba-tiba papa Rama masuk dan menyuruh Arini dan Rama menikah.
Mama dan papa terus membujuk Arini, hingga akhirnya Arini pun mau menikah dengan Rama.
Beberapa bulan kemudian,
Hari pernikahan sudah ditetapkan, janji suci pun sudah diikrarkan. Gaun pengantin sudah terpasang indah di tubuh Arini. Riasan tipis dipoleskan ke wajah Arini, semakin menambah ayu wajah ibu beranak satu tersebut.
"Selamat ya sayang, akhirnya kamu sudah sah menjadi istri Rama." Mama mengusap punggung Arini dengan lembut.
Di gedung ini, dengan dekorasi yang sangat mewah, Arini duduk bersanding di pelaminan bersama Rama. Putranya berada di gendongan mama Rama, terlihat tampan dengan balutan pakaian yang senada dengan pakaian yang dipakai oleh Rama.
"Terima kasih mas, kamu dan keluargamu mau menerimaku dengan tangan terbuka. Terima kasih, karena sudah membuatku bahagia." Arini menggenggam tangan Rama dan memandang wajah pria yang sudah sah menjadi suaminya.
"Aku akan membuatmu dan juga anak kita bahagia, selamanya." Janji Rama dan akhirnya mereka pun tersenyum bahagia.
SELESAI.