Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil dan aku baru tahu saat matahari hampir terbenam sempurna. Aku masih memiliki waktu untuk meyakinkannya agar dia kembali padaku, dengan alasan demi anaknya yang sedang ku kandung sekarang. Dia bisa saja menolak ku tapi tidak mungkin dia menolak anaknya sendiri bukan.
Pikiranku beradu dengan hatiku. Hatiku ingin mendiami semua yang terjadi sekarang sebab ada hati seorang wanita tidak bersalah di dekatnya sekarang yang tentu saja harus dipertimbangkan perasaannya sebab dia tidak tahu apa-apa tapi pikiranku menyatakan sebaliknya.
Bagaimana aku hidup dengan menanggung malu, bagaimana anakku hidup tanpa ayahnya dan bagaimana aku menghidupi aku dan anak ini kelak. Oleh sebab itu aku butuh sosoknya. Itu isi pikiranku saat ini.
Aku bergelut dengan pikiran ini sejak malam tiba di kamar ku dengan lampu yang padam. Aku berguling di atas kasur dengan perasaan gelisah. Kadang aku sudah mengetik sesuatu di hpku dan hendak mengirim pesan padanya namun ku urungkan.
Aku tidak berani bicara pada Tuhan atau mengadu padanya tentang nasibku setelah apa yang sudah kulakukan. Aku malu dan menyesal. Aku merasa tidak pantas untuk itu.
Setelah cukup lama, ku putuskan untuk menjumpainya dengan banyak pertimbangan. Aku bisa jadi istri ke dua atau istri simpanannya apapun asal anak ini punya sosok ayah. Dia butuh Ayahnya itu yang ku tahu. Lagi pula apa mungkin seorang ayah dapat menolak calon anaknya. Aku yakin dia akan terima anak ini.
Kami berjumpa di sebuah cafe yang cukup sepi dan ini kali pertama aku datang kesini. Dia sudah menunggu rupanya, dia menatapku begitu aku sampai di hadapannya. Dia menatapku seolah tidak ada penyesalan atau apapun itu setelah dengan kejam dia meninggalkan ku.
Aku langsung duduk dan mengeluarkan tes pack yang bertanda positif di hadapannya tanpa basa-basi. Dia meraihnya dengan tenang, kupikir dia sudah tahu maksud kedatangaan ku padanya malam ini.
"Aku ingin kau tanggung jawab dan jadi Ayah dari anak ini" ucapku tegas.
Bukannya menjawab dia malah tersenyum miring sambil menatapku.
"Dia bukan anakku, kau yakin dia anakku" jawabnya kejam tanpa basa-basi.
Aku langsung berdiri dan melayangkan tanganku padanya hendak memukul wajahnya yang tenang itu. Aku salah, dia bahkan tidak menerima anaknya sendiri. Dia meraih tanganku dengan keras dan menghentakkannya keras sampai aku terduduk kembali di kursi yang kududuki sebelumnya.
"Kau pikir kenapa aku meninggalkanmu? kenapa" ucapnya cukup keras dengan mata berkaca-kaca.
"Kau pikir kenapa aku yang sangat sayang padamu tiba-tiba pergi jauh darimu" tambahnya lagi dengan suara bergetar.
"Kau yakin di ulang tahun Rangga tidak melakukan apapun" tanyanya lagi membuat aku bertanya-tanya apa yang kulakukan selain hal itu dengannya.
"Itu bukan aku, tapi Rangga. Ayah anak itu Rangga dan aku melihat dengan mataku kau tidur dengannya saat aku hendak menjemputmu"
Aku terdiam dengan semua ucapannya yang kuanggap omong kosong, dia hanya ingin lari dengan tanggung jawabnya. Aku dengan Rangga? kebohongan apa ini. Tapi matanya mengisyaratkan kebenaran, dia tampak tulus mengatakan semua itu.
"Kau Ayah anak ini dan aku yakin" ucapku sedikit ragu karena ucapannya barusan.
"Rangga akan datang, dia akan jelaskan semua"
Rangga yang rupanya sudah ada di cafe tersebut sejak tadi mendekat pada kami dengan wajah babak belur. Dia menarik kursinya dan duduk dengan pelan.
"Aku minta maaf, aku sengaja melakukan itu padamu karena kau menolakku. Aku sengaja membuat kau mabuk dan tidak sadar bahwa itu aku bukan Dika"
Seketika tanganku mendarat di pipinya. Aku menangis begitu saja, air mataku mengalir deras begitu mendengar semua itu dari Rangga.
"Tolong jangan pukul lagi, Dika sudah melakukan itu padaku. Aku akan tanggung jawab dan jadi Ayah anak itu" ucapnya setengah memohon padaku.
Aku tidak bisa bicara apapun. Aku mengejar Dika yang sudah mulai beranjak dari tempat kami duduk. Kuraih tangannya dengan erat, awalnya dia membuang mukanya dan enggan menatapku. Tapi tiba-tiba pertahanannya runtuh dan memelukku erat saat itu.
"Kalau itu aku, aku tidak akan melakukan hal seperti itu padamu seperti janjiku" ucapnya dengan suara bergetar.
"Aku sudah bicara pada Rangga, dia akan datang melamarmu. Anak itu butuh Ayah kandungnya" ucapnya dan berlalu dari hadapanku.
Aku terduduk lemas di lantai. Apa yang terjadi sungguh di luar nalarku. Rangga ayah dari anak ini, kenyataan itu memukulku dengan keras sampai aku merasa sesak.
"Benar, Kalau Dika orangnya dia tidak mungkin melakukan itu bukan" ucapku dalam hati.
Aku seperti orang bodoh disana dan enggan bangkit dari lantai itu. Sampai aku merasakan tangan seseorang meraih pundakku.
"Aku minta maaf, tapi sungguh aku sayang padamu sebab itu aku melakukan hal itu. Aku tidak menyesal" ucapnya tanpa ragu.
Aku ingin menghilang dari bumi saat ini juga, bagaimana mungkin aku hidup dengan kesalahan ini. Bagaimana mungkin aku melihat Dika hidup dengan wanita lain setelah tahu semuanya.