Ini kisahku seorang gadis remaja yang kini duduk di meja Sekolah Menengah Atas kini usiaku 19tahun harus merasakan kekecewaan kesedihan yang begitu dalam aku harus menerima takdirku disaat kekasih ku menikah dengan wanita pilihan keluarganya. kami harus berpisah karena kedua orang tua kami tidak merestui hubungan kami tembok besar nan tinggi dan kokoh membuat kami terpisah hingga diujung usaha kami pun gagal dan pada akhirnya disaat kekasih ku menikah aku harus menelan pil pahit karena Garis Dua Merah menyatakan aku Hamil.
Dan aku harus bisa merelakan ke kasihku meskipun aku menanggung semua luka ini Cinta ku yang sudah hilang bagai ditelan bumi hati ku hancur se hancur nya.
Nama ku Kanaya Kirana hidup ku di keluarga yang cukup berada. Namun aku anak tunggal dan sebagai anak tunggal aku sudah menghancurkan nama baik keluarga dengan membawa aib seperti ini.
Malam itu aku berjalan menyusuri jalan sepi membawa hati dan luka ini aku seperti tak sanggup hidup lagi terlintas difikirkan ingin mengakhiri hidup ini. tapi aku mencoba berfikir lagi itu semua karena aku tak punya pendirian aku menepis fikiran itu "Aku harus bisa kuat Tuhan. "
Sesampainya di rumah mami, papi masih ada diruang tamu.
"Kanaya".Panggil mami ketika aku pulang.
" Iya mi, pi. jawab ku.
lalu mereka menatap ku dengan intens keadaan saat itu sudah seperti gembel.
"Kamu kenapa, nak??".tanya mami
" Tidak apa-apa mi". jawabku
"Nak kamu seperti ini apa karena si Ryan brengs**k itu?? ".tanya mami
" Tidak mi, aku lelah saja". jawabku lalu pergi ke kamar dan mengunci nya.
Rasa kecewa bercampur dengan sama di ibartan seperti warna hitam dipadukan berbagai macam warna tetap saja berwarna hitam. hidup ku sudah ternoda aku termenung menatap nasib dan takdirku
Jika waktu bisa ku ulang aku takkan percaya apa itu cinta dan kesetiaan.