Surya baru saja kehilangan istri yang sangat dicintainya. Dia mempunyai seorang anak perempuan berusia 6 tahun. Kehidupan yang susah membuatnya harus merantau ke kota demi mencari pekerjaan. Surya terpaksa harus menitipkan anaknya Sasa pada neneknya di kampung.
"Nak, Kamu tinggal sama nenek di sini ya! Bapak mau cari duit yang banyak buat Sasa, Sasa pengen apa?" tanya Surya pada anaknya, berusaha tegar walaupun hatinya sakit harus berpisah dengan biah hatinya.
"Bapak mau cari duit dimana? Sasa bisa kok kerja. Dulu Sasa suka bantuin Ibu kerja," ucapnya polos.
"Sasa di sini aja temani Nenek, kasihan Nenek sendiri di rumah. Nanti kalo duit Bapak udah banyak, Bapak janji akan pulang dan gak akan pergi lagi." Surya memeluk Sasa dengan erat sambil terisak menahan air mata yang ingin keluar.
Sasa memandang neneknya yang sudah renta, dia tak tega meninggalkan neneknya sendirian.
"Bapak janji!" seru Sasa dan dibalas anggukan oleh Surya.
Sasa melihat kepergian Bapaknya, di teras kayu yang sudah tua Sasa berdiri memandang sang pelindungnya selama ini menjauh merantau mengadu nasib di ibu kota.
Waktu berlalu, meskipun Sasa masih berusia 6 tahun tapi dia terpaksa menjadi dewasa karena keadaan yang memaksa, mengurusi neneknya yang sudah tua. Tak ada sanak saudara dan tetangga yang peduli karena di kampung jarak rumah mereka sangat jauh dengan yang lain, apalagi rumah nenek Sasa sangat terpencil dan sangat miskin.
Sasa dengan telaten memasak dan mengurusi neneknya. Sudah satu bulan berlalu, Bapaknya tak pernah pulang dan mengirim kabar, Sasa setiap sore hari menunggu duduk di teras rumah.
"Sa, cepat masuk sudah mau maghrib, jangan lupa tutup semua pintu dan jendela," ucap nenek.
"Ya, Nek."
Sasa segera bergegas menutup pintu dan jendela, ntah mengapa setiap hari neneknya selalu mengingatkannya untuk menutup pintu dan jendela saat mau maghrib dan jangan membukanya sampai esok pagi. Setiap Sasa bertanya nenek hanya diam.
Sasa dan neneknya tidur di sebuah bilik kecil dan hanya tidur di atas dipan beralaskan tikar. Miris memang, tapi kenyataan tak membuat Sasa mengeluh.
"tap ... tap ... tap." Suara langkah kaki membangunkan Sasa di tengah malam. Dinginnya angin malam menembus celah dinding yang sudah termakan rayap membuat Sasa kedinginan tak bisa tidur nyenyak.
"tap ... tap ... tap." Suara langkah kaki terdengar lagi dari balik jendela.
"Nek! Ada suara kaki,Nek." Sasa menggoyang-goyangkan badan neneknya, ada rasa takut di hatinya.
"Jangan di dengarkan, Sa. Cepatlah tidur, itu hanya suara ayam," jawab nenek Sasa.
Esok pagi Sasa bangun tidur langsung keluar memeriksa jendela kamarnya, ntah mengapa dia sangat penasaran.
"Ini jejak apa ya! Kenapa besar sekali. Apa ayam bisa pakai sepatu, mengapa jejak ini seperti bukan kaki ayam," Sasa bingung memikirkan ucapan neneknya, mengapa neneknya bilang ayam tadi malam.
Sasa kembali ke rumah dan ingin bertanya pada neneknya tapi melihat kondisi neneknya yang mulai sakit-sakitan membuatnya urung.
Seperti biasanya setiap sore Sasa duduk menunggu Bapaknya berharap ada sosok Bapaknya datang mengunjunginya.
"Sa, mau maghrib. Cepat tutup pintu dan jendela!" teriak neneknya.
"Ya ... Nek!"
Malam hari ini gerimis menemani tidur mereka, bayangkan tubuh sekecil ini harus tidur berselimut dingin karena mereka tak punya apa-apa untuk menghangatkan tubuhnya.
"tap ... tap ... tap." Suara langkah kaki kembali terdengar di tengah malam.
Sasa terbangun lalu berdiri mengintip jendela, kebetulan ada lubang kecil pada kayu jendela. Dia penasaran pada suara yang membangunkannya di tengah malam.
"Sa ... kamu ngapain, jangan dilihat. Ayo sini tidur lagi sama Nenek," ucap nenek yang terbangun karena Sasa berdiri di jendela.
Sasa berbalik kembali ke tempat tidurnya lalu bertanya pada neneknya, "Nek, tadi aku dengar ada yang berjalan di bawah jendela."
"ssssstttttt ...." Nenek meletakkan ibu jari ke mulutnya lalu berkata, "Ingat kata-kata Nenek, jangan pernah dengar apapun dan jangan sekali-kali membuka jendela."
"Kenapa?" tanya Sasa.
"Sudahlah, ayo tidur lagi besok kita cari kayu bakar karena kayunya sudah habis." Nenek mengalihkan pembicaraan agar Sasa tidak bertanya lagi.
Kondisi kesehatan nenek sudah lemah, penyakit sudah menggerogoti tubuhnya yang semakin kurus. Cuaca yang sering hujan membuat tak bisa bertahan. Malam ini hujan sangat deras di sertai angin dan petir. Nenek malam ini tidur dengan memeluk tubuh cucunya yang sangat disayangi.
"tap ... tap ... tap." Suara langkah kaki terdengar kali ini sangat jelas.
Sasa membuka mata kecilnya yang masih ngantuk, dia berniat membangunkan neneknya, tapi neneknya terlihat sangat nyenyak.
"Nek, ada suara lagi di jendela. Sasa lihat sebentar ya Nek!"
Tak ada jawaban dari nenek, Sasa memberanikan diri bangun dan berjalan mendekati jendela memastikan apa yang selama ini menggangu tidurnya. ditempelkan matanya pada celah jendela betapa kagetnya, dia melihat Bapaknya berjalan bersama Ibunya di luar. Sontak Sasa terlihat bahagia, tanpa berpikir dan mengingat kata-kata neneknya, Sasa dengan cepat membuka daun jendela.
"Bapak ... Ibu ...!!!" teriak Sasa.
Kedua orang di luar jendela menoleh ke arah Sasa, lalu mereka tersenyum dan berjalan mendekati Sasa, tapi apa yang terjadi tiba-tiba Sasa melihat wajah mereka yabg sangat pucat. Mereka juga berjalan terseret-seret. Kuku mereka tumbuh sangat panjang, kulitnya berubah menjadi hijau dan badanya membesar. Bau anyir dan amis menyeruak pekat. Sasa ketakutan dan menangis, dia berlari mendekat neneknya.
"Nek, bangun Nek. Sasa takut!"
Nenek diam saja tak bergeming. bahkan tubuhnya sudah pucat dan kaku membuat Sasa semakin takut.
"Aaaaarrrrgggghhhhh ...." makhluk di luar tiba-tiba masuk dan memakan gadis kecil polos yang tak berdosa, darah menciprat di setiap sudut lantai.
Berita kematian Sasa dan Neneknya membuat Surya cepat kembali ke kampung. Dia menyesal telah meninggalkan mereka dengan segala kekurangan ekonomi.
😍😍😍
selesai semoga suka ya, like dan koment
😍😍😍