Rasa benciku kepada hujan, sepertinya akan berangsur-angsur menghilang. Sebab dengan hujan kali ini, aku bertemu dengan Sandhya. Seorang gadis berkacamata bundar yang manis pada lengkung senyumannya. Tanpa sadar, aku tak lagi memikirkan Eshter lagi sedari tadi. Mungkin hujan sengaja mengurungku bersama Sandhya di hari ini. Terima kasih hujan, untuk waktu dan kesempatan yang kau berikan kepadaku saat harapanku kepada Eshter sudah sampai pada puncaknya. Setidaknya, setengah hati yang Eshter tinggalkan akan menemukan pasangannya kembali.
Aku heran, sudah satu jam setengah hujan tak kunjung reda. Mungkin siang tadi, matahari sedang terik-teriknya. Atau mungkin laut yang sedang jahil-jahilnya sehingga mengganggu matahari yang sedang cemburu kepada gunung-gunung yang selalu mendapat perhatian dari angin muson yang berhembus manja. Di luar jendela, di seberang jalan sana, seorang laki-laki berumur sekitar dua puluh tahunan duduk di bangku taman. Tempat aku duduk menunggu Eshter tadi. Sandhya tak pernah melepas pandang pada lelaki itu.
“Nona, kasihan lelaki itu. Dia kehujanan,” seruku membangunkan Sandhya dari lamunannya.
“Tidak, mungkin dia menyukai hujan. Atau mungkin ia sedang menunggu orang yang dicintainya.”
“Mana mungkin ada orang yang rela duduk di bawah rinai hujan yang lebat ini?” tanyaku penasaran.
“Mungkin saja. Aku pernah seperti dia. Aku pernah duduk berjam-jam hanya untuk menunggu seseorang. Sudah aku katakan kepadamu tadi kan? Aku pernah mencintai hujan dengan sangat,” jawabannya sungguh mengguncangku.
Aku tak tahu, ternyata masih ada orang lain yang seperti aku dulu. Mencintai hujan dengan sungguh-sungguh. Rela menghabiskan waktu yang sangat berharga demi menunggu seseorang yang dicintainya di bawah rintik hujan yang selalu membisikkan agar seseorang menyerah untuk bersabar menunggu. Sandhya wanita hebat. Masihkah dia berharap pada seseorang yang pernah ditunggunya?
“Lalu, bagaimana kabar seseorang yang kau tunggu nona?” tanyaku menyambung pernyataan Sandhya.
“Aku sudah lama menyerah untuk terus menunggunya.”
“Sepertinya kita sama, nona. Kau sudah menyerah untuk menunggu seseorang. Aku pun sama. Aku juga sudah menyerah menunggu seseorang.”
“Ha-ha. Ternyata kita sama-sama menyerah soal tunggu-menunggu, tuan?”
“Ha-ha. Benar, nona,” tawaku menutup perbincangan sesaat.
Bertepatan dengan akhir tawaku. Hujan di luar mulai reda. Reda hujannya sungguh tiba-tiba. Padahal aku kembali menyukai rintik air yang turun tanpa diminta.
“Tuan, sepertinya hujan di luar sudah berhenti. Maukah kau temani aku jalan-jalan ke kantor pos?” tanyanya sambil kembali mengikat rambutnya yang sudah mulai mengering.
“Hmm, boleh. Aku juga sedang tidak ada kesibukan akhir-akhir ini,” jawabku mengakhiri kunjungan ke kedai teh ini.