Cerita ini hanya imajinasi dan fiktif author tanpa bermaksud menyinggung pihak mana pun.
Jangan lupa kasih tanda hatinya ya❤
~~
Zaza adalah seorang gadis berbadan gendut, pendek, dan hitam manis. Teman-temannya kadang heran, keberuntungan apa yang dimiliki Zaza sampai dia mempunyai sahabat setampan dan sekaya Farhan.
Farhan sendiri kebalikan dari Zaza yang dicap buruk rupa. Farhan bahkan jadi incaran para gadis di kampusnya.
"Hai sayang,"
Ucap Farhan tiba-tiba pada Zaza. Zaza yang sibuk melamun berusaha menetralkan detak jantungnya.
Dipanggil sayang oleh Farhan?
Idola kampus? It's my dream, Mas!
Seperti para gadis lainnya, Zaza juga diam-diam menyukai sahabatnya. Cuma dalam diam. Mana berani dia mengakuinya.
Bisa viral satu kampus kalau dia ketahuan menyukai sahabat sendiri, apalagi dia dan Farhan beda jauh.
"Farhan apaan sih, prik banget ngagetin orang."
"Kaget apa salting dipanggil sayang?"
"Farhan!!"
Zaza memukul pundak Farhan sampai laki-laki itu mengaduh kesakitan.
"Jangan pake otot baja tulang besi dong kalau mukul."
"Habisnya kamu minta dihajar."
Farhan cuma nyengir kuda.
"Oh ya Za, bentar lagi hari apa coba?"
Zaza tampak berpikir. Sekarang hari kamis, besok jumat, besoknya lagi sabtu.
"Besok jum'at, besoknya lagi sabtu. Dan besoknya dari besok minggu."
"Ihh bukan itu yang aku maksud."
Farhan mengacak-acak rambut Zaza gemas.
"Terus apa? Jangan diacak-acak juga rambut orang, kusut nih!"
"Idih, pake kodomo aja bangga."
"Biarin. Karena kamu juga kodomo!"
"Kodomo? Teman baikmu?"
Tanya Farhan bernada.
"Tuh tau,"
Semprot Zaza. Ups dia keceplosan. Bisa-bisa Farhan tau dia menyukai laki-laki itu.
"Lusa itu hari valentine, Zazaaa. Hari kasih sayang.."
Zara tersenyum kecut. Untunglah Farhan melupakan topik tadi. Mungkin memang sengaja kali, ya.
"Terus kalau hari valentine kenapa? Setiap hari bagi aku hari kasih sayang, kok."
"Seperti sayangnya aku ke kamu, kan?"
Goda Farhan lagi. Dia sangat suka melihat rona merah di pipi Zaza.
"Ihh apaan sih,"
Lagi-lagi Zaza tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya digoda Farhan.
Percaya diri boleh, tapi sadar diri lebih baik. Itulah yang selalu Zaza tekankan pada hatinya. Karena dia dan Farhan tidak selevel.
Farhan mah next level.
Tak lama, seorang mahasiswi cantik incaran kaum adam datang. Dia yang selalu mengejar Farhan. Seperti lintah berusaha mendekati cowok itu.
"Farhan! Bentar lagi hari valentine, lho. Mau tukar hadiah kasih sayang bareng aku, nggak?"
Ucapnya tersenyum semanis mungkin. Namanya Angel. Tapi sifatnya devil.
"Gue udah ajakin orang lain."
Jawab Farhan ketus, kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku dan pergi begitu saja.
Ingat, Farhan cuma mencair saat bersama Zaza. Tapi jika bersama perempuan lain, dia akan sebeku es di Kutub Selatan.
"Farhan!! Ini semua gara-gara lo, dasar cewek tukang pelet!"
Usai memaki Zaza, Angel berusaha mengejar Farhan.
Sedangkan Zaza menatap kepergian Farhan dengan hati yang terluka. Setiap hari valentine, Farhan selalu mengatakan dia sudah punya orang untuk bertukar hadiah. Saat ditanya apa dia sudah dapat hadiah, Farhan akan menjawab dia sudah dapat hadiah dari orang yang dia suka.
Tapi siapa?
"Se spesial apa orang itu?"
.
.
.
.
Di rumah Zaza terus memikirkan kejadian tadi. Setiap tahun dia selalu membuat kue coklat dengan kejutan di dalamnya untuk Farhan. Hadiah manis di hari yang manis untuk satu-satunya sahabat yang dia miliki. Sahabat sekaligus mas crushnya.
"Sayang,"
"Iya Ma."
"Mama mau bicara."
"Ada apa ma?"
Zaza heran, tidak biasanya.
"Besok sore kita harus berangkat ke Jepang. Mama dipindah tugaskan disana. Dan kamu tau kan, kalau papa juga bekerja di Jepang. Jadi kita bisa kumpul lagi secara lengkap."
Bagai disambar petir, Zaza tidak bisa menahan air matanya.
"Kenapa sekarang, Ma? Kenapa mendadak? Hampir sepuluh tahun papa gak pernah pulang, ketemu kita. Tapi kenapa baru sekarang dan itu pun kita yang nyusulin dia. Terus kuliah aku gimana?"
"Sayang, apa kamu gak senang di hari valentine ketemu sama papa kamu? Bukannya setiap tanggal kasih sayang itu kamu selalu menunggu papa pulang, kan?"
Zaza terdiam. Dia ingin sekali menghabiskan hari valentine bersama Farhan, tapi papanya? Juga jauh lebih penting.
Farhan, hari valentine besok..aku tanpa kamu.
.
.
.
14 Februari
Saat ini, tanggal cantik itu selalu jadi kenangan terindah bagiku
Untuk setiap kisah kita yang bahagia dari sudut pandang ku
Kue coklat spesial ini, untuk kamu
Selalu spesial seperti orangnya.. Dan seperti biasa.. Selalu ada kejutan di dalamnya.
Farhan terduduk saat membaca surat dan kue yang baru saja dia terima itu. Setetes air matanya jatuh. Sepotong coklat yang dia dapat dari orang paling spesial di hatinya sudah pergi.
Setiap hari valentine hadiah yang selalu ditunggu Farhan adalah sepotong kue coklat ini. Dan Farhan akan memberikan orang itu hadiah paling spesial baginya.
Dengan senyuman kecil, Farhan memegang kotak berisi cincin yang dia keluarkan dari sakunya.
"Zaza, aku tau kamu sudah menunggu lama. Aku juga mencintai kamu, dari dulu."
.
.
.
.
Bertahun-tahun kemudian, Zaza kembali ke Indonesia. Siapa sangka, Zaza yang sekarang bukan lagi Zaza 5 tahun lalu.
Kini, hanya gadis cantik yang berdiri di Bandara sambil membawa koper.
"Iya ma, aku udah sampai di Jakarta. Aku bisa jaga diri, kok. Bos Perusahaan tempat kerja aku nanti pasti bakalan ramah. Lagian besok hari valentine, ma. Jadi aku mau bikin coklat buat Farhan. Aku nggak tau gimana kabarnya dan seperti apa dia sekarang, tapi aku yakin dia sudah sangat sukses."
Setelah mematikan telfonnya, Zaza masuk ke dalam taksi. Sampai di apartemen, dia bersiap-siap membuat kue coklat dengan kejutan di dalamnya. Padahal baru saja dia pulang dari Jepang.
"Farhan masih ingat aku nggak, ya?"
Besoknya Zaza datang ke rumah Farhan, tapi laki-laki itu sudah pindah rumah ternyata. Dimana dia?
Seharian bertanya kesana kemari, Zaza sudah sangat lelah. Padahal hari ini hari bahagia karena hari valentine, dia bisa pulang tepat waktu untuk memberikan kejutan pada Farhan.
"Salah aku juga karena memutuskan semua hubungan dengannya. Lebih baik aku bawa pulang aja. Aha, besok kan kerja. Sekalian kasih ke bos daripada mubazir. Maafin aku, Han. Tapi aku nggak tau harus mencari kamu kemana lagi."
Di hari pertama kerja, semua karyawan tertuju pada Zaza. Bukan jadi bahan bullyan lagi, tapi jadi incaran kaum adam.
"Selamat pagi, Pak. Bapak memanggil saya?"
"Pagi. Kenapa kamu terlambat di hari pertama kerja?"
Betapa terkejutnya Zaza saat tau kalau bosnya adalah Farhan. Salahnya sih tidak mencari tau...
"Maaf Pak karena terlambat 30 detik. Oh ya Pak, ini saya bawakan kue coklat untuk bapak."
Ingin Zaza berteriak menyebut nama Farhan, tapi ini jam kerja dan rasanya tidak sopan.
"Kamu menyogok saya?"
"Bukan begitu, Pak."
"Baiklah saya terima, sekarang keluar."
Zaza membungkuk, lalu keluar dari ruangan. Di koridor Zaza berjalan lesu. Dia sedih karena Farhan sudah melupakannya bahkan mengenalinya saja tidak.
"Apa karena aku sudah meninggalkan dia begitu saja? Apa dia marah? Atau dia memang sudah melupakan aku?"
Tiba-tiba..
"Zaza!! Apa itu kamu?!!"
Farhan berteriak memanggil Zaza.
Saat berbalik dengan cepat Farhan memeluk Zaza sampai dia hampir saja terjatuh kalau tidak dipeluk oleh Farhan.
"Fa-Farhan.."
"Sepotong kue coklat itu, apa itu hadiah valentine untuk ku?"
Zaza mengangguk. Tangisnya pecah dalam pelukan Farhan.
"Apa kamu sudah melupakan aku? Sampai tadi kamu tidak mengenaliku?"
"Mana mungkin aku melupakan bidadari secantik kamu. Dari dulu, aku selalu menunggu hadiah kamu di hari valentine. Karena valentine bukan cuma hari kasih sayang, tapi--"
"Tapi hari dimana kamu lahir.."
Sambung Zaza tersenyum.
Ya, tanggal 14 Februari selain diperingati sebagai hari valentine juga sebagai hari ulang tahun Farhan.
"Aku mencintaimu, ayo menikah!"
Ujar Farhan tiba-tiba kemudian meraih tengkuk Zaza dan mencium bibirnya lembut.
Silahkan tinggalkan jejak🙏