Pilih Salah Satu
——————————————————
Catatan :
Cerita ini hasil dari pemikiran acak penulis. Jika ada kesamaan dengan cerita, latar belakang & waktu, dan tokoh, penulis mohon maaf.
————————————————
Caroline terus mengikuti Emma sejak keluar dari rumah, lebih tepatnya mengikuti kemauan Emma karena Caroline kalah dalam taruhan bermain kartu.
Biasanya, orang yang kalah dan harus menuruti yang menang, lalu Caroline sebagai kakak, Caroline jelas akan melakukan hal yang berbeda dari yang gadis kecil itu inginkan darinya.
Contohnya, membelikan es krim untuk Emma sendirian selama satu bulan. Tentu, Caroline akan membeli es krim selama satu bulan, tapi tetap berkelit dengan dalih, "Mom bilang, kamu tidak boleh makan es ekrim sendirian."
Well, pada akhirnya Caroline berhasil melakukan eksploitasi pada es krim, lengkap dengan Emma yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Namun sekarang sedikit berbeda, Caroline kalah, tapi Emma tidak mengatakan apa pun selain, "Ikuti aku." Bahkan setelah mereka berdua keluar dari rumah hanya itu yang terdengar.
Alis Caroline terangkat, namun tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengikuti gadis kecil itu keluar dari rumah menuju halaman belakang.
Di halaman belakang, Caroline melihat langit yang masih hangat, meski waktu hampir menunjukkan makan malam.
Melihat Emma berhenti di depan gudang tempat ayah mereka menyimpan peralatan kebun, mau tidak mau Caroline mengingat adegan-adegan yang ia lihat di film horor dan thriller,
Caroline langsung panik saat Emma meraih pintu gudang, "Em, Emma!" Dia maju mendekat, memegang tangan Emma yang lebih kecil darinya. "Apa yang sedang kau lakukan?!"
"Kenapa?" Emma memiringkan kepala, dia tampak heran dan bingung, apa yang kakaknya terlihat panik? Tapi dia tetap membuka pintu, "Aku hanya mau menunjukkan ini padamu."
Pintu gudang perlahan terbuka, sontak Caroline menutup mata. Potongan-potongan adegan dari film horor berputar dengan cepat di balik mata Caroline, napasnya kian memburu tatkala beberapa dugaan menyeramkan terlintas dalam benak.
"Em, Emma! Tutup kembali!"
Caroline merasakan tangannya ditarik bersamaan suara sang adik, "Kakak!" Emma beringsut maju, berteriak tepat di telinga Caroline. "Buka matamu, Kakak Bodoh!"
Wah, kalau bukan karena ketakutan Caroline menjamin kalau dia menggoda Emma seharian penuh.
Caroline membuka mata perlahan, dia melihat ; Emma yang berjinjit di samping kanan, karena gadis kecil itu tingginya hanya sebahu Caroline ; lalu di dalam gudang terdapat dua sepeda lipat ukuran besar, dan dua ukuran kecil.
Caroline melihat Emma yang mendekati empat sepeda itu, jemari kecil Emma menunjuk pada salah satu sepeda ukuran kecil warna orange, "Mom bilang, Jordan sudah meminta yang warna biru, jadi yang ini milikku."
Emma menunjuk sepeda yang besar, "Satu yang besar punyamu, tapi Mom bilang, kamu pilih salah satu." Caroline menilik kedua sepeda besar itu, satu berwarna hitam dengan garis emas, yang lain berwarna ungu dengan garis hitam.
Emma menjelaskan dengan riang, "Lalu yang lain untuk Monica karena sudah menjagaku selama Mom bekerja."
Melihat empat sepeda lipat yang bagus dan Emma sendiri yang menunjukkannya, bukan Mom. Satu kesimpulan yang berhasil Caroline pikirkan.
Dia menatap Emma, agak curiga, "Kamu menunjukkan ini," Caroline berucap hati-hati ketika melihat senyum kemenangan pada wajah Emma. "Katakan, kamu mau aku mengajarimu berkendara sepeda?"
"Betul!" Emma mengangguk semangat, bahkan tangan kecil itu bertepuk-tepuk seperti singa laut, pikir Caroline. "Ajari aku setiap hari! Setelah kamu pulang sekolah!"
Pulang sekolah bukannya istirahat, Caroline justru harus mengajari Emma menaiki sepeda dengan benar. Caroline menghela napas, dia tidak bisa menolak, "Tidak untuk hari minggu, aku harus mengerjakan PR."
"Oke!" Emma memekik, kemudian berlari ke dalam rumah setelah Caroline memeluk dirinya yang agak tertegun.
"Ternyata menjadi seorang kakak itu," gumam Caroline, dia dapat merasakan kepalanya berdenyut. "agak menyusahkan."
.
.
.
—The End—
09 Februari 2022