Dean Mahayana itu Namaku, Saya seorang Barista dan mempunyai Kedai kopi suatu hari di hari Senin Bulan Januari di malam hari.
'Kamu divonis mengidap penyakit Kanker Otak stadium akhir, waktumu tersisa 30 hari lagi dan maafkan kami. Selesaikan urusanmu yang ada disini'. Kata-kata itu menghantam jantungku, bagaimana mungkin aku bisa mengidap penyakit ini? Aku masih muda dan aku masih punya cita-cita. Bagaimana mungkin Tuhan tega kepadaku? Apakah salahku kepada mu Tuhan? Sebegitu bencinyakah kau terhadapku? Aku mempertanyakan itu sepulang aku dari Rumah Sakit.
Malam itu aku pulang, bodohnya aku pun menyiapkan diri untuk besok sesampai di rumah dan langsung tidur terlelap. Memangnya ada apa besok? Hanya hari-hari bodoh bersama orang asing yang menjengkelkan dan suka ikut campur, walau kuakui orang asing bernama rani, dengan tinggi semampai dengan postur tubuh yang indah, ah seperti malaikat saja dia
Yap masuk ke hari pertama dimana berarti sisa 29 hari lagi, aku datang siang itu pukul 1 kutunggu dia di rumah sakit. Lalu secara mengagetkan dia muncul di hadapanku membawa ice cream vanilla, aku tak mengerti kenapa dia bisa tau apa yang aku suka atau ini memang mungkin hanya kebetulan semata.
'Sudah siap?' tanyanya. Aku menjawab 'Yah siap untuk menjalani hari pertama'. Kataku tak acuh.
'Hei semangatlah, kau akan mengalami sesuatu sebagai pembelajaran hidupmu hari ini.' Ucapnya sambil tersenyum. 'oke, oke orang asing, mau kemana kita hari ini?'. 'jangan hancurkan kejutannya. Kau akan tau nanti'. Sambil menggandeng tanganku kami pergi ke motornya. Aneh sekali aku tak marah sedikitpun ketika dia menggandeng tanganku, orang asing aneh yang membuatku nyaman.
'Kita sudah sampai, di yayasan untuk anak-anak kanker di Indonesia'. Sambil tersenyum dia menolongku turun dari motornya. 'Mengapa kita disini? Aku tak mau disini.' Ucapku sambil sedih. 'Kau harus disini, percayalah kau akan bahagia disini.'
Hari itu aku melihat, memperhatikan dengan takjub ketika Rani membantu anak-anak tersebut dan menghibur mereka, seolah anak-anak itu adalah keluarganya, Anak-anak ini mengidap penyakit yang sama terhadapku, anak-anak ini tak menyerah dan tetap semangat. Mereka menghargai kehidupan sebagaimana semestinya. Mereka bahagia walau mereka tau hidup mereka tak akan lama lagi. Aku merasa malu, tak kuasa aku menahan tangisku dan Rani melihatku, aku pun hanya tersenyum dan berkata 'Aku mau ke toilet' sambil menunjuk keluar.
Aku tak masuk kembali ke ruangan, aku duduk di sebuah ayunan sambil melamun ketika seorang anak mengejutkanku. 'Kakak, ngapain disini? Kok gak masuk ke dalam?' dia berkata. 'gak papa kakak lagi pengen duduk disini aja, kamu ngapain disini?'. 'Aku disini karena aku pengen menikmati alam ini aja, udaranya, mataharinya, selagi aku bisa aku harus menikmati apapun yang Tuhan berikan.' Aku merasa tersentuh mendengarnya. Aku mendekapnya dan berkata 'Mulai saat ini kita berteman, namaku Dean siapa namamu?.' 'Namaku Rere, dan aku akan sangat senang menghabiskan waktu dengan kakak.' Dengan tulus dia tersenyum.
Setiap hari semenjak hari pertamaku ke rumah anak-anak itu aku mengahabiskan waktuku dengan Rani, dia baik sekali kepadaku sampai aku tak kuasa terharu dan tersenyum. Kami bermain ke taman air, wahana hiburan dan pergi bersenang-senang sampai aku lupa kalau aku mempunyai penyakitku. Sampai pada akhirnya kondisiku yang begitu lemah, aku terjatuh dan pingsan, aku dirawat di rumah sakit, dan rani setia menemaniku, kami menghabiskannya dengan bermain kartu, monopoli atau bahkan hanya sekedar bercanda-canda.
Bersambung