seorang laki-laki bernama Wisnu sering sekali bermimpi buruk membuatnya sangat tidak tenang walaupun hanya tidur sebentar, Wisnu kerapkali selalu memakan obat tidur agar dia bisa tidur sepanjang malam.
di dalam mimpi seorang gadis yang bernama sara menghianati guys dan berencana untuk membunuh Wisnu, Wisnu dikejutkan saat pisau itu menusuk ke perutnya membuat iya bangun dari tidurnya setelah kejadian mimpi itu membuat Wisnu tidak bisa tidur lagi.
pagi hari Wisnu sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
"Wisnu kamu mau kemana sayang?" tanya sang bunda bernama Sera.
"aku berangkat kerja dulu bunda ada urusan sekarang" jawab Wisnu dengan tersenyum kepada bundanya.
"Kau tidak sarapan dulu Wisnu?" tanya sang bunda.
"tidak Bun aku akan berangkat sekarang!" jawab Wisnu kembali.
"baiklah ini bawalah bunda telah menyiapkan bekal untukmu" ucap Sera menyodorkan kotak makanan itu.
"terima kasih baiklah Bun aku berangkat dulu aku menyayangimu!" ucap Wisnu dengan memeluk Sera.
"sama-sama sayang yang hati-hati ya!" balas sang bunda Sera.
sedangkan kan Aryan hanya tersenyum melihat mereka berdua.
"hei kalian kenapa kalian selalu membuatku cemburu!" ucap Arian dengan nada marah namun dia hanya bercanda.
"oh ayolah sayang kau cemburu dengan?" tanya Sera.
"tentu saja sayang dia itu pria normal sedangkan kau wanita yang sangat cantik" jawab Aryan.
"ya ampun kau berkata seperti itu membuatku ingin sekali menarik mu ke kamar!" ucap Sera dengan menatap suaminya itu.
"baiklah baiklah aku akan pergi dulu Bun sebelum kau bersatu dengan ayah dan aku mendengar desahan itu" ucap Wisnu lalu mencium kepala bundanya itu.
"aku pergi dulu Bun!" ucap Wisnu lalu pergi meninggalkan kan dan Arian berdoa di sana setelah Sera menganggukkan kepalanya.
"ada apa sayang kau menarikku kamar ini?" tanya Arian yang bingung dengan kelakuan istrinya.
"oh kau menginginkannya sayang?" tanya Aryan, dengan wajah nakalnya
"hey pak tua kok sudah tua tapi kelakuanmu seperti anak muda saja!" balas Sera dengan menatap suaminya.
"tapi kau membuatku di bawah lain tanah terbangun sayang" ucap Arian kepada Sera. Sera pun melihatnya dan tertawa.
"hahaha sayang dia itu kenapa adik kecil kamu selalu terbangun padahal aku hanya mengatakan itu" jelas Sera dengan tawanya itu.
"baiklah jika kau tidak mau aku lebih baik keluar sajak dari sini!" ucap Arian lalu melangkahkan kakinya namun saat melangkahkan kakinya keluar Sera memegang tangannya.
"aku ingin berbicara denganmu sayang!" ucap Sera dengan serius.
"hei aku ingin berbicara apa? katakanlah!" tanya Aryan lalu mempersilahkan Sera untuk berbicara.
"aku ingin Wisnu segera menikah sayang!" ucap Sera merengek.
"Sayang kalau kau mau, katankan lah pada Wisnu sendiri!" balas Aryan.
"Ihh, kau yang harus berbicara padanya sayang, kau tahu kan, setiap aku akan berbicara, dia selalu saja pergi dan beralasan saja!" ucap Sera dengan kesal, karena suaminya sendiri tidak ingin membantunya!.
"sayang, itu urusan Wisnu sendiri, lebih baik kita jangan mencampuri nya!" ucap Aryan pada Sera.
"Kau ayah kandungnya, tapi kau tidak memikirkan putramu! kau ingin dia melajang seumur hidupnya? ya hanya aku ibu tirinya yang mengkhawatirkan putraku melajang seumur hidupnya, kau sangat tidak peduli!" ucap Sera dengan kesal.
Memang Sera itu adalah ibu tirinya Wisnu, namun Sera sangat menyayanginya, bahkan sangat mencintainya.
Sera juga memiliki putri yang cantik, namun saat umurnya 3bulanan, putrinya di culik oleh orang, membuat Sera terpuruk dalam kesedihan, sampai akhirnya ia melihat Wisnu yang berumur 1 tahun membuat dia sangat senang, lalu Sera pun menikah dengan Aryan, karena Aryan mencintainya juga, sedangkan Sera mempunyai suami namun suaminya berselingkuh lalu suaminya memilih wanita lain di banding dengan dirinya.
"Bukan seperti itu sayang, tapi... baiklah nanti aku akan berbicaranya dengannya saat makan malam nanti, oke!" ucap Aryan dengan menyerah.
"Hmmm, baiklah kalau begitu, awas jika kau lupa!" ancam Sera dengan menatap sinis pada Aryan.
"Baiklah sayang, tidak akan" ucap Aryan menyakinkan.
Di kota lain, terdapat seorang gadis yang cantik dan jelita, dia sedang bekerja di rumah keluarga kaya, sebagai pembantu. Dia adalah Sarah, wanita yang baik dan cantik, namun sayang pendidikan nya tidak tinggi, membuat Sarah harus bekerja menjadi pembantu, namun meskipun menjadi pembantu, gajihnya itu lumayan besar.
Sarah ingin bertemu dengan Sera ibu kandungnya, seseorang memberitahu bahwa dia masih memiliki ibu kandung, dan mengatakan dengan jelas, sarah yang mendengarnya sangat bahagia, ia ingin segara bertemu dengan ibunya itu.
Namun setelah mengatakan ada seorang anak laki laki yang sangat Sera sayangi membuat dirinya marah dan kesal, apalagi saat Sera tidak lagi memikirkan putrinya itu, yang artinya dirinya sendiri.
Sarah dengan faham ingin merebut semuanya, yang harusnya menjadi miliknya, ia ingin menyingkirkan laki laki tersebut dari sisi Sera!.
Sarah memiliki seorang ayah, ayahnya mengatakan bahwa dia bukan Putri kandungnya ayahnya itu bernama Sandy sebenarnya sandi tidak ingin mengatakannya atau membicarakan kebenarannya namun sandi memikirkannya lagi bawa Sarah berhak mengetahui semuanya. lalu Sandy pun menceritakannya saat Sarah berumur 17 tahun membuat Sarah terkejut akan hal itu.
setiap malam Sarah selalu menangis, sedih, kesal, marah karena hal tersebut, namun saat Sarah berumur 20 tahun ada seorang laki-laki yang mendatangi nya menceritakan keluarga Sera yaitu ibu kandungnya sendiri.
kini Sarah berumur 23 tahun Sarah ingin ke kota A itu untuk bertemu dengan Sera. iya ingin mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya, ibu angkat Sarah telah meninggal saat Sarah berumur 10 tahun membuat ia kehilangan kasih sayang dari ibunya.
"Sarah ada apa? kenapa kamu diam saja?" tanya majikan itu bernama Soraya, Soraya adalah orang yang baik dan suaminya bernama Deni, Sera memang bersyukur bekerja di rumahnya saudara yaitu kadang kerapkali Sarah selalu diberi pakaian yang bagus kadang baru kadang baju bekas.
namun bagi Sarah, mau bekas atau mau baju baru pun ia tetap bersyukur yang penting masih bisa layak dipakai.
Sarah adalah gadis yang lembut cantik dan baik hati dan kecantikannya itu membuat semua orang sangat menyukainya, namun siapa sangka Sarah yang begitu baik memiliki dendam terhadap Wisnu putra tiri dari Sera.
"Tidak apa apa nyonya, saya hanya sedang diam dlsaja!" ucap Sarah dengan asal, membuat Soraya bingung.
"Ohhh,, baiklah sekarang kamu lebih baik makan lah dulu, biar badan kamu tidak kurus seperti ini Sarah!" ucap Soraya pada Sarah.
"Emmmm, iya nyonya, saya akan makan!" ucap Sarah menundukkan badannya.
"Baiklah kalau begitu, makan dulu ya Sarah!" ucap Soraya, lalu pergi meninggalkan Sarah.
Di kota A, Wisnu sedang berada di ruangannya merenungkan malamnya setiap hari.
"kenapa kau selalu barada di mimpiku? apa yang kau inginkan Sarah?" ucap Wisnu bertanya tanya, karena tidak mengerti hal ini.
Tok tok tok
pintu pun terketuk, lalu terbukalah, menampilkan sekertaris nya Wisnu itu.
"Tuan, ada yang harus di tanda tangani!" ucap sekertaris nya itu.
"baiklah" ucap wisma lalu menandatangani surat itu.
"Terima kasih tuan, saya kembali dulu!" ucap nya lalu pergi meninggalkan ruangan setelah mendapat anggukan dari Wisnu.
Wisnu pun keluar, namun saat keluar, sekertaris yang bernama Dio itu, mau mengetuk pintunya.
"Ada apa Dio?" tanya Wisnu dengan dingin.
"Tuan, saya ingin mengatakan, bahwa ada pertemuan makan siang dengan klien dari negara C bernama Li Chung Yun" jawab Dio.
"Baiklah, jam berapa makan siangnya?" tanya Wisnu lagi.
"Sekitar jam 1 siang tuan!" jawab Dio.
"Baiklah, kau boleh pergi!" ucap Wisnu dengan tanpa ekspresi.
"Tapi,,, tuan akan datang?" tanya Dio ragu ragu.
"Iya, siapkan saja semuanya Dio!" jawab Wisnu, lalu ke ruangan lagi.
Di kota lain, Sarah sedang bersama ayahnya, pamit untuk ke kota A mencari ibunya itu.
"Ayah, kau mengizinkan aku untuk kesana kan?" tanya Sarah dengan sedih.
"Tentu saja, ayah tidak bisa mencegahmu, tentu kau ingin bertemu dengan ibu kandungmu itu!" Jawa Sandy.
"Terima kasih ayah, aku tidak akan melupakan dirimu, jaga di sini baik baik ya!" ucap Sarah memeluk Sandy dengan menangis.
"Iya tentu, ayah orang yang kuat kan!" ucap Sandy dengan menampilkan otot ototnya.
"Tentu, ayah adalah orang yang sangat kuat, baik hati, dan lemah lembut, aku snagat beruntung di asuh oleh dirimu ayah!" ucap Sarah menangis lagi.
"Sudah sudah, kau harus segera berangkat Sarah! atau jika tidak kau akan terlambat naik bus" ucap Sandy.
Ia ingin menangis tapi tidak bisa, karena harus menegarkan putrinya itu, jika bukan dia siapa lagi?
"Baiklah ayok ayah antar!" ucap Sandy.
"Antar kemana? aku ingin ayah ikut bersamaku!" ucap Sarah dengan memelas.
"Tidak sayang, ayah akan disini menemani ibumu!" jawab Sandy, mengelus rambut Sarah.
"Hmmm baiklah ayah" ucap Sarah memelas.
Mereka pun berangkat ke bus yang akan di naiki Sarah, semakin dekat ke arah bus, maka Sandy akan semakin sedih, ia tidak pernah berjauhan dengan putrinua selama ini, namun sekarang itu terjadi, bahkan lebih jauh, tidak bisa setiap hari untuk bertemu dengannya.
"Ayah! bus nya akan segera berangkat! ayah hati hati ya disini, aku akan menelpon ayah setiap hari" ucap Sarah dengan menangis.
"Tentu sayang, ayah akan menunggumu menelpon ayah, oke!" ucap Sandy dengan berpura pura tegar.
"Aku menyayangi dirimu ayah!" ucap Sarah.
"Ayah lebih menyayangi dirimu!" balas Sandy.
"Aku tahu!" ucap Sarah dengan sesenggukan.
"Dadah ayah, sampai berjumpa kembali!" ucap Sarah pada Sandy, setelah bus nya pergi meninggalkan nya, Sandy sedih menangis sejadi jadinya, kini putrinya telah meninggalkan dirinya, meskipun berjanji akan terus menelpon nya, namun itu tidak cukup untuknya
Setelah perpisahan itu, Sarah terus menangis dengan sesenggukan, tidak mengeluarkan suara apapun.
Setelah beberapa jam, akhrinya tiba juga di kota A, darah sangat senang sekali, karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan ibunya.
"Ibu! aku akan menemuimu sebentar lagi! dan akan membuatmu hanya menyayangi diriku!" ucap Sarah dengan tersenyum.
Yang Sarah butuhkan adalah tempat tinggal, kini Sarah sedang mencari rumah yang bisa di tinggali olehnya.
Saat Sarah berjalan di kota sekitar, Sarah melihat anak kecil menangis, membuat Sarah berjalan mendekatinya.
"Hey, son! ada apa denganmu?" tanya Sarah pada ank kecil itu.
"Aku ingin balon itu! tapi ibu tidak membelikannya!" jawab anak itu dengan berlinang air matanya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membelikannya, oke!" ucap Sarah, membuat anak itu berhenti menangis lalu tersenyum.
"Baiklah, ayok!" ajak Sarah menggandeng tangannya anak itu.
"Pak saya beli satu ya yang gambar lumba lumba!" pinta Sarah pada pedagang balon itu.
"Ohhh iya nona, sebentar ya!" ucap pedagang itu.
"Ini Nona, harganya 10ribu!" ucap bapak yang sudah agak menua itu.
"terima kasih pak!" ucap Sarah.
Di sisi lain, seorang laki laki memperhatikan Sarah, dia menyukai gadis ini, sangat baik, batinnya.
"Ini untukmu, jangan menangis lagi ya!" ucap Sarah.
"Iya, terima kasih nona?" ucap anak itu.
"Tentu, sama sama sayang" Sarah pun berdiri dan menggandeng tangannya lagi, mencari ibunya anak kecil ini.
"Ibuuuuu!!!" teriak anak kecil itu memanggil ibunya.
"heyyy, David dari mana saja kamu?" tanya sang ibu.
"Aku di belikan balon oleh nona itu!" jawab David dan menunjuk pada Sarah.
"Ya ampun harusnya kau tidak boleh seperti ini sayang!" ucap ibunya.
"Maaf nyonya, membuatmu khawatir, saya melihat anak menangis lalu menanyakan apa yang terjadi, dan dia mengatakan bahwa dia ingin balon, lalu aku membelikan balonnya." ucap Sarah menjelaskan, karena tidak ingin dianggap penculikan.
"Terima kasih, aku akan menggantinya!" ucap ibu itu.
"tidak apa-apa nyonya aku sengaja memberikannya untuk anakmu" ucap Sarah dengan tersenyum.
"ah, kau terlalu baik terima kasih atas balonnya dan telah menjaga putraku" ucap wanita tersebut.
"sama-sama nyonya aku tidak keberatan sama sekali" ucap Sarah lalu membelai rambut anak itu.
"baiklah aku ucapkan terima kasih lagi" ucap wanita itu lagi.
"tentu nyonya baiklah wah kalau begitu saya akan pergi dulu" ucap Sarah lalu meninggalkan mereka berdua setelah wanita itu menganggukkan kepalanya.
kini Sarah berjalan mencari rumah ah untuk tinggali olehnya, laki-laki itu itu yang tadi melihat Sarah terus mengikutinya, laki-laki itu dia adalah Wisnu, entah kenapa Wisnu sangat menyukai Sarah itu.
membuat Wisnu kini sedang mengikuti Sarah dia ingin tahu kemana Sarah akan pergi.
namun saat di jalan ada preman yang menghalangi jalannya Sarah, membuat Sarah sedikit takut karena dia tidak mengetahui kota ini.
mengetahui Sarah sedang diganggu Wisnu pun langsung mendekati Sarah selalu melawan preman-preman itu dengan sigap.
"ayo nak kita pergi sekarang juga" ucap Wisnu menarik tangannya Sarah sedangkan Sarah hanya mengikuti Wisnu saja, Sarah berlari terus berlari bersama.
"hei sudah hentikan aku sangat lelah" ucap Sarah kepada Wisnu.
"kaulah? baiklah kau mau ke apartemenku?" ajak Wisnu kepada Sarah.
"Emmm, tidak itu tidak baik untukku dan untukmu" ucap Sarah menolak ajakan Wisnu.
"baiklah wah kalau begitu bagaimana jika kita ke restoran dulu aku pasti lapar kan?" ajak Wisnu dan bertanya.
"iya aku sangat lapar beberapa jam aku belum makan" ucap Sarah dengan menyeringai malu.
"baiklah kalau begitu ayo!"
setelah itu mereka berjalan karena restoran ada di dekat mereka.
"kau mau memesan apa?" tanya Wisnu kepada Sarah.
"aku nasi goreng aja boleh?" jawabnya dan bertanya.
"tentu saja, lalu apalagi?" ucap Wisnu dan bertanya lagi.
"sudah itu saja airnya air putih saja" jawab Sarah
"baiklah kalau begitu tunggu sebentar!"
setelah itu Wisnu memanggil pelayan dan mengatakan pesanan yang akan dimakan olehnya dan oleh salah setelah itu pelayan pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kau kesini sedang apa?" tanya Wisnu.
"aku kesini mencari ibu kandungku" jawab Sarah.
"oh memangnya ibu kandung mau kemana?" tanya Wisnu.
"aku sepertinya aku aku tidak bisa menjawab pertanyaan maaf!" ucap Sarah dengan tak enak hati.
"oh baiklah jika kau mau ceritakan ceritakan saja jika tidak tentu saja aku tidak akan memaksanya" ucap Wisnu dengan tersenyum.
setelah beberapa menit makanan terhidang kan.
"kau yakin hanya akan memakan itu saja? tidak mau yang lain ? tenang saja aku yang traktir!" tanya wisma dan Sarah pun menganggukkan kepalanya.
"baiklah kalau begitu, selamat makan!" ucap Wisnu lalu memakan makanannya.
"setelah ini kau mau pergi kemana?" tanya Wisnu kepada Sarah dengan menatapnya.
"aku aku akan mencari rumah yang bisa ditinggali dulu lalu akan mencari ibuku" jawab Sarah.
"benarkah bagaimana kalau kau tinggal di apartemen ku, saja tenang saja kamarku ada dua!" ucap Wisnu dengan santai kepada Sarah.
"apa tidak merepotkan bagimu?" tanya Sarah yang tak enak hati.
"tentu saja tidak aku bahkan sangat bahagia mempunyai teman seperti dirimu" jawab Wisnu.
"baiklah terima kasih atas tumpangannya dan atas traktiran mu!" ucap Sarah berterima kasih kepada Wisnu.
Setelah itu mereka pun pergi Wisnu menyuruh sekretarisnya untuk membawakan mobilnya.
Setelah itu merekapun tiba di apartemen nya Wisnu yang sangat luas.
"sepertinya kau orang kaya benarkah?" ucap Sarah dan bertanya.
"iya ayahku yang kaya bukan aku" ucap Wisnu.
"jadi kok memakan uang ayahmu kau tidak bekerja sama sekali?" tanya Sarah dengan kaget.
"hahaha tentu saja tidak Sarah kau pikir aku laki-laki seperti itu Hem?" jawab Wisnu dan bertanya kepada Sarah.
"Emmm, ti..tidak aku pikir kau tidak bekerja!" jawab Sarah dengan gugup, ia hanya takut bahwa Wisnu tersinggung.
"kau tenang saja sekarang aku tidak akan memarahimu dan tersinggung dengan perkataanmu!" ucap Wisnu menenangkan Sarah yang terlihat gugup.
"baiklah kau tidur di kamar tidur saja ya!" ucap Wisnu lalu mengantar Sarah ke kamar tidurnya.
"ya ampun ini sangat bagus sekali Wisnu aku tidak salah?" tanya Sarah dengan terkejut.
"tentu tidak Sahara ini kamarmu dan kau berhak atas kamar ini!" Jawab Wisnu.
"terima kasih wisma atas semuanya kau sangat baik!" ucap Sarah berterima kasih kepada Wisnu.
"Sama sama sarah.!" balas Wisnu.
"Baiklah kau tidur saja oke!" ucap Wisnu, lalu pergi meninggalkan Sarah.
Sarah merenung, apa ini baik untuknya?" tanya Sarah dalam hati.
Malam pun Sarah ke dapur, ingin memasak sesuatu, namun tidak ada apa apa, akhirnya iapun keluar untuk membeli bahan makanan untuk dimasak.
Setelah kembali Sarah pun langsung memasak, untung saja peralatannya ada di dapur itu semua.
masakan Sarah pun jadi, iya terlihat bahagia karena pasangannya terlihat enak dan lezat.
pintu pun terbuka menampilkan sosok Wisnu yang datang setelah bekerja.
"Ehhh, sepertinya kau masakan apa kau memasaknya?" tanya Wisnu pada Sarah.
"tentu saja jika bukan aku siapa lagi kan!" ucap Sarah dengan sombong.
"wow aku bisa memasak?" tanya Wisnu tidak percaya.
"beberapa hari yang lalu aku masih menjadi pembantu, kau tahu itu!" ucap Sarah dengan jujur
"apa kau pernah menjadi seorang pembantu?" tanya Wisnu dengan tidak percaya.
"yah harus aku lakukan, tidak mungkin aku memakan uang ayahku!" jawab sara lalu menyembuhkan makanan ke piringnya dan ke piring Wisnu juga.
"emmm masakan lezat lezat sekali Sarah" ucap Wisnu.
"terima kasih atas pujiannya tuan!" ucap Sarah dengan membungkukkan badannya.
"Hahahaha, kau mau aku suapi?" tawa Wisnu lalu bertanya apa mau disuapin.
"ah tidak, tentu saja tidak, aku bukan anak kecil Wisnu!" ucap Sarah dengan merengek.
"Ohhh baiklah baiklah, tapi aku tidak memiliki bahan makanan, kau membelinya?" tanya Wisnu.
"Iya, aku membelinya, ucapan terima kasih!" jawab Sarah, ya memang hanya ini yang bisa Sarah lakukan.
"Ohh, baiklah, kalau begitu aku akan menggantinya!" ucap Wisnu.
"ini kartuku, kau bisa melakukan apa saja dengan kartu ini!" ucap Wisnu kembali.
"ti...tidak, tidak perlu melakukannya! aku senang bisa melakukan ini untukmu!" sergah Sarah,menolak untuk mengambil kartu itu, iya tahu betul apa kartu itu, itu kartu kredit yang tidak di batasi.
"Tidak, aku tidak menerima penolakan, kau pegang ini!" kekeh Wisnu.
"Tidak Wisnu, ini kau pegang, aku maish mempunyai uangku, bahkan masih ada di salam ATM ku!" ucap Sarah.
"Tidak! kau harus terima ini, atau aku akan marah!" ucap Wisnu dengan nada marah.
"Aishhh, kenapa kau seperti anak kecil saja Wisnu, baiklah aku akan mengambilnya!" ucap Sarah mengalah, meskipun dia yang pegang tentu tidak akan menggunakannya.
"Baiklah kalau begitu, kami mau tidur sekarang?" tanya Wisnu.
"Iya, aku mengantuk!" jawab Sarah.
"Baik, kau tidurlah dulu, selamat malam" ucap Wisnu.
Beberapa hari kemudian, Sarah masih di apartemen Wisnu, dia mencari keberadaan ibunya itu, namun sangat sulit menemukan alamat itu.
Semakin hari hubungan Wisnu dan sarahpun sangat baik dan sangat dekat seperti seorang kekasih, membuat Sarah mencintai Wisnu, namun Sarah tidak tahu di hati Wisnu, apa Wisnu mencintainya atau tidak.
"Sarah, kau membuat sarapan?" tanya Wisnu memeluk Sarah dari belakang.
"Iya, kau akan bekerja sekarang?" jawab Sarah lalu bertanya membalikkan badannya.
"Aku tidak ingin bekerja, aku ingin bersamamu seperti ini!" ucap Wisnu.
"Tidak boleh Wisnu! kau harus bekerja, kau harus menjadi contoh bagi karyawanmu!" sergah Sarah.
"Hmmm, baiklah, aku mandi dulu, kau tidak mau memandikanku?" ucap Wisnu membuat Sarah melototkan matanya.
"Tidak sayang aku hanya bercanda!" ucap Wisnu kembali.
"Aku berangkat dulu sayang!" ucap Wisnu saat sudah memakan sarapannya.
"Baiklah, kau bekerja lah, semangat!" ucap Sarah dengan menggerakkan tangannya.
"Baiklah, aku ingin di cium!" pinta Wisnu pada Sarah.
"cup, sudah!" ucap Sarah.
"Baiklah, aku berangkat dulu?" ucap Wisnu lalu berangkat keluar.
Setelah di ruangan kerja Wisnu, Wisnu terus memikirkan wanita yang di dalam mimpinya itu, dia terus memimpikan hal itu.
Ruangan terbuka dengan cepat, membuat Wisnu kaget.
"Bunda! bunda kesini?" tanya Wisnu kaget melihat bundanya.
"Kau! kemana saja kau beberapa hari ini, sudah seminggu tidak pulang!" tanya Sera dengan marah pada putranya, karena membuat dia khawatir.
"Tenang saja bunda, aku di apartemen, aku merasa tidak mau pulang ke rumah!" jawab Wisnu dengan tersenyum.
"Baiklah, tapi harusnya kau telpon bunda sesekali Wisnu, jangan membuat bunda khawatir padamu!" ucap Sera dengan kesal.
"Bunda tenang saja, aku baik baik saja, bahkan aku sekarang terlihat gemukan!" ucap Wisnu memperlihatkan pipinya.
"Emmm, kau! pipimu kenapa seperti bakpau Wisnu, kau terlalu makan banyak?" tanya Sera bingung.
"Iya aku selalu makan Bun, pagi siang sore malam, tanpa henti!" jawab Wisnu dengan enteng.
"Apa? hahh? really?" tanya Sera tak percaya.
"Tentu saja, aku tidak berbohong!" jawab Wisnu.
"Baiklah kalau begitu, bunda pulang dulu" ucap bunda meninggalkan Wisnu di ruangannya itu.
Malam hari pun, Wisnu pulang ke rumah, dia sangat merindukan Sarah.
Wisnu melihat Sarah sudah tertidur, meja makan sudah terisi oleh masakannya.
Wisnu pun ke kamarnya Sarah, dengan pelan, karena tak ingin mengganggu tidurnya Sarah.
Baju Sarah tersingkap ke atas, membuat pahanya terlihat oleh Wisnu, Wisnu uang memang sejati, membelai paha mulus itu tanpa sadar, membuat Sarah terengah.
"eeuhhh!"
Wisnu pun semakin ingin membelainya, naik ke atas, sampai di puncak dadanya Sarah, Wisnu pun membelainya.
"Ahh, jangan, jangan lakukan itu!" ucap Sarah dengan tertidur.
mendengar hal itu Wisnu semakin menginginkannya.
Sarahpun terbangun, mendapati sosok Wisnu, Sarah langsung memeluknya.
"Kau disini Wisnu?" tanya Sarah memeluk Wisnu, Wisnu terus menjamah tubuhnya Sarah.
"Wisnu?" panggil Sarah.
Sarah heran apa ada yang salah dengan Wisnu?
"Ahhh, Wisnu, kau lepaskan" teriak Sarah membuat Wisnu tersadar.
"ah, ya ampun Sarah maafkan aku!" ucap Wisnu yang tersadar.
"Oh, tidak apa apa Wisnu!" ucap Sarah.
"Kau sudah makan?" tanya Sarah.
"Belum, kau mau menemaniku?" jawab Wisnu lalu meminta Sarah menemaninya.
"Tentu saja, ayok!" ajak Sarah.
"Wisnu! ada apa sebenarnya, kenapa kau tiba tiba ada di kamarku?" tanya Sarah.
"Aku melihatmu tertidur, jadi aku ingin melihatmu sebentar" jawab Wisnu.
"Ohhh, baiklah"
Wisnu pun makan dengan diam, tak seperti biasanya.
"Sarah! kau mau tidur bersamaku?" tanya Wisnu.
"Emmm, tentu saja, di kamarku ayok!" jawab Sarah.
"Tidak, lebih baik di kamarku!" ucap Wisnu lalu menggenggam tangannya Sarah.
"Tidurlah ayok"
"Emmm, iya.
"Sarah aku menginginkannya, apa boleh?" tanya Wisnu membuat Sarah kaget, dia tahu apa yang di inginkannya.
"Emmm, iya"
Setelah mendapat izin dari Sarah, Wisnu PU langsung menerjangnya, membuat Sarah terkejut, apalagi saat Wisnu menciuminya.
Penyatuan pun terjadi, membuat Sarah sakit di bawahnya.
"Ahhh, Wisnu sakit!" ucap Sarah mengerang.
" Sebentar, nanti tidak akan sakit" ucap Wisnu.
penyatuan itu pun selesai, membuat Sarah lelah.
Pagi hari pun tiba, Wisnu tidak terbangun karena mimpi itu, ia senang setidaknya itu tidak mengganggunya malam ini.
"Sarah kau masih virgin?" tanya Wisnu, saat melihat bercak darah di sprei
"Tentu saja, aku baru melakukannya sekali denganmu!" jawab Sarah.
"Terima kasih, aku mencintaimu Sarah!" ucap Wisnu dengan memeluk Sarah.
"Aku juga mencintaimu!" jawab Sarah, membuat Wisnu melakukannya sekali lagi.
"Ahh, Wisnu sakit, sakit sekali!" ucap Sarah mengerang.
"Tunggu saja, kau akan merasakan kenikmatan!" ucap Wisnu.
"Kita mandi bareng?" tanya Wisnu.
"Tidak, aku rasnaya tidak bisa berjalan" jawab Sarah dengan meringis.
"Baik, aku bantu kau mengangkat nya ke kamar mandi" ucap Wisnu mengangkat Sarah.
Setelah di kamar mandi, Wisnu pun melakukannya lagi, karena tubuh Sarah membuatnya tergoda.
Sedangkan Sarah sudah pasrah dengan hal itu.
"Sudah selesai?" tanya Sarah.
"Sebentar lagi sayang, aku mau mencapainya!" jawab Wisnu, setelah itu merekapun mandi, dan selesai mandi, Wisnu tidak ingin bekerja, karena merasa malas sekali, Sarah pun tidak mencegah nya.
Tok tok tok
pintu apartemen di gedor oleh orang, meskipun ada bel.
"Siapa itu Wisnu?" tanya Sarah dengan bingung.
"Tidak tahu, sebentar aku buka dulu!" jawab Wisnu lalu pergi untuk membuka pintu.
"Bunda?" panggil Wisnu dengan bertanya tanya.
"Kamu betah sekali di sini, sudah sebulan kamu tidak pulang!" ucap Sera dengan nyinyir pada Wisnu.
"Ah, itu bunda, aku! aku..." ucap Wisnu gugup.
"Ehhh, siapa yang ada di kamar ini?" tanya Sera yang melihat kamar Sarah terbuka.
"Itu kamar temanku bunda!" jawab Wisnu.
"Benarkah? lalu dimana teman kamu Wisnu?" tanya Sera kembali.
"Dia dia..."
"Ehhh, wanita? kau siapa?" tanya Sera yang melihat Sarah di kamar Wisnu.
"Emmm, aku aku... temannya Wisnu" jawab Sarah.
"tapi kenapa di kamat putraku?" tanya Sera lagi.
Sarahpun mendongakkan kepalanya menatap Sera.
DEGH
"Ibu!" ucap Sarah pelan.
"Kamu siapa?" tanya Sera kembali, sedangkan Sarah kini menitikkan air matanya itu.
"A...aku a...ku!" jawab Sarah dengan gugup.
"Bunda, aku mencintainya!" ucap Wisnu mendekati Sera.
"Benarkah? lalu apa dia juga mencintaimu?" tanya Sera pada Wisnu.
"Sarah! apa kau mencintaiku?" tanya Wisnu.
Sarah tahu menjawab, dia ingin bertemu ibunya, ia ingin memeluknya dan menyingkirkan putranya ituz namun tidak dia sangka, laki laki itu adalah ornag uang ingin ia singkirkan.
"Sarah, jawab aku, aku mohon!" ucap Wisnu kembali.
"A...aku tidak mencintaimu!" ucap Sarah, membuat Wisnu tidak percaya.
"Aku tidak percaya hal ini Sarah, kau bohong kan?" tanya Wisnu.
"Aku tidak mencintaimu Wisnu, sungguh!" jawab Sarah dengan tegas.
"Lalu? semalam? kau dan aku, kau dan aku melakukannya Sarah! apa kau pikir bisa mempermainkan diriku?" ucap Wisnu dengan marah.
Sedangka Sera merasa ada yang menjanggal.
"Nak! jika kau mencintai Wisnu, kau katakan saja, aku tidak keberatan sama sekali!" ucap Sera kini mendekat ke arah Sarah.
"Tidak, sama sekali tidak nyonya!" ucap Sarah menunduk.
"Aku tidak percaya ini Sarah! aku tidak percaya!" ucap Wisnu meninggalkan mereka berdua.
"Sarah! namamu Sarah kan?" tanya Sera pada Sarah.
"i...iya nyonya!"
"Kau benar tidak mencintai putraku?" tanya Sera, ia ingin mengetahui hal itu.
"Aku, tentu saja, tapi dia adalah orang yang ingin aku singkirkan, aku tidak percaya ini!" ucap Sarah menangis.
"Apa maksudmu?" tanya Sera, ia tidak tega melihat Sarah menangis.
"Kau tidak mengenaliku? bahkan wajah kita begitu mirip!" ucap Sarah, membuat Sera terkejut.
"Maksudmu? aku?" tanya Sarah.
'Kau ibu yang aku cari selama ini, aku berniat untuk menemui dirimu, tapi aku bertemu dengan putramu, dia membawaku kesini, aku jatuh cinta, itu sangat mudah bagiku, karena aku memang tidak pernah dekat dengan siapapun."!
"Sayang! aku! aku sangat bahagia!" ucap Sera memeluk Sarah.
"Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi! aku bodoh sekali yang, maafkan aku!" tangis mereka pecah.
Keduanya menangis, saling merindukan namun tak tahu, sayang sekali mereka bertemu saat ini, andaikan waktu dulu mereka tidak terpisah.
"Baiklah, kalau begitu, kau susul Wisnu, dia sangat sedih saat dia keluar, apalagi kau mengatakan tidak mencintainya" perintah sera pada Sarah.
Setelah mengucapkan hal itu, Sarah pun langsung mencari Wisnu ke luar, beberapa menit dia sudah mencarinya, kini Wisnu di taman anak anak, Sarah melihatnya, Sarah diam diam berjalan memeluknya.
"Maafkan aku sayang, aku mohon maafkan aku!" ucap Sarah dengan memeluk Wisnu dari belakang.
"Aku sangat mencintaimu, maaf aku terlalu bodoh, padahal aku sangat mencintaimu" ucap Sarah kembali.
"Aku senang kau ada disini, aku mohon jangan tinggalkan aku Sarah, aku rasnaya ingin mati kau berkata seperti tadi" balas Wisnu membalikkan badannya.
"Wisnu!!" teriak Sarah membuat semua orang menoleh padanya.
"Tolong!!!!" teriak Sarah saat Wisnu lirih ke lantai.
"Wisnu, aku aku mohon jangan seperti ini Wisnu!!!" racau Sarah.
"Tolonggg!!!"
Semua orang yang berada di sana pun menolong Wisnu dan membawanya ke rumah sakit.
Sarah sudah menelpon Sera, dengan menggunakan handphone nya Wisnu tadi.
"Sarah! ada apa? kenapa bisa terjadi?" tanya Sera yang merasa sangat khawatir.
"Ibu! a...aku a..ku ti...tidak tahu!" tangis Sarah pecah disana.
"Aku memeluknya, tapi saat dia balik, pisau sudah tertancap di perutnya!" jawab Sarah kini.
"Setelah menelpon Aryan, Aryan pun akhirnya datang.
"Sera ada apa ini sebenarnya?" tanya Aryan dengan sangat khawatir.
"Pisau tertancap di perutnya sayang!" jawab Sera dengan menangis.
"lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Aryan lagi.
"Dokter sedang menangani nya." jawab Sera.
"Baiklah, tapi bagaimana mungkin bisa seperti itu sayang, ini di luar nalar!" tanya Aryan kembali, saat mereka menceritakan semuanya.
"Tidak tahu!"
Dokter pun keluar, Aryan dan Sera langsung menghampiri dokter itu.
"Bagaimana putra saya dok?" tanya Aryan.
"Anak anda sudah bisa di tangani, untung saja pisau nya tidak terlalu panjang dan tidak menembus terlalu dalam, jika itu tejadi, kami tidak tahu dia akan selamat atau tidak!" jawab dokter.
"Baiklah, Terima kasih dok!" ucap Aryan.
Setelah beberapa hari, Wisnu masih belum sadar, Sarah mendekat kepada Wisnu, mencium tangannya, ia rindu tangan ini.
"Maafkan aku! andai aku tidak memelukmu waktu itu!" ucap Sarah pelan menyesal karena telah memeluk Wisnu pada saat itu, jika dia tidak memeluknya, ini tidak mungkin.
"Sa...Sarah!" ucap Wisnu pelan.
"Wisnu, kau sudah bangun?" ucap Sarah yang senang melihat Wisnu tersadar.
"Iya!"
"Maafkan aku, ini semua salahku!"
"tidak, ini adalah anugrah, dengan ini, kau datang padaku!"
"Aku akan selalu datang saat kau membutuhkanku".
"Aku selalu ingin bersamamu Sarah!" Sarah pun mengangguk membuat Wisnu bahagia.
Setelah beberapa hari! Wisnu pun di bolehkan pulang.
"Jelaskan semuanya padaku!" ucap Aryan, dengan tegas.
"Sayang! kita baru saja pulang!" ucap Sera dengan memelas.
"Tidak sayang, aku ingin kalian menjelaskannya!" ucap Aryan kembali.
"Hmmm, baiklah, semuanya dimulai dari aku dan Sarah, Sarah adalah anak kandungku!"
"Apa?" teriak Aryan dan Wisnu.
"Iya, Sarah anak bunda, dia adalah putri yang hilang!" ucap Sera.
"Sarah mencariku selama ini, dia masih baru, aku ke apartemen nya Wisnu karena sangat kesal sudah sebulan dia tidak pulang! lalu aku melihat Sarah ada di sana! aku bertanya tentang ini itu, lalu dia menceritakan semuanya, selanjutnya tanyakan pada Wisnu!" ucap Sera.
"Ayah!!" rengek Wisnu.
"Sekarang!"
"Aku keluar membawa pisau, aku mengingat wanita yang selalu berada di mimpiku! dia menghianatiku lalu menusukkan pisau ke perutku, sebenarnya aku hanya mempraktekkannya saja tapi aku merasa ada yang memelukku lalu aku aku tak mengetahui jika pisau itu sudah menancap di perutku, bahkan rasa sakit pun aku tidak menyadarinya karena aku senang dengan celotehannya Sarah lalu saat aku membalikkan badanku secara terkejut melihatku lalu Sarah berteriak, selanjutnya tanyakan saja pada Sarah!" ucap Wisnu dengan detail.
"A...aku aku!" ucap Sarah gugup.
"Tidak perlu nak, aku sudah faham!" ucap Aryan memotong.
"Tapi! apa kalian sudah melakukan hubungan itu?" tanya Aryan dengan menatap Wisnu lalu Sarah.
"iya ayah hanya sekali itu pun baru saja sebelum aku sakit!" jawab Wisnu.
"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita nikahkan saja kalian!" ucap Aryan, langsung di setujui oleh Wisnu dan Sera.
"Ada apa Sarah?" tanya Sera yang melihat gerak gerik Sarah.
"Ayahku, dia masih di kota lain, dia pasti khawatir aku tidak menelpon nya!" jawab Sarah.
"Baiklah! kalau begitu, kau telpon lalu suruh dia ke sini, nanti pengawal Aryan akan menjemputnya" perintah Sera, lalu di angguki.
Kini, Sandy telah datang, dia sudha beberapa hari di rumah Aryan dan Sera, merasa snagat di perlakukan dengan baik, merasa Sandy tidak enak hati.
"Nyonya! saya sangat tak enak menumpang di rumah nyonya!" ucap Sandy dengan hati hati.
"Tak enak hati apa pak Sandy, anda telah mengurus anakku selama ini, dengan kasih sayang dan cinta!" ucap Sera dengan bahagia.
"Saya tulus bahkan sangat menyayangi Sarah, tidak ada yang penting bagi saya selain Sarah hidup bahagia" ucap Sandy lagi.
"Sudhalah pak Sandy, kau disini saja, jangan kembali kesana, kau akan tetap disini!" ucap Aryan kini dengan memaksa dan tegas.
"Baiklah! terima kasih tuan nyonya!" ucap Sandy.
Kin pernikahan Wisnu dan Sarah dilaksanakan, semuanya sangat bahagia terumata Sera yang akhirnya melihat putranya menikah bersama putrinya, siapa lagi yang tidak bahagia, anak tiri dan anak kandungnya menikah kan.
Wisnu dan Aryan memakai baju pelinduung anti peluru, karena semakin bisnis nya lancar, maka semakin banyak pula orang yang benci padanya, karena itu lah Wisnu memakainya.
"Aku sangat bahagia!" bisik Wisnu pada Sarah.
"Aku juga!"
"I Love You adik tiri ku!" ucap Wisnu dengan kekehannya.
"I Love You kakak tiriku!" balas Sarah.
DOR DOR
Dua kali pistol di tembakkan ke arah Wisnu, membuat Sarah dan semuanya kaget.
"Polisi! tangkap dia!" teriak Aryan, lalu polisi langsung mencegah yang menembak Wisnu.
"Paman!!" pekik Sarah.
"Kau mengenalnya Sarah?" tanya Sera.
"Iya, dia yang memberikan info tentang ibu!' jawab Sarah.
"Sarah, dia adalah seorang ayah yang baj*ngan!" ucap Sera dengan nada tinggi.
"Apa? bagaimana bisa terjadi!" tanya Sarah yang bingung.
"Iya, bisa dia mungkin yang menghasut mu untuk melakukan hal itu pada Wisnu sebelumnya" jawab Sera, Sarah yang kaget menutup mulutnya kembali.
"Wisnu kau tidak apa apa?" tanya Sarah pada Wisnu.
"Tidak apa apa!"
Tamu undangan kini sudah pulang, dan Wisnu kini telah di kamarnya tentu bersama Sarah.
Sarah sedang menyembunyikan sesuatu di tangannya.
"ada apa kenapa kau terlihat bahagia sekali?" tanya Wisnu dan melihat di belakang punggung Sarah sedang menyembunyikan sesuatu.
"aku ada hadiah untukmu!' jawab Sarah dengan tersenyum bahagia.
"ini!" ucap Sarah.
Wisnu melihat nya dan merasa itu adalah pengukur panas demam.
"Apa ini? apa kau sakit?" tanya Wisnu polos.
"Kau tidak tahu ini apa?" tanya Sarah.
"Tidak, memangnya apa? ini hanya pengukur panas!" jawab Wisnu.
"Kau tidak tahu apa benar benar tidak tahu?" tanya Sarah yang kaget karena Wisnu tidak tahu apa itu.
"Ini, aku hamil!" ucap Sarah.
"Ohhh hamil ya!"
"Hamil!!! kau hamil?" tanya Wisnu yang menyadari sesuatu.
"Iya!"
"terima kasih terima kasih terima kasih sayang aku sangat bahagia mendengar kabar ini, kau hamil sayang!" ucap Wisnu dengan sangat bahagia.
mereka pun turun kebawah untuk memberitahu keluarganya bahwa Sarah sedang hamil.
"aku mempunyai hadiah untuk ibu" ucap Sarah dengan bahagia.
"oh benarkah? apa hadiahnya?" tanya Sera
"ini!" ucap Sarah menampilkan alat tes kehamilan nya itu pada Sera.
"kau hamil Sarah?" tanya Sandy yang melihat itu.
"iya ayah"
"tapi.. tapi ini terlalu cepat Sarah bagaimana kau bisa hamil apa kau melakukan terlebih dahulu?" ucap Sandy menerka nerka.
"Maaf ayah!"
"baiklah sudahlah lagi pula ini sudah terjadi kan!" ucap sandi dengan mengelus kepalanya Sarah.
"terima kasih ibu sangat senang Sarah terima kasih!" ucap Sera dengan memeluk Sarah.
"Iya Bu!"
9 kemudian Sarah sudah berada di rumah sakit untuk menunggu kelahiran anaknya.
"Aaaaarrrghhh! dokter-dokter sakit!" teriak Sarah memanggil dokter.
"ya ampun dokter sepertinya pasien ini mau melahirkan!" ucap suster.
"baiklah kamu cepat siapkan semuanya"ucap dokter kandungan itu.
"Arrgghhhhhh!"
"tenang sayang kamu pasti bisa ayo aku mohon kuat lah sayang!" ucap Wisnu dengan menyemangati Sarah.
owek owek owek
akhirnya Sarah pun berhasil melahirkan bayi itu dengan selamat baginya itu adalah berjenis laki-laki.
"terima kasih sayang kau telah melahirkannya kau telah berusaha melahirkannya sayang terima kasih!" ucap Wisnu dengan terus berterima kasih kepada Sarah.
"sama-sama sayang aku sangat senang aku bahagia sekali!" balas arah dengan sedikit tertawa.
"I love you adik tiri!" ucap Vishnu dengan mencium kening istrinya.
"I love you kakak tiri"
Mereka akan menamai bayi mereka dengan Alexander Adi jaya, bayi yang sangat tampan.
Keluarga mereka sangat bahagia saat Sarah melahirkannya dengan lancar, kini kebahagiaan mereka sangat sempurna apalagi Sarah telah memberikan cucu kepada mereka bertiga siapa lagi jika bukan sandi Sera dan Aryan.