L.A.
"What did you say, baby?" aku menatap tajam suamiku
Di malam pernikahan, suamiku berkata kepadaku, "Minta maaf aku berbohong kepadamu, sebenarnya aku juga seorang wanita, karena it-
PRANG!
Meja yang terdapat figura foto kebersamaan mereka terpecah belah pada saat itu juga. Semua momen keromantisan mereka dan saat saat tersulit mereka, hanya didasari dengan kebohongan belaka?
Air mataku mengalir deras pada saat itu juga, aku mengusap air mataku kasar.
Pikirku. 'Mengapa harus ditangisi pria jadi jadian seperti dia?!'
"Ka-kau mengatakan sebuah kebenaran?" aku mendongak menatap suamiku dengan sorot mata terluka.
Beberapa kali juga aku mendongakkan kepalaku menghalau air mata yang akan mengalir lagi untuk suami si*lan itu!
"Se-sebenarnya aku mau jujur padamu pada saat pertunangan kita, akan tetapi ibuku ingin aku menjadi ahli waris keluarga." Suamiku menjeda perkataannya sejenak, "Hanya demi harta ibuku dengan tega mengubahku menjadi laki laki, aku tak bisa menolak permohonan beliau karena ada kesedihan mendalam di matanya," Papar suamiku dengan senyuman pahit menghiasi bibirnya.
Aku mendengus kasar mendengarnya, 'Apa hanya karena kesedihan!'
"Lalu bagaimana denganku?" lirihku menatap dalam mata suamiku. Suamiku menatap bingung diriku, "Apa?" serunya penuh kebingungan.
"Bagaimana dengan hidupku! Semuanya hancur begitu saja!" teriakku. Suamiku terperanjat kaget mendengarnya, mungkin karena mendengar respon ku yang seperti ini, mybe?
"M-maaf Mikha. Aku tau aku salah." Suamiku menunduk penuh penyesalan, lantas ia mencekal tanganku dengan erat, "Tapi aku sungguh sungguh mencintaimu!" akunya dengan memandang lekat mataku yang masih meneteskan air mata.
Hatiku mencelos dibuatnya...
Gerry, suamiku...
Sebelumnya aku tak tau akan seperti ini..
Sebelumnya aku akan merasakan perasaan nyaman dan tenang saat bersamanya, sekarang entah mengapa aku merasa jijik dengannya.
Bukankah dengan suamiku mengatakan hal seperti itu, berarti Gerry mempunyai penyakit seksual!
Aku menatap jijik suamiku, "Menjijikkan! Sebenarnya aku menikahimu juga karena harta. Kau tau? Hanya dengan harta semua orang akan menghormatiku. Bersujud kepadaku.." Mikha terkekeh pelan saat mengatakannya, "Dan pada saat kau lengah, aku sudah mendapat tanda tanganmu mengenai perpindahan harta untukku."
Mata Mikha memancarkan kegilaan yang amat sangat di dalamnya.
Gerry menatap istrinya tak percaya, ia mematung dengan irama degup jantung yang cepat.
"Bye! Suamiku tersayang! Hahaha.." Aku tertawa pelan saat mengatakannya. Aku mengambil sebuah surat di dalam sarung bantalku, menyerahkannya pada suamiku, "Ini tanda tangani segera!" sentakku menatap rendah Gerry.
Masih dengan keadaan linglung tanpa membaca surat itu, Gerry menandatangani surat tersebut.
"Terimakasih atas kerjasamanya, ini adalah surat perceraian. Sudah jauh jauh hari aku juga ingin menceraikanmu, kalaupun kau seorang pria tulen sekalipun," jelas ku menatap suamiku dengan senyuman lebar.
"A-apa!" bentak suamiku memandangku sedih.
"Selamat tinggal, em...siapa namamu?" tanyaku. "Gerry." ucapnya lemah, "Maksudku nama aslimu?" Aku memutar bola mata malas memandang kelemotan suamiku.
"Luna," ungkapnya. "Omong omong kau seperti aktris indonesia....emmm...siapa ya namanya?" gumam ku berpikir keras.
"Aha! Lucinta luna!" pekikku saat mengingat nama aktris pengganti kelamin itu.
"Aku akan segera pindah ke Moscow dan kau akan sendirian disini... Menjadi duda di L.A...." mataku membelalak kaget saat mengetahui pengucapanku yang salah, "Ralat... menjadi janda maksudku upss..." Aku menutup mulutku seolah sangat kaget.
Aku pun melenggang pergi meninggalkan suamiku yang tengah terduduk lemas mendengar pengakuanku.
"Padahal aku sudah capek capek operasi kelamin loh Mikha, istriku..." Gerry a.k.a Luna meraba bagian sensitive nya, "Dari alat kelamin wanita menjadi buwung loh...niatnya sih biar kamu puas..yasudahlah." Luna menghela nafas gusar saat mengatakannya.
Padahal di butuhkan perjuangan ekstra selama sebulan penuh dengan menahan rasa sakit yang amat sangat demi Mikha-nya...
Luna terkekeh miris saat mengatakannya, 'Bukankah semua perjuangannya saat ini akan menjadi sia sia belaka?'
~Tamat~