Di malam pernikahan, suamiku berkata kepadaku, "minta maaf aku berbohong kepadamu, sebenarnya aku juga seorang wanita ..."
.
.
.
"Pftt, bwahaha apa? Hahaha lelucon mu sangat tidak masuk akal sayang"
Aku tertawa namun tidak dengan Dimas, suami ku. Bukannya menyangkal, pria itu memeluk ku dan menangis...dia selalu bergumam 'aku ini perempuan, maaf..maaf..dan maaf'
Air mata yang kurasakan, badannya bergetar...
Aku terdiam, tertunduk, mataku terbelalak tak tau harus berkata apa. Mendorongnya dari pelukan. Dengan senyuman canggung dan kaku aku bertanya kepada nya, mencengkram tangannya dengan tubuh gemetaran.
"S..sayang, tolong jangan bercanda...aku tau kau selalu menjahili ku tapi ini benar-benar tidak lucu"
Dia dengan pandangan kosong, menggelengkan kepala dengan pelan. Seketika kaki ku lemas, terduduk di lantai dengan gaun yang masih ku pakai. Ini...tidak mungkin 'kan?
Gila, selama lebih dari 1 tahun kita berpacaran tapi aku tidak menyadari dirinya perempuan? Dan...
"KENAPA BARU BILANG SEKARANG GOBL*K!💢"
Berbeda dengan mu yang cengeng, aku benar-benar kesal! Dia terdiam ketakutan, haaah aku berharap ini semua hanya mimpi. Dengan langkah berat, aku berjalan menuju ranjang yang sudah di hias dengan kelopak bunga. Terduduk lemas dan memegang kepala ku yang pusing ini.
"Say..Dimas duduklah"
Dia menuruti perintahku dan duduk di samping ku. Aku menghela nafas dan memulai percakapan.
"Kau memiliki kelainan hipospadia?Ambiguous genitalia? Atau lainnya?"
"Tidak, aku...tidak memiliki kelainan apapun"
"Jadi intinya kau seorang penyuka sesama jenis?💢"
Dia terdiam dan menunduk. Dengan kesal aku langsung mengambil baju ganti di koper ku.
"Kau mau kemana?"
"Ke kamar mandi!"
BRAKK!!
Sial, aku terbawa emosi. Dimas...seorang wanita? Tidak bisa di percaya seorang yang kucintai ternyata memiliki rahasia kejam seperti ini.
Aku berusaha untuk tidak menangis, mengganti pakaian ku dengan baju biasa. Menghapus segala riasan wajah yang mengganggu ini. Saat menatap di cermin, entah mengapa aku teringat pertemuan pertama kita. Bukan, bukan...namun semua kenangan bersamanya seperti terpantul di cermin ini.
Aku tidak bisa menghentikan air mata ku. Sial, sial, sial! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Kenapa...saat malam pernikahan kau mengatakannya kepada ku? Kenapa tidak mengatakan dari awal, sebelum aku ataupun dirimu bertemu dengan keluarga masing-masing. Tunggu...keluarga? Dimas memperkenalkan ku kepada bibi dan pamannya. Dia beralasan bahwa ia tidak memiliki orang tua. Apakah...itu benar?
Aku keluar dari kamar mandi dan berteriak.
BRAAKK!!
"DIMAS!"
"Y..ya? A..agatha!///"
"Tunggu, kenapa wajah mu memerah?"
"B..benarkan dulu kancing baju mu!///"
Kancing? Saat aku menunduk ternyata benar, kancing baju terbuka. Aku langsung membenarkannya, menoleh ke arah Dimas yang masih nemalingkan wajahnya. Dia menjadi malu karena melihat dada ku?
Saat melihatnya, aku bahkan masih tidak menyangka dirinya wanita. Postur tinggi, rambut seperti pria pada umumnya, bahkan wajahnya termasuk cowok imut dengan style sedikit korea. Tentu saja semua wanita terpana, namun tidak akan ada orang yang menyangka dirinya adalah wanita biasa pada umumnya.
Aku mendekat ke Dimas dan duduk di pangkuannya.
"Kau...tidak marah dengan ku?"
Aku terdiam, dan memukul dagu nya.
"Siapa bilang aku tidak marah?! Anggap saja jika kita adalah sesama saudari! Jangan berpikir lebih dari itu💢"
Dia tertawa dengan wajah kesakitannya. Namun saat duduk di pangkuannya aku menjadi percaya dia perempuan. Tidak ada...adik kecil yang menonjol disini💧
"Ehem, ceritakan semuanya"
"Apanya?"
"Tentu saja tentang dirimu bodoh, tidak mungkin kau begini jika bukan karena ada alasan yang jelas"
"Baiklah, kau akan bosan mendengar ini semua"
Cerita ini berawal dari lahirnya anak perempuan di keluarga ternama. Bukannya senang anak mereka lahir, kedua orang tua bayi kecil itu malah menyesal karena kehadirannya. Mereka mengharapkan kehadiran anak laki-laki, bukan perempuan.
Namun tak cukup sampai di situ, anak perempuan yang harusnya bermain boneka, memakai riasan, dan hal lain berhubungan dengan kegiatan wanita di larang oleh kedua orang tuanya. Anak itu tumbuh menjadi wanita yang berpikir dia adalah pria pada umumnya.
Bercengkrama dengan pria lain, berpentampilan seperti pria, bahkan bersekolah asrama khusus pria selama 9 tahun lamanya. Sungguh di sayangkan perempuan polos itu tidak mengetahui gender aslinya sampai adik nya datang di dunia.
Anak laki-laki lahir dalam keluarga ternama tersebut. Kedua orang tua nya bergembira daripada saat si gadis lahir. Gadis itu di lupakan, kedua orang tuanya lebih mengandalkan calon pewaris sesungguhnya. Akhirnya anak itu mengetahui bahwa dia adalah wanita. Kesal, marah, sedih, campur aduk.
Sang gadis masih menggunakan identitas dan nama yang sama ketika ia menjadi laki-laki. Ia masuk ke sekolah biasa saat 1 SMA. Pakaian dan gaya nya yang terkesan keren membuat para wanita histeris melihatnya.
Namun gadis itu menghiraukannya dan masih kesal dengan kejadian yang ia hadapi. Sampai, seorang gadis manis mendekat ke arah nya. Kepolosan, rasa ingin tau yang tinggi, dan senyumannya membuat wanita itu terkesima.
Perasaan yang tak pernah ia rasakan. Ia...jatuh cinta. Ia tau ini perasaan yang salah, namun tak dapat di pungkiri dia sangat ingin memiliki wanita ceria itu.
"Dan dia adalah dirimu...Agatha"
Dia tersenyum dan memeluk ku. Pelukannya yang hangat, dan semua hal yang ia ceritakan membuat ku diam membisu. Entah mengapa aku teringat saat kita pertama kali bertemu.
Kau duduk sendiri sambil membaca buku. Pandangan yang kosong dan angin bertiup membuat ku tau...bahwa kau merasa kesepian. Kebencian juga terlihat, menggerakan ku untuk berjalan mendekati mu. Dirimu yang dingin di masa lalu, sekarang menangis di pelukan ku.
Keegoisan dari keluarga yang ingin memiliki anak laki-laki membuat mu menjadi seperti ini. Bahkan sampai memalsukan kematian kedua orang tua nya. Tidak Dimas tidak salah, dia hanya...terbiasa menjadi seorang lelaki daripada perempuan. Namun tetap saja...
"Hubungan ini tidak dapat berlanjut Dimas"
Dia terdiam, namun pelukannya menjadi lebih erat. Terdengar isakan tangis, aku tau aku ini jahat namun...aku benar-benar tidak bisa melakukannya.
"Kau..jijik dengan ku kan?"
Suara pelan terdengar, aku tersenyum dan mengelus kepalanya.
"Tidak, aku tidak jijik kepada mu. Justru aku senang kau berkata jujur"
Dia menangis dan menangis, aku hanya bisa menjadi tempat nya bersandar. Namun bagaimana dengan ku? Pernikahan ini sudah terjadi dan ini masih malam pertama. Apa yang harus aku katakan...kepada orang tua ku? Sial, aku...juga ingin sekali menangis.
.
.
.
Suara kicau burung terdengar. Cahaya matahari masuk ke jendela tempat kami tertidur. Ini...sudah pagi?
Aku tak bisa bangun, ada sesuatu yang menahan ku. Ternyata aku masih dalam pelukan Dimas, ku lihat dia masih tertidur sambil memeluk ku. Masih menggunakan pakaian jas pengantin putih, air mata yang mengering di pipi nya. Dia pasti lelah karena kejadian tadi malam.
Aku berusaha untuk tidak membangunkannya. Merapikan seluruh barang bawaan ku dan juga Dimas. Terlihat galeri di meja, aku membuka nya. Terlihat diri ku dan Dimas di masa lalu. Pfftt, bahkan ada foto dimana Dimas terjatuh di selokan karena aku yang mendorongnya. Semua foto di galeri ini ada peristiwa dan kenangan saat aku bersamanya.
GUBRAK!
Aku terkejut dengan suara yang di buat. Mendapati Dimas yang terjatuh di lantai dengan wajah linglung. Dia...terjatuh?
"Pfttt, bwahaha bisa-bisa nya kau terjatuh padahal kasur selebar itu. Hahaha, sial aku tidak bisa berhenti tertawa, bwahaha"
Dia terbangun dan tertawa dengan lugu. Bodoh, apakah dia berpura-pura terjatuh agar aku tertawa? Hahaha, tapi dia berhasil.
Akhirnya kami berbincang dan menyelesaikan masalah ini. Dimas dan aku akan bercerai 3 bulan lagi. Ini supaya kami memiliki alasan agar masalah ini berakhir. Karena...kami sudah tidak cocok lagi, itulah alasan yang akan kami gunakan 3 bulan lagi.
Walau berat untuk Dimas, tetapi lebih baik aku berkata jujur. Aku bisa saja melanjutkan hubungan pernikahan palsu ini namun...tidak dengan hati kecil Dimas. Dia akan tersakiti seiringnya dengan waktu.
Aku Agatha...adalah wanita normal. Namun aku juga tidak mau meninggalkan Dimas dalam keterpurukannya. Aku akan memperlihatkan Dimas bagaimana menjadi wanita sesungguhnya. Dan mengajarkannya untuk jatuh cinta pada lawan jenis.
Aku berkata seperti itu namun aku menikahi sesama jenis, hahaha...Kau akan memiliki nama baru dan kehidupan yang baru. Tidak ada lagi memakai identitas palsu. Yah, tunggu 3 bulan saja dan kami akan merubah semuanya.
"Nama mu Dita, bagaimana?"
Ucap ku dengan senyuman. Ia terdiam, apakah dia tidak suka nama yang ku usulkan?
"Kau ngak suka ya?"
"Ka..." *gumam
Apa? Aku tidak mendengarnya. Aku mendekat ke Dimas, wajah nya terlihat senang bahkan setitik air mata mengalir.
"Aku..hiks suka, Dita namaku Dita...hiks kau satu-satu nya orang yang memperlakukan ku seperti wanita Agatha"
Aku baru pertama kali melihat ekspresi Dim..ah bukan, Dita. Cahaya matahari menyinari wajah sendu nya. Sekarang, bahkan aku sudah tidak melihat sosok lelaki di depan, melainkan seorang wanita yang menangis. Dia berkali-kali pula mengatakan kata 'maaf'
"Tapi, jujur saja aku tidak mau kita berpisah. Aku...terlalu egois ya?Haha...apakah kita tidak dapat bersama?"
Aku terdiam memperhatikannya, wajah yang tulus terpancar di matanya. Tak dapat di pungkiri bahwa aku juga mencintainya sebelum mengetahui rahasia ini. Tangan ku memegang erat tangan besar nya, ku berusaha tersenyum dan tegar. Kita bisa menghadapinya.
"Aku yakin masih ada sisi wanita di hati mu. Aku juga mencintai mu, namun ingatlah Dita..."
"Kita tidak di takdirkan bersama, ini salah...benarkan? Hahaha aku tau kau akan mengatakan ini. Aku akan berusaha melupakan mu, mungkin...akan sedikit sulit"
Aku tersenyum begitu juga dengan wanita di depan ku ini. Yah, pernikahan yang ku impi-impikan, tak kusangka serumit ini. Hahaha...tapi tetap saja...
DUAKK!!
"Akhh, Agatha sampai berapa kali kau ingin memukul ku?"
"Sampai aku puas, setidaknya 100 pukulan lagi💢"
Bukannya takut, dia malah tertawa.
"Bwahaha, inilah Agatha yang ku kenal, si pemarah yang manis"
Ucapnya dengan senyuman. Sial, kenapa aku masih berpikir bahwa dia tampan? Dan ini...membuatku tambah kesal💢
"Berhentilah memberi ku gombalan br*ngsek!"
"Hahaha, ampun. Tunggu, kenapa kau membawa sapu?!" *takut
"Supaya lebih puas,lebih baik kau duduk diam saja" *senyum
Yah, ku harap kami masih bisa bertahan 3 bulan lagi. Tenang saja Dita, aku akan tetap ada di samping mu. Bukan sebagai pasangan namun sebagai sahabat.
......
Sori aja ni kalo ceritanya gaje✌🏻😁