“Nak.. kamu kenapa, kamu mendapat masalah disekolah? Atau masalah lain? Sini, ceritakan pada ibu,”
“Kamu marah pada ibu ya? Coba jelaskan, kesalahan apa yang ibu lakukan padamu. Ibu janji tidak akan mengulanginya lagi.”
“Hah.. aa..” Tangisku masih terus berlanjut. Lidahku kelu, tidak bisa mengucapkan satupun kalimat pada ibu.
Ah, tapi aku memang tidak pernah mengucapkan kalimat dengan benar sekalipun.
Bukannya aku tidak bisa berbicara. Aku tuli. Tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Karena itu, saat aku bicara akan terdengar aneh.
Aku tidak bisa mendengar suara ibu, tapi aku bisa membaca pergerakan bibirnya. Jelas dia sedang bertanya padaku apa yang terjadi.
Ibu, masih bicara padaku, tanpa bahasa isyarat. Aku tidak bisa terus-terusan membaca pergerakan bibirnya.
Sebenarnya aku tidak ingin diganggu siapapun. Aku ingin sendirian. Tenggelam dalam duniaku sendiri, ditelan oleh kesedihan, dan kesunyian yang sering aku rasakan setiap saat.
Saat ini aku sedang merasa menjadi manusia yang tidak berguna didunia ini, seperti sampah.
“Sudah, tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja saat kamu ada disisi ibu.” Ibu memelukku, mencoba menenangkanku.
“Enggi! Angu ngin henhidi..” Aku berteriak pada ibu, dan melepaskan pelukannya dengan kasar. Dia terkejut, serta bingung apa arti perkataanku.
Aku ingin sendiri kataku! Kenapa ibu tidak mengerti sih.
Tangisanku semakin menjadi-jadi. Ibu tidak pergi sesuai keinginanku, tentu saja dia bahkan tidak tahu apa yang sedang kuucapkan. Ibu kembali mendekapku, dan mengelus pungguku, hangat
sekali.
“sshh.. tenanglah nak, maaf jika ibu memang salah. Ibu kan sudah janji tidak akan mengulangi lagi..”
Kupukul tubuh ibu berkali-kali, tapi tidak terlalu keras. Walau sudah begitu, ibu masih saja tidak melepas dekapannya dariku.
Ibu bodoh. Aku begini bukan salah ibu. Kenapa ibu selalu menyalahkan dirimu sendiri begini. Ibu berjanji tidak mengulang kesalahan yang bahkan tidak dia mengerti kesalahan apa yang dia perbuat. Itu membuatku semakin marah.
Ibu.. aku jadi begini Karena aku sering dianggap tidak berguna oleh teman-temanku disekolah. Tidak ada satupun yang menganggapku sebagai manusia. Mereka bilang aku ini seperti binatang karena tidak bisa mengucapkan bahasa manusia. Ucapanku lebih mirip binatang. Mereka juga sering menertawakanku saat aku menggunakan bahasa isyarat.
Bodoh, dasar bodoh. Manusia tuli tidak berguna. Aku benar-benar sampah.
Kini giliran kepalaku yang kupukul berkali-kali. Entah sekarang tangisanku terdengar seperti lenguhan sapi ataupun tangisan anak babi, aku tidak bisa mendengar tangisanku sendiri.
“Berhenti menyakiti dirimu sendiri Fara!” Ibu menahan tanganku, agar aku berhenti menyakiti diriku sendiri. Tenaga ibu kuat sekali, aku jadi tidak bisa melakukannya lagi.
[Maafkan aku ibu, aku adalah anak yang tidak berguna. Aku sampah,]
[Ibu pasti sebenarnya membenciku kan.]
Ibu terkejut saat mengerti bahasa isyarat yang kusampaikan padanya. Ibu langsung menggenggam kedua tanganku, kemudian menggeleng. Mungkin hatinya hancur, tapi ibu masih bisa menutupinya.
[Apa maksudmu nak, Kamu bukan sampah. Kamu adalah satu-satunya anakku. Ibu selalu menyayangimu, tidak pernah terlintas sekalipun pikiran ibu untuk membencimu ataupun terpikir bahwa kamu anak yang tidak berguna.]
Ibu tersenyum menatapku, bukan benar-benar senyuman yang indah. Aku tahu ibu sedang menyimpan kesedihan didalam hatinya.
Setelah itu, kami berdua terlarut dalam pikiran masing-masing. Ibu hanya terdiam disisiku. Aku.. masih sama seperti yang biasa kulakukan, yaitu tenggelam dalam kesunyian
Pada akhirnya-pun, aku tetap tidak mengungkap atau bahkan mengatakan hal yang sebenarnya ingin kukatakan pada ibu.
Sekali saja, aku ingin mengungkapkan suatu masalah yang kuterima dengan mulutku sendiri. Dengan bahasa manusia, bukannya bahasa binatang seperti yang mereka katakan padaku.
.
.
.
tq u for Reading~
(﹡ˆ﹀ˆ﹡)♡