[Pelakor]
Pagi ini, para ibu-ibu dusun dikumpulkan oleh Istri Kepada Desa di pendopo desa.
"ASSALAMUALAIKUM-"
Nginngggg~!
Suara cempreng Bu Kades sulit diterima mic, membuatnya berdenging. Semua orang yang hadir refleks menutup telinga karena terkejut. Suasana desa yang tenang, asri dan tentram hancur sudah.
Anak kecil yang digendong ibunya kena mental, cilok terakhirnya jatuh. Sebelum anaknya menangis, sang ibu langsung menggambil cilok itu. Meniupnya beberapa kali dan berkata, "Belum lima menit!" lalu memasukkan ke mulut putra kecilnya.
Nenek sepuh yang berniat sarapan di depan rumah sambil melihat perkumpulan ibu-ibu dusun itu malah tidak sengaja menjatuhkan piring berisi sarapannya. Kucing kecilnya mengambil ikan asin, ayam-ayam mematuk nasi beserta sayurnya.
"Owalah," nenek itu melas, mengambil piring plastik, "Belum lima menit, sih. Tapi kalah kesit."
Masih percaya diri, Bu Kades mulai berpidato. "Mulai hari ini, ibu-ibu harus waspada terhadap pelakor! Pelakor sudah masuk desa!" Suaranya menggelegar, mungkin terdengar sampai dua puluh meter jauhnya.
Pak Kades memantau dari balik jendela kantornya. Memanggil anak buahnya, "Kalau istri saya mulai ngawur, kamu matikan saja listriknya."
Orang itu mengangguk, "Iya, Pak."
"Jangan biarkan pelakor merusak keharmonisan rumah tangga kita. Kita harus mewujudkan keluarga yang mesra dan harmonis,-"
Bu Kades yang menggebu-gebu terpaksa berhenti karena Bu Siti yang kalem mengangkat tangan, "Pelakor itu, apa ya bu?"
Bu Wayan yang bergelar Ratu Gosip mengambil mic Bu Kades, memberi info untuk semua orang tanpa diminta, "Pelakor itu Perebut Lelaki Orang. Dengan kata lain selingkuhan."
"Ohhhh~" ibu-ibu dusun yang polos bersuara bersama, sudah mirip paduan suara.
Seorang ibu yang kebunnya tidak jauh dari pendopo desa mendelik pada suaminya yang sedang memetik biji kopi, tapi suaminya malah asik bergoyang. Berpikir sebentar, ibu itu melepas paksa headset suaminya.
Si Bapak yang headset dan HP-nya dirampas hanya melongo.
"Pokoknya, ibu-ibu harus waspada. Ciri-ciri suami terjerat pelakor? Satu," Bu Kades menatap satu per satu ibu-ibu dibarisan depan, "Jarang minta jatah."
Ibu yang duduk di tengah langsung menutup telinga anaknya. Sang anak protes, "Ma, Adek gak bisa dengar."
Ibu itu tersenyum, "Nurut ya? Ini buat orang dewasa, anak-anak gak boleh dengar. Kalau anak-anak dengar, nanti pulang giginya ompong."
Seorang anak yang giginya rusak karena kebanyakan permen menurut telinganya sendiri.
"Dua, jarang di rumah."
"Tiga, kalau HP-nya kita pinjam dia marah."
Ibu-ibu yang sedang panen kopi mendelik lagi pada suaminya. Si Bapak bingung, "Lah kan aku gak punya HP. Itu HP-mu tadi aku pinjam."
Sang istri baru sadar, "Oh, iya."
"Empat, suka membandingkan kita dengan orang lain."
Bu Wayan angkat tangan, "Langsung saja ke intinya, Bu. Siapa simpanan Pak Kades? Jangan lama-lama, saya belum masak buat makan siang."
Bu Kades langsung emosi, "Selingkuhan suami saya orang dekat tapi saya gak tahu siapa, makanya saya kumpulkan ibu-ibu di sini. Kalau ada yang tahu, bilang sekarang! Ayo kita masa! Kita hajar orangnya! Dan kita bakar rumahnya!"
Bu Wayan yang jauh dari kata ibu-ibu polos terkejut, apalagi ibu-ibu dusun lain yang asli polos?
"Ibu?!"
Bawahan Pak Kades tadi datang, membonceng anak gadis Pak Kades yang baru lulus kuliah. Dengan sedih, Nia mengambil mic dan membujuk ibunya. Kesempatan, suruhan Pak Kades mencabut stop kontak.
"Sudah, Bu, ayo pulang. Ibu gak ada bukti. Kalau diteruskan justru Ibu bisa dituntut orang." Bu Kades menangis di pelukan anaknya, tapi menurut ketika dibonceng pulang.
Melihat kejadian itu, Bu Wayan mulai bisik-bisik.
Tapi suruhan Pak Kades mengusir mereka. "Bubar! Bubar!" Orang itu mendelik pada Bu Wayan, "Jangan kemakan HOAX, terus bergosip gak karuan, pulang sana!"
Orang suruhan Pak Kades itu ternyata suami Bu Wayan, Pak Wayan. Jadi Bu Wayan hanya tersenyum dan pergi bersama ibu-ibu lain.
Di Kantor Desa,
"Mas.."
Pak Kades berbalik, tersenyum pada gadis yang juga memakai seragam pegawai desa dan seumuran dengan putrinya itu, "Mereka sudah bubar."
Gadis itu mendekat dan langsung memeluk lengan Pak Kades, "Saya takut."
Pak Kades mengusap pipinya yang putih mulus, "Jangan khawatir, saya tidak mau kesehatan kamu terganggu. Kamu fokus saja pada calon anak kita, tujuh bulan lagi dia akan lahir."
Gadis itu masih cemberut, Pak Kades menenangkan. "Justru istri saya bertingkah ini malah bisa saya jadikan alasan untuk menceraikan dia. Kamu jangan khawatir, semua saya yang urus."
Pada senyum polos gadis yang menawan hati itu, ada kelicikan yang tidak bisa Pak Kades lihat.