Seorang bocah berusia 5 tahun, duduk di dalam kamarnya. Matanya sedari tadi sudah sangat mengantuk, tapi sengaja dia tahan. Jendela kamarnya terbuka, langit bertaburan bintang bersama bulan yang hadir, membuat malam tak gelap lagi.
Bocah kecil itu terduduk di kursi belajarnya, dengan satu toples cemilan keripik dan juga sebotol air minum. Di samping toples, ada segelas susu yang tadinya hangat, kini sudah berubah dingin.
Sesekali mata itu terkantuk- kantuk, kemudian mengerjap kembali karena sebuah keinginan yang besar agar segera terkabul. Cerita cerita Natal yang sering ibunya ceritakan, ternyata sudah meracuninya hingga dia percaya, sinterklas itu nyata adanya, apakah benar demikian?.
Ada sebuah paku yang sengaja di minta olehnya pada ibunya, supaya memaku di dinding sebelah ranjang tidur yang bergambar snow white itu. Satu buah kaos kaki besar sudah dia gantungkan. Ya.. dia ingin meminta sesuatu pada sinterklas sebagai hadiah Natal, yang katanya nyata adanya.
***
pukul 23.00 bocah kecil bernama Shinta itu akhirnya tertidur meringkuk bersandar di kursi yang di dudukinya. Pukul 24.00 sang ibu datang, lalu memindahkan putri kecil nya ke atas kasur.
Suara kokok ayam bersahutan terdengar nyaring dari jam weker di atas nakas, berhasil membangunkan bocah kecil itu. Seketika terperanjat lalu mematikan suara yang berasal dari jam weker tersebut.
Bocah kecil itu lantas menyibakkan selimut berwarna pink bergambar Elsa, dan memakai sandal bulu berkepala sapi lalu berjalan mendekati dinding dimana di situ kaos kaki besar menggantung.
Kosong, tak ada apa apa di dalamnya. Apakah Sinterklas tidak datang ke rumah nya. kecewa, tentu saja yang dia rasakan sekarang, terlihat air mata menggenang secara tiba tiba. Bocah kecil itu berlari keluar kamar sambil memanggil ibunya.
" Ibu.. " teriak gadis itu memangil sang ibu. Segera memeluk kaki sang ibu yang sedang berdiri, sedang sibuk mencuci piring kotor di tempat cuci piring.
Dengan lembut, sang ibu tersenyum, kemudian menghentikan kegiatan , mencuci tangan dengan sabun cair dan beralih mengambil kain lap , mengeringkan kedua tangan yang basah dengan lap itu.
Bocah kecil terlihat murung, dengan bibir mengerucut imut. Sang ibu berbalik pelan kemudian berjongkok menyetarakan tinggi dengan putri kecil yang sedang ngambek itu.
Tangan yang halus terulur, lalu mengelus pelan dan penuh kasih sayang puncak kepala si bocah mungil, yang sekarang mulai merengek dan menangis pelan.
" Sinterklas gak datang ke rumah.. hiks.. hiks... " ucap gadis itu berbarengan dengan isak tangis.
Sang ibu hanya setia mendengar keluhan putri kecilnya sambil tersenyum lembut.
" Shinta mau hadiah Natal dari Sinterklas... hiks.. hiks.. " lanjut Shinta.
" Memangnya Shinta mau hadiah Natal apa dari Sinterklas? " sang ibu mulai bertutur kata dengan lembut ,menanyai hadiah apa yang putrinya ingin minta dari Sinterklas.
" Shinta mau hadiah boneka beruang berwarna pink, yang besar seperti teman Shinta yang lain"
Kembali sang Ibu tersenyum lembut, sembari memeluk sayang buah hatinya.
" Besok Sinterklas ibu akan memberikanmu hadiah itu" jawab sang ibu, hanya bermaksud menenangkan sang buah hati agar tidak kecewa dan menangis lagi.
" Benarkah ibu" sahut sang buah hati , kini senyum nya merekah.
Sang Ibu mengangguk seolah pasti, walaupun dalam hati dia tak yakin. Karena dirinya yang akan memberikan. Jika saja Sinterklas nyata adanya, sejak dulu dirinya akan meminta apa yang dia inginkan. Tapi nyatanya, hal itu hanya sebuah cerita belaka.
Kapan Sinterklas akan datang?