[Kata-kata yang tak terkatakan]
Sejak kecil aku tinggal bersama ibuku, setiap hari ia selalu menyisir dan mengikat rambutku dengan cantik. Aku juga selalu di kenakan pakaian imut dan cantik olehnya. Saat itu aku tidak tau, bahwa ibuku memiliki kelainan.
Saat aku mulai tumbuh, aku tidak seperti teman-teman perempuanku, aku juga tidak memiliki buah dada. Setelah itu aku menyadari aku bukanlah seorang gadis, dan aku mengetahui bahwa ibuku sebenarnya adalah ayahku.
Aku takut dengan kebenaran ini, aku takut ayah atau ibu atau apapun itu intinya seseorang yang telah membesarkanku akan memukulku.
Teman-teman ku telah mengetahui identitas ku yang palsu ini, setelah aku diculik. Mereka mulai membenci ku, menjadikan ku sebagai bahan rundungan dan hinaan. Saat itu aku merindukan suli.
Suli adalah gadis kecil yang cantik seperti boneka, dia lebih muda dari ku, dan aku menyukainya. Kami bertemu saat kami menjadi korban penculikan bersama. Aku sudah mencarinya setelah kami selamat dari tragedi penculikan tersebut.
Tak berselang lama, ibu kandungku menemui ku dan membawaku bersamanya. Aku diagnosis mengalami trauma dan gangguan psikis lainnya, setelah ibuku membawa ku pada seorang psikiater.
Aku di rawat dan dibimbing menjadi diriku yang sebenarnya, tapi aku masih takut untuk kembali ke sekolah. Ibuku dan ayah tiri ku menyekolahkan aku ke luar Negeri.
Tapi aku kembali setelah selesai kuliah, dan bekerja di perusahaan ayah tiriku demi menemukan suli. Meski aku di luar negeri, hati ku masih disini, aku tetap mencari suli. Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan suli. Dan setelah kembali ke The Eternal, aku memakai topeng karena aku masih takut akan tatapan orang yang akan mengenaliku nantinya.
****
Aku menjadikan suli sebagai bawahanku, agar aku bisa menjaga dan bersamanya setiap saat. Tapi, aku tidak bisa membuka topeng ini dan identitas ku padanya.
Apa yang telah terjadi pada kami berdua selama ini mungkin sangat berat bagi kami. Suli telah mengganti identitasnya, dan ia juga mengalami obsesi berat pada wajah tampan dan penampilan sempurna dirinya, sudah pasti dia juga memiliki gangguan psikis. Dia memang terlihat seperti orang yang mengalami trauma berat.
Aku tidak tau apa yang telah ia rasakan dan lalui. Apa kita sama-sama memiliki penderitaan yang begitu berat?
Namun hatinya tetap sama, suli tetaplah gadis yang baik dan ceria. Ia membantu ku dan mendukungku untuk bisa membuka topeng ini dan menunjukan pada dunia jati diriku.
Batinku terus mengatakan,
"Jangan tersenyum padaku, berbohonglah padaku. Karena aku tidak bisa memberikan diriku padamu." Padanya.
Aku telah mencoba dan terus mencoba, menemuinya dengan melepaskan topeng ini dan berkata sejujurnya. Tapi aku selalu takut, takut akan kehilangan dirinya. Dan aku datang menemuinya lagi dengan mengenakan topeng b*doh ini.
Aku tidak bisa menunjukan sisi burukku, kelemahanku tapi, aku menginginkannya. Bersamanya dan tersenyum bersama, tapi setelah aku berhasil melepaskan topeng ini.
Dulu kebunku bermekaran dengan bunga berduri. Kini kebunku bermekaran dengan bunga biru, yang penuh dengan teka-teki seperti dirinya.
Aku datang kesebuah makam, yang penuh dengan bunga biru. Dan kini aku juga membawa bunga biru untuknya.
Hingga akhirnya, sebuah akhir yang tidak aku inginkan. Yang membuatku akan terus merasa sedih dan mati.
"Jangan biarkan aku hidup seperti mayat, karena aku membutuhkan mu." Hanya itu yang bisa aku katakan dalam tangisku si atas batu nisan ini.
Bahkan jika saat itu aku datang padanya dan mengatakan hal yang sebenarnya, apakah kami akan menjadi berbeda?
"Aku menginginkanmu."
Sebuah kata yang tak terkatakan oleh ku, adalah "Aku menginginkanmu"