Rumah besar yang didominasi cat putih itu begitu megah.pilar-pilarnya kokoh mengesankan keanggunan. Halamannya luas ditumbuhi rumput manila, sayang tak terawat rapi. Sepanjang tepian dinding berderet bunga soka dengan warna-warni kembangnya yang semarak, merah, kuning dan orange.
Rani tak berkedip melihatnya. Setelah sekian tahun hidup berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, tiba-tiba ditawari tinggal di rumah gedong begini? Tanpa perlu sewa lagi. Aduh, mimpi apa ya?
Rani mengeratkan pelukan di pinggang suaminya. Hatinya yang gembira bercampur dengan deg-degan terdengar berpacu di jantungnya titik tinggal di rumah sebesar dan semewah ini hanya ada dalam khayalan nya, ya hanya khayalan belaka titik termasuk segala andai-andai yang hanya bisa dibayangkan dalam benaknya. Andai punya ini andai punya itu. Kalau saja bisa hidup begini atau begitu.
"Besar sekali rumahnya Mas", Rani setengah bergumam. Sungguh tak bisa dipercaya. Disisi lain hatinya ada kekhawatiran. Jangan-jangan ini hanya olok-olok Yadi. "Apa Om Herman sungguh-sungguh meminta kita menempati rumahnya? Tidak salah Mas? "Tanyanya setengah tak percaya. Yadi hanya angkat bahu, wajahnya tak berekspresi.
"Ayo, kita lihat dalamnya Mas,"digamitnya lengan Tadi buru-buru. Hati Rani makin berdebar ketika suaminya mulai memutar kunci dan membuka pintu berukir pelan-pelan. Begitu terbuka, ruang tamu nan luas menyambutnya. Lukisan sekawanan mustang dan seperangkap sofa anggun juga menyergap penglihatannya. Ruangannya berlantai marmer mewah,bersih, seakan debu enggan hinggap di atasnya.
"Ada 4 kamar," sela Yadi singkat.Sebagai arsitek, ia kerap diberi tanggung jawab oleh omnya untuk membuat gambar bangunan sekaligus mengawasi pembangunannya. Setelah itu, ia juga yang diminta mengecek dan memperbaiki atau menambah ini itu.
Diruang keluarga Yadi menyalakan tape. Lalu, dihempaskan tubuhnya di sofa empuk sambil menikmati alunan manis Rossa. Dipikir-pikir sebenarnya ia malas menempati rumah omnya ini. Bukan apa-apa. Selain terlalu besar untuk keluarganya, tinggal di rumah seperti ini juga banyak risikonya. Kalau bukan karena paksaan Rani melihat rumah yang ditawarkan si om, malas rasanya pergi kemari. Yah, memang tak ada salahnya melihat. Tapi, soal jadi tidaknya, harus ditimbang-timbang dulu.
"Lihat Mas, semua kamarnya sudah lengkap.Tempat tidur, lemari,kaca rias,duh...," decak Rani berkali-kali.
Dua jagoannya Rio dan Adi akan memiliki kamar sendiri-sendiri. Privasinya bersama suami pun akan lebih terjaga. Pasti akan berbeda dengan rumah kontrakannya yang berkamar satu, sebuah ruang tamu, ruang makan yang menyatu dengan dapur dan kamar mandi, sempit dan sumpek.
Di ruangan yang luas pasti akan lebih tenang. Bisa santai membaca-baca sambil mendengarkan musik lembut. Takkan terdengar lagi dangdut bersahut-sahutan dengan musik rock yang disetel sama memekakkannya. Ia pun tak akan was-was lagi melepas Rio dan Adi bermain di luar rumah, gang sempit dimana motor berseliweran tanpa mengurangi kecepatan. Disini mereka bisa bermain dihalaman, karena cukup luas untuk mereka berkejaran dengan sepeda mininya.
Ketika langkahnya sampai ke dapur, Rani lebih senang lagi. Dapur seluas 3×4 meter itu sungguh ideal untuk ratu rumah tangga. Kitchen set putih bersih berderet dilengkapi peralatan modern.
"Mas, Mas, kesini Mas. Cepat Mas," spontan ia berteriak.
Yadi yang sedang terbuai alunan lagu bangkit malas-malasan. Yadi mencoba menebak-nebak, paling-paling ia senang dengan dapurnya, ia kan hobi masak. Atau kolam ikan belakang? Ah, nggak tahulah!
"Cepetan dong Mas, disini di dapur!"
Nah, kan! Persis seperti dugaannya. Di dapur Rani merentangkan tangannya dengan pandangan ke sekeliling dapur.
"Aduh, dapurnya luas Mas. Peralatannya lengkap. Wah, aku bisa praktikkan resep makanan terus, cek...cek...cek..."
"Eit Nyonya, ingat ini bukan milik kita," tegur Yadi santai. "Kalau toh kita jadi menempati rumah ini, kita harus hati-hati dan merawatnya baik-baik. Jangan sampai begitu kita harus tinggalkan, semua barangnya rusak. Kalau perlu kita pakai barang milik kita sendiri."
"Ah Mas ini bagaimana? Om dan tante kan menyuruh kita memakai saja barang yang ada. Mau beliau pindah kan juga ke mana. Gak usah nggak enak mas, orang punya saudara sendiri kok. Pasti ku rawat dengan baik deh," sergah Rani.
Yadi garuk-garuk kepala. Terserahlah. Susah kalau harus berdebat dengan istrinya. Baru dengar satu dua patah saja rasanya sudah kalah, tepatnya harus mengalah. Jadi, dibiarkannya saja Rani dengan kegembiraannya.Membuka lemari dapur satu-satu, setelah itu beranjak ke kamar mandi. Digosokkan jari tangannya ke pinggiran bak, debu tipis segera menempel. Maklum saja sudah 4 bulanan tak ada yang menempati. Wow, mampukah aku mengurus rumah sebesar ini sendirian, Rani membatin.
"Aku kok ragu untuk pindah ke rumah itu ya, Ma," ujar Yadi sambil menutup koran pagi yang terbentang di depannya.
Ingatan Rani tentang rumah besar yang kemarin dikunjunginya buyar seketika. Berganti dengan rasa khawatir mendengar ucapan Yadi. Kalau ia sudah memperlihatkan keraguan, alamat Rani harus siap-siap memupus keinginannya.
"Bukan apa-apa,Ma. Rumah itu terlalu besar buat kita. Kita harus menghitung betul, jangan sampai pengeluaran kita malah lebih besar."
Nahkan! Tapi Rani masih ingin berusaha dengan alasan logis.
"Apa nggak sama aja Mas. Ngontrak rumah juga pengeluarannya besar. Ada apa-apa dengan rumah, kita sendiri yang harus mengatasinya, bukan pemilik kontrakan."
"Jadi Mama mantap nih?"
"Habis bagaimana lagi. Dua bulanan lagi sewa rumah habis. Disini juga sudah nggak layak lagi ditempati. Mesin air ngadat melulu, capek Mas. Kalau nggak mau disana, ya kita cari kontrakan lain aja."
Yadi diam. Tampak ia masih mencerna ucapan istrinya.
"Kalau tinggal disana, mungkin kita bisa lebih hemat. Uang yang semestinya untuk bayar kontrakan bisa ditabung untuk nyicil rumah."
Kali ini Yadi tertawa. "Ran, Ran... itu rumah besar. Bayar listriknya lebih mahal 4 kali lipatnya. Belum yang lainnya. Tapi sudahlah, nanti kita pikirkan lagi, Oke?"
Yang jadi pertimbangannya sebenarnya bukan cuma uang. Tapi ada perbedaan mendasar antara menyewa dan meminjam atau dipinjami.Pertama ada hak dan kewajiban. Sedangkan yang kedua cuma ada kewajiban.
"Oya Ma, mulai besok aku akan sering pulang malam. Aku harus melembur beberapa pekerjaan, supaya aku bisa cuti waktu pindahan nanti."
Rani senang bukan main mendengar perkataan suaminya. Itu pertanda baik kalau banyak lemburannya di pasti nggak akan sempat cari rumah sewaan lagi.Mau nggak mau pasti akan pindah ke rumah besar yang sudah menambat hatinya itu. Heh...plong rasanya. Diantarnya sang suami dengan senyuman paling manis.
Ide menempati rumah itu sebenarnya datang dari pemilik rumah itu sendiri, Om Herman. Sewaktu arisan keluarga, adik ibunya Yadi menanyakan kesediaan mereka menempati salah satu rumahnya yang kosong. Dulu disewa orang asing, cerita Om Herman. Tapi sudah beberapa bulan ini dikosongkan. Sayang kalau kosong begitu saja. "Itu Lo, rumah yang di Kalibata, ingat kan Yadi? Kalian bisa tinggal disana dua atau tiga tahun. Setelah itu akan ditempati Nina sepulang dari Australia," ujar Si Om waktu itu. "Kalau kalian mau menempati dan merawatnya, itu lebih baik, nggak perlu disewakan lagi."
Mulanya mereka berdua menanggapi tawaran itu sebagai basa-basi, bunga obrolan saja. Tapi, setengah bulan kemudian Rani dibuat terkejut dengan cerita Yadi. Katanya si Om telepon dan menanyakan lagi bisa tidaknya ia menempati rumah tersebut. Cerita itu mulai ditanggapinya serius. Kebetulan pula sewa rumahnya hampir habis. Jadilah ia memaksa suaminya melihat rumah tersebut.
Pertama melihatnya hati Rani terpikat sudah. Hampir mirip dengan rumah yang terpatri dalam khayalannya. Rumah besar satu lantai, berhalaman luas penuh bunga dan rerumputan rapi. Jumlah kamarnya tiga sampai empat, ada dapur luas tempat ia mengolah cinta untuk keluarganya. Rani sungguh menggebu-gebu untuk segera pindah ke sana. Bu Nur dan suaminya pemilik kontrakan bahkan, sudah diberitahu kalau mereka tidak akan memperpanjang sewa rumah.
"Nanti Rio punya kamar sendiri ya Ma?" kata Rio senang. "Rio nggak mau sekamar sama Adi. Habis Adi masih ngompol sih, bau!"
"Nggak mau... Adi mau sekamar sama kakak," rengek Adi. Wajahnya disetel memelas.
"Nggak boleh ya, Ma. Rio kan udah besar. Harus punya kamar sendiri dong, we..."
"Mama..."
"Rio, senangnya kok menggoda adik sih," tegur Rani gemas. "Kak Rio cuma bercanda dek. Nanti kalau sekamarkan Adi nggak ngompol lagi, iya kan?"
Adi mengangguk senang. Rani sendiri belum berniat memisahkan kamar mereka berdua. Rio baru 6 tahun dan Adi 3 tahun. Sementara mereka harus tetap saling menjaga dan mengawasi.
"Sayur...Sayur!"
Teriakan si Ujang membuat Rani melirik jam dinding. Jam 10 lewat. Huuh kebangetan si Ujang, datang siang begini gerutunya, meski ia sudah tahu memang jam segini lah Ujang biasa datang. Apa ya yang ada di gerobak sayurnya? Hari ini Rani ingin masak sedikit istimewa. Masak ikan, tempe, tahu melulu. Hemmm... bagaimana kalau mencoba resep ayam bakar madu yang ada di majalah Kartini? Lalu, sop jamur dan sambal goreng telur puyuh. Tapi, apa masih lengkap dagangannya si Ujang? Itulah sulitnya kalau tinggal di gang paling ujung, selalu dapat giliran terakhir.
"Hayo belanja, Bu. Jangan bengong. Si Buyung kan harus makan. Udah siang nih."
"Memangnya masih ada apa aja Jang? Kok kayaknya sudah pada habis," sahutnya sambil mengamati gerobak.
Ternyata masih ada dua ekor ayam. Cekatan dipilihnya seekor dan tidak terlalu besar. Lalu, diambilnya wortel dan sebungkus jamur merang.
Selama 7 tahun menikah, mereka masih saja tinggal di rumah kontrakan. Sampai Rio kelas 1 SD, sudah 3 kali pindah rumah. Selalu saja memilih rumah kecil dengan ruangan serba sempit. Sampai-sampai barang-barang yang letak atau belum terpakai di jejal-jejalkan di kolong tempat tidur. Sepeda mini Rio dan Adi pun digeletakkan begitu saja di belakang rumah.
Posisi rumah satu dengan yang lain saling berdempetan, menambah sumpek suasana. Belum lagi tak ada halaman, cuma teras selebar 1 meter berbatas jalan gang. Udara pun tak leluasa berhembus, gerah dan panas.
Yang juga tak menyenangkan adalah bisingnya lingkungan tempat tinggal mereka. Anak-anak kecil bermain tak kenal waktu. Sore dan malam yang notabene waktunya belajar pun maunya bermain. Jelas menggoda kedua jagoannya yang sudah di pagari Rani dan Yadi dengan aturan tertentu. Riuh rendah obrolan dan gurauan mereka, ditingkahi suara para ibu yang tak kalah kerasnya menyuruh mereka pulang atau mandi.
Memiliki rumah di lingkungan yang bersih dan nyaman adalah impiannya. Tak perlu besar, kecil pun tak mengapa asal lingkungannya enak dan sehat. Rani mengutarakan itu pada suaminya
"Lingkungan seperti itukan baik untuk perkembangan anak-anak, Mas," katanya waktu itu. Sebelum impiannya jadi kenyataan, apa salahnya menempati rumah om Herman dulu.
Akhir-akhir ini Yadi pulang malam terus. Lembur katanya. Kebetulan juga sedang banyak proyek yang harus diselesaikannya. Tapi, tengah malam baru sampai rumah, langsung istirahat karena kelelahan sampai tak sempat membicarakan soal kepindahan. Hingga tenggat waktunya tinggal di rumah sewa setengah bulanan, Yadi masih tenang tenang saja.
"Mas," senggol Rani ketika Yadi sarapan. "Kita jadi pindah enggak sih?"
"Kok tanya begitu?" Yadi balik bertanya.
"Habis... Mas kok tenang-tenang saja. Sewa rumah ini tinggal beberapa hari. Bu Nur sudah tanya-tanya tuh kita jadi pindah enggak. Kabarnya sudah ada yang berminat menempati."
"Tenang, Ma. Tenang saja. Masa nggak jadi pindah. Nanti aku cuti begitu kita mau pindah. Mama dari sekarang beres-beres saja."
"Jadi kita menempati rumah Om Herman?" Tanyanya hati-hati.
"Ya, maunya sih kita kontrak lagi. Tapi aku nggak punya waktu untuk cari-cari rumah. Kalau memperpanjang kontrak, Mama sudah nggak betahkan?" Yadi menggoda istrinya. Rani menggeleng buru-buru.
"Jadi kita menempati rumah si om?" Tanyanya hati-hati, tak peduli dengan godaan suaminya. Sebuah kerlip kecil bersinar dimatanya.
"Tuhkan? Mama memang maunya pindah, kok aku yang dibilang nggak peduli!" Mendengar sindirannya, Rani mencubit gemas lengan suaminya.
"Nah, sekarang tinggal yang kecil-kecil, Pak. Ini nanti diangkat ya," Rani menunjuk beberapa kardus kecil yang sudah diikat rapi. Beberapa barang masih berserakan. Mobil-mobilan Adi sepeda Rio keranjang berisi mainan mereka. Ternyata setelah dikeluarkan dari kolong kolong tempat tidur, banyak juga barang-barangnya. Bak mobil penuh!
Tepat di hari mereka akan pindah rumah, Yadi ambil cuti. Rani senang bukan main. Dulu setiap kali pindah rumah, Yadi tak ikut membantu. Paling ia menyuruh dua adik lelakinya untuk datang membantu mengepak-ngepak dan mencarikan orang kantor dan mobil untuk angkut barang. Yang banyak kerjaanlah, keluar kota lah, ada saja alasannya.
"Pokoknya nanti harus syukuran lo. Namanya juga tinggal di rumah besar. Nanti ibu-ibu RT mau datang loh," singgung Bu Mia, tetangga sebelah rumahnya yang ikut membantu beres-beres.
"Iya dong, Bu. Doakan saja kami ada rezeki, biar syukurannya besar-besaran..." timpal Rani tak mau kalah.
Menjelang sore, mobil yang dikendarai Yadi pun membelah jalan raya. Hati Rani lega. Diselonjorkan kakinya ke depan untuk mengurai pegal di betis dan paha. Kedua jagoannya tidur memeluk mainan masing-masing.
"Lo kok kita terus sih, Mas? Harusnya kan belok kiri" Yadi pura-pura tak mendengar ucapan istrinya. Matanya tetap menatap kedepan.
"Mas, ingat Rani lagi. Rumah Om Herman bukan arah sini. Sudah kelewatan loh."
"Iya, tenang saja. Eh, apa Mas belum bilang sama Mama, kita ke rumah kawanku dulu. Ada yang harus diambil. Cuma sebentar kok," ujar Yadi tenang.
"Enggak, belum bilang. Apa sih yang harus diambil?"
"Ada deh. Pokoknya kejutan."
"Ih, pakai kejutan segala. Apaan sih?" Rani tambah penasaran. Kejutan apa? Hadiahkah? Seingatnya ia tidak pernah minta apa-apa, sekedar bilang menginginkan sesuatu juga tidak pernah, kecuali pindah rumah ini.
"Kejutan apaan sih, Mas. Kasih tahu sekarang aja deh...," rengek Rani ingin tahu. Yadi tergelak.
"Kalau dikasih tahu sekarang namanya bukan kejutan. Makanya kita ke rumah kawanku dulu. Di sana letak kejutannya," ujar Yadi makin santai. Malah ditambah bersiul kecil segala, menambah penasaran Rani.
Mobil terus melaju tenang di jalan raya yang padat bersaing dengan kendaraan lain. Karena kesal Rani diam saja sepanjang perjalanan. 30 menit mobil melaju ke arah selatan. Sungguh menyebalkan orang mau pindahan kok sempat-sempatnya mampir ke rumah temen. Perasaan Rani membuncah karena kesal. Bentuk menghilangkan kekesalan dipejamkan matanya. Badannya sangat lelah terutama hatinya. Iya ingin segera sampai di rumah baru, malah kini diputar-putar entah kemana. Ah, sudahlah... Rani berusaha membuang jauh-jauh kemarahannya.
Setelah hampir satu jam, mobil membelok ke sebuah perkampungan, lalu masuk komplek perumahan baru. Sebagian unit rumah sudah ditempati, terlihat dari cahaya lampu yang bersinar di dalamnya. Beberapa tampak kosong. Hanya lampu teras saja yang menyala kecil. Mobil berhenti di depan sebuah rumah tipe sedang berpagar putih.
"Ma, ayo bangunkan anak-anak. Kita sudah sampai di rumah kita sendiri," ujar Yadi sambil membuka mobil.
"Maksud Mas kita nggak jadi menempati rumah Om Herman?" Sela Rani syok. Wajahnya masam dengan bibir berkerut menunjukkan suasana hati yang sejak tadi dipendamnya. Jadi ini kejutannya?
"Cari kontrakan kok jauh benar dari kantor. Kenapa sih nggak berunding dulu!" Lanjutnya kesel tanpa beranjak dari kursi. Yadi urung membuka pintu mobilnya.
"Jangan marah dulu dong sayang," katanya tenang, setenang udara sore hari. Tapi Rani bergeming.
"Dengar sayang. Rumah ini memang kecil jauh dari jalan besar. Fasilitas kompleksnya juga masih minim. Tapi meski demikian, percayalah Ma, kita akan lebih senang, lebih tenang dan lebih tentram tinggal di rumah milik kita sendiri."
Kening Rani berkerut, bingung mencerna ucapan suaminya. Rumah kita sendiri? Maksudnya? Dalam kebingungan, Yadi merengkuh tangannya, digenggamnya hangat.
"Begini Ma. Mas dapat pinjaman kantor ditambah sedikit simpanan hasil komisi beberapa kali memenangkan tender proyek, jumlahnya cukup untuk membeli rumah ini. Oper kredit,Ma. Mas tinggal meneruskan cicilannya. Yah, memang tak ada apa-apanya dibanding rumah Om Herman, tapi rumah ini milik kita sendiri."
Urat nadi Rani pelan-pelan mengendur, ketegangan lurus seketika, namun ia tak bisa berkata-kata. Mulutnya terkunci rapat dengan pandangan lurus ke rumah bercat putih di hadapannya. Dari dua bola matanya, Yadi menemukan sinar berpendar-pendar. Lebih bercahaya dibanding ketika melihat rumah omnya dulu.
------------------ END ------------------