Wanita Khodam Macan
Malam kian dingin melelapkan setiap badan yang telah lelah seharian bekerja. Rumahku juga sudah sepi karena semua penghuni sudah ada di kamar mendengkur dalam selimut.
Setelah selesai membuat satu bab untuk novel misteri yang sedang ongoing, aku juga berniat pergi ke kamar. Tak lupa menghabiskan kopi pahit dan membereskan meja teras yang berantakan karena aku menumpahkan camilan.
Ditemani lagu reggae lawas dari Bob Marley aku mulai memejamkan mata menjemput mimpi.
Seekor harimau besar menggeram di samping jendela. Ini aneh, aku bisa melihat keluar tembus dinding kamar. Beradu mata dengan harimau loreng yang memandangku garang. Harimau itu melangkah pelan seperti sedang mendekati mangsanya. Dalam pose berburu yang indah … bukan indah, tapi mengancam nyawa.
Aku menyibak selimut dan turun dari ranjang dengan kecepatan maximal. Harimau itu menembus dinding kamar dan melangkah ke arahku tanpa mengalihkan tatapan tajamnya sedikitpun. Aku berlari menabrak pintu kamar dan mengaduh keras karena kepalaku terantuk ubin. Aku jatuh dari tempat tidurku karena mimpi sialan yang anehnya sangat terasa nyata.
Kusibak tirai jendela untuk memastikan apa saja yang bisa kulihat dengan netra. Tak ada apapun di luar, malampun masih panjang. Aku mengusap tengkuk yang begitu merinding dan keluar kamar, membuat kopi dan kembali duduk di teras sambil merokok hingga subuh.
***
Mataku mengedar berkeliling mencari meja kosong yang sayangnya tidak kutemukan. Hanya ada satu kursi tidak terisi di depan wanita yang sibuk dengan laptopnya. Dengan terpaksa aku menuju meja tersebut.
"Miss … bisa saya pakai kursinya?"
Dia mendongak dan mengangguk acuh. Akupun tak peduli, aku duduk dan membuka laptop juga. Ada laporan yang harus aku kirim sekarang sebagai bahan meeting sore nanti.
Wanita itu melihatku dengan tak suka, mungkin karena aku bergabung di mejanya. Biasanya orang hanya mengambil kursi dan mencari meja sendiri.
"Maaf, coffee shop ini penuh dan tidak ada meja lagi yang bisa saya gunakan. Saya perlu bekerja sebentar, dan saya janji tidak akan mengganggu Anda," kataku ringan tanpa perlu melihatnya.
Dia tidak menanggapi permintaan maafku, hanya memutar mata sebentar melihat area lalu menunduk lagi pada laptopnya.
"See … saya nggak bohongkan?" Gumamku sembari mengirim beberapa file.
Tapi aku melirik stiker yang di tempel pada laptopnya, itu stiker alumni cetakan tahun lalu dari kampus yang juga memberiku gelar sarjana teknik.
"Saya juga dari kampus yang sama dengan Anda, jadi berbagi tempat dengan sesama alumni nggak ada salahnya kan? Nama saya El, lulusan tahun kemarin." Aku bahkan bicara tanpa menatapnya sama sekali.
Dia melihatku intens, "Kamu ngomong sama saya?"
"Bukan, saya ngomong sama laptop."
"Talia. Lulus 12 tahun lalu."
"Hah?" Aku langsung mendongak tak percaya. Perempuan ini sangat muda, aku sudah berpikir dia seumuran denganku. Mungkin hanya dua atau tiga tahun di atasku kalau dilihat dari penampilannya. "Nggak lucu."
Tak lama dia membalik laptopnya agar menghadapku, ada foto wisuda di depan spot yang biasa digunakan untuk mengabadikan momen penting seperti itu di kampus. Tertera nama jurusan dan tahun kelulusan pada gambar itu.
Aku menelan ludah menatap perempuan awet muda yang menurutku sangat cantik ini. Bulu tubuhku berdiri semua, merinding dengan aura yang keluar dari matanya saat kami saling memandang. Sesuatu yang ganjil yang membuatku berdesir aneh.
***
Meeting sore tak membuatku bisa mengalihkan perhatian, pikiranku penuh dengan sosok wanita cantik di coffee shop bernama Talia. Aku sudah memberikan kartu nama padanya, aku hanya berharap dia akan menghubungiku.
Pulang kantor hari sudah malam, aku sengaja mengemudi dengan lambat. Menikmati udara kota yang cukup sejuk setelah hujan melanda.
Aku mengerem mendadak karena melihat ada binatang melintas di depan mobil. Meski hanya sekilas aku tau itu makhluk besar berkaki empat dan warnanya loreng … seperti harimau dalam mimpiku.
Astaga, jantungku mendadak berdetak 10 kali lebih cepat dari biasanya.
"Cuk … " Aku memaki keadaan yang mendadak berubah horor.
Sebagai penulis novel misteri aku banyak membaca hal-hal berbau mistis ataupun melakukan riset. Tapi mengalami kejadian aneh dan mistis seperti ini baru yang pertama.
Aku kembali melaju setelah berhasil menenangkan diri. Hujan mulai turun dengan deras. Suara wiper yang minta diganti baru menambah suasana jadi sedikit tegang. Otakku masih penasaran dengan kejadian barusan. Macan jadi-jadian tadi itu sangat besar dan garang. Tapi kenapa dia tidak menyerang?
Malamnya aku tidur dalam gelisah, antara lelap dan terjaga. Mata terpejam tapi telingaku masih bekerja, masih bisa mendengar suara hujan dan angin yang rasanya sengaja mengetuk jendela kaca.
Kubuka mataku sedikit untuk memastikan jendela dan tirainya telah tertutup. Lalu dalam doa aku berjuang untuk terlelap dalam remangnya cahaya kamar.
Tiga ekor macan datang dan mengaum di sebelah jendela. Dua loreng dan satu berwarna putih. Binatang besar itu semua dalam posisi duduk, mengawasiku yang sedang tidur.
Tidur? Tidak … aku beranjak turun dengan sangat pelan, berjalan di lantai dengan berjinjit agar tidak bersuara. Seperti pencuri malam yang tidak ingin ketahuan. Tapi sungguh aku sedang sial, saat aku hampir berhasil menarik handle pintu ponselku berbunyi nyaring.
Aku bangun dan gelagapan dengan keringat dingin di sekujur tubuh. Mengabaikan bunyi ponsel yang sudah berhenti aku langsung menyibak tirai dengan waspada.Tidak ada apa-apa di sana.
"Breng*sek!" Umpatku entah pada siapa. Aku merasa diteror dengan sesuatu yang tak kasat mata.
Setelah menyalakan lampu utama dan membuat kamar menjadi terang penuh cahaya aku meraih ponsel dan membukanya. Satu panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk dari nomer yang tidak aku kenal.
'Tidur, El? -Talia-'
Hanya itu bunyi pesan yang aku terima tapi rasanya aku seperti kena setrum ketika membacanya. Wanita di coffee shop itu menghubungiku di tengah malam buta begini, ada apa?
Namun ketika aku membalas pesannya, tidak ada laporan terkirim. Aku telepon balik hanya bunyi tulalit yang aku dengar pada nada sambungnya. Rasanya aku ingin membanting ponsel ini karena saking kesalnya.
Paginya sebelum mulai olahraga aku iseng mengecek ke samping kamar tempat tiga macan yang datang dalam mimpiku. Ajaibnya ada jejak kaki mereka tertinggal di tanah yang tersiram hujan semalam dan mulai mengering.
Ini benar-benar mengerikan!
***
Malam berikutnya aku membuat persiapan konyol. Jika macan itu ada jejak kakinya artinya ada tubuh fisiknya. Jika ada fisiknya artinya aku bisa menyentuhnya, mungkin melukainya jika mereka bermaksud menyerang. Jadi aku tidur bersebelahan dengan senapan angin.
Begitu jatuh terlelap aku kembali didatangi tiga binatang buas itu. Tapi kali ini macan-macan itu diantarkan oleh seseorang yang menutupi wajahnya dengan cadar.
Aku hanya bisa melotot karena seluruh tubuhku membeku. Aku sama sekali tidak bisa bergerak ketika tiga macan besar itu masuk ke kamarku dengan cara menembus dinding. Mereka menunduk padaku sebentar lalu mendekat dan menggosokkan kepala mereka di kakiku. Bahkan yang putih dengan senang hati menjilati telapaknya.
"Aku hanya mengantarkan mereka padamu," ucap orang bercadar itu. Suara lembut seorang perempuan.
Aku makin terkesiap ketika dia menurunkan cadarnya dan tersenyum manis padaku.
Damn … itu Talia.
Aku terbangun dari tidur dengan ekspresi gila. Menyambar senapan angin dan berdiri siaga. Tapi suasana begitu hening dan sunyi. Hanya ada suara-suara nafas dan geraman kecil di sekitarku. Suara dengkuran macan.
Dengan perasaan campur aduk aku keluar kamar dan membuat kopi pahit empat gelas. Satu untukku, tiga untuk khodam macan yang baru saja mengikutiku. Itu petunjuk yang aku dapat begitu saja saat sedang memasak air di dapur. Seperti sebuah bisikan.
Di teras aku memandang kosong masih dengan rasa bingung. Membuka ponsel aku mendapatkan pesan dari Talia.
'Miss me, El?'
Aku … tidak bisa menjabarkan apa yang aku rasa. Hatiku bergetar seperti orang jatuh cinta dan aku memang sangat merindukannya.
Perasaan itu tumbuh subur dalam hatiku, aku mengungkapkan pada Talia kalau aku jatuh cinta padanya. Balasannya sungguh manis, dia juga mengatakan cinta padaku.
Sayangnya, aku tidak bisa membawanya ke dunia nyata karena suatu hal. Pertemuanku dengannya di coffee shop adalah pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhir.
END
Thanks for lovely gift🥰