Di pagi hari...
"Dek, adek". Seorang pria mendekat ke arah gadis yang tengah terlelap.
"Hummm...". Namun gadis yang tak lain adik pria tersebut, hanya membalas dengan bergumam didalam alam mimpinya.
"Clara !!".
"CK, apa sih kak. Pagi-pagi udah ganggu". Menutup telinga dengan bantal.
"Yaampun, aku bangunin kamu biar gak telat !, tapi dibilang ganggu".
"Yaudah deh terserah kamu aja Cla, pagi ini aku gak mau stres".
"Memang udah jam berapa kak ??".
"Jam 7". Melangkah pergi dari dalam kamar Clara.
"Ohh...". Seketika Clara sempat loading, sampai akhir ia menyadari sesuatu yang sangat gawat.
"Apa !, jam 7 !".
"Aku terlambat !".
Nah itu dia yang seharusnya Clara tidak lupakan. Tanpa memakan waktu lama, Clara yang masih didalam alam mimpi pun seketika mengingat sesuatu yang seharusnya tidak ia lupakan.
Tanpa mengumpulkan nyawa terlebih dahulu, Clara dengan spontan langsung bangun dari tempat tidur dan berlari kesana-kemari mencari seluruh peralatan sekolah, yang entah dimana rimbanya.
Pada pagi hari yang seharusnya tenang, didalam kediaman Firdaus kerusuhan dari perbuatan Clara malah sudah mulai.
Ditempat berbeda...
📲: Bos kami sudah menangkap dia".
📱: Apa kalian harus menanyakan bagaimana menghadapi orang itu ?".
📲: Ti-tidak bos, maaf. Kami akan melakukannya seperti biasa".
📱: Bagus, dan hancurkan juga mental dia. Berani sekali orang itu mengganggu Clara, cih".
📲: Baik bos".
📱: Tut !".
Satu jam sudah berlalu, kini pria yang disebut gadis tadi dengan kakak itu, tengah duduk dimeja makan sambil menikmati teh hijau dihadapannya. Pria itu sangat sabar menunggu sang adik yang begitu lama berdandan didalam kamar, padahal ia sendiri menyadari bahwa sudah terlambat pergi kesekolah.
Jam terus-menerus berdetak, tapi tanda-tanda Clara akan keluar belum ada sedikit pun. Dengan kejenuhan yang sudah menumpuk sesekali pria itu menghela nafas panjang seraya merubah posisi duduknya. Lalu ia akan melakukan itu lagi saat kejenuhan melanda dirinya kembali.
"Yok kak Dimas. Aku udah siap".
Pria itu menoleh tajam kearah adiknya Clara.
"Mau ke pesta, atau fashion show ?". Ucap pria itu dengan jengkel.
"Ih...kak Dimas aku tuh mau kesekolah tau. Kok kakak ngomongnya gitu, aku cantik ya".
"Lama banget dandannya, kamu tuh mau kesekolah, cobak lihat itu udah jam berapa". Pria tadi menunjuk kearah jam yang berada ditangannya.
"Jam 8 lebih, emang kenapa ?".
"Emang kenapa kamu bilang ?!".
"Kamu udah telat Cla, itu sekolah gak bisa kamu atur ya seperti punya kamu sendiri".
"Lah, kan memang punya kakak, kalau gitu berarti punya aku juga dong. Lagian guru sejarah nya membosankan, aku gak suka".
"Brakk !!". Telah melesat lah sebuah garpu disamping wajah Clara dengan cepat.
Dengan bulu kuduk yang sudah merinding, Clara menoleh kearah belakang guna melihat keadaan si garpu. Dan... kondisi si garpu begitu memprihatinkan, ia terbelah dua, begitu pula dengan kondisi bingkai foto yang berperan sebagai landasan empuk si garpu.
"Mati aku". Batin Clara ngeri.
"Clara Edrika Firdaus. Cepat kamu masuk mobil. S-E-K-A-R-A-N-G". Tatapan tajam menuju kearah Clara.
"Oke oke aku berangkat". Pada akhirnya Clara pun harus bungkam, kini kakak nya yang bernama Dimas sudah mengeluarkan aura membunuh yang akan membuat siapapun bergidik.
Dimas Firdaus, itulah nama kakak dari Clara. Memiliki sikap hangat sesaat, dan sesaat lagi memiliki sikap dingin menakutkan. Ada banyak hal terjadi di keluarga Firdaus, serta Clara sang anggota keluarga utama tidak mengetahui apa-apa tentang hal tersebut, bahkan kebenaran bahwa sang kakak adalah seorang mafia kejam tidak diketahui oleh Clara sedikitpun.
Namun tetap saja Clara pernah merasa heran. Apa, dan mengapa, disaat tengah malam tiba dirinya selalu dikunci dalam kamar kedap suara.
.
.
.
Pada malam hari...
"Cla, gimana makanannya enak ?".
"Enak banget kak, aku suka".
"Makanlah dengan cepat lalu setelah itu masuk kedalam kamarmu dan kunci pintu kamar mu".
"Hmmm". Clara yang sedang makan tiba-tiba menaruh sendoknya, lalu menatap sang kakak dengan tajam.
"Kenapa kalau malam tiba aku harus mengunci pintu kamar kak ?".
"Dek !". Jantung Dimas seketika kaget mendengar pernyataan dari Clara. Dengan susah payah ia mencari jawaban, lalu barulah ia menatap Clara yang berada tepat dihadapannya.
"Banyak pesaing di keluarga Firdaus, kakak tidak mau kalau kamu jadi terluka akibat penyerangan mendadak".
"Oh... begitu".
Reaksi Clara sangat tidak meyakinkan. Disatu sisi Clara mengetahui bahwa kakaknya tidak pernah bohong, tapi disatu sisi lagi Clara merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakaknya ini.
Meski begitu apalah daya, Clara hanya pewaris ke 2, ia tak berhak mengungkit masalah atau rahasia dari pewaris utama. Jadi karena itu Clara hanya bisa diam serta mematuhi semua peraturan dari kakaknya.
"Aku sudah selesai makannya kak, aku akan tidur sekarang".
"Ya. Selamat malam Clara".
"Selamat malam juga kak".
.
.
.
"Clak !".
Clara menutup pintu kamar, dipandang olehnya secerca cahaya bulan yang menyelinap masuk melalui gorden putih disebalik jendela.
Ia tersenyum, lalu mendekati cahaya itu dengan sangat santai.
Kenyamanan malam, karena keindahannya sungguh tiada tandingan bagi Clara. Dibawah langit malam dengan taburan bintang, beserta bulan purnama penuh Clara memainkan biola guna menghilangkan prasangka buruk dihati saat ini.
Permainan Clara begitu merdu, alunan musik sangat indah disertai dengan penjiwaan sungguh luar biasa. Permainan biola Clara awalnya berjalan baik, namun beberapa saat kemudian.
"Klap !".
"Akhhhh !!". Lampu dikediaman Firdaus mati total, tak ada secercah cahaya yang menerangi, bahkan cahaya sang bulan menjadi remang karena kegelapan begitu besar.
Clara yang takut akan gelap, dengan menimbang banyak hal, akhirnya memilih untuk turun kebawah demi mencari keberadaan sang kakak.
Tapi tidak cukup hanya dengan mati lampu, hal mengejutkan kembali menghampiri Clara.
"Kakak ?".
"Crack !".
"Ap-apa, apa ini". Clara bergidik seketika, dilihatnya kebawah tepat pada anak tangga yang sedang ia turuni sekarang.
"Ah...akhhhhhh !!". Teriakan rasa takut tak bisa Clara tahan, setelah melihat kebawah ia menyadari ternyata ada sosok manusia yang sudah bersimbah darah dibagian kepala, dan yang dipijak oleh Clara adalah tangan orang tersebut.
"Ya...yaampun, apa ini". Seketika tubuhnya ambruk kebelakang, matanya bergetar disertai air mata yang terus menerus keluar.
Clara sungguh tidak menyadari bahwa didalam kediaman keluarga Firdaus akan terjadi hal mengerikan seperti ini. Ia begitu bingung bagaimana harus memperlakukan orang dihadapannya sekarang, tubuhnya sudah lemas karena mengira orang itu mati terbunuh.
Tapi Clara tetap memiliki satu tujuan pasti, yaitu mencari sang kakak.
Kebetulan pula, di waktu itu suara kakak Clara terdengar samar-samar dari arah gudang belakang. Jadi hal ini pasti memudahkan Clara untuk menjumpai kakak nya.
Dengan bergegas ia menghampiri sang kakak yang berada di gudang belakang, namun tanpa disadari ternyata waktu malah membongkar semua rahasia...
"Buk !, buk !, buk". Aksi memukul kakak Clara terpampang jelas bagaikan film
"Heh !, siapa yang menyuruh mu melakukan percobaan pembunuhan kepada Clara hah ?". Teriakan menggema juga tersaji begitu mengerikan ditelinga Clara.
"Say...saya tidak tau...".
"Jangan berbohong !!". Hingga Clara tidak dapat mengenali lagi siapa pria yang sedang ia lihat.
"Buk !, buk !".
"Am...pu...ni saya, tu...an".
"Ck !, dasar dia pingsan".
Angin berhembus begitu kencang, serta sinar rembulan tepat mengarah ke Clara yang sedang terpaku dengan wajah takut gemetaran.
Dipanggilnya nama sang kakak, dengan tangis rasa takut. Dikala ia melihat kakak satu satunya seperti sesosok monster haus akan darah, ditambah orang yang dipukuli oleh kakaknya memiliki kondisi sama dengan orang yang ia temui di tangga
"Ka...kakak. Hiks, apa yang kakak lakukan ?".
~Tamat ~