"Plang"
Sore itu, rasaku campur aduk, dan tak mampu untuk mengungkapkan apakah sebenarnya maksud kedatanganku.
Perempuan berparas manis, pipinya sedikit tirus dan berkulit sawo matang, dengan sigap membukakan pintu untukku, ekspresi takjub begitu mengenali Aku. Pastinya dia kaget karena sama sekali tidak menyangka akan kedatanganku yang tiba-tiba kerumahnya.
Dengan keramahannya, dipersilakannya aku untuk masuk dengan segera, tanpa ragu-ragu dia menjabat tanganku dengan sangat erat, kemudian mempersilahkan duduk.
Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon jagung yang berderet di sebelah kanan rumahnya. Aku paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata, mungkin dia butuh pengalihan sejenak untuk menata kembali perasaannya dan untuk memulai perbincangan kami berdua sore itu.
Santi adalah sahabatku semasa kecil kala masih SD, ketika aku masih tinggal disebuah kecamatan di daerah Lamongan Jawa Timur, yang dikenal dengan sebutan Sugio. Sebuah kecamatan yang lumayan luas karena mencakup beberapa desa, salah satunya yaitu desa Kayen dekat tempat Santi tinggal. Hampir 26 tahun lalu kami berpisah karena keluargaku harus boyongan ke kota Surabaya dan kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten yaitu Made Mulya Lamongan Jawa timur. Itu saya ceritakan padanya, untuk mendapatkan maaf darinya karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu. Karena aku melanjutkan SMA di Surabaya dan Kuliah di Jakarta.
”Jadi, apa yang membawamu kemari?”
”Sawah.”
”Bohong! tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 15 kilometer saja dari sini, hanya untuk melihat sawah.
Aku tersenyum. Terjadi hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum beberapa obrolan meluncur bertubi-tubi bagai peluru magasin.
Bertemu dengannya, mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, selalu lekat di ingatanku. Tentunya dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang dia simpan tentangku lebih besar efeknya dari padaku. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih baik dan tulus dari pada Aku.
Malam itu aku berada di sini, melihatnya belajar. Dengan lampu teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja kayu ruang tamu, hampir mendekat dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya dengan santai melinting tembakau yang dibungkus dengan daun jagung kering yang telah digunting menjadi lembaran. Ibunya, melipat baju dengan rapi untuk dibawah kelemari tanpa terlebih dahulu disetrika. Ibunya seorang perempuan desa yang sederhana dan ramah.
Kala itu, percakapan-percakapan ringan saya nikmati bersama keluarganya, hal Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup mereka. Petani tulen, dengan menanam padi, jagung dan kedelai di musim yang berbeda. Dan rumahnya pun berada ditengah-tengah area persawahan yang kala itu masih jarang terlihat rumah dikanan kirinya, kini telah hampir penuh tersisa satu lahan sawah disamping rumahnya.
Sore itu kami sedang menyelesaikan tugas kelompok. Dan selesai belajar, dia menyuruh Aku pulang karena ba’da Asyar ia hendak pergi ke sawah dengan ayahnya untuk memasang bubu di aliran sungai sawah. Bubu adalah alat tangkap ikan yang terbuat dari bambu yang dianyam dan berbentuk bulat panjang. Dari hasil pasang bubu keluarga mereka menikmati beraneka ragam ikan, selain memasang bubu kegiatan malam kesawah adalah untuk menangkap belut, saking banyaknya belut yang didapat, sampai-sampai dibuat keripik yang sore itu disuguhkan kepadaku.
Aku langsung menyatakan ikut, tapi dia keberatan. Karena setelah magrib ayahku berjanji akan menjemputku. Sedikit mendesak, akhirnya aku pun diperbolehkan ikut, padahal ayahku sudah mewanti-wanti untuk tidak pergi kemana-mana jika keluarganya Santi pergi, termasuk pergi ke sawah. Tapi sore itu aku nekat untuk ikut, mereka pun tidak kuasa menolaknya.
Keluar dari kamar, Santi terlihat tak berganti baju hanya menyegerakan sholat asyar, aku pun terkaget-kaget.” Tidak ganti baju?” tanyaku dengan heran, dengan jawaban singkatnya “ besok kan libur, sekalian kotor, dan ia langsung memimpin untuk berangkat. Waktu Itu hari Sabtu, dan seragam pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih dia pakai seharian di rumah. Aku tahu ketika diperkenankan sholat di kamarnya, ia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja, kamarnya sangat sederhana hanya ada 1 lemari tua berwarna coklat dengan kaca berbentuk elips vertikal dan tempat tidur kayu dengan sprei coklat tua dan terlihat mbladus namun terasa teduh ketika aku duduk di atasnya. Tidak ada meja belajar di kamarnya karena meja di ruang tamu adalah meja serba guna untuknya.
Kami berdua turun menyusuri petak-petak sawah dan berlarian kesana-kemari. Ladang sawah desa Kayen, rumah ke dua Santi karena hampir setiap pulang sekolah Santi menyusul ibu dan bapaknya kesawah . Terlihat sawah pasca ditanami jagung dan akan berganti dengan padi, terlihat bongkahan pohon jagung yang telah layu dan hampir menyatu dengan tanah yang gebur, sehingga terlihat lapang, namun beberapa sawah disekitarnya masih terlihat beberapa menjulang hijau daun-daun pohon jagung dari kejauhan.
Ayahnya sibuk memasang bubu di aliran sungai yang memisahkan jalan dengan sawah mereka. Walaupun terlihat tergesah-gesah, ternyata dalam sekejab, Ayahnya mampu menangkap beberapa belut, satu belut besar ia perlihatkan kepada kami sembari berteriak “ San Ayo siap-siap pulang, belutnya sudah dapat”. Santi menyahut tanpa menengok kearah ayahnya, hanya menjawab sekedarnya dan terus melanjutkan lari nya. Dia tampak tenang-tenang saja walau pun tak memakai alas kaki, Aku pun terhanyut mengikutinya tanpa sadar melepas sandal jepitku di pematang sawah.
Dan beberapa saat kemudian;
Teriakku mengagetkan mereka berdua.
“Kakiku digigit kelabang” (teriakku sembari menyembunyikan rasa sakitku).
Santi berlari kembali sekencang-kencangnya menghampiriku. Terlihat wajah khawatir dan takut. Ayahnya berlarih kearahku dan segera menggendongku ke atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk dan menenangkan aku yang masih terus menerus menangis. Napasnya terdengar seperti sangat kelelahan dan terengah-engah tapi rasa tanggung jawab yang besar sepertinya memberinya kekuatan berlipat ganda untuk dengan cepat membawa aku ketempat yang aman.
Petang yang aku bayangkan akan menyenangkan justru berubah menjadi kesakitan yang luar biasa. Dari sawah hingga rumah, ayahnya menggendongku dan Santi mengikuti kami dari belakang. Sampai di rumah ibunya segera mengolesi Remason, obat serbaguna yang biasa mereka oleskan setelah digigit kelabang, obat itu dapat mengurangi bengkak dan sakit, tutur ibunya.
Aku langsung dibawah ayah tepat setelah magrib. Dan sepertinya ayah sempat sedikit bernada marah kepada orang tua mereka, karena membiarkan aku ikut ke sawah. Setelah itu aku dilarikan ke puskesmas kecamatan yang tak jauh dari rumahku.
Itulah masa indah SD kami yang menyenangkan, namun setelah itu kami terpisah sekolah, dia tidak masuk disekolah negeri yang berada di kecamatan, dia melanjutkan ke Tsanawiyah terdekat dengan rumahnya.
”Salah sendiri, mengapa kamu lepas sandal jepitmu waktu itu,” ungkap dia selesai kami mengingat kejadian itu.
”Mengajakmu ke sawah saja sudah sebuah kesalahan. Ditambah lagi ayahmu pasti memarahimu.” (tegasnya)
Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan kami kembali pada masa itu, sebuah kejadian yang akhirnya menjadi pengingat, betapa hal itu adalah pengikat persahabatan kami berdua.
Kedua orang tuanya kini sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orang tuanya justru tergadaikan di bank oleh suaminya.
”Ulahnya tidak ada habisnya, dan tak tahu dimana keberadaannya sekarang, anaknya saja tidak di urusnya?”.
”Kamu tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Sawah-sawah orang tuaku yang hanya beberapa petak saja telah habis dijualnya, dihabiskannya untuk berjudi di desa sebelah. Kalau tidak demi Linggar aku tak sudih bersama dia.
”Kami akan bertahan melalui semua ini,” katanya tersenyum saat melepasku setelah hari beranjak magrib. Ada kesungguhan dalam suaranya. Demi anak semata wayangnya Linggar, yang masih kelas 6 SD.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku tidak pernah lepas dari sahabatku itu. Aku merasa sedih sebagai sahabatnya, belum pernah aku sesedih ini dan aku belum dapat membalas kebaikannya, hatiku tergerak serta rasa sayang yang tiba-tiba mendekatiku.
Kebaikan mereka terhadapku kala itu, sungguh membuat pedih rasaku. Menjaga dan bertanggung jawab terhadapku layaknya aku adalah saudara baginya dan teruntuk orang tua mereka, aku dianggap sebagai anaknya. Kebaikan mereka tulus dan tanpa pamrih.
Mataku tertuju pada tumpukan berkas dimeja kerjaku, salah satu berkas yang tak bisa kulepas sejak 10 menit yang lalu adalah copy surat SP 3 atas kredit macet sahabatku itu. Dan sebentar lagi, aku mewakili bank tempatku bekerja akan mengadakan penyitaan aset untuk diamankan sebagai jaminan kredit. Artinya tanah dan rumah Santi sebentar lagi akan menjadi milik bank, dan akan dipasang plang pemberitahuan bahwa rumah tersebut adalah milik bank.
Bontang, 01 Oktober 2020
Sriningsih Hutomo