Pada siapapun yang meremehkan dirinya sendiri. Bagi siapapun yang merasa dirinya sampah. Sungguh aku berani jamin, pikiranmu itu tidak nyata. Itu hanya perkataan dari stress di dalam kepalamu. Sekarang mari kita lupakan hal itu sejenak.
Cobalah lihat secara luas pandanganmu. terlebih dahulu posisikan dirimu di ruangan sepi, buat dirimu senyaman mungkin. Ok mari kita mulai.
Apa yang kamu rasakan? Kamu seakan kepingan logam 500 perak di sebuah bank penyimpanan emas? Atau sampah berjalan yang tak bisa apa-apa. Coba bayangkan sekarang saya yang menjadi sahabatmu saat ini menyuruhmu untuk menghentikan itu. Ya, sudah?
Kemudian pikir apa yang membuatmu begitu menjadi sampah. Apa karena gagal membuat cerita menarik, apa karena tidak bisa memasak, atau karena tak bisa melakukan apa-apa sedangkan temanmu menguasai segala hal? Coba, sekarang pikirkan. Jika sudah, terima kasih.
Sekarang perhatikan, apa karena kamu tidak memilikinya kamu menjadi sebuah sampah tak berguna? Sampah yang tidak memiliki nilai? Apa benar? Apa dunia hanya tentang hal itu? Coba lihat sekitar, begitu banyak hal. Benar atau tidak?
Apa hanya karena kamu selalu gagal kamu menjadi sampah masyarakat? Bagaimana dengan orang-orang jenius pada masanya. Mereka banyak melakukan kesalahan, kegagalan.
Jika kamu masih membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain, stop. Stop, pls itu ga ada gunanya. Coba perhatikan, apakah kamu memulai pada start yang sama dengan orang itu? Tidak kan? Lalu kenapa kamu bisa iri dengan dia? Kamu memulai pada start yang beda, tengah yang beda, juga ending atau garis Finish yang beda. Kita juga memiliki Medan lomba yang berbeda pula. Orang lain seperti itu karena sudah memulainya lebih awal dari kamu, dan juga medan yang berbeda. seharusnya kamu paham itu.
Ok, kalau kamu masih merasa dirimu sampah coba ubah pola pikir kamu, mindset kamu. Kenapa soal mindset? Karena seringkali masalah itu datang dari bagaimana cara kita menanggapi masalah itu sendiri.
10% masalah datang secara alami dan 90% masalah datang dari cara kita menanggapi masalah itu sendiri. Ubah cara pandang kamu, kamu hanya memiliki dua hal. Hal yang dapat dikontrol dan hal yang tidak dapat dikontrol. Hal yang dapat kamu kontrol apa saja? Tidur lebih awal, santai menanggapi masalah bukan berarti meremehkan masalah, olahraga secara rutin, mendekatkan diri kepada pencipta, belajar dan berjuang. Kemudian hal yang tidak bisa kamu kontrol itu ada pendapat orang lain, kelakuan orang lain, dll. Lakukan apa yang kamu dapat kendalikan dan fokus di situ, percaya deh kamu akan mendapat kekuatan.
Kalau kamu orangnya suka insecure aku saranin kamu nonaktifkan medsos yang membuatmu meremehkan diri. Itu langkah awal untuk menenangkan pikiranmu. Namun, di saat pandemi ini sekolah online memang tak bisa dihindarkan, biasanya sih aku membisukan status siapa pun itu. Entah teman, sahabat, guru, kecuali orang tua. Serius kamu jadi lebih tenang dan mengurangi keinsecureanmu.
Kemudian apa yang harus dilakukan setelah melakukan hal hal di atas? Teruslah belajar, teruslah mencari, teruslah berusaha. Kamu itu berguna, kamu itu bermakna. Jika masih meremehkan dirimu, coba inget-inget deh. Segala yang ada di bumi pasti ada tujuan penciptaannya, dan ga semua sama. Tuhan gak akan memberi apa yang kamu mau, tapi Tuhan memberikan apa yang kamu butuhkan. Jika doa-doamu belum kunjung terkabul, sabarlah mungkin Ia menundanya untuk memberikan kepadamu saat kamu layak mendapatkannya. Makannya, teruslah berjuang. Jika doa-doamu tak terkabulkan, berarti ada hal yang lebih baik kamu butuhkan dikemudian hari. Berbaik sangka lah kepada-Nya.
Bagaimana kamu bisa bersedih dengan nasibmu sementara itu semua telah diatur oleh-Nya? Sang pembuat sekenario terbaik.
Berdoalah, berdoalah. Karena doa adalah senjata yang paling kuat di alam semesta.
Menangis lah jika kamu membutuhkannya, jangan menahan-nahan. Dan jangan selalu menjadi positif, karena kadangkala hidup tak selamanya senang-senang. Kita perlu mengeluarkan emosi negatif itu dengan menangis. Namun, perlu diingat, jangan terlarut dalam kesedihan. Karena selanjutnya akan ada sekenario terbaik, yakinlah.
Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Kalimat ini bukan bermakna setelah kesulitan ada kemudahan. Namun, dengan kita bersusah payah dalam suatu hal, di situlah ada kemudahan bagi siapa yang mau berusaha.
Di sini saya sharing-sharing bukan menggurui. Keputusan ada di tangan kalian. CMIIW