Kanada, September 2019.
Aku terduduk lemas di lantai kamar ini. Dengan bersandar pada kasur, kupeluk kedua lututku demi menyamarkan rasa dingin yang mulai merambat ke seluruh tubuh ini.
Hanya ada sebuah lilin putih yang senantiasa menerangi kamar ini. Lilin putih yang aku letakkan tepat di depanku.
Sebuah ponsel tergeletak tanpa daya, tak jauh dari tempatku duduk.
Bulir-bulir kristal air mata perlahan mengalir turun membasahi pipiku.
"Kau benar, El, aku memang mempunyai hubungan khusus dengan Chloe. Sepertinya aku tidak perlu meminta maaf padamu, sebab kelakuanmu pun tak lebih baik dariku. Jadi, kita akhiri saja hubungan ini, El. Kau tak pantas bersanding denganku,"
Itulah kalimat terpanjang yang pernah kudengar dari mulutmu. Selama lebih dari setahun menjalani hubungan, kau tak pernah mengucapkan lebih dari lima kata padaku. Entah apa itu sifatmu atau memang kau tak sudi mengajakku bicara.
Jika memang kau tak sudi, lantas mengapa dulu kau bersusah payah menyatakan perasaanmu padaku, di bawah ribuan helai daun maple yang berguguran?
Entahlah, lagi-lagi aku tak mengerti apa isi kepalamu.
Kecurigaanku selama beberapa bulan ini terbukti sudah. Kau pun mengakuinya. Kendati pahit, tetapi aku merasa lega. Lega karena beban yang kuemban di pundakku terangkat dan menguap hilang tanpa bekas. Meski kini harus berganti dengan rasa sakit yang teramat menyiksa relungku.
Impianku untuk pergi saat masih bersamamu pun pupus sudah.
-----------------------------------------------------------------
Brimingham, November 2020.
"El, kau melamun lagi?" seorang gadis cantik bersurai keemasan menyadarkan lamunan Elena.
"Aah! Maaf Jean," Elena meringis. Sekilas, air mata terlihat turun dari pelupuknya. Buru-buru ia menghapus jejak air mata tersebut, sebelum sang sahabat melihat dan kembali memberikan ceramah panjang lebar padanya.
"Kau mengingatnya lagi, ya?" tanya Jean sembari duduk di tepi ranjang Elena.
Jean memang gadis yang peka dan penuh perasaan. Raut wajah Elena berubah sendu. "Sulit untuk melupakannya, Jean,"
Jean terdiam. Ia menghembuskan napasnya, antara sedih dan juga kesal.
"El, ini sudah setahun berlalu. Lupakanlah," ujar Jean. "Untuk apa kau terus memikirkan pria itu, disaat pria itu bahkan tidak pernah memikirkan dirimu," sambungnya.
"Aku tahu," Elena tertunduk lesu. Helaian rambutnya bergerak menutupi paras cantiknya.
"Ya sudah, dokter George pasti sudah ada di ruangannya sekarang. Lebih baik kita ke sana," Jean berdiri dan mengambil sebuah kursi roda yang teronggok di sudut ruangan. Elena mengangguk seraya tersenyum, ia perlahan turun dari ranjang dan duduk di kursi roda tersebut.
Jean perlahan mendorong kursi roda tersebut. Tanpa Elena sadari, setitik air mata terlihat turun dari manik biru gadis itu.
Elena adalah gadis yatim piatu. Ayahnya meninggal di medan pertempuran tepat ketika ia berusia tujuh tahun. Sementara Ibunya meninggal lima tahun yang lalu, setelah berjuang menghadapi kanker otak selama dua tahun. Sejak itulah ia tinggal bersama Jean dan keluarganya.
Namun kini, gadis itu pun harus berjuang sama seperti sang Ibu. Kanker otak yang diidapnya sudah sampai pada tahap akhir. Elena baru mengetahui hal tersebut tepat lima bulan sebelum Sean, pria yang dicintainya, memutuskan hubungan mereka sepihak.
Ketika mengetahui Sean mencampakan sahabat baiknya, Jean sempat bersikeras ingin memberitahu kondisi Elena. Namun Elena melarangnya habis-habisan. Ia tak ingin hubungan mereka dilandasi rasa iba. Karena jika memang Sean tidak mencintainya, ia bisa bebas pergi tanpa beban.
-------------------------------------------------------------
Brimingham, Januari 2021.
"Kau butuh sesuatu, El?" Jean membuka mantel tebalnya begitu sampai di kamar rawat Elena. Gadis itu tampak sibuk membersihkan sisa-sisa salju yang terdapat di mantel ungu kesayangannya.
Elena yang sedang duduk di atas ranjang segera mengalihkan pandangannya. "Seharusnya kau tak perlu datang sepagi ini, Jean," ucapnya.
Jean tidak menghiraukan ucapan Elena. Ia berjalan mendekat sembari membawa sekantung buah untuk sahabat baiknya.
Elena kembali mengalihkan pandangannya ke jendela. Ia rupanya sedang menikmati sekumpulan salju yang turun di luar sana.
"Jean," panggil Elena tanpa menoleh.
"Hmm ...," Jean duduk di tepi ranjang. Matanya ikut memandangi suasana di luar jendela kamar Elena.
"Aku sudah berpikir masak-masak," katanya seraya menatap Jean penuh kehangatan. Sebuah senyuman tersungging di bibir manis Elena. "Aku akan melakukannya." sambungnya dengan nada penuh keyakinan.
Jean yang mendengar kalimat itu hanya bisa tergugu. Matanya kontan berkaca-kaca.
"Tega sekali kau padaku!" sahut gadis itu dengan suara tercekat. "Kau memiliki aku, kakakku dan kedua orang tuaku. Apa kau tega meninggalkan kami semua?"
"Maafkan aku, Jean," hanya itu yang mampu Elena katakan.
Sungguh, jauh di dalam lubuk hatinya, ia belum mau meninggalkan mereka, orang-orang yang telah sudi menerima kehadirannya dan menyamakan posisinya dengan Jean. Elena sangat mencintai keluarga angkatnya.
Namun, ia sudah tak sanggup jika harus menahan semua rasa sakit ini lebih lama lagi. Baginya, apapun yang ia lakukan sekarang hanyalah hal yang sia-sia, dan ia tak ingin keluarga Jean menghabiskan lebih banyak uang hanya untuk membiayai perawatannya.
"Jean," panggil Elena kembali.
Jean enggan menoleh. Ia sibuk menghapus air matanya yang sudah mengalir deras.
Elena tersenyum lirih. Ia segera membuka laci yang berada di sebelah ranjangnya dan mengeluarkan dua buah surat. Gadis itu kemudian memegang tangan Jean lembut. "Tolong, sampaikan ini pada mereka nanti,"
Jean mau tak mau melihat kedua surat tersebut. Surat pertama ditujukan untuk keluarganya yang berada di Kanada, sedangkan surat berikutnya ditujukan untuk seseorang yang hingga kini masih Elena pikirkan.
Jean kontan memeluk erat Elena. Gadis itu meraung-raung, meminta Elena untuk tetap berada di sisinya. Setidaknya, ia tak mau Elena menyerah pada hidupnya begitu saja.
"Maaf, Jean, maaf ...,"
--------------------------------------------------------------
Kanada, Februari 2021.
"Elena dan Jean masih belum pulang," ujar Brian, kakak semata wayang Jean, pada seorang pria bermata aquamarine, Sean.
Ini adalah kali kelima Sean mendatangi kediaman keluarga Connor guna mencari keberadaan Elena.
Sudah tiga bulan terakhir ini Sean mencari Elena. Pria itu ingin meminta maaf pada gadis itu karena telah mencampakannya demi seorang wanita tidak bermoral, Chloe.
Tuduhan yang Chloe tujukan untuk Elena perihal pekerjaan malam yang ia geluti ternyata hanya fitnah belaka. Semua bukti yang sempat Chloe berikan hanyalah jebakan yang wanita itu buat untuk menghancurkan nama baik Elena.
Sean begitu menyesal. Seharusnya ia mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya. Seharusnya ia lebih mempercayai gadis yang sangat dicintainya itu.
Sean tak ingin terbelenggu dalam jurang penyesalan lebih lama. Ia harus menemukan Elena dan meminta maaf padanya.
-----------------------------------------------------------------
Brimingham, Februari 2021.
Elena menganggukan kepalanya sekali lagi. Raut wajahnya tak mencerminkan sedikitpun keraguan. Kendati wajah kedua orang tua angkatnya sudah bersimbah air mata, Elena sama sekali tidak gentar.
Keputusannya sudah bulat!
Melihat ketegaran Elena, Mrs. Connor memeluk gadis itu erat-erat. Ia memohon sekali lagi pada Elena untuk merubah keputusannya. Wanita itu tak ingin kehilangan anak angkat yang begitu ia cintai.
"Maaf, Mom," ujar Elena sembari terisak. Meski hatinya terasa pilu. ia tetap teguh memegang pendiriannya. Ia yakin, ini adalah keputusan terbaik.
Elena melepas pelukan kedua orang tua angkatnya. Sebelum membubuhkan tanda tangan pada kertas yang sedari tadi ia genggam, Elena kembali menatap satu persatu wajah orang-orang yang paling dikasihinya. Tak lupa, pada sekelebat bayangan seorang pria yang kini hadir memenuhi ingatannya.
"Aku mencintaimu, Sean,"
----------------------------------------------------------------
"Aku mencintaimu, Sean,"
Sean tersentak dari tidurnya. Peluh membasahi seluruh wajah dan tubuh pria itu.
Baru saja ia memimpikan Elena. Gadis itu berpamitan padanya untuk pergi jauh. Hati Sean berkebit tak karuan. Perasaan gundah dan tak tenang menghinggapi relungnya.
Ada apa dengan Elena?
Apa arti mimpinya?
Ia harus menemukan gadis itu secepatnya!
-----------------------------------------------------------------
Kanada, Maret 2021.
Sean mengemudikan mobilnya secepat mungkin begitu menerima telepon dari Jean, bahwa pagi ini, ia dan Elena telah tiba di rumah.
Perasaan rindu semakin tak terbendung, kala jarak rumah Jean semakin dekat. Hati Sean berdesir tak karuan. Sean berjanji akan memperbaiki semuanya.
"Semoga kau memaafkanku, El," gumamnya sembari mengelus sebuah kotak berwarna merah yang ia keluarkan dari saku jasnya.
Tak perlu waktu lama, ia telah sampai di depan rumah keluarga Connor. Keningnya berkerut ketika mendapati rumah tersebut kini telah ramai oleh orang-orang berpakaian serba hitam.
"Siapa yang meninggal?" tanya Sean dalam hati. Seonggok perasaan takut tiba-tiba bersemayam dalam benaknya.
Tak ingin berprasangka, ia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah megah tersebut. Pria itu menerobos kerumunan orang tanpa menghiraukan protes mereka.
Langkah kaki Sean berhenti di ambang pintu ruang tamu. Hatinya mencelos ketika maniknya menatap sebuah peti mati berwarna putih, lengkap dengan foto seseorang yang selama ini dicarinya.
Jean, sahabat Elena, yang baru saja meneleponnya tadi pagi tengah memeluk peti mati tersebut sembari menangis meraung-raung.
Sean melangkah perlahan. Ia menguatkan diri untuk melihat lebih dekat.
Jean yang sadar akan kehadiran Sean seketika berdiri. Ia menampar Sean sekuat tenaga sebelum akhirnya memeluk erat-erat pria itu.
Sean hanya bisa terdiam mematung.
Perasaan hancur bergumul memenuhi rongga dadanya. Ia tak pernah menyangka, bahwa pertemuannya dengan Elena akan jadi seperti ini.
Ini bukanlah yang ia inginkan.
Air mata kontan jatuh membasahi pipinya.
----------------------------------------------------------------
Acara pemakaman Elena telah selesai. Semua pelayat yang datang satu persatu mulai meninggalkan tempat itu, termasuk keluarga Jean. Kini hanya tinggal tersisa, Jean dan Sean.
Jean mulai menceritakan semua tentang Elena kepada Sean. Dari awal ia sakit sampai meninggal di pangkuannya. Ia memohon pada Sean untuk mengerti bagaimana perasaan Elena yang begitu mencintainya.
Jean pun mengaku bahwa ia mengetahui perbuatan Chloe. Ia sengaja tak pernah membahasnya dengan Elena, sebab gadis itu tak ingin menambah beban pikiran Elena.
Sean mulai menangis lagi. Kini ia menyesal karena sama sekali tidak memperhatikan kondisi Elena, padahal mereka telah bersama selama setahun. Sean benar-benar tidak menyadarinya.
Selesai bercerita, Jean menyerahkan dua buah surat dan sebuah buku untuk Sean
"Elena menitipkan surat ini untukmu. Sedangkan untuk diary, aku berinisiatif memberikannya padamu. Kurasa, kau lah yang lebih berhak memilikinya, karena hampir semua isi di dalamnya menceritakan soal dirimu." Terang Jean.
"Lalu ini?" tanya Sean pada Jean. Sebuah amplop berwarna coklat bertuliskan nama rumah sakit di Brimingham menarik perhatiannya.
"Bukalah," pinta Jean sebelum ia pamit undur diri.
"Dia memaafkanmu, Sean, karena dia sangat mencintaimu," ucap Jean sebelum benar-benar pergi meninggalkan Sean seorang diri di sana.
Sean mulai membuka surat pertama. Rupanya itu adalah surat pernyataan yang Elena tanda tangani dengan sukarela.
.
SURAT PERNYATAAN PENOLAKAN PENGOBATAN
Yang bertandatangan di bawah ini, saya:
Nama: Elena Chalondra Candle / Elena Chalondra Connor.
Usia: 27 tahun, 2 bulan, 4 hari.
Jenis kelamin: Perempuan.
No. Reg: 46281
Dengan ini, menyatakan PENOLAKAN PENGOBATAN terhadap saya. Saya memahami perlunya dan manfaat pengobatan tersebut sebagaimana telah dijelaskan dan dijalani kepada saya, termasuk resiko dan komplikasi yang timbul.
Saya bertanggung jawab secara penuh atas segala akibat yang mungkin timbul sebagai akibat ketidaklanjutan pengobatan tersebut.
Brimingham, Februari 2021.
Yang menyatakan,
Elena Chalondra Candle / Elena Chalondra Connor.
.
Rasa sesak memenuhi dada Sean. Ia menggenggam erat surat pernyataan tersebut sebelum beralih pada surat pribadi Elena.
Dear Sean,
Ketika kau membuka surat ini, itu artinya aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Kau tahu, Sean? Aku tak pernah pandai merangkai untaian kalimat untuk seseorang. Namun demi dirimu yang masih sangat aku cintai, aku mencoba melakukannya.
Sean, aku minta maaf karena tak pernah mengatakan apapun soal ini. Aku hanya ingin menjalani hubungan yang normal, tanpa embel-embel rasa simpati darimu. Aku tak suka dikasihani, aku tak suka kau melihatku tak berdaya, dan aku tak suka kau menganggapku penyakitan.
Aku pun benar-benar tak ingin membebani dirimu. Terlebih ketika aku tahu, bahwa kau juga telah berpaling dariku dan melabuhkan hatimu pada Chloe.
Meski hatiku teriris, tetapi sebagian dari diriku merasakan sedikit kelegaan. Kelegaan karena ternyata, keputusanku untuk menyembunyikan semua darimu adalah benar.
Entah bagaimana jadinya jika aku tak melakukan hal tersebut. Sudah pasti kau tidak akan semudah itu melepaskanku, dulu.
Sean, terima kasih untuk satu tahun yang telah kau berikan. Itu sangat menyenangkan. Aku tak akan melupakannya.
Sean, kau adalah pria kedua yang aku cintai setelah Ayahku.
Berbahagialah wahai pria yang masih kucintai. Jangan tangisi apapun soal diriku dan jangan biarkan penyesalan menggerogoti relung hatimu.
Ingatlah, bahwa aku pernah hidup di sini.
Dari yang tulus mencintaimu,
Elena.
Sehelai kertas itu jatuh menghantam tanah. Menyisakan air mata yang lagi-lagi lolos dari pelupuknya.
Sean meraung, memanggil nama Elena. Tangannya mencengkram kuat-kuat dadanya, berharap rasa sakit yang kini ia rasakan bisa sedikit berkurang.
Ia tahu, semua sudah terlambat.
Elena tidak akan pernah kembali. Dan Sean, tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjelaskan sekaligus meminta maaf pada gadis itu.
"Kembalilah padaku, El. Maafkan aku,"