"Ara!! sekarang kau tidur di gudang"teriak ibuku yang selalu membenciku.
.
.
.
Ya, itu seperti dugaan kalian. Keluargaku tidak harmonis, setiap aku memilih pilihan pasti aku akan dikurung digudang dan disuruh makan makanan yang sudah tidak layak dimakan. Sebenarnya aku ingin memberontak, ingin mengungkap kebenaran.
Sebenarnya aku dulu hidup dalam kebahagiaan, namun itu hancur saat adikku lahir. Papa pilih kasih, mama tidak peduli padaku. Aku pernah suatu hari mengungkap itu, tapi hanya terdengar teriakan dari ibu dan penyiksaan papa.
"Ara!! Kamu kan yang nyakitin adek kayak begini?!" ucap mamaku sepulang sekolah. "siksa dia"lanjut ibuku tanpa rasa iba.
" bukan aku mah, bukan aku"kataku seiring diseret ke gudang.
"bicara sejujurnya, kamu kan?! "kata papa memaksa sambil memegang baret untuk menyiksaku.
" bukan aku pa"air mata dan darah mengalir keluar dari tubuhku yang mulai dingin.
"jangan bohong atau aku akan menambah siksaanmu"kata papa yang tidak pernah ada ekspresi itu.
" ampun pa. iya itu aku"kataku yang bernyawa tinggal setengah.
Siksaan demi siksaan pun terjadi tak pernah berhenti. Kalu aku dikunci digudang, pasti mama atau adikku akan datang membawa makanan basi itu. Dan aku yang pasrah harus makan dengan pura pura rakus, memang sakit, tapi aku tak punya solusi.
"makan ini dasar binatang" kata mamaku memberi makan dengan kasar itu.
"iya ma," kataku yang mengambil piring yang sudah tergeletak tidak rapi di depanku.
"jangan panggil aku mama, dasar binatang" kata mamaku jutek sambil melihatku sinis.
"ma, beliin adek hp baru, yang iphone" kata adikku dengan suara sok imut dan mata berbinar.
"okey anak kesayangan mama" kata mamaku yang membelai kepala adikku yang notabene nya masih SD.
Aku yang dikurung dan dikunci digudang hanya bisa berdoa, berdoa dengan keadaan yang parah dengan darah yang terus bercucur dan air mata yang deras.
Ajaibnya, setelah aku bangun keesokan harinya aku bertukar tubuh dengan anak yang disayang orang tuanya, yang notabene nya teman sekelasku. Yang juga anak terpopuler disekolah yang selalu dikerurubungi para fans.
"Nora, bangun yok, sarapan udah siap" Kata ibunya dengan lembut dan kasih sayang.
"siapa kamu?! jangan dekat dekat aku, jangan sakiti aku"kataku dengan menggigil dan sontak kebelakang.
" Nora, kamu kenapa? kamu gak inget mama"kata ibunya dengan khawatir yang teramat.
Akhirnya aku sudah terbiasa dengan tubuhnya dan mulai nyaman dengan keluarganya, namun tetiba ayahnya datang dan memukul wajah sang istri dengan botol wine nya.
"kamu istri yang tak berguna, masih mending selingkuhanku, dah montok kaya lagi" kata ayahnya sambil terhuyung.
Aku pun mulai menyadari sesuatu, biasanya si Nora mendekati banyak cewek tapi tidak banyak cowok yang akan ditemani. Aku pun memberanikan diri untuk menjawab ayahnya meskipun aku agak merinding mengingat masa lalu.
"yah, kalau kau tidak ingin bersama mama tinggalkan aja, gak usah membuatnya menderita seperti ini" teriakku dengan setengah ragu dan takut.
"kamu mulai berani ya sekarang" kata ayahnya sambil terhuyung ke kanan dan kekiri.
Aku pun berusaha melawan dan membantunya ke kamar tidur, meski berat dan susah aku akan terus berusaha yang terbaik demi kasih sayang orang tua.
Tapi yang aku sayangkan, saat pagi hari jiwaku kembali ke tubuh asliku, itu kemalangan dan rasa senangku yang bercampur aduk. Malang karena aku akan disiksa lagi dan senang karena akhirnya aku bertemu orang tuaku lagi.
Tapi yang aku kagetkan, aku ada di tempat tidur yang sudah lama aku tidak tidur disitu, yang sudah 10 tahun tidak ku tidur disana, yang sudah ada noda bertaburan.
"pa, mana mama? " tanyaku bingung sambil keluar kamar.
"mamamu? dia bercerai denganku" kata papaku yang nangis dan menunjukkan ekspresi untuk pertama kali.
"kenapa? " tanyaku yang masih bingung.
"kenapa katamu? " kata ayahku setengah membentak. "kau kemarin sudah membongkar rahasia mamamu"lanjutnya.
Aku pun kaget, ternyata Nora membongkar semua yang aku ingin bongkar. Papaku yang masih syok pun masih menangis dan tidak bisa berhenti,seharian diisi tangisan ayahku yang tidak berhenti seperti meratapi seorang yang meninggal.
Besok paginya semuanya berubah, yang dulu aku disiksa akhirnya aku bisa tersenyum lega. Hari hari biasa yang harusnya ku dimarahi menjadi hari yang penuh senyumku dan ayahku. Aku bersyukur mendapat hidup begini, aku berharap kehidupan sekarang tidak akan berakhir. Pernah suatu hari ku bertanya.
"pa, kenapa papa selalu pilih kasih sih? " tanyaki suatu hari setelah orang tuaku bercerai.
"dulu saat mamamu melahirkanmu, dia tak siap untuk melahirkanmu, jadi ibumu seperti itu" kata papaku menjelaskan. "dulu papa pernah tidak setuju dengan perjanjian untuk menyiksamu-" lanjutnya.
"lalu kenapa?! " tanyaku setengah marah.
"papa terlalu mencintai mamamu, maka dari itu papa cuma setuju" kata papaku yang meneteskan air mata penyesalan. "maaf kan papamu ini" lanjut papaku tersedu.
"okay" kataku berjalan kekamar.
Itulah flashback saat hari pertama mamaku cerai. Sebenarnya aku sempat dendam ke papa ku, tapi setelah ku pikir tak baik untuk jadi pendendam. Jadi aku memutuskan untuk tersenyum dan akrab ke papaku.