Cinta pertamaku adalah kamu, dan akan terus kamu – Vien
==========
Aku menatap keluar, menatap kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalanan. Bukan, aku menatap pantai yang sepi pengunjung–karena ini bukan hari libur–di temani oleh buku harian yang terbuka dan sebuah pena di jariku.
Terkadang aku mengingatnya, cinta pertamaku. Pertemuan pertama di pinggir pantai, ditemani senja.
Inilah kisahku, kisah cinta biasa Vienna Finch.
===5 thn yang lalu===
Hari adalah hari dimana aku memulai hidup baru. Hidup di kota pinggir pantai yang damai, kami sekeluarga baru saja pindah hari ini. Karena malas membantu kakak dan orang tuaku, aku jalan jalan ke pantai yang sepi ini.
Padahal dua hari yang lalu adalah hari ulang tahunku yang ke 16 tahun. Sekarang sudah pindah rumah saja, dan aku mengetahuinya kemarin.
Aku hanya berdiri tanpa alas kaki dipinggir pantai. Membiarkan air laut membasahi kakiku. Tatapan mata lurus kedepan, menatap langit senja yang indah.
"Hai, kamu pengunjung ya? Tumben ada pengunjung di hari biasa, apalagi masih pelajar!" seru seseorang yang membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh kebelakang. Mendapati sesosok laki-laki seumuran denganku. Tau apa kesan pertamaku kepadanya? Orang aneh!
Dia mengajak orang asing berbicara! Memangnya dia siapa?
Aku menjawab, "Bukan, aku bukan pengunjung. Aku dan keluarga ku baru saja pindah siang ini ke kota ini. Karena ingin mengenal lingkungan sekitar, aku jalan jalan sebentar."
"Wah, ternyata warga baru! Bagaimana jika aku menemanimu jalan jalan?" antusiasnya setelah mendengar jawabanku.
Ughh... silau. Cahaya orang ganteng! Cahaya orang ganteng!
"Ngga perlu, bentar lagi aku juga pulang kok." balasku menolaknya dengan halus.
Dia kembali mengoceh. "Heh... kamu nolak aku? Padahal aku niat baik, tapi..." ujarnya dengan nada sedih.
Pusing sekali berhadapan dengan orang yang pertama kali aku temui ini, padahal juga baru lima menit yang lalu.
"Oke oke... besok pagi jam 9 datang ke rumah ku." terpaksalah aku menuruti keinginannya untuk menemaniku berkeliling.
"Oke, tapi rumah kamu yang mana?"
"Resto baru dekat toko suvenir."
Dan sekarang laki-laki itu menatapku dengan tatapan berbinar. Pertanyaan. Apa dia ini gila?!
Aku kembali memakai sandalku. "oh iya, namaku Vienna Finch, panggil aja Vien."
"Namaku Darren. Salam kenal Vienna!"
Itulah pertemuan pertamaku dengan laki-laki bernama Darren. Pertemuan yang kurang mengesankan bagiku. Meskipun begitu, sejak kami saling mengenal kami juga semakin dekat.
=====
Satu minggu kemudian...
Hari ini adalah hari pertama aku kembali sekolah. Pindah rumah, pindah sekolah juga. Lingkungan baru, mau tidak mau aku harus menyesuaikan diri disini.
SMA swasta. Tempat baru dimana aku akan menimba ilmu.
Aku mengikuti langkah seorang wanita yang merupakan wali kelasku, aku melirik kesana kemari melihat sekitar.
Seperti sekolah pada umumnya.
Sekarang telah sampai di depan kelasku. Guru membuka pintu lalu berjalan masuk, aku mengekor padanya. Berdiri di depan kelas, semua siswa menatapku dengan seksama. Apa mereka tidak pernah melihat gadis cantik sepertiku?
Guru mempersilakan ku untuk memperkenalkan diri. Mula mula aku menarik napas panjang lalu menghembuskan dari mulut. Aku gugup sekali.
"Namaku Vienna Finch, salam kenal semuanya! Aku harap kita bisa berteman baik!"
Tersenyum. Itulah poin utama ketika memperkenalkan diri.
"Vien!!" suatu suara berseru dari salah seorang siswa. Suara yang kukenal.
Aku mencari sumber suara yang memanggil namaku seperti itu. Aku adalah warga baru kota ini, belum kenal banyak orang.
Tidak mungkin dia kan?
Benar saja jika itu adalah dia... Seorang laki-laki berdiri sambil melambaikan tangannya. Semua mata yang awalnya tertuju padaku, sekarang tertuju padanya. Darren.
Dunia itu sempit.
Guru menegurnya dengan tegas, dan reaksi siswa lain juga biasa biasa saja. Pasti dia sering seperti ini 'kan?
Hanya ada satu bangku kosong di kelas ini, yaitu disebelah Darren. Kursi paling ujung dekat dengan jendela. Yasudah, tidak ada alasan untuk menolak untuk duduk di samping Darren.
Darren terus mengajakku berbicara ketika jam pelajaran. Cerewet! Suara bisik bisiknya sangat mengganggu telingaku!
Terus seperti itu keadaanku ketika bersamanya. Hanya diam mendengar ocehannya. Tanpa aku sadari terkadang aku juga ikut ikutan bercerita tentang hal kecil dengan panjang lebar.
Aku sudah terbiasa dengannya.
Ini adalah kisah cinta biasa yang bermula di pinggir pantai, dan ditemani senja.
Musim berlalu dengan sendirinya, 5 tahun kemudian aku masih tetap disini, dikota tempat kami bertemu.
"Vien,"
Aku menoleh kearah orang yang memanggilku. Kekasihku telah datang.
"Darren." balasku dengan lembut.
"Hayo kamu ngapain?" ia berjalan menuju kearahku, aku langsung saja menutup buku harianku.
"Nggak ngapa ngapain! Lagian kamunya juga sih yang lama."
"Ya maaf, sayang. Ketemu pacar harus rapi dan wangi dong." Darren cengar-cengir sendiri.
Dia tidak berubah walaupun waktu berlalu telah lima tahun. Dan selama itu juga cintaku bertambah.
End~~~~
=•=•=•=•=
Maaf kalau kurang jelas 😔 Soalnya nulisnya juga setengah ati 🤣