Sore hari yang masih terlihat cerah, meski matahari sebentar lagi akan terbenam. Musim panas membuat siang lebih panjang dari waktu malam.
Suasana diluar yang ceria berbanding terbalik, dengan suasana di dalam sebuah flat kecil yang terletak di lingkungan permukiman kumuh yang sebenarnya kini sudah tak berpenghuni.
Ruangan yang berantakan dan di biarkan gelap, kain jendela dibiarkan menjuntai begitu saja.
Lantai yang berdebu dengan sampah yang dibiarkan berserakan.
"Emmm.. emmm.." Suara berisik yang muncul sedari beberapa belas menit yang lalu, cukup membuat bulu kuduk berdiri bagi siapa saja yang menjadi penakut.
Cklek..
Suara pintu yang terbuka, di ikuti oleh suara langkah kaki yang bergema.
"Oh, sudah terbangun.." Seru seseorang yang baru datang itu, dengan suara berat dan agak serak. Sangat manly.
Berjalan mendekati jendela, kemudian..
Srekk..
Tirai terbuka dengan tiba-tiba membuat cahaya redup sore hari masuk seketika.
"Emm.." Suara itu muncul lagi.
Dengan langkah yang anggun sosok pria tadi mendekati asal muasal suara itu, berjongkok di depan seorang gadis yang duduk bersimpuh diatas lantai. Dengan mulut yang tertutup lakban dan kain juga tangan yang terikat.
Tubuh gadis itu bergetar, bola matanya yang memerah dan terus mengeluarkan air membelalak terkejut.
"Em? Ini aku? Kenapa ekspresi mu seperti itu Hana?" Tanya pria itu dengan nada keheranan tapi anehnya dia tengah tersenyum.
Senyum tulus dan lembut. Tangannya yang hendak mengelus surai coklat si gadis, hanya bertemu udara hampa.
"Emm.. emmm.." Hana, gadis itu beringsut mundur. Tangisnya semakin berurai.
Lagi-lagi pria itu tersenyum.
"Kemari, biar ku lepaskan lakban dimulut mu."
Tangannya mencengkram wajah Hana, ditariknya ujung lakban hitam itu dengan sekaligus.
Srettt...
"Akhh.. hiks.. hiks.. ss.. sakitt.." Teriak Hana, diikuti rintihan pelan yang pilu.
"Kamu ini kenapa?" Tanya pria itu ketika melihat Hana yang terus menangis.
"Ampuni aku Bian, aku ingin pulang.." Ungkap Hana dengan tangis tersedu-sedu.
"Pulang? Aku belum menunjukan sesuatu untuk mu." Kata Bian. "Sesuatu yang kamu sukai.. hehe"
Hana menangis semakin keras, dia benar-benar ketakutan. Bian berbalik menuju sebuah lemari lapuk dan reyot. Bunyi tak sedap terdengar ketika pintu lemari terbuka.
"Tidak... kumohon jangann.." Ditengah ketakutannya Hana mulai putus asa. Melihat Bian kembali menghampirinya dengan sebuah tang dan sebotol air.
"Biann.. jangann.."
Bian kembali berjongkok di depan Hana, tangannya terulur mengelus kepala gadis itu dan tersenyum manis.
"Tunggu sebentar ini tidak akan lama.. Aku janji." Ucapnya lembut.
"Jangan.. kumohon.. Akhh... hiks.. hiks.. sakitt.. Akhh..." Hana memohon dan berteriak. Suaranya menggelegar membelah ruang sunyi disana.
Bian mencabut paksa kuku kaki Hana dengan tang tadi, bisa dibayangkan bagaimana sakitnya itu.
"Sudah.." Bian berdiri lalu berjalan kebelakang tubuh Hana.
Belum reda rasa sakit akibat kuku yang di cabut tadi, kini Bian menarik rambut Hana hingga tercabut dan rontok dari kulit kepalanya.
"Akkhhhhhhhhhh..." Hana mendongak menatap langit-langit ruangan. Tubuhnya tak sanggup menahan sakit hingga air liurnya pun ikut bercucuran, otot mulutnya terasa kebas.
Tak peduli kondisi Hana yang memprihatinkan, Bian terus mencabuti rambut panjang si gadis. Hingga akhirnya semua rambut itu habis, rontok dari kulit kepala Hana.
"Ahhkk... Hah.." Bola mata Hana terbuka lebar dengan mulut yang juga menganga. Kepalanya masih mendongak ke atas dengan darah yang menetes dari luka akibat rambutnya yang di tarik paksa.
"Bagaimana apa kamu suka?" Tanya Bian, suara nya mengalun lembut. Mengusap pipi si gadis yang basah dengan perlahan.
"Ss..sa..sak..kit.." Rintih Hana.
"Ini tidak cukup?" Tanya Bian, "Aku harus bagaimana lagi Hana?"
Bian memutar oandangannya, matanya menangkap botol air yang tadi dia bawa. Senyum nya begitu indah merekah. Tapi tidak bagi Hana.
"Ini yang terakhir ya.. " Kata Bian.
Currr..
"akkkk...haaaaghh.." Hana menahan nafas, menggigit bibir hingga terluka makin parah.
Bian menyiram luka dikaki Hana dengan air itu, dan perlu diketahui itu bukan air minum tapi air cuka.
Bian menatap Hana dengan binar memuja.
"Aku begitu mencintai mu Hana." Ungkap Bian. "Apa sekarang aku sudah seperti apa yang kamu sukai, apa yang kamu inginkan?" Tanya Bian.
Ditengah rasa sakitnya Hana menatap Bian dengan pandangan sayunya. Alisnya berkerut kebingungan.
"Kamu pasti lupa, Hana ku ini memang pelupa akut ya?" Bian terkekeh lucu. Hey semua tindakan mu tidak ada yang sejalan dengan ekspresi wajahmu.
"Beberapa hari kamu mengajak ku nonton, katanya ada film action baru yang tayang di bioskop."
Mendengar ucapakan Bian, ingatan Hana mundur ke beberapa hari lalu. Ketika ia dengan semangatnya mengajak Bian untuk menonton.
"Bian ayo temani aku nonton, ada film baru lho.." Seru Hana dengan riang sambil bergelayut di tangan Bian.
"Film apa?" Tanya Bian, tersenyum manis melihat nada Hana yang antusias.
"Film badut jahat itu loh Bi.." Kata Hana.
Bian terlihat berpikir, "Badut jahat? Joker bukan?" Tebak Bian.
"Bukan! Itu loh Bi yang badut suka makan daging.."
Bian termenung. "Ah Terrifier?"
Hana mengangguk antusias.
"Hana.." Panggil Bian.
"Ya.."
"Kamu kenapa suka banget sih film kaya gini..?"
"Kamu tau ga? Aku lebih suka gini yang tokoh utamanya antagonis gini loh.."
"Kenapa?"
Hana menatap Bian, kemudian berkata "Karena Pahlawan akan mengorbankan aku demi menyelamatkan dunia. Sedangkan Penjahat akan mengorbankan dunia demi menyelamatkan aku.."
"Kamu ingat?" Tanya Bian.
Hana menatap kosong udara hampa, air matanya jatuh semakin deras.
Bian tersenyum dan menangkub kedua pipi Hana.
"Sekarang aku sudah menjadi tokoh antagonis untuk mu, Hana."
...