#Bijaklah_dalam_membaca
#Author_Vena_G
#Selamat_membaca!
***
"Aku pulang," ucapku, sambil menutup pintu rumah.
Hari sudah sore, dan rumah tampak sepi. Aku berpikir, mungkin hari ini dia banyak pekerjaan di tempat pencucian pakaian. Iya, istriku bekerja di situ.
"Hmm, mungkin akan sedikit lama pulangnya. Ahh, perutku!" Tiba-tiba tubuhku memberi sinyal suara bergemuruh itu, aku butuh asupan makanan sekarang!
Pergi ke dapur, aku membuka tudung saji dan tampilan berbagai selera makanan terhidang. Istriku memang baik hati dalam hal ini, dia selalu memanjakan perutku.
Tanpa menunggu lama, aku langsung menyerbu makanan itu. Beberapa saat kemudian, terdengar suara yang kukenal. Itu istriku, tapi kenapa seperti sedang berbicara dengan seseorang?
Aku berdiri dan mencoba membuka pintu, namun kuurungkan kemudian.
"Apakah kau tak ingin mampir, lagipula suamiku tidak akan keberatan," ajak istriku pada seseorang.
"Tidak usah, aku khawatir itu tak akan berakhir baik. Lebih baik aku segera pulang. Aku permisi kalau begitu," jawab seseorang itu, yang ternyata adalah seorang pria.
Aku lega mendengarnya, mungkin itu adalah teman kerja yang mengantarnya. Aku tidak perlu curiga, 'kan?
Lalu, saat aku membuka pintu.
"Terima kasih," ucap istriku, dan kejadian itu sempat terlihat, tampak seperti dirinya dari mencium pipi pria itu.
Mataku melebar marah, dan mereka terdiam saling memperhatikan. Aku pun menghentikan keduanya, "Oh, kau sudah pulang."
Istriku kaget, gelagat salah tingkahnya tertangkap olehku. Aku tahu sikapmu itu, istriku.
"Sayang, perkenalkan ini, Rion. Bos, tempatku bekerja. Dan, Rion, ini adalah suamiku, Kevin," ucap istriku memperkenalkan kami berdua.
Kami pun saling bersalaman, dia tersenyum padaku, tapi hanya tampang datar yang kupasang.
"Wahh. Ternyata bos kalian begitu memperhatikan pegawainya, sampai harus diantar pulang," singgungku, dan suasana berubah canggung.
Pria itu menjelaskan, "Tidak, kebetulan saya melihatnya berjalan kaki ke arah yang sama dengan tujuan saya, jadi berpikir untuk sekalian saja."
Aku menatap istriku, Lena. Dan dia menjawab memang seperti itu. Hmm, berarti keduanya tak akan menjelaskan kejadian tadi? Baiklah.
Pria itu lalu berpamitan pergi, kami juga masuk ke dalam rumah.
"Kau tak ingin mengatakan sesuatu?" tanyaku padanya, mencoba memberi kesempatan.
Dia tak menjawab dan mengalihkan pembicaraan, bertanya apakah aku sudah makan. Aku hanya mengangguk, lalu ke kamar mandi.
Jika dia tak mau memperjelas yang dilakukannya, dan memilih menyembunyikan. Baik, aku akan mengikuti permainanmu, Sayang.
Malam itu begitu tenang, sedari tadi pun kami hanya diam. Aku juga malas membuka pembicaraan, raga dan batinku lelah, ingin segera tidur.
Karena rasa sakit ini. Tak diduga, terjadi sesuatu dengan diriku. Berganti dengannya.
.
Ketika istriku sedang membersihkan peralatan makan, aku memeluknya dari belakang.
"Apa kau tak menyukaiku lagi?" tanyaku manja di samping telinga Lena.
Aku merasakan tubuh Lena yang tiba-tiba gemetar, ada apa? Padahal itu hanya bertanya.
Aku membalikkan tubuh Lena, matanya memancarkan ketakutan yang tak terkira.
"Kenapa berkata seperti itu? Tentunya aku sangat menyukaimu," jawab Lena, gugup.
"Begitukah? Tapi, kenapa aku merasa tidak. Ohh, kau mau bermain?" Aku melirik pisau dapur yang tak jauh dari jangkauan.
Aku mengambil pisau itu, dan memainkannya di wajah cantik Lena. Beberapa tetes keringat mengucur dari dahinya.
"Sebentar saja, setelah itu kau tidak perlu takut diam-diam berhubungan dengannya. Aku tidak akan mengganggumu. Itu yang kau inginkan, 'kan?" Aku sedikit memberikan tekanan, dan darah keluar dari dahinya.
"Kau salah paham, itu tidak benar!" jawabnya, sambil menggeleng kuat.
Dia berusaha melarikan diri dari cengkramanku.
"Diamlah! Ohh, kalau begitu mari memainkan permainan yang sebenarnya," ucapku dengan tersenyum lebar.
***
Tengah malam, aku terbangun. Meraba sekitar, istriku tak ada. Di mana dia? Bukannya tadi dia tidur bersamaku?
Aku keluar kamar dan memeriksa seisi rumah, tapi tak didapatinya juga. Terus mencarinya, sampai kembali ke kamar dan aku menyadari sesuatu.
"Apa ini?" Ada semacam cairan merah yang menetes dari lemari pakaianku, aku terkejut mengetahui itu.
"Darah!" Langsung aku membuka lemari, dan di sana seseorang yang tubuhnya disayat dengan mengerikan terlihat.
Bahkan di perutnya, masih terdapat pisau yang tertancap. Kasihan, tapi lebih tepatnya, sangat kejam!
Yang paling mengejutkan adalah korbannya istriku yang tercinta. Ingin teriak, tak bisa. Aku hanya bisa pasrah, apakah sisi lain dari diriku yang melakukan ini?
"Hahaha, ternyata kau berulah lagi! Dan kau meninggalkannya untukku, ahh merepotkan," tawaku yang terdengar begitu menyedihkan.
Akhirnya aku hanya bisa membereskan semua itu, sampai menjelang pagi. Menjadikannya seolah kejahatan yang terjadi, benar-benar menyusahkan.
Sudah kubilang untuk tidak memicu diriku itu datang. Ah, sudahlah.
Selamat tinggal, Sayang.
Vena G, terima kasih sudah mau membaca🌿🍂