Cinta dalam diam, itulah yang dirasakan oleh pria bernama "Ikhwan Al Fahim". Remaja berusia 19 tahun itu memiliki perasaan pada wanita bernama Hanifah. Dari umurnya yang ke 14 tahun, sejak pandangan pertama, Ikhwan memiliki perasaan yang spesial pada teman sekelasnya itu.
Hanya saja, Ikhwan tak mampu mengucapkan perasaan nya selama 5 tahun ini. Sementara Hanifah, ia adalah wanita baik yang cantik nan pintar. Tak sedikit pria yang menyukai Hanifah karena kecantikan dan kebaikan hatinya.
Saat itu, di sekolah Al Ikhlas..
"Woy Ikhwan, muka Lo kenapa muram kayak gitu sih wan?" tanya Akbar, teman dekat Ikhwan.
"Akbar, Lo tau gak gimana caranya kita menyampaikan perasaan ke orang yang kita cintai?" tanya Ikhwan.
"Eh, Lo...Lo..." Akbar terbata-bata.
"Kenapa sih?" tanya Ikhwan heran.
"Wan, khirnya Lo suka juga sama yang namanya cewek! Terciduk nieh.." ucap Akbar tertawa.
"Apaan sih Lo.. Lo juga jomblo dari kandungan kan?" ejek Ikhwan.
"Eh jangan gitu donk broo! Itu aib! Aib broo!" ucap Akbar berbisik.
"Tau ah, Lo ga bisa diajak curhat" ucap Ikhwan kesal.
"Hei! Tadi gue bercanda! Hmm jadi, siapa yang Lo suka?" tanya Akbar.
"Kepo banget si lu, gue kan tadi cuman tanya, gimana cara ngungkapin perasaan ke orang yang kita suka!" sahut Ikhwan.
"Oh, Lo bilang aja langsung. Siapa tahu, tu cewek juga suka sama Lo. Yaa kecuali dia gak kenal Lo! Jangan putus asa bro! Ayoo semangat, gue dukung nih!" ucap Akbar heboh.
"Bar, Lo bisa sedikit pelanin suaranya gak? Lo mau semua orang tau?!" kesal Ikhwan.
"Huft, ok broo, sip!" jawab Akbar sembari mengacungkan jempolnya.
Hari ini, adalah hari dimana ujian akhir semester berlangsung. Karena, sebentar lagi mereka akan lulus SMA dan dilanjutkan kuliah sesuai jurusannya.
"Hai Hanif" sapa Ikhwan pada Hanifah.
"Iya Ikhwan, hai juga" ucap Hanifah tersenyum.
Wajah Ikhwan memerah, ia balik tersenyum pada Hanifah dan segera duduk di bangku nya.
Ujian pun berlangsung. Hari demi hari...bulan demi bulan...tiba saatnya hari kelulusan. Semua murid diundang ke acara kelulusan.
"Hai Wan" sapa Akbar.
"Juga" jawab Ikhwan singkat.
Semua murid sudah memakai baju kelulusan, mereka juga memegang setangkai bunga mawar plastik dan berdiri di atas panggung dengan senyum yang indah.
Berbagai acara pun berlangsung, para murid menangis dan memeluk setiap temannya. Karena, tidak tahu kapan lagi mereka bisa bertemu kembali. Hari ini, ialah hari terakhir mereka bertemu.
"Hiks... Hanif" tangis Sania, teman dekat Hanifah.
"Bro, jujur, gue...gue sebenernya juga ga nyangka kita udah lulus aja bro!" ucap Akbar sedih pada Ikhwan.
"Bro, Lo janji ya, sejauh apapun kita, Lo harus janji tetap inget gue!" Ucap Ikhwan.
"Janji bro, Lo kan sahabat terbaik gue!" Ucap Akbar sembari menepuk pundak Ikhwan.
7 tahun berlalu, semua murid di sekolah Al Ikhlas, sudah lulus kuliah mempunyai pekerjaan nya masing-masing.
Tap..tap...tap...langkah kaki terdengar di kantor HMA, dengan singkatan, Huan Maoshei Alden, nama pemilik perusahaan itu.
Pria yang memakai jas kantor lengkap dengan berkas yang di bawa nya tampak terburu-buru mendatangi kantor direktur.
Kantor Direktur...
"Pagi pak.." sapa pria bernama Ikhwan itu. Ya, dia adalah Ikhwan, pria yang diceritakan semasa dirinya masih SMA lalu.
"Pagi, apa kamu sudah membawa dokumen itu?" Sahut pak direktur.
"Sudah pak" jawab Ikhwan yakin.
Direktur itu mengambil berkasnya dan mendatangi setiap lembarnya. Sementara, Ikhwan menunggu di sofa panjang untuk menyerahkan kembali dokumen.
"Huft, lelahnya..." Ucap Ikhwan pelan.
Ikhwan membuka tas ransel yang ia bawa, dan mengambil botol minum berisi air putih. Ia lalu meminum air itu dengan cepat.
"Memang, kalau habis aktifitas harus minum air putih yang banyak!" ucap Ikhwan.
Wushh... Sebuah kertas melayang ke hadapan Ikhwan, ia mengambil dan mencoba membaca isi dari kertas itu.
"Ikhwan Al Fahim--Haaziq? Nama..nama ini mirip sekali denganku! Tapi, Haaziq? Siapa itu.." batin Ikhwan yang membaca lembaran tadi.
Ikhwan menghampiri Direktur yang bernama Ahmad itu.
"Pak, apa ini nama saya?" tanya Ikhwan.
Ahmad membuka matanya lebar, "Bu-bukan nak" ucap Pak Ahmad menggeleng.
"Pak, anda adalah orang yang taat beribadah! Jangan berbohong! Ingat, Allah Maha Tahu!" Ucap Ikhwan.
Pak Ahmad menghela nafasnya panjang, "Nak, bapak tidak bisa memberi tahu ini...jika..jika saya beritahu hal ini.." Pak Ahmad menghentikan perkataan nya dan mengernyitkan dahi.
"Pak, jawab saya pak! Saya mohon..." Ikhwan duduk bersimpuh di hadapan Pak Ahmad.
"Nak... sebenarnya... sebenarnya kamu.." Pak Ahmad meneteskan air matanya.
"Saya kenapa pak?" tanya Ikhwan.
"Kamu adalah anakku, nak" ucap Pak Ahmad.
"Ma-mana mungkin! Bapak pasti berbohong! Saya tidak mudah dibohongi, Pak" Ikhwan menggeleng.
"Kamu memang benar anakku! Aku bersumpah demi Allah!" Ucap Pak Ahmad.
Krekk..
"Abi.." wanita cantik dengan gamis dan cadar nya menghampiri Pak Ahmad.
"Hai Ikhwan" sapa wanita itu dengan senyum di balik cadarnya.
"Hanif... Hanifah.." Ikhwan menangis.
"Ikhwan, kamu kenapa?" tanya Hanifah.
"Hanif sayang, panggil dia kakak ya" ucap Pak Ahmad.
"Maksud Abi?" Tanya Hanifah kembali.
"Kalian...kalian itu saudara kandung, nak" ucap Ahmad.
Ikhwan mengangkat kepalanya, "APA MAKSUDNYA SEMUA INI?" teriaknya.
"Ikhwan, kita bisa bicarakan baik-baik!" Ucap Ahmad lembut.
"Tidak! Aku tidak percaya padamu!" ujar Ikhwan yang lalu ingin keluar dari ruangan itu.
"Abi, ini..ada apa?" tanya Hanifah bingung.
"Ikhwan Al Fahmi Haaziq!" Panggil Pak Ahmad.
Ikhwan menghentikan langkahnya..
"Jangan panggil aku dengan margamu pak, sebelum aku mengetahui buktinya!" ucap Ikhwan pelan.
"Tenang saja! Besok kita pergi ke rumah sakit dan tes DNA!" ucap Pak Ahmad lembut.
"Tes DNA? apa maksudnya ini, Abi?" tanya Hanifah lembut.
"Kamu juga ikut ya, sayang" ucap Pak Ahmad sambil mengelus kepala putrinya itu.
Esoknya...
Hari dimana tes DNA antara kecocokan ayah dan anak Pak Ahmad dan Ikhwan pun tiba
Tanpa berlama-lama, tes itu berlangsung di dalam ruangan. Sementara, Hanifah menunggu di luar bersama ibunya.
Berminggu-minggu berlalu, hasil tes DNA keluar. Mereka semua segera mendatangi rumah sakit dan mengecek hasilnya.
"A..apa ini.." tanya Ikhwan yang lalu duduk bersimpuh di lantai.
"Nak, kau putraku!" Ucap Pak Ahmad.
Hanifah yang masih belum percaya juga hanya bisa diam dan menatap Ikhwan. Sebenarnya, Hanifah senang Ikhwan bisa menjadi kakaknya. Karena, dari dulu ia selalu menganggap Ikhwan sebagai seorang kakak. Tapi, jujur ia masih belum percaya akan hal itu.
Pak Ahmad menjelaskan pada Ikhwan, bahwasanya Ikhwan adalah putranya dulu. Saat itu, umur Ikhwan masih satu tahun. Dan Hanifaj juga baru lahir. Tapi karena sedang terjadi banjir waktu itu, Ikhwan menghilang dari tempat tidurnya dan tidak tahu kemana. Penjelasan Pak Ahmad sedikit membuat Ikhwan terdiam.
Dari kecil, Ikhwan diasuh oleh seorang nenek tua. Mungkin, nenek itulah yang menyelamatkan Ikhwan saat kebanjiran melanda. Tapi sayang, nenek tersebut sudah meninggal dunia dua tahun lalu.
"Hanifah, Ikhwan... berpelukan lah!" Ucap Ahmad tersenyum.
Hanifah awalnya menolak, karena ia takut Ikhwan bukan mahramnya. Tapi, karena mereka memang sudah ada hubungan darah jadi tidak apa-apa.
Ahmad menceritakan segala hal tentangnya pada Ikhwan. Itu membuat Ikhwan merasa lebih lega atas kejadian yang menimpanya. Bagaimana tidak? Orang yang ia cintai selama ini...ternyata adalah saudara kandung nya sendiri?!!!
Hingga, cerita yang sangat menusuk hatinya pun membuat dirinya diam seribu bahasa.
"Nak, Hanifah sebentar lagi akan menjadi seorang suami" ucap Pak Ahmad.
Ikhwan hanya tersenyum. Tapi, ini juga bukan salah Pak Ahmad, karena Pak Ahmad tidak tahu Ikhwan menyukai Hanifah. Sebab, cintanya selama ini adalah cinta dalam diam.
Ijab Kabul dilaksanakan, seorang pria yang sangat tampan dengan sopan santun Budi bahasanya datang menemui calon istrinya itu, Hanifah Azzahra Haaziq.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Akbar Zainuddin Abdullah bin Hasan Abdullah dengan anak saya yang bernama Hanifah Azzahra Haaziq dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat, dibayar Tunai.” ucap Pak Ahmad lantang.
Ikhwan meneteskan Air mata nya, antara bahagia dan kesedihan bercampur jadi satu di hatinya.
Ya.. Cintanya, Hanifah dan sahabatnya, Akbar...kini..mereka telah menikah di depan mata kepalanya sendiri..
Dengan senyuman, Ikhwan menatap Hanifah dan Akbar, "Cintaku, sahabatku, semoga kalian hidup bahagia ya!" Ucap Ikhwan pelan.