Maret 2019, saat itu ada berita mengenai munculnya virus yang mematikan di Wuhan,Cina. Berita tersebut sangat mengejutkan dunia, berbagai negara mulai menutup penerbangannya namun, itu sudah terlambat karena virus tersebut sudah mulai menyebar di beberapa negara. Karenanya sekolah, tempat kerja semua tempat yang ada sosialisasinya ditutup. Kegiatan yang seharusnya kami lakukan di luar rumah sekarang menjadi harus dilakukan dirumah.
Sudah 3 bulan berlalu sejak adanya virus itu, virus tersebut pun diberi nama menjadi “Covid-19”. Banyak orang yang mengalami kesulitan karena virus tersebut, termasuk dia. Namanya adalah Tama dia adalah temanku dan namaku adalah Disa. Setahun yang lalu, orangtuanya sudah tidak bekerja lagi membuat kehidupan dan keseharian keluarganya menjadi masalah baginya. Dia dahulu orang yang baik dan dia suka membeli-beli barang yang tidak dibutuhkan. Namun, sekarang karena keadaan orangtuanya yang sudah tidak bekerja dia tidak bisa melakukan itu lagi, sifatnya yang baik itu pun sudah menghilang.
Aku merasa nyaman saat belajar dari rumah ini ada beberapa pelajaran yang lebih cepat aku pahami, ya walaupun terkadang saat mengikuti pembelajaran jarak jauh ini aku terkadang hadir. Hari-hariku hanya begini saja pagi belajar, siang istirahat, malamnya belajar lagi. Terkadang saat malam hari setelah belajar aku menelfon Tama untuk bercerita berbagai hal.
“Tam, gimana pembelajaran kamu sampai sekarang?” tanya ku
“Lumayan, lagian aku juga jarang masuk” jawabnya
“Rajin masuk tam, nanti nilai kamu jelek loh” kata ku
“Haa? Sibuk kali jadi orang” jawabnya dengan nada yang marah
“Aku cuma mau kasih tau doang loh, yang rajin belajarnya ingat orang tua mu yang bayarin uang sekolah mu” kata ku yang geram melihatnya
“Iya iya aku tau, jangan terlalu ikut campur sama urusan orang ya tolong” katanya dan langsung mematikan telfonan nya
Aku merasa sikapnya mulai makin tidak baik, aku hanya tidak ingin dia berbicara seperti itu kepada orangtuanya juga. Malam itu juga aku memutuskan untuk tidak menelfon dengannya dahulu untuk beberapa waktu. Hari-hariku berjalan seperti biasa, tidak terasa hari berjalan begitu cepat dan sekarang sudah mulai memasuk bulan desember. Bulan dimana sudah saatnya siap siap untuk adanya ujian sekolah.
Seminggu sebelum dimulainya ujian sekolah, aku terpikir untuk menelfon Sina yang merupakan kakak kelas ku. Dia dan aku hanya beda beberapa bulan saja tapi karena dia lebih cepat masuk sekolah karena itu dia menjadi kakak kelas ku.
“Sin, sudah dapat kisi-kisi buat ujian nanti?” tanyaku
“Ohh belum, katanya hari senin mau dibagikan” jawab sina
“Ohh begitu, sudah ada belajar kamu?” tanyaku
“Sudah, tapi aku hanya baru belajar agama, karena emang biasanya kalau hari pertama ujian itu bukan?” tanya sina
“Iya juga ya, oke deh kalau begitu, makasih sin” kataku
“Iya sama-sama santai saja” jawab sina
Setelah selesai menelfon Sina aku teringat Tama, aku berniat untuk mengingatkannya untuk tidak lupa belajar tapi aku tidak tahu mengapa merasa takut untuk menelfonnya. Aku berfikir semalaman untuk menelfonnya atau tidak, dan berakhir dengan aku tidak jadi menelfonnya.
Ujian sekolah pun akhirnya dimulai, ujian pun tetap dilakukan secara daring atau ujian dari rumah karena emang kondisi disini belum terlalu baik, yang diperbolehkan keluar rumah hanya untuk berbelanja itu pun dibatasi berapa orang yang boleh pergi. Aku tidak tahu mengapa ujian tahun ini terasa sangat sulit, aku berfikir untuk melihat buku namun kami ujian tetap memakai aplikasi zoom agar guru dapat memantau.
Waktu ujian pertama pun habis, semua murid diperbolehkan untuk istirahat selama 30 menit. Ujian kedua pun dimulai, namun kami tidak langsung ujian guru pengawas kami ada menanyakan beberapa soal terkait soal ujian nanti, karena masih sedikit yang benar jawabannya kami diberi waktu 10 menit untuk belajar lagi. Ujian pun dimulai, tanpa disadari waktu sudah berjalan 30 menit baru setengah jam dimulainya ujian kedua.
ini ada salah satu murid ketahuan melihat jawaban dibuku. Aku tidak menyangka yang menyontek adalah Tama.
“Tama, jawablah ujian mu dengan jawaban yang jujur!” kata guru pengawas tersebut
“Apa salahnya jika aku melihat sedikit?” tanya tama
“Sekarang kita lagi ujian, nak” jawab guru pengawas
“Kenapa ibu begitu sih? Apa masalahnya, sedangkan ujian kesehatan jasmani kami diperbolehkan untuk melihat buku” kata tama
“Guru yang mengawas berbeda dan juga bukannya ibu sudah memberikan kalian waktu lebih untuk belajar lagi tadi?” kata guru pengawas
“Ya mana cukup waktunya hanya segitu!” jawab tama dengan nada yang tinggi
“Tama, sudah lah minta maaf aja, bu maaf ya nanti saya tegur dia dan untuk ibu lapor saja ke wali kelas kami ya” kata ku
“Apaan sih dis” kata tama dengan ekspresi yang merasa terganggu
Aku benar benar terganggu dengan ini, sudah tahu dia salah kenapa tidak mengaku saja. Aku pun berniat menegurnya dan aku juga punya hak untuk itu tapi mengingat sekarang sedang ujian aku menundanya. Dan saat itu juga aku langsung memberi pesan kepada Tama untuk menelfonku setelah ujian berakhir. Akhirnya ujian pun berakhir dan aku menunggu Tama untuk menelfonku.
“Kenapa?” tanya tama
“Kamu itu sudah salah kenapa nggak minta maaf saja sih tadi?” tanyaku
“Suka-suka aku lah” jawabnya
“Sikap mu itu sebenarnya kenapa sih?” tanyaku
“Nggak ada tuh, nggak usah ikut campur terus lah” jawabnya
“Aku nggak bakal ikut campur kalau orangtua mu tidak menelfon aku terus setiap malam, kau itu kenapa sih sikap mu yang berubah itu buat hati orangtua mu sakit tahu ga!” kata ku yang sudah bingung
Panggilan berakhir…….
Panggilan pun berakhir ditanganya lagi, aku tidak tahu harus berbicara padanya bagaimana lagi. Hwaaa…… kepalaku benar benar pusing memikirkannya belum lagi memikirkan ujian untuk hari esok. Ujian kedua dan selanjutnya pun berjalan dengan biasa biasa saja, Tama pun sudah tidak melihat jawaban dari buku lagi, ya setidaknya dia sudah tidak melakukan itu lagi. Semuanya dimulai dari yang kecil dahulu perlahan lahan mungkin nanti sikapnya yang dulu bisa kembali lagi.
Setelah menerima raport, aku benar benar lega karena nilaiku menjadi lebih baik dari yang kemarin orang tua ku pun senang melihatnya. Tidak menyangka besok sudah tahun baru, malam tahun baru ini aku memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja bersama ibuku. Saat aku sedang mencoba mencari ibuku yang terpisah denganku karena kami berdua sibuk melihat handphone saja, aku melihat ada Tama sedang jalan-jalan membawa barangnya, aku tidak tahu mau kemana dia. Karena penasaran aku langsung mengikutinya dan tidak lupa memberi pesan kepada ibu untuk berbelanja saja dahulu karena aku sedang bertemu dengan temanku.
Saat sedang mengikutinya, dia tidak sengaja menabrak seseorang barang-barangnya menjadi jatuh dan berantakan dan dia mulai marah marah kepada orang itu. Aku langsung bergegas menghampirinya dan menghentikan dia.
“Tama udah udah!” kataku dengan suara yang lebih keras
“Ha? Ngapain lu disini, nggak usah ikut campur lagi lah” kata tama
“Pak maaf ya, dia tidak sengaja tadi” kataku kepada orang yang tidak sengaja di tabrak tama sambil menunduk meminta maaf
“Disa, bapak ini yang salah nggak liat liat jalan” kata tama sambil menunjuk bapak itu
Aku benar benar pusing kenapa sikapnya jadi begini kalau dulu pasti langsung meminta maaf saja. Banyak orang yang melihatnya marah-marah kepada bapak tadi, entah mengapa aku yang merasa malu. Tiba-tiba ibuku memberi kabar bahwa nanti aku pulang duluan saja karena ibuku sedang bertemu dengan kawannya yang dulu. Karena sudah tidak tahan dengan ocehannya aku langsung menariknya sampai ke tempat parkiran mobil.
“Sikap mu itu kenapa sih?” tanya ku yang sudah geram dengannya
“Kenapa sikap ku? Emang begini dari dulunya” jawab tama
“Sikap mu yang dulu itu baik, sopan, ramah itu semua kemana tam? Ibu kamu itu sering cerita padaku tentang sikapmu yang semakin hari semakin tidak sopan itu, kamu boleh tidak sopan ke aku karena aku masi teman mu tapi jangan sampai kamu bentak orang tua mu itu, ya mungkin kamu muak sama kehidupan mu yang sekarang karena orang tua mu yang sudah tidak bekerja dan uang yang kamu dapat tidak sebanyak dulu tapi ya setidaknya hargai orang tua mu yang sudah bekerja keras di masa pandemi seperti ini” kata ku yang benar benar ingin meluapkan semuanya
“Tau keluargamu lagi tidak bagus kondisinya, terus untuk apa barang barang ini mu beli? Jangan kamu bentak orang tua hanya karena untuk membeli barang barang tidak berguna seperti ini!” kata ku
“Iya aku tau itu kesalahan ku, aku selalu ingin meminta maaf tapi tidak tau mengapa itu rasanya sangat sulit” kata tama
“Iya aku tau maksud perkataan mu, dirimu yang dahulu sangat mudah meminta maaf. Ini semua terjadi karena kita sudah kebiasaan dirumah semuanya sudah terpenuhi dan menjadikan kita seperti tidak membutuhkan orang lain, jarang berkomunikasi pada siapa siapa selain orang-orang di rumah, jadi rasa canggung pun akhirnya ada” kataku
“Iya sekarang aku sudah tau harus bagaimana, makasih disa” kata tama dengan ekpresi dia yang lega
“Santai aja, aku ini teman mu sudah pastinya aku begini” jawabku
“Oh yaa, maaf waktu itu aku berbicara kasar sama lu ya” kata tama
“Udah nggak usah dipikirkan lagi, jangan lupa nanti minta maaf sama orang tua dan yang lainnya ya!. Satu hal lagi jangan pernah bentak orang tua mu apapun kondisinya, bersikaplah sopan pada siapa saja!” kataku
Saat sedang berbicara dengannya sambil menuju ke dalam mall, aku bersyukur dia balik seperti dahulu lagi aku berfikir bahwa semuanya akan menjadi indah pada waktunya. Tiba-tiba aku tidak sengaja melihat jam dan ternyata sudah masuk tahun baru. Aku hanya berdoa agar kedepannya semuanya akan baik-baik saja.