Aku menatap sosok wanita yang terbingkai di kanvas. Dia cantik dengan rambut ikal yang bergelombang, sepasang mata bak kucing, bibir tipis dengan warna stroberi. Sangat persis dengan sosok fisik yang aku idamkan selama ini. Dia adalah sosok Fiksi Khayalan yang aku ciptakan. Lalu, aku memberi namanya Indira.
Indira memiliki arti nama sebagai sosok yang cantik. Selain fisiknya yang aku ciptakan sedemikian rupa. Aku-pun mengarang sederet biografi untuk kekasih khayalanku ini.
Aku mengambil buku biografi dan menulis tentang Indira.
"Indira. Wanita dari negeri Jiran, berusia 24 tahun. Dia penyuka Teh, penyuka boneka Barbie, penyuka mawar merah, dan dia seorang wanita sangat ramah, penuh percaya diri, dan pandai merayu."
Aku tersenyum pada serangkai kata yang baru aku baca. Aku mengambil pena kembali dan melanjutkan menulis tentang Indira sang wanita impianku yang di kaitkan dengan kehidupan pribadiku.
"Indira hanya gadis miskin. Dengan kecantikannya, dia mampu membius banyak pria berkuku emas. Apalagi, dia mampu menguasai tiga bahasa sekaligus, Mandarin, Jepang, dan Inggris. Pemain biola, penyanyi dengan suara emas. Banyak keberuntungan yang dia miliki. Diapun disukai pria kaya raya dan multi talent seperti diriku. Aku adalah seorang pria perfeksionis. Yang mengharuskan wanitaku terlihat nyaris sempurna. Oleh itu, aku hanya ingin Indira."
Aku meletakkan penaku. Aku cukup puas dengan biografi. Namun, aku kembali mengerutkan keningku.
"Seharusnya Indira memiliki kekurangan! Dia tidak harus tampak sempurna di hadapan semua orang. Dia kan bukan Tuhan."
Aku-pun meraih pena dan seraya berpikir apa kekurangan Indira, wanita nyaris sempurna itu. Aku tersenyum sedikit ironis. Aku mulai mengarang kehidupannya kembali.
"Indira adalah wanita penyuka uang. Jatuh dalam pesona gemerlapnya lampu warna-warni, dan gelas yang memabukkan. Dia memiliki kehidupan masa lalu yang memberikan dia label sebagai kupu-kupu ungu. Dia tak secantik namanya."
Aku menghela napas.
"Haruskah aku mengarang ceritanya begitu kejam tentang masalalu wanita nyaris sempurnaku?"
Aku terlihat gamang dengan pikiranku. Namun, hati bak malaikatku berbisik padaku, "Jika aku mampu menerima apa ada dirinya dan masalalunya. Bukankah, aku akan terlihat sebagai pria yang luar biasa."
Aku meraih pena kembali. Lalu, melanjutkan menulis cerita tentang kehidupan masalalu Indira.
"Indira bagaikan boneka dengan rambut pirang yang indah bergelombang. Dia juga menghabiskan hidupnya untuk berguling-guling di kamar hotel. Namun, dia menyebut hubungan semalam itu hanya demi uang bukan cinta. Indira bukanlah wanita gampangan yang mudah jatuh cinta. Karena, dia adalah seorang wanita traumatik. Di sebutkan lagi, dia memiliki hubungan sejenis dengan wanita Thailand . Nama wanita itu, Nam!"
Aku melepaskan penaku.
"Aku menulis Indiraku sebagai wanita penyuka sejenis? Ha ha ha! Lalu, dia di olok banyak orang. Kemudian, aku datang menjadi pahlawan untuk Indiraku."
Aku tertawa konyol. Aku-pun meletakkan penaku. Merebahkan kepalaku. Seraya, menatap wanita khayalanku di atas kanvas. Terus menatapnya. Hingga kantuk mendorongku dan aku tidak mampu menahan kelopak mataku yang berat.
Tanpa sadar. Aku terlelap.
Kala, aku membuka mata. Setiap dimensi ruang pikiranku yang terlihat gelap itu, mulai terlihat bewarna. Lalu, aku mampu melihat sosok Indiraku.
"Indira?"
"Ya, Tuan Kinokio. Ini adalah aku wanita yang kau ciptakan."
Sepasang mata boneka bak kelinci nakal itu terlihat sangat menggemaskan. Aku mendekatinya dan aku memeluk tubuh kecilnya. Namun, tiba-tiba kehangatan yang ku genggam itu mulai mengalami perubahan. Perlahan wanita di dalam genggamanku terlihat mengalami transformasi.
Aku berkedip merasakan pinggang ramping itu menjadi lemak yang gampang di cubit tanganku. Rambut keriting bergelombang itu berantakan dengan bau yang tidak sedap. Aku mundur segera. Menjauh sejauh mungkin dan meneking wanita itu, "Mengapa kau berubah menjadi jelek?"
Indira menghela napas.
"Tuan Kinokio. Jangan lupa kau meletakkan masalah dalam hidupku. Masalah itulah membuat hidupku jelek. Fisikku pun menjadi jelek. Rumor-rumor itu masuk telingaku. Kau pikir aku bisa makan dan tidur nyenyak setelah kau ciptakan masalah untukku."
Aku mengerut tidak suka akan jawaban bodoh putri khayalanku.
"Masalah itu ada agar kau tau, hanya aku-lah pria yang akan menerima apa adanya."
Indira menghela napas. Melambaikan rambutnya yang berantakan, wajah pucat dengan tatapan horornya menghunus padaku, dan bibirnya bergerak , melontarkan kalimat, "Inilah aku. Aku dan masalahku. Produk yang kau ciptakan. Akhirnya akan menjadi jelek. Tidak enak di pandang. Hanya karena biografi yang kau ciptakan sendiri. Lalu, mengapa kau protes?"
"Tetapi, aku tidak menciptakan monster!"
Indira menahan napasnya, telunjuknya berkuku runcing, dan bibirnya melontar marah, "Jangan lupa kau lah pencipta Annabelle! Kau-lah yang mengarang kehidupanku. Aku berjalan dengan banyak bibir yang mencibirku. Dengan banyak mata yang menutup sebelah matanya. Saat itu, aku memutuskan untuk membenci sang penciptaku!"
"Tetapi, tidak seharusnya fisikmu ikut menjadi jelek seperti ini?"
"Kau pikir masalah yang datang akan membuat hidupmu tetap cantik setiap hari. Apakah ada air mata yang akan membuat wajahmu berseri? Apakah ada hinaan yang mampu membuatmu mengangkat sendok nasi? Apakah aku mampu tertawa dengan sejuta kesedihan di dalam dadaku? Jika ada, aku hanya mengenakan tirai. Seseorang mendengar tawaku. Namun, bola mataku menetes darah."
Aku terdiam. Aku bodoh akan setiap kata wanita khayalanku. Aku berusaha mendekat padanya. Mengulurkan tanganku lagi pada Indira. Tak kusangka, dia menerima uluran tanganku. Sepasang mata indahnya terlihat berkaca dan membola dengan banyak kejutan yang menusuk jantungku, "Aku yang tak sempurna ini akan pergi. Aku akan meninggalkanmu. Jangan bersedih."
"Indira!" teriakku dan aku terjaga kemudian. Aku segera membuka mataku lebar. Melihat sosok yang terbingkai itu telah hilang. Hanya menyisakan kanvas putih tanpa coretan tintaku.
Aku berkedip bingung. Menatap pada buku catatanku. Hanya satu kalimat yang tertulis di sana, "Tidak setiap orang mampu bertahan dengan segudang cerita sedih yang di takdirkan sang penciptanya. Setiap orang di ciptakan dengan hati yang berbeda. Ada yang kalah dan memilih mati. Ada pula yang mampu bertahan, yang di sebut pemenang! Jika kau hebat, angkat kepalamu dan bertahan hidup. Karena hidup adalah masa untuk mengubah segalanya."
Aku terhenyak. Semenjak hari itu, aku tidak pernah berani mengangkat kepalaku lagi untuk menyebut diriku si pria yang nyaris sempurna, yang hanya mengharapkan putri kerajaan keluar dari buku dongeng.
"Jika kita berani mencintai seseorang. Kita harus berani mencintai masalalunya."
****
Tamat 💅