-- Seluruh latar dan karakter dalam cerita ini hanyalah fiksi --
Namaku Nina Lunavia. Sejak kecil, aku selalu menghabiskan waktu bermain dengan boneka-boneka kesayanganku di rumah. Rumah yang kutinggali cukup besar karena ayah punya banyak uang.
Lalu suatu ketika, ayah kehilangan semua uangnya. Kemudian kami pindah dari rumah yang besar ke rumah nenek yang berada di sebuah perumahan. Meskipun rumah ini lebih kecil, aku senang karena kami sekeluarga bisa berkumpul bersama.
Beberapa hari kemudian, aku kehilangan satu bonekaku. Aku mencoba mencarinya ke mana-mana, dan kutemukan boneka itu digigit oleh seekor kucing berbulu yang besar. Aku mengejarnya, kemudian saat aku hampir menangkap kucing itu, di depannya ada anak perempuan yang seumuran denganku.
"Kamu sedang apa di sini?" tanyanya. Rambutnya panjang dan pakaiannya bagus sekali. Dia menggendong kucing yang masih menggigit bonekaku.
"Itu kucing nakal!" kataku sedikit marah. "Kucing itu mencuri bonekaku."
"Oh, maaf," jawabnya. "Cattu, lepas bonekanya," katanya lagi kepada kucing itu. Saat dia menarik paksa boneka yang masih tergigit, tiba-tiba boneka itu menjadi sobek dan semua kapas di dalamnya keluar.
Melihat hal itu aku menangis. Kucing nakal itu pergi begitu saja meninggalkan kami. Di tengah percobaan untuk menghiburku, anak itu berkata, "Bagaimana kalau kamu kuajak ke tempat rahasia?"
Anak itu menggandeng tanganku, lalu kami berjalan begitu jauh, sejauh yang kurasa, hingga matahari telah terbenam. Kami sampai di sebuah atap menara air yang berada dalam perumahan.
"Pemandangannya bagus, 'kan?" katanya.
Aku menahan napas, karena sedikit takut ketinggian, dan tempat ini sedikit gelap. Kemudian dia yang masih memegang erat tanganku menunjuk ke atas.
"Wah, lihat, hujan meteor!"
Aku mendongak, mengiyakan perkataanya. Hujan meteor yang begitu indah tiba-tiba datang. Rasa sedihku sudah hilang, mataku berbinar.
"Kalau ada bintang jatuh, kamu harus buat permohonan," katanya lagi.
Aku mendekapkan dada, berdoa dalam hati. Berharap agar bonekaku dapat sembuh kembali, lalu ayah bisa punya uang yang banyak lagi, dan ...
"Siapa namamu?" tanyaku pada anak itu.
Dia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku.
---
Alarm berdering nyaring, dan aku terjatuh dari tempat tidur.
Setelah mematikan alarm, aku mengumpulkan nyawa dengan duduk di atas kasur. Semalam rasanya aku bermimpi aneh. Mimpi tentang masa lalu di mana aku melihat hujan meteor ....
Dengan pikiran yang sedikit lambat, aku melihat ke arah alarm ...
"Gawat, aku terlambat!"
Bisa-bisanya aku salah memasang alarm dan terbangun di saat matahari sudah terbit sedikit ke atas. Padahal aku sudah bertekad untuk hidup mandiri dan tepat waktu.
Tanpa sarapan, aku langsung berlari ke sekolah yang berjarak lima belas menit dengan berjalan kaki. Gerbang sudah hampir ditutup, untunglah aku sempat.
Saat hendak masuk ke kelas, aku bisa menghela napas lega karena guru belum datang.
"Bangun kesiangan, Nin?" tanya salah satu teman sekelasku.
"Pasti berat ya, sekolah sambil ngekos," kata anak yang lain.
Aku tertawa pahit. Rasanya sedikit malu tapi juga sedikit terbiasa.
Kemudian, datang satu anak ke kelas setelahku. Rambutnya panjang terurai, pakaiannya rapi, dan dia sangat cantik. Namanya Junear. Dia terkenal sebagai anak yang pintar, kaya, tetapi sangat pendiam.
"Tumben sekali Junear terlambat," bisik salah satu anak kepadaku.
Tidak ada yang berani bertanya langsung ataupun bicara padanya karena dia terlihat susah didekati. Aku menatapnya sejenak, lalu saat dia menatapku kembali, aku mengalihkan pandangan.
Ternyata anak teladan juga bisa terlambat. Tapi ternyata aku masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.
---
Hari itu aku memutuskan untuk datang lebih awal ke sekolah. Setelah membeli makanan untuk sarapan, dengan suasana hati yang riang aku berjalan ke kelas.
Bagus, tidak ada siapa-siapa.
Aku duduk di bangku kelas dan bersiap untuk sarapan sebelum aku mendengar langkah kaki seseorang.
Itu Junear. Dia masuk ke kelas sambil membawa ... meja?
Aku melihat ke arah kelas di mana salah satu meja menghilang. Meja di bangkunya.
"Meja di bangkumu ... rusak?" tanyaku kepadanya. Aku belum pernah berbincang padanya dan mungkin dia akan mengacuhkanku.
"Iya," jawabnya dengan senyuman pahit. Aku sedikit terkejut karena dia menjawab pertanyaanku. "Tumben sekali datang pagi," katanya lagi.
"Oh ... aku cuma mau ganti suasana saat sarapan," jawabku.
"Kamu tinggal sendirian?"
"Lebih tepatnya ngekos."
"Oh, begitu."
Lalu percakapan kami terhenti.
"Oh iya, kemarin, kamu juga ... tumben telat," tanyaku yang ingin mencairkan suasana.
"Iya. Aku harus membersihkan sesuatu." Kali ini jawabannya singkat dan sedikit terdengar bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku tidak ingin bertanya lebih lagi, "Kalau begitu aku makan dulu, ya."
Dia mengangguk, lalu mengeluarkan buku catatan miliknya.
Ternyata menjadi anak kaya repot juga ya karena harus bersih-bersih terlebih dulu. Walaupun dulu aku juga sempat merasakan menjadi kaya sejenak, tapi rasanya memang berbeda.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk berangkat ke sekolah di waktu yang sama. Siapa sangka lagi-lagi dia kembali ke kelas sambil membawa meja.
Dan keesokan harinya lagi, begitupula dengan keesokan harinya lagi.
"Meja di bangku Junear kenapa?" tanyaku kepada salah satu anak di kelas. "Setiap pagi dia datang ke kelas sambil membawa meja. Apa meja di kelas ini segampang itu rusak?"
Anak-anak di kelas yang kutanyai saling beradu pandangan.
"Kamu gak tahu?"
Aku mendengarkan penjelasan mereka lalu memutuskan untuk tetap tinggal di kelas setelah pulang sekolah dalam waktu yang cukup lama.
Saat aku hampir ketiduran karena bosan, aku mendengar gelak tawa dari arah bangku Junear. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Tiga orang gadis yang tidak kukenal mencoret-coret mejanya, kemudian menaruh sampah di dalam loker meja. Mereka tertawa, dengan suara yang sedikit menjengkelkan, kemudian menyadari tatapanku.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku dengan perasaan marah.
"Oh, bukannya sudah kelihatan?" kata salah satu dari mereka. "Kami memberinya pelajaran karena dia sok alim padahal seorang penjilat."
"Kamu juga pasti tahu karena sekelas dengannya. Dia arogan sekali karena tidak mau berbicara dengan siapapun, bukan?"
"Dan dia seorang penggoda. Sudah berapa laki-laki yang beralih padanya tapi dia sok menolak?"
Mereka tertawa. Aku mulai geram.
Aku memang jarang mengetahui masalah kelas dan lebih suka sendiri. Tapi aku tidak percaya kalau anak-anak mengalihkan pandangan mereka dari hal yang tidak bisa dimaafkan seperti ini.
Dengan kepala yang panas, aku menampar salah satu dari mereka.
"Junear bukan anak yang seperti itu! Kau akan tahu kalau sudah berbicara dengannya!"
"Hah-- apa-apaan anak ini!?"
Kami berkelahi, saling mencakar, menarik rambut satu sama lain seperti kucing yang berduel sampai satpam sekolah datang melerai.
Setelah itu kami dipanggil ke ruang kepala sekolah. Di sana ada Junear.
Ternyata Junear belum pulang dan merekam pembicaraan kami kemudian memanggil satpam. Anak-anak yang merundungnya masih tidak mengakui perbuatan mereka dan tidak ingin meminta maaf, tapi sebagai hukuman mereka akan dipindahkan sekolahnya-- dengan kekuatan dari pengaruh keluarga Junear.
Lalu hari mulai gelap dan Junear hendak menemaiku pulang.
"Terima kasih," katanya. "Kamu sudah membelaku bahkan sampai terluka seperti ini."
Aku menggeleng. "Kenapa kamu tidak lapor saat dirundung?"
"Aku masih belum punya bukti yang kuat. Tapi berkatmu, aku bisa membela diri."
Aku tersenyum. Syukurlah aku bisa berguna baginya.
Kemudian saat aku melihat ke angkasa, langit terlihat berkilauan.
"Kamu masih ada waktu sebelum pulang?"
Junear mengedipkan mata, mencerna kata-kataku. Kemudian aku segera mengambil sepeda kayuh dari tempat kos, lalu menggoncengnya ke suatu tempat dengan jarak yang sedikit jauh.
Tempat yang kami kunjungi adalah atap menara air yang dulu kukunjungi bersama seorang perempuan yang seumuran denganku. Tempat yang masih tidak berubah sejak dulu.
"Dulu seseorang pernah mengajakku ke mari," kataku padanya. "Meski aku tidak ingat siapa namanya."
Junear membuka lebar matanya, melihat pemandangan yang terlihat dari ketinggian. Pemandangan kota terlihat seperti pernak-pernik permen karena lampu-lampunya.
"Hujan meteor," katanya. "Coba lihat ke atas."
Aku mendongak dan mengiyakan perkataannya. Seingatku dulu aku juga pernah melihat pemandangan seperti ini.
"Dulu aku juga pernah mengalami hal ini," kataku. "Lalu aku membuat permohonan supaya bisa membalas kebaikan anak yang pernah mengajakku kemari."
Di antara hujan meteor itu, Junear tersenyum.
"Aku juga dulu berharap, agar dapat bertemu kembali dengan anak yang sudah kurusak bonekanya karena ulah kucingku."
FIN
---
Thumbnail source: https://www.pixiv.net/en/artworks/90574460