Dalam sebuah angkutan kota, seorang gadis berumur lima belas tahun tengah tertawa riang di pojok paling belakang. Matanya tak teralihkan dari gawai yang tengah di genggamnya. Mulutnya komat-kamit mengikuti bisikan dari earphone yang tertanam di telinganya. Sesekali ia membalas pertanyaan dari teman duduknya di samping. Meskipun mereka seangkatan, Ia tidak terlalu kenal dengan anak disampingnya ini, yang ia tahu anak ini bernama Sandi, satu sekolah dengannya. Untuk hal lebih detailnya, ia enggan untuk tahu, meskipun remaja tersebut tidak kalah tampan dengan para cowok yang jadi idola di sekolah. Ia lebih tertarik menyanyikan lirik yang terpampang di layar hp nya.
Sesampainya di tepi jalan depan gang rumahnya, ia melengos keluar, meninggalkan remaja cowok yang tampak senang bisa berbicara dengan dirinya.
Sesampainya di kamar, ia langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Kali ini ia membuka instagram, memotret dirinya yang tengah terbaring lemas dengan mata tertutup. Menambahkan filter, serta tak lupa menuliskan caption “I’m tired.”. Bosan scroll instagram artis-artis favoritnya dan berita terbaru tentang fashion, ia membuka Youtube. Kembali ia tertawa riang menonton video-video lucu yang bahkan sudah puluhan kali ia tonton. Tak sadar, ia terjatuh dalam tidur, dengan masih menggenggam hp nya.
Sore hari, saat yang pas untuk mandi. Ia memutar lagu dari akun spotify miliknya, membawa hp tersebut ke kamar mandi. Di kamar mandi yang berukuran tiga meter persegi itu ia bernyanyi mengikuti lagu yang diputarnya. Sesekali, terdengar suara dentuman keras pada lantai kayu saat ia meloncat-loncat larut dalam euforia musik yang membangkitkan gairah dan birahi dari salah satu penyanyi perempuan negeri paman sam.
“Mama belum datang nek?” Tanyanya kepada neneknya yang tengah duduk menikmati serial “Adzab Ilahi”.
“Belum. Katanya tadi pagi, ia mau mampir ke rumah temannya, mau goncang arisan.”
“Ada duit gak nek? Aku lapar ni. Mau pesan makan” ia mencium pipi neneknya, merayu perempuan reot tersebut.
“Itu dibawah bantal, ada kembalian uang jajan Hendri tadi siang”
“Jangan dihabiskan.” Tambah neneknya “nanti mama mu ngomel lagi sama nenek.”
Segera ia merangsek ke dalam kamar neneknya, menuju tempat penyimpanan uang si wanita tua yang sudah tidak kuat untuk berjalan berlama-lama tersebut. Ia pun memesan makanan online setelah mendapatkan uang yang dimaksud neneknya.
“Heh. Kamu mau makan apa?” Kakinya mencolek adiknya yang tengah bermain game online.
“Iiiiihhhhh ganggu aja. Pesan aja buat kamu sendiri, aku belum lapar.” Teriakan balasan datang dari adiknya.
“Yeeee. Ditawari malah sewot.”
Jam sembilan malam, seperti biasa, mereka berlima berkumpul di ruang tamu yang tidak terlalu besar. Sebagaimana ruang tamu biasanya yang tersedia televisi untuk hiburan, di rumah mereka juga terpasang tv flat keluaran tahun lalu. Neneknya masih setia memandang layar berukuran dua puluh satu inci di depannya. Kali ini ia menonton sambungan sinetron kesukaannya di salah satu stasiun tv swasta. Sinetron itu sudah memasuki episode ke tiga ratus sembilan puluh malam ini. Acap kali ia tertidur di kursinya dengan tv masih menyala.
Ayahnya duduk di samping nenek, sibuk membalas chat calon customer potensial yang sedang bertanya mengenai motor keluaran terbaru. Ia sangat perhatian dengan ibunya. Ia membelikan secara kredit kursi khusus untuk ibunya menonton. Walaupun setiap bulan ia selalu bertengkar dengan istrinya karena ada tambahan cicilan yang harus dibayar.
“Seharusnya mas mikir dong. Mesin cuci belum lunas, kulkas, hape Hendri, Iphone Risa. Ini ditambah lagi kursi menonton buat mama.” Teriak istrinya suatu malam, beberapa minggu yang lalu.
Ibunya baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Ia langsung merebahkan badannya di sofa yang ia beli dengan diskon karyawan miliknya. Asal pembaca sekalian tahu, ia adalah salah satu sales terbaik bagi perusahaan yang menjual berbagai macam perabotan rumah. Sambil berbaring di paha suaminya, ia menggulirkan akun facebook miliknya. Mencari para pedagang yang sedang melakukan siaran langsung, berharap ada barang murah yang bisa dibeli.
Begitulah kehidupan keluarga bahagia tersebut hampir setiap hari. Mereka selalu meng-update status akun sosial mereka dengan gambar yang wah, untuk mempertahankan eksistensi mereka di dunia maya.