Masih ingatkah dengan cinta pertama anda??
Cinta pertama, bukan pacar pertama.
Bagaimana rasanya? Kalau diingat, apakah masih terasa ada getaran? Ataukah hanya menciptakan sebuah senyuman. Sesekali, aku dan suami selalu bersenda gurau tentang masa lalu. Kami memang terkadang membahas masa lalu sebagai bahan obrolan.
Tak ada maksud memojokkan atau menilai buruk orang lain. Tapi aku, lebih ingin agar hubungan kami tetap baik-baik saja dengan tidak mengulangi kesalahan di masa lalu. Kenapa dulu begini, kenapa bisa begitu. Lucu bukan, pun lebih lucu karena pertemuan aku dengan suami terbilang unik. Bagaimana tidak, kami diperkenalkan Tuhan dengan jalan layanan aplikasi "Call Me". Adakah yang masih ingat aplikasi ini? Aplikasi pesan pendek yang meminta nomor orang lain untuk bisa segera menelepon ke nomor kita.
Tahu tidak siapa yang pertama mengirim Call me tersebut? Dia tidak lain adalah, teman sekolah suami yang kebetulan juga pernah jadi teman TK aku. Sebut saja namanya "Bedu". Bedu memakai telepon seluler suami untuk mengirim layanan call me kepadaku. Padahal saat itu aku sudah mulai dekat dengan Bedu.
Bedu adalah teman TK aku. Dahulu kami selalu dijadikan bahan guyonan teman TK yang lain. Mungkin karena perawakan aku dan Bedu sama-sama mungil. Reaksiku saat itu biasa saja, walaupun dalam hati sempet malu-malu kingkong. Maklumlah bocah ingusan, belum mengerti soal urusan hati. Saat masuk sekolah dasar, kami pisah sekolah. Tapi tetap berada dilingkungan yang sama.
Seiring berjalannya waktu, saat SD kami seolah saling tak mengenal. Bertemu pun kami tak pernah sekalipun bertegur sapa. Entah kenapa, tetapi yang jelas saat itu aku terlalu pemalu untuk menyapa dia terlebih dahulu. Saat kelas 5 SD, Bapakku meninggal dunia. Aku pindah rumah, masih satu Kota tetapi beda Kecamatan dan tetap bersekolah di SD yang sama. Bedu, tetap tak pernah menyapa. Setahun kemudian saat kelas 6, aku pindah sekolah. Dan si Bedu pun terlupakan sama sekali olehku.
Masa SMP benar-benar masa saat aku hanya memikirkan sekolah. Apalagi saat itu aku berkesempatan masuk di salah satu SMP Favorit ditempat tinggalku. Tahun berganti, masa SMA pun aku lalui. Dan lagi, aku diberi kesempatan bisa masuk Sekolah favorit. Duniaku di SMA tak berbeda jauh dengan SMP. Apalagi di SMA persaingan antara muridnya lebih terasa sekali dibanding saat SMP.
Tibalah aku di kelas 2 SMA saat itu, tepatnya semester 2. Kala itu, pesan singkat atau biasa disebut SMS menjadi alat komunikasi favorit bagi kaula muda. Karena penggunaan internet belum seperti sekarang. Tiba-tiba ada nomor baru masuk, dan entah nomor siapa. Beberapa kali nomor itu mengirimi pesan kepadaku. Dan anehnya, setiap kali mengirim pesan dia langsung sebut namaku.
Awalnya aku kira hanya orang yang iseng kepadaku. Sampai pada akhirnya, dia mengatakan bahwa dia adalah teman semasa aku TK dahulu. Tak ada firasat kalau itu adalah nomor Bedu. Namun, saat aku sudah menyerah menebak nama-nama temanku saat itu, akhirnya dia menyebutkan namanya "Aku Bedu".
Kebayang tidak, terakhir kami bertemu saat kelas 5 SD. Pada saat masih sering bertemu pun, kami tak pernah bertegur sapa. Dan setelah itu kami tak pernah bertemu apalagi berkomunikasi. Hampir 7 tahun aku sudah melupakannya sama sekali, tetapi entah kenapa tiba-tiba dia hadir kembali tanpa diduga. Dia bilang, dia tahu nomor aku dari temannya yang juga temanku.
Saat itu, sempat ada rasa penasaran dihati. Kenapa dia gerangan kembali mencari ku. Padahal aku sama sekali sudah tak mengingatnya. Komunikasi kami berlanjut terus ke SMS dan telepon. Namun, tanpa diduga entah kenapa juga dia malah berkirim layanan aplikasi Call me melalui telepon seluler teman sekelasnya, yang pada akhirnya malah menjadi suamiku.
Sebut saja suamiku Doni. Saat Bedu mengirim aplikasi Call me memakai gawai Doni, aku balas dengan mengirim Call me lagi. Dan Doni malah meneleponku, tetapi saat aku angkat telepon, Doni malah mematikan teleponnya. Karena penasaran, Aku telepon balik dan kudengar suara laki-laki yang menjawab dan akhirnya telepon ku tutup.
Doni kembali meneleponku. Dan, pada akhirnya aku dan Doni malah jadi akrab. Aku pun tidak tahu, entah kenapa saat itu aku merasa akrab dengan Doni. Yang jelas saat itu aku tidak tahu, kalau yang pertama kali mengirim Call me adalah Bedu dan bukan Doni.
Sementara itu, komunikasi aku dan Bedu masih berlanjut. Singkat cerita, Bedu mengatakan ingin bertemu denganku. Aku bilang, kalau ingin bertemu datang saja ke rumahku. Tidak lama setelah itu, dia benar-benar datang ke rumah, bersama teman-temannya tentunya. Saat itu Bedu bertanya padaku.
"Kamu sekarang lagi sama siapa?"
Kebayang gak, aku yang sama sekali gak pernah pacaran ditanya hal seperti itu. Pura-pura bego sih, padahal dalam hati senang bukan main.
"Maksudnya? ya aku lagi sama kamu, sama Baron, dan Boris juga (Baron dan Boris adalah teman yang datang menemani Bedu)." aku jawab pertanyaan Bedu.
"Ohh.. tapi enggak gitu juga maksudnya." Bedu berkata padaku. Hati mulai gak karuan, entah kenapa dia malah bertanya seperti itu.
"Oh hehe.. Oh iya, kamu punya teman namanya Doni? katanya dia teman sekelas kamu?" Bodohnya aku, saking gugupnya malah membahas orang lain.
"Doni, kenapa gitu? kamu kenal dia? Ohhh, pantesan kemarin itu dia sempat ngajak aku main ke daerah sini. Mungkin ke rumah kamu kali ya." ujar Bedu dengan nada bicara yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Ohh ya? gak tahu juga tuh?" jawabku.
Sungguh aku tak menyangka, pertemanan aku dengan Doni adalah salah satu penyebab Bedu kembali menjaga jarak denganku. Bahkan setelah pertemuan saat itu, aku dan Bedu hingga kini tidak pernah bertemu lagi.
Semenjak hubungan aku dan Bedu mulai berjarak, pertemanan aku dan Doni yang malah semakin dekat. Hingga akhirnya, Doni sekarang menjadi suamiku.
Tidak disangka, ternyata orang yang sempat membuat gelisah hatiku, hanya menjadi perantara jodohku. Mempertemukan aku dengan Suamiku. Sesimpel itu Allah memudahkan semuanya yang terlihat mustahil menjadi terjadi.
Padahal aku dan suami sebelumnya adalah dua orang asing yang tak pernah bertemu, dan yang tak pernah kami pernah sekalipun bayangkan sebelumnya. Semudah itu, Allah dekatkan kami.
Bila aku dan suami membicarakan masa lalu, entah kenapa seperti ada magnet yang membuat kami terasa makin dekat. Obrolan ini menjadi obrolan ringan dan renyah bagi kami.
Sambil sesekali tertawa cekikikan membahas tentang masa lalu. Walaupun mungkin kadang, entah dihatiku bahkan mungkin dihatinya pasti ada sedikit lara. Maklumlah menceritakan masa lalu sebenarnya adalah hal yang tabu bagi kita dan pasangan. Apalagi semua yang kami bahas adalah mantan-mantan suamiku. Karena apa, karena aku memang sama sekali tidak punya mantan kekasih.
Aku mungkin bukan cinta pertama suamiku. Pun suamiku mungkin bukan cinta pertamaku. Tetapi kisah kami, lebih luar biasa dibanding kisah dengan orang-orang sebelumnya. Disatukan dalam ikatan suci bernama pernikahan. Berharap bukan hanya bisa menua bersama. Tetapi kelak bisa selalu bersama hingga di Surga.