Embun pagi belum sepenuhnya menguap dari dedaunan kebun teh yang melingkupi pinggiran Desa Bayongbong, di bawah megahnya bayangan Gunung Cikuray. Udara dingin khas Garut menusuk hingga ke tulang, tetapi Fifi sudah berdiri di depan kompor minyak tanahnya yang berjelaga. Kuali hitam bekas peninggalan ibunya meremang, mematangkan nasi goreng bumbu bawang merah dan cabai rawit seadanya.
Di sudut meja kayu lapuk, suaminya, Rachmat, sedang meneliti sepasang jaket hijau khas pengemudi ojek online. Jaket itu sudah memudar warnanya, kainnya tipis tergerus hujan dan terik matahari selama bertahun-tahun. Di beberapa bagian, rajutan benang manual buatan jemari Fifi terlihat menutupi robekan.
"Masih cukup hangat, Bunda," ujar Rachmat tersenyum tipis ketika melihat Fifi menatapnya khawatir. Rachmat mengancingkan jaket itu rapat-rapat, lalu mengusap telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan.
"Helmnya jangan lupa dikunci, Ayah. Jangan ngebut-ngebut kalau bawa penumpang turun ke arah kota," pesan Fifi lembut sembari menuangkan teh hangat ke cangkir seng.
Rachmat mengangguk. Lelaki itu tidak pernah mengeluh. Padahal Fifi tahu betul betapa remuknya badan sang suami setiap kali pulang malam, menembus kabut tebal Cikuray setelah seharian mengaspal di jalanan Garut—menunggu pesanan dari stasiun, terminal, hingga gang-gang sempit permukiman.
Mereka berdua hanyalah sepasang suami istri sederhana bersenangjata ijazah SMA. Bagi warga kampung di kaki gunung, hidup bisa makan tiga kali sehari dan memiliki atap yang tidak bocor sudah merupakan berkah luar biasa. Namun, di balik kesederhanaan hidup dan rumah berdingding papan itu, ada impian raksasa yang terpelihara dengan doa-doa malam yang tak pernah terputus.
Impian itu bernama masa depan anak-anak mereka.
---
Ikal—putra sulung mereka—dan Farhan—putra bungsu—tumbuh dalam kesederhanaan yang disiplin. Sejak kecil, suara desis kompor minyak dan deru mesin motor tua Rachmat adalah irama harian mereka. Tidak ada mainan mahal atau pakaian bermerek. Bagi Ikal dan Farhan, kemewahan terbesar adalah saat Ayah membawa pulang martabak telur setelah menarik ojek hingga larut, atau saat Bunda membelikan buku tulis anyar di awal semester.
"Nda," bisik Ikal kecil suatu sore, saat mereka duduk di lincak bambu teras rumah melihat kabut turun melingkupi Cikuray. "Tadi di sekolah, guru cerita tentang kampus di Bandung. Katanya namanya ITB. Gedungnya besar, pohonnya rindang, dan orang-orang pinter di seluruh Indonesia berkumpul di sana. Ikal bisa kuliah di sana tidak, Nda?"
Fifi menatap mata bening putra sulungnya. Ada getar keprihatinan yang sempat menyayat dadanya. Biaya dari mana? Penghasilan ojek Rachmat hanya cukup untuk beras, bayar listrik, dan kontrakan kecil jika hasil panen kebun tetangga sedang sepi.
Namun, Fifi mengusap rambut Ikal dengan tatapan mantap. "Bisa, Nak. Kalau Ikal rajin belajar, takwa sama Allah, dan tidak pernah takut bermimpi, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Garut sama Bandung itu dekat, tapi kalau ilmu yang bawa, jaraknya tidak akan terasa."
Kata-kata itu menjadi pegangan Ikal. Sejak hari itu, lampu teplok dan kemudian bohlam lima watt di kamar sempit kedua anak itu tidak pernah padam sebelum tengah malam. Ikal dan adiknya, Farhan, belajar dalam diam, berlomba-lomba melahap buku-buku bekas yang dibelikan Rachmat dari pasar loak.
---
Tahun 2019 menjadi tonggak sejarah yang menguras air mata keluarga kecil itu. Ikal dinyatakan diterima di Institut Teknologi Bandung melalui jalur seleksi masuk negeri. Hari ketika amplop atau pengumuman itu dibaca, Fifi dan Rachmat bersujud di lantai semen rumah mereka. Air mata keharuan menetes deras.
Namun, setelah euforia kelulusan surut, realitas menampar keras. Biaya hidup di Bandung, tempat tinggal, buku, dan kebutuhan perkuliahan membayang bak gunung yang lebih tinggi dari Cikuray.
"Kita jual saja perhiasan tersisa, Bunda," kata Rachmat malam itu, menyodorkan dua gram cincin kawin yang sudah agak pipih. "Sama motor cadangan yang tua itu. Asal Ikal bisa berangkat."
Fifi menahan tangan suaminya. "Jangan, Ayah. Motor itu alat cari makan Ayah. Kalau dibeliin buat biaya sekali, besok-besok kita makan apa? Biar Bunda yang cari tambahan."
Maka, subuh demi subuh Fifi mengadon keripik singkong dan kue basah untuk dititipkan di warung-warung tetangga. Jemarinya yang kasar tidak berhenti bekerja. Rachmat memeras keringat di jalanan, menambah jam kerjanya dari pagi hingga larut malam demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk uang saku Ikal di Bandung.
Tak jarang, Rachmat hanya makan nasi bungkus separuh dan menyimpan separuhnya lagi untuk makan malam demi menghemat uang jalan. Setiap kali Ikal menelepon dari Bandung, Rachmat selalu tertawa ceria di telepon, "Ayah sama Bunda sehat, Nak. Rezeki ada saja. Kamu fokus belajar, jangan pikirkan biaya."
Ikal tahu ayahnya berbohong. Dia tahu betul suara batuk suaminya yang tertahan di balik telepon. Maka di kampus, Ikal berjuang keras. Dia tidak pernah membeli baju baru, jarang ikut kumpul-kumpul komersial, dan memanfaatkan beasiswa serta menjadi asisten dosen demi meringankan beban orang tuanya.
Dua tahun kemudian, langkah Ikal diikuti oleh Farhan. Putra kedua mereka juga membuktikan bahwa darah Cikuray memiliki tekad baja: Farhan menyusul sang kakak masuk ke kampus ganesha yang sama, ITB.
Tetangga kampung sempat berselingkar kata. Ada yang mencibir, "Orang kampung, cuma lulusan SMA, bapaknya ojol... kok nekat nguliahin anak dua-duanya di Bandung? Mau makan apa nanti?"
Fifi hanya tersenyum tiap kali mendengar cibiran itu. Dia tidak membalas dengan kata-kata. Dia membalasnya di atas sajadah, dalam sujud-sujud panjang di sepertiga malam, memasrahkan segala prasangka manusia kepada Sang Maha Pemelihara.
---
Momen penentuan itu tiba pada tahun 2023.
Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) dipenuhi oleh ribuan wisudawan dan keluarga mereka. Di antara lautan toga dan pakaian mewah para tamu undangan, berdiri Rachmat dan Fifi. Rachmat mengenakan kemeja batik sederhana yang dibeli tiga tahun lalu, sedangkan Fifi memakai kebaya kain buatan sendiri yang dirawat rapi.
Saat nama Ikal dipanggil dan pria muda itu berjalan melintasi panggung dengan predikat memuaskan, dada Fifi rasanya mau pecah oleh rasa haru. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Rachmat mengusap matanya yang basah dengan sapu tangan lusuh, mencoba menahan isak yang hampir pecah.
Setelah prosesi usai, Ikal berlari mencari kedua orang tuanya di tengah kerumunan. Tanpa peduli pada toga dan ijazah di tangannya, Ikal berlutut di atas lantai semen, memeluk kaki ibunya dan mencium tangan ayahnya yang penuh kapalan.
"Bunda, Ayah... Ikal lulus," bisik Ikal terisak. "Ini bukan gelar Ikal. Ini gelar Ayah yang narik ojek tiap hujan dan panas, ini gelar Bunda yang selalu bangun subuh berdoa."
Rachmat merangkul putranya erat-erat, menepuk-nepuk punggung Ikal. "Kamu anak hebat, Nak. Gunung Cikuray bangga sama kamu."
---
Waktu berlalu melintasi roda nasib yang diputar oleh kerja keras dan ketulusan doa.
Kini, kehidupan keluarga kecil dari kaki Gunung Cikuray itu terus bergulir anggun. Ikal tidak hanya sekadar lulus; kemampuannya diakui hingga ia langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan konsultan ternama di Jakarta. Tak berselang lama, berkat prestasi kerjanya yang cemerlang, Ikal mendapatkan beasiswa penuh dari tempatnya bekerja untuk melanjutkan studi Magister (S2).
Sementara itu, Farhan kini telah menginjak semester 7 di ITB—memasuki masa-masa akhir perjuangan sarjananya. Setiap kali pulang ke Garut di akhir pekan, Farhan selalu duduk bersama ayah dan bundanya di teras depan, menatap puncak Cikuray yang menjulang.
"Nda, Yah," kata Farhan suatu sore di pertengahan tahun 2026 ini, sambil menatap Fifi yang sedang menyeduh teh hangat. "Farhan ingin melanjutkan S2 juga setelah lulus nanti. Kalau tidak di ITB lagi, Farhan ingin coba beasiswa ke luar negeri. Farhan ingin buktikan kalau anak tukang ojol dari kampung juga bisa pijakkan kaki di negeri orang."
Rachmat tersenyum lebar, garis-garis keriput di wajahnya menampakkan ketenangan dan rasa syukur yang mendalam. Kebanggaan seorang ayah memancar jelas dari matanya.
"Insya Allah, Nak," jawab Fifi lembut, mengusap bahu putra bungsunya dengan penuh kasih sayang. "Niat yang baik pasti dibukakan jalannya oleh Allah. Bunda dan Ayah tidak punya harta untuk diwariskan, hanya doa yang tidak pernah putus di setiap langkah kalian."
Malamnya, ketika dingin Cikuray kembali merayap dan menyelimuti rumah sederhana itu, Fifi mendampingi Rachmat yang baru saja membersihkan motornya. Motor itu kini sudah berganti mesin yang lebih segar, tetapi jaket hijau penuh kenangan itu masih tersimpan rapi di lemari.
Dalam heningnya malam, Fifi menengadahkan kedua tangannya, memanjatkan doa yang senantiasa ia ulang dengan penuh kekhusyukan:
Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membimbing langkah kami yang hina ini, melimpahkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, dan mengangkat derajat anak-anak kami... Semoga Engkau senantiasa melimpahkan rezeki-Mu, memberikan umur yang panjang dalam ketaatan, dan selalu memberikan kesehatan bagi kami sekeluarga serta orang-orang yang berjuang demi keluarganya... Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Di luar, angin gunung bertiup pelan, membawa harum tanah basah dan ketenangan yang meresap hingga ke dalam jiwa—sebuah bukti bahwa takdir Allah tidak pernah salah memilih pundak mereka yang mau berjuang dan bersabar.