Tak ku sangka, hangat genggaman tanganmu kala itu akan jadi yang terakhir kalinya aku merasakannya. Kini di hadapanku seorang gadis dengan tubuh kaku nan pucat dihiasi bunga disekelilingnya tengah terbaring. "Kini mimpi indahmu tak akan terganggu lagi, Rosa."
*****
Sore hari yang mulai dingin, di sebuah jalan setapak. Ku nikmati hangatnya genggaman tangan seorang gadis yang memikul sebuah biola di punggungnya. Ku tatap matanya yang indah, terbias kilau coklat keemasan dari pupil matanya. Aku merasa seakan melihat indahnya dunia di balik bola matanya.
"Ah?! Baby Breath?!" Ucapnya kegirangan yang sontak membuatku terkejut.
Ia melangkah, melepaskan genggaman tanganku. Ia berlari menuju semak belukar yang menemani sebuah batu besar yang sendirian.
Memetik bunga liar, Aihh... aku tak habis pikir dengan gadis ini.
"Lycoris! Lihat! Apa yang aku temukan!?" Ucapnya sembari menunjukkan bunga liar itu tepat di depan wajahku.
"Ah.. hanya bunga liar." Remehku.
"Hei! Ini bunga Baby Breath! Bukan sembarang bunga!" Kesalnya yang ia salurkan pada hentakan kaki di atas tanah. Aihh.. tingkahnya benar-benar menggemaskan.
"Haha! Iya, aku salah." Tak bisa ku tahan keimutan ini. Tanganku mengelus halus puncak kepalanya.
Tanpa ragu, gadis itu menyerahkan bunga itu padaku sembari memamerkan senyuman manis.
"Untukku?" Ucapku memastikan.
Dengan lugunya ia mengangguk, aku menanggapi sembari membalas senyumannya.
"Kau tahu apa arti dari bunga ini?" Tiba-tiba ia berucap. Sembari melanjutkan perjalanan, ia mulai melangkah meninggalkanku. Segera aku menyusul, mencoba menyamakan langkahku dengan langkah kakinya.
"Apa artinya?"
Seketika ia menghentikan langkahnya, kembali memamerkan senyuman manis yang merupakan andalannya untuk meluluhkan apapun yang membeku.
"Baby Breath, memiliki arti 'cinta sejati yang tak akan pernah berakhir'. Berikan itu pada seseorang, niscaya cintamu akan abadi."
Entah mengapa tiba-tiba angin datang, menggoyangkan rerumputan dan bahkan dedaunan, tak terkecuali rambut pendek Rosa yang indah. Diterpa angin, tak ku sangka. Di bawah langit senja aku tengah berhadapan dengan seorang malaikat. Membuat dadaku berdegup kencang tak seperti biasanya.
Aku gugup? ya! Aku bahkan bisa mendengar suara detak jantungku berdebar kencang. Aku menyentuh dadaku, berharap dengan menutupinya dengan tanganku suara detak jantung ini tidak akan terdengar olehnya. Namun apa daya, senyuman gadis itu semakin melebar. Lagi-lagi ia menang, sepertinya ia ingin jantungku melompat keluar.
Ya, aku pikir seperti itu. Dan tak terkecuali untuk saat ini.
*****
"KYAAAKKK!!!!"
Dari balik celah retakan sebuah patung muncul cairan merah kental, membuat salah satu pengunjung pameran seni di SMA Azalea terkejut bukan main.
Di antara kerumunan, ku dekati patung itu. Nampak aneh, tanpa menunggu lama lagi. Ku jatuhkan patung manusia bersayap setinggi 165 cm itu, memecahkannya di atas lantai keramik yang keras. Semua orang tertegun melihatnya. Benar saja, di dalamnya terdapat tubuh seorang gadis yang penuh luka ditutupi oleh lapisan gips. Mengerikan di mata pengunjung, namun ini terlihat menyakitkan untukku. Rosa, gadis yang selalu membawa kebahagiaan dalam hidupku, kini meninggalkan duka yang menyayat jiwaku.
"Sa...? Ro-Rosa? Bukan! Dia bukan Rosa! haha..." Aku tidak bisa percaya dengan apa yang aku lihat. Mencoba menyadarkan diri, mungkin ini hanya mimpi. Aku mengambil lempengan gips yang memiliki bagian runcing. Mengangkatnya tinggi-tinggi dengan tangan kananku, kau tahu apa yang ingin aku lakukan? Ya! mencoba menyadarkan diri. Mungkin dengan menyayat pergelangan tanganku aku akan terbangun dari mimpi buruk ini.
Tanganku mulai tremor, kenapa? Untuk apa aku ragu? Ini hanya mimpi! pasti hanya mimpi! Aku memejamkan mataku kuat, aku bersiap untuk pergi dari mimpi buruk ini.
"Kau pikir ini hanya mimpi?" Sebuah suara berat menghentikan tindakanku.
Aku tidak memperdulikannya, dan tetap ingin melanjutkan tindakanku.
"Baiklah! Mati saja! Dengan begini kau dan gadis itu akan mati dengan terbayang siapa pelaku dari semua ini. " Sambungnya. Tiba-tiba aku berhenti, air mata menetes. Sial, tanganku gemetar lemah, dadaku terasa amat sesak dan berat. Aku tak kuasa menahan tangis lagi.
Orang itu mengambil benda tajam itu dari tanganku, lalu melemparnya ke sembarang arah.
"Hanya makhluk b*d*h yang berpikir realita ini adalah maya." Bisiknya. Aku tak tahu, aku hanya lelah. Aku ingin pulang. Bersama, berjalan beriringan bersama Rosa. Seperti dulu.
*****
Aku berjalan bersama seorang pria berseragam SMA sama sepertiku di koridor sekolah. Mengikuti langkah kakinya yang panjang. Sejenak aku terbayang tengah berjalan di atas padang rumput kenangan.
"Lyco! Simpanlah bunga itu! Itu akan bertahan hingga musim berganti!" Ucap seorang gadis dari ujung jalan. Aku menunjukkan sebuah senyuman miris. Sulit melepaskan kepergiannya. Aku tenggelam dalam ingatan masa lalu.
"Lyco!" Seseorang menyadarkanku. Rechten, pria yang baru ku kenal ini ingin membantuku menyelidiki kasus Rosa. Apa kau dengar itu? Dua anak SMA ini bersikap sok pintar dan berniat memecahkan kasus besar ini. Cih, aku bahkan tidak yakin dengan kemampuanku sendiri.
Rechten menatapku datar, tanpa ekspresi. Ia bersikap dingin padaku.
"Kau benar-benar terlalu larut dalam perasaanmu. " Ucapnya sembari mengambil langkah meninggalkanku.
Aku menunduk, bukan malu. Aku hanya tidak merasakan perasaan apapun. Apa sekarang aku kehilangan perasaanku?
BRAKKK!!!!
Aku tersentak, terlalu lama termenung. Sebuah suara benturan keras mengejutkanku. Suara itu berasal dari ruang seni patung. Bergegas aku masuk, ku lihat Rechten dengan tangan terluka dan mengalir cairan merah mengotori seragam sekolahnya.
Tak tertinggal dari pandanganku, seorang gadis berambut coklat bergelombang menatap kami dengan penuh amarah. Menenteng vas keramik yang sudah pecah, situasi di ruangan itu kacau balau. Semua bahan patung dan alatnya berserakan dimana-mana.
"Kau pikir kau mengetahui segalanya?!" Marahnya. Kedua bola mata gadis itu nampak memerah, buliran bening mulai membendung.
"Kau pikir aku adalah pelakunya?!" Teriaknya. Tangisannya pecah saat itu juga, ia yang sedari tadi menenteng vas keramik itu pun jatuh terduduk lemas. Mencoba mengusap air matanya yang tiada hentinya mengalir.
Aku tidak bisa memahami, apa yang sebenarnya terjadi.
Rechten mengusap darahnya yang hampir menetes. Raut wajahnya tak berubah. Masih terlihat dingin.
"Lalu, bagaimana kau menjelaskan soal ini?" Ucap Rechten sembari melemparkan beberapa lembar surat yang berisi suatu pernyataan.
'Aku sering melihat Claudia masuk ke ruang musik dan memaki-maki gadis biola itu.'
'Claudia nampaknya membenci gadis biola itu.'
'Ya! Aku juga melihat Claudia hampir menghancurkan biola gadis malang itu. '
'Mungkin bisa disimpulkan bahwa Claudia yang melakukan tindakan keji itu. '
Claudia, gadis berambut cokelat itu berada dalam titik terendah kontrol emosinya. Tangisannya semakin menjadi jadi, ia meremas rambutnya yang lebat.
"Tidak perlu ku katakan lagi. Ini hanya sebagian asumsi dan bukti yang berhasil ditemukan, tapi untuk mempermudah. Lebih baik kau mengakuinya." Ucap Rechten dengan dinginnya. Ia melemparkan sebuah kaos putih dengan noda gips di hadapan Claudia.
"Haha..." Sebuah tawa muncul di antara tangis Claudia. Ia nampak mengerikan saat ini.
"Gadis s*alan... " gerutunya. Kini sikapnya meyakinkan bahwa dialah pelakunya. Mungkin semua ini akan segera berakhir. Yah, aku akan lega.
Claudia menghapus bekas air matanya. Ia mencoba berdiri di atas kedua kakinya. Menatap tajam ke arah Rechten.
"Ya, aku membenci gadis s*alan itu." Akuinya. Aihh.. dia mengaku secepat ini?
"Saking bencinya, setiap kali ia menggesekkan senar biolanya aku merasa ingin mematahkan tangannya. " Ucapnya tanpa rasa ragu sedikitpun.
"Jadi, kau ingin menyerahkanku ke hadapan hukum? Baiklah, ayo! Aku sudah muak dengan semua ini. Lagi pula di dunia ini tidak akan ada orang yang ingin mendengar alasanku. " Sambung Claudia sembari menyerahkan pergelangan tangannya pada Rechten.
Pria itu membatu, aku terheran. Kenapa reaksinya seperti ini. Ia menunjukkan senyuman licik. Apa maksudnya itu?
"Terimakasih atas pengakuanmu ,Claudia. Sayang sekali, gadis loyal sepertimu harus menjadi kambing hitam."
Apa maksud dari ucapannya itu? Kambing hitam? Jadi, bukan Claudia pelakunya?
Rechten berbalik menatapku dengan senyuman di wajahnya.
"Bagaimana luka di lenganmu? Lyco?" Terasa ambigu. Kenapa teori ini berputar-putar? Aku merasakan denyutan di luka lenganku. Benar saja, aku memiliki luka baru di lenganku. Ini agak menyakitkan.
"Aihh... apa kau bingung Lycoris?" Tanya dia sekali lagi. Tiba-tiba Rechten melangkah mendekat ke arah jendela. Menatap ke atas sebuah meja berdebu. Terlihat bekas dudukan benda di atasnya.
"Claudia, apa kau merasa ada sesuatu yang hilang?" Tanya Rechten dengan santainya.
Claudia melepaskan genggamannya dari vas yang telah pecah itu. Ia menatap meja di sebelah Rechten. Lalu mengangguk paham.
"Sebuah patung, karya terbaik yang pernah ku buat. " Sahutnya tanpa ragu.
"Di mana... patung itu?"
Claudia menggeleng, menandakan ia tidak tahu menahu soal itu.
"Aku tidak tahu, aku kehilangan patung itu sejak dua hari yang lalu. "
Dua hari yang lalu, hari dimana kami semua melakukan persiapan pameran seni. Menyusun karya dan pemilahan.
"Aku rasa, Lyco tahu mengenai hal ini. "
Aku tak bisa berkata apa-apa, entahlah. Aku terbingung.
"Bukankah kau ikut dalam pameran itu?" Rechten menepuk bahuku.
"Ya."
"Jadi, bukankah kau juga bagian dari seniman pencipta karya di pameran itu?" Ucapnya dengan tatapan menyudutkan. Perkataannya mulai merujuk padaku. Apa dia ingin memindahkan kesalahan padaku?
"Memang benar." Sahutku.
"Lalu.... yang mana karyamu?" Aku terbingung, tersudutkan. Aku tersadar, aku terdaftar sebagai salah satu seniman itu. Tapi yang mana karyaku?
Rechten tertawa kecil. Ia membalikkan badannya, membelakangi diriku.
"Hahaha... Kenapa dengan reaksimu itu? Bukankah karyamu yang berjudul Angel Violin Girl? Jangan katakan bahwa kau melupakannya."
Aku dan Claudia terdiam. Kami terpaku, tak mengerti maksud dari ucapannya.
"Sial. Terlalu bertele-tele, Singkat saja. Baju kaos itu bukan milik Claudia. " Ucapnya yang membuatku terkejut.
"Dilihat dari ukurannya, itu adalah ukuran khusus untuk pria. Jadi, kemungkinan besar pembunuhnya adalah seorang pria." Sambungnya.
Rechten menunjukkan luka di lengannya, luka bekas pukulan Claudia karena mencoba melindungi diri dari Rechten yang secara spontan memojokkannya.
"Sebuah luka dari pukulan pertahanan. Para gadis akan mengambil apapun di sekitarnya untuk digunakan sebagai pelindungnya. " Kembali ia berucap.
"Dan juga, reaksimu pada patung itu sangat berlebihan. Bagaimana bisa kau sangat terkejut melihat karya yang kau buat sendiri? "
Ia menatapku, menunjukkan lukanya yang terbuka lebar. Sembari tersenyum, ia membidik tatapan merendahkan padaku.
"Ah, iya. Lyco, luka kita.... sama bukan?"
"Hanya dengan begini, sudah bisa dibayangkan bukan bagaimana kronologisnya?"
Aku terpaku, ada apa ini? Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan? Aku disini juga korban. Kenapa ia bersikap seolah olah ia mencurigaiku.
"Baby Breath dan Mawar merupakan perpaduan yang indah, namun percayalah.... Higanbana tidak akan pernah bisa disandingkan dengan mereka."
*****
Malam di musim ini, aku bersama Rosa sedang berada dalam ruang seni patung. Rosa menatapku yang tengah sibuk menyiapkan karyaku yang tingginya mencapai 165 cm. Mengaduk gips di dalam wadah besar. Tatapan sendu ku lihat terpancar dari matanya.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Aku akan pergi ke USA." Langsung menuju topik. Rosa menatapku penuh serius.
Aku menghentikan tindakanku. Membalas tatapannya.
"Lupakan aku, kita jalani hidup kita masing-masing." Sambungnya. Seketika dadaku dan wajahku terasa memanas, aku tidak tahu. Sepertinya aku kesal.
Tanpa sadar aku mendorong tubuh lemah Rosa pada lemari penyimpanan dengan keras, hal ini hampir membuat patung-patung kecil berjatuhan.
"Bukankah kau sudah berjanji akan bersama denganku selamanya?" Tanyaku. Tanganku geram, aku mencengkeram erat kedua lengan Rosa tanpa ampun. Membuat gadis itu meringis kesakitan.
"K-kau menyakitiku!" Ucapnya yang mulai menahan tangis karena ketakutan rasa sakit.
"Tapi kau yang pertama menyakitiku." Ucapku. Aku tidak tahu ekspresi wajah apa yang saat ini tertampang padaku.
"Kau memberikan Baby Breath padaku.. hm? Bukankah itu artinya kau hanya mencintaiku saja kan?" Aku menggertak.
Gadis itu nampak ketakutan, air matanya menetes. Ku rasakan pergerakan tangannya yang meraba meja lalu meraih sebuah patung.
BRAKKK!!!!
Aku berhasil menghindarkan kepalaku dari hantamannya. Namun, sepertinya tanganku sedikit terluka karena ku jadikan tameng.
"Ku mohon, jangan seperti ini!" Gadis itu terus menangis. Sial, benar-benar menjengkelkan.
Ia mengambil langkah cepat, mencoba berlari menjauh dariku. Tapi sepertinya tidak semudah itu. aku menarik lengannya. Dan tanpa ragu, mendorongnya hingga jatuh ke dalam cairan gips di wadah besar itu. Kau tahu apa yang terjadi? sepertinya ia tidak bisa bernapas di dalam sana. Aku hanya menatapnya. Mungkin ini lebih baik.
"Dengan begini, selamanya cinta kita akan tetap abadi, Rosa. Seperti arti bunga ini. " Ucapku sembari memperbaiki lekukan tubuh pada patung Rosa lalu memasangkan buket bunga yang ia berikan padaku waktu itu.
"Akan tetap abadi... bersamamu, Rosa."
*END*
*PERINGATAN!!!
JANGAN LUPA LIKE! KOMENTARNYA JUGA!
PLEASE! AUTHOR MAKSA🙂🔪
AWKWK, CANDA NGAB🗿✌️