"Claudia, kemarilah nak." Panggil ibu.
"Iya Bu, sebentar aku datang."
Dari kejauhan terlihat seorang gadis belia berlari ke arah ibunya yang berada di seberang jalan. Tiba-tiba saja ada sebuah truk yang datang dari arah kejauhan lalu tepat ke arah Claudia.
"Claudia ..." teriak sang Ibu, hingga barang belanjaannya jatuh berhamburan di jalanan.
Ibu itu berlari kencang ke arah kerumunan warga dan masyarakat yang menonton korban kecelakaan itu.
Tapi tak sayangnya itu bukan Claudia melainkan anak lain yang tertabrak. Sedangkan Claudia masih ada di pinggir jalan sambil mematung melihat kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu.
Ibunya kemudian menyadari keberadaan putrinya yang terdiam mematung di tepi jalan. Dipeluknya sang putri dengan sejuta kasih sayang sayang serta tangisan air mata.
"Alhamdulillah nak, kau tidak apa-apa," sahut ibu.
Lalu tanpa disadari ada seorang ibu-ibu yang tiba-tiba datang dan menjambak hijab yang dipakai Ibu Claudia.
"Arghh, sakit lepaskan nyonya."
"Ini balasan karena anakku yang tak bersalah harus kecelakaan karena menolong putrimu itu."
Claudia tersadar dari lamunannya, ia pun mencoba membantu ibunya tapi apa daya, ia juga terhempas ke jalan karena pukulan ibu yang sedang mengamuk itu.
Ia begitu kecewa karena bukan aku yang meninggal tetapi malah putrinya. Padahal mungkin ini pertolongan Tuhan kepadaku. Tetapi ibu itu tetap tidak terima.
"Dasar kalian, kalau bukan karena anakmu, mungkin putriku masih hidup sekarang," jeritnya.
Sejak saat itu kami sering di teror oleh keluarga ibu itu. Entah darimana mereka tau alamat rumah kami. Ibu selalu melindungiku agar jangan sampai omongan tetangga menghancurkan hidupku.
Ibu tau, putrinya sangat pemikir. Sedikit saja omongan warga bisa mempengaruhi pikirannya.
Sampai ahirnya apa yang ditakutkan ibu Claudia terjadi.
Claudia yang biasanya tampil ramah dan murah senyum kini telah berubah menjadi bengis. Ia bahkan tega memukul orang yang suka membully orang lemah di sekolahnya.
Awalnya ia memang membantu orang-orang lemah, tetapi entah kenapa rasa bengisnya mendominasi. Kini ia tega menghajar orang jahat secara membabi buta.
Bahkan ia sering keluar masuk guru BK karena tingkah lakunya. Ibunya menjadi sedih akan tingkah laku putrinya yang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi orang yang berbeda.
Sampai suatu saat, ia melihat orang yang selama ini suka meneror keluarganya di tepi jalan. Dengan sikap angkuhnya ia terlihat sedang menyiksa salah seorang pengemis di tepi jalan.
Pengemis itu ditendang berkali kali, sampe anaknya ketakutan dan menangis histeris. Sungguh rasa trauma yang dimiliki Claudia kembali menyeruak memenuhi setiap aliran darahnya.
Ambisi untuk balasnya semakin menggebu.
Dengan langkah setengah berlari, Claudia kemudian menghadiahi sebuah bogem mentah ke arah ibu yang tidak punya sopan santun itu.
Ia memegangi pipinya yang masih terasa panas, tetapi belum sempat ia melihat siapa pelakunya. Claudia terus menghadiahi bogeman-bogeman mentah terhadapnya.
Sampai ibu itu tersungkur tidak berdaya. Claudia pun membisikkan sebuah kalimat buatnya.
"Sehebat apapun, sekaya apapun, jika waktunya kamu mati, pasti akan mati. Janganlah sekali kali kau menindas orang lemah. Jadi selagi nafasmu masih berhembus, bertaubatlah dan jadilah orang yang menebar kebaikan."
Ia pun kemudian tersenyum sebelum ahirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya karena luka lebam di seluruh tubuhnya.
Sedangkan Claudia harus mempertanggungjawabkan semua tindakan kriminalnya. Sedangkan ibunya hanya bisa mendoakan Claudia dari kejauhan.
~TAMAT~