Bersikap rendah hati, akan mendapatkan pujian. Jadilah, manusia yang rendah hati.
***
Dari sebuah toko barang Antik. Kanna membeli sebuah cermin tua. Konon, kata sang penjual barang antik. Cermin ini mampu menunjukkan wajah asli sang pemilik.
Kanna meraba wajahnya. Sedari kecil, wajahnya terlihat buruk rupa. Dia-pun tertarik ingin mengetahui wajah aslinya tanpa parutan yang terlihat mengerikan itu.
Kanna merogoh uang tabungannnya, dan menyerahkan uang kepada penjual barang antik. Lalu, dia membawa pulang cermin itu dengan harapan dia mampu melihat rupa aslinya.
Tanggal 15, tepat bulan purnama.
Kanna bersiap diri meletakkan cermin di tengah dinding. Dia telah menyiapkan ritual untuk melihat sosok asli dirinya.
Kanna menghela napas. Memejamkan mata, dan membuka kelopak matanya pada sang cermin.
Cantik. Seorang wanita cantik terpantul dalam cermin.
Kanna menatap dirinya di cermin. Namun, yang terpantul bukanlah wajah dirinya. Melainkan sosok cantik yang terlihat nyaris sempurna bagai tokoh wanita di dalam dongeng.
Menatap sekali lagi dengan sirat mata yang terlihat berani menilai dan menangkap sosok yang terbingkai. Kanna ragu bahwa itu adalah dirinya.
"Siapa kamu?"
"Aku adalah dirimu!"
"Mengapa begitu cantik?"
"Aku cermin memantulkan hati. Bukan cermin memantulkan fisik."
Kanna mematung linglung. Merasa heran. Sekaligus terharu. Dia yang terlihat buruk rupa di setiap cermin. Kini, untuk pertama kalinya, dia menemukan sosok dirinya dalam cermin ajaib ini.
"Sangat cantik! Namun, sayang fisikku tidak seindah hatiku."
"Rupa boleh buruk rupa. Namun, hati tidak boleh buruk pula. Kau boleh letakkan daun telinga di sisi kiri kanan kepalamu. Namun, tidak boleh meletakkan di sisi kiri kanan hatimu. Agar hatimu terus berbahagia."
"Terimakasih cermin ajaib. Telah menunjukan siapa diriku."
"Berbanggalah untuk hati yang kau miliki. Bukan fisik yang kau miliki. Dunia boleh membelimu. Namun, hati tidak boleh kau perjualbelikan."
Prankkk! Cermin itupun meretakkan dirnya dan pecah berserak ke lantai.
Kanna terkejut sesaat. Sepasang matanya hanya membingkai setiap serpihan cermin. Dia memungut salah satu serpihan paling besar, dan berkaca sekali lagi.
Jelek. Tidak cantik. Terlihat buruk rupa.
Kanna menghela napas. Kini, cermin hanya memantulkan rupa fisiknya, bukan hatinya lagi.
"Aku boleh tidak sempurna. Namun, hatiku harus tetap baik."
***
Tamat!