Plak!
Suara tamparan menggema di belakang gedung sekolah yang sepi. Aluna merasakan pipinya yang memanas akibat tamparan seorang cewek yang tidak dikenalnya. Aluna diam, tidak membalas. Lagi, tamparan itu kembali mampir di pipi kanannya menyebabkan ujung bibirnya robek. Aluna menatap cewek itu dengan datar.
"Udah?" tanya Aluna mengelap ujung bibirnya, lalu dia sengaja meludahi wajah cewek didepannya.
"Lo gila, hah?" pekik cewek itu.
"Lo sendiri nggak sadar kalo gila?"
Cewek itu hendak melayangkan tamparan lagi. Namun, dengan cepat Aluna menahan tangan cewek itu.
"Bisa gantian sekarang?" tanya Aluna tersenyum miring.
Teman-teman cewek itu mulai bersikap waspada. Aluna menendang perut cewek itu hingga mundur beberapa langkah.
"Gue nggak paham lo ngomong apa tadi," ucap Aluna mengorek telinga kirinya. "Bisa lo ulangi lagi?"
Aluna mencengkeram rahang cewek itu, menancapkan kuku-kuku panjangnya. Sementara cewek itu sudah berlinangan air mata, wajahnya sangat ketakutan saat ini. Merasa menyesal telah mengusik seorang Aluna.
"Lo bilang gue rebut apa?"
"L...lo rebut Niko dari gue. Lo tau kalo Niko pacar gue...."
Aluna tertawa keras mendengar ucapan dari cewek yang masih dia cengkeram.
"Sayang cowok seganteng Niko dianggurin gitu aja. Lagipula, kayaknya dia udah bosen sama lo."
"Kalian cuma mau jadi patung, hah? Bantuin gue cepet!" teriak cewek itu pada teman-temannya.
"Pengecut lo!" umpat Aluna.
Dengan takut-takut, para teman cewek itu maju menyerang Aluna. Mereka berpikir, mereka akan menang karena Aluna hanya seorang diri tanpa ada yang membantu. Sementara Aluna tertawa melihat mereka. Aluna melepas cengkeraman di rahang cewek itu dan kembali berdiri.
"Serang gue dari mana aja," ucap Aluna merentangkan kedua tangannya. "Oh ya, kalian mau berantem dengan cara cewek, kan?"
Para cewek itu mengabaikan ucapan Aluna. Mereka mulai maju menyerangnya. Ada yang berusaha menjambak serta menampar Aluna. Namun, Aluna berhasil menghindar. Lalu dengan mudah dia membalas semua serangan mereka. Tangannya dengan mudah menjambak serta kakinya aktif menendang.
"Aluna!" panggil sebuah suara.
Beberapa orang cowok berlari menghampiri mereka. Sementara Aluna mendengus kesal melihat kedatangan mereka. Mereka sangat mengganggu bagi Aluna.
"Niko! Lihat cewek bar-bar itu jahatin aku," adu cewek yang tadi melabrak Aluna.
"Lun, kamu nggak papa? Pipi sama bibir kamu luka, ayo ke rumah sakit sekarang."
"Ckck, ganggu aja lo."
Aluna segera berlalu dari sana tanpa mempedulikan mereka. Melihat hal itu, Niko spontan mengejar sang pacar. Cowok itu menahan lengan Aluna, membuat mau tidak mau cewek itu menghentikan langkahnya.
"Apa?" tanya Aluna malas.
"Obatin dulu luka kamu."
"Nggak us..., heh! Gila lo?" pekik Aluna merasakan sakit dipergelangan tangannya.
Niko memaksanya agar mengikuti langkah cowok itu. Tentu Aluna tidak tinggal diam, dia sudah merencanakan hendak membanting Niko. Namun, rencananya ternyata sudah terbaca oleh cowok itu. Niko lebih dulu mengunci kedua tangan Aluna.
"Nurut sekali aja, Lun," ucap Niko.
Aluna mendengus malas dan kali ini mengalah. Dia dibawa Niko ke taman sekolah, entah apa yang akan dilakukan oleh cowok itu. Tidak lama seseorang datang membawa perlengkapan P3K.
"Gue bisa sendiri," ucap Aluna merebut obat merah dari tangan Niko.
"Kalian kenapa berantem? Nggak bisa dibicarain baik-baik?"
"Lucu lo," ledek Aluna.
Niko menghembuskan napasnya. Sepertinya hingga saat ini, dia masih belum mampu meluluhkan hati Aluna yang sekeras batu dan sedingin es. Cewek tomboy ini berhasil mencuri perhatiannya. Bahkan, dia rela meninggalkan mantan pacarnya dulu demi Aluna. Namun, dia tidak pernah menyesal.
Aluna, cewek kelas 12 yang sebentar lagi akan tamat SMA. Cewek yang hanya berteman dengan para cowok di sekolah ini. Jika ditanya apa alasannya, Aluna akan menjawab dia malas berteman dengan para cewek.
"Cewek itu munafik. Gue benci cara berantem para cewek."
"Emang lo bukan cewek?" tanya Roni salah seorang teman Aluna.
"Gue cewek, tapi gue nggak munafik. Kalo nggak suka ya bilang nggak suka. Bertele-tele hanya membuang waktu."
"Aluna! Ayo jadi pacar gue!"
"In your dream," jawab Aluna tersenyum miring.
Aluna dianggap parasit bagi sebagian warga sekolah. Keberadaannya benar-benar membuat resah semua orang. Hobinya memukul dan menendang, entah itu cowok atau cewek. Jika ada yang berani mengusiknya, dia tidak akan segan membalas dendam. Sudah beberapa orang berhasil Aluna kirim ke rumah sakit, juga sudah sangat sering dia mendapat skorsing dari pihak sekolah.
"Kamu nggak capek pakai topeng terus?" tanya Niko suatu hari.
Aluna menatap Niko, cowok pemegang sabuk hitam karate di sekolah. Parasnya yang tampan membuat kaum hawa tergila-gila padanya.
"Siapa pakai topeng?"
"Kamu," jawab Niko menatap dalam pada mata Aluna.
"Sok tau lo," ucap Aluna dan pergi meninggalkan cowok itu.
Niko tersenyum samar, dia sudah hapal sedikit kebiasaan seorang Aluna. Jika cewek itu merasa terdesak, dia akan kabur begitu saja atau segera mengalihkan topik pembicaraan.
Namun, Niko yakin jika Aluna bukanlah Aluna yang nampak seperti sekarang ini. Aluna yang hobi membully serta tak takut pada apapun. Niko yakin, jika cewek itu sedang menyembunyikan sesuatu. Sayangnya, hingga detik ini belum ada yang bisa masuk ke dalam kehidupan Aluna.
🌸🌸🌸