Sebenarnya semua yang dipikirkan Andi tentang Aurel itu tidak benar. Tapi karena gengsi tidak ingin diketahui Aurel bersikeras memainkan skenario geng pertemanannya. Padahal Aurel dan Andi sudah berteman sejak kecil. Semua itu rusak ketika mereka masuk ke geng si kembar Ray dan Rani. Yang mana Aurel bergabung ke geng cewek populer Rani dan Andi ke geng motor gedenya Ray.
Bagi mereka yang masuk ke kedua geng itu harus sederajat latar belakangnya dengan si kembar. Karena itu Aurel dan Andi saling curiga sebab mereka sudah tau seluk beluk masing-masing. Yap, mereka berdua kebalikan dari kualifikasi tersebut.
"Rani yang memohon padaku agar aku mau bergabung ke kelompoknya. Yah, aku mah ngak bisa nolak. Emang kek kamu,"
"Hei, kau kira aku yang meminta mereka untuk bergabung?"
"Tentu saja! Kau bahkan tidak punya moge untuk dikendarain. Yah kalau pun dah bergabung, pasti Cuma jadi pesuruh."
"Haish! Tutup mulutmu! Kita lihat aja siapa yang sebenarnya pesuruh di pesta malam nanti!"
Jika boleh jujur Aurel lah yang menjadi pesuruhnya. Rani memang memintanya bergabung dengan syarat dia harus memberi contekan dan membelikan makanan kekantin. Rani bisa tahan semua itu, kecuali...
"Jadi begitulah, kuenya gue beli di toko pinggir jalan. Semua toko roti yang terkenal itu tutup. Dan ternyata itu toko orangtuanya Aurel. Heh... gimana ya, gue pasrah aja sih udah mepet soalnya. Soalnya kualitas dan kebersihannya itu loh. Ih, tokonya aja kecil banget, harganya bahkan murahan. Astaga! Pasti,"
Brak!!
"Lo kira bikin kue kek ginian ngak pakai uang?!
Hah!!!"
PRANG!!!
Dan... Aurel berakhir dikeluarkan dari pesta dan tentu saja, gengnya. Aurel hampir menangis namun ditahannya saat melihat Andi yang mendadak keluar pesta seperti dia.
"Aku... Cuma, nyari udara segar. Yah, udara segar, di dalam pengap." Alibi Aurel. Andi mengangkat alisnya satu, terus menatapnya penuh selidik. "Eh, heh... baiklah, aku menyerah. Sebenarnya aku hanya kutu buku diantara puteri di sana. Semua itu kebohongan, lalu aku ngamuk dan... begitulah."
"Hem... aku juga sama."
"Apa?"
"Semua yang kubilang juga kebohongan untuk membuatmu iri. Tapi ternyata kita tak ada bedanya. Mereka menghinaku karena bau oli padahal sudah susah-susah aku memperbaiki moge mereka. Jadi aku tonjok aja mereka." Jelas Andi yang membuat Aurel tertawa kecil. Ia jadi enggan untuk menangis. "Bagaimana... kalau kita ke markas AA kita? Pamanku lagi panen durian di sana."
"Wah, aku kaget kau masih ingat nama markas kita. AA."
"Tentu saja. Itu sejuta kali lebih menyenangkan dibanding kumpulan badut yang mengaku punya moge tapi tidak bisa menaikinya."
"Dan kumpulan princess yang songongnya minta ampun. Padahal pembagian dan perkalian aja belum lulus. Huh! Kurasa... nama kita bakal terkenal ke satu sekolah besok."
"Tidak masalah sih, kapan lagi jadi artis dadakan. Yekan," Kata Andi enteng yang membuat Aurel lagi-lagi tersenyum. Sambil berjalan bersebelah mereka pergi dengan canda tawa mereka. Seperti dulu. Tidak akan, tidak akan lagi berpisah.
....