Keiro, pria yang duduk di bangku SMA itu memiliki kepintaran yang sangat baik. Sayang, penampilannya yang berkacamata selalu diejek cupu oleh teman-temannya.
Bahkan, tidak ada satupun wanita di sekolahnya yang ingin mendekat padanya. Cintanya pada seorang bunga sekolah terhalang fisik dan harta. Wanita yang cantik dan kaya itu menolak dirinya mentah-mentah karena ia berbeda jauh dengan tipe wanita bernama Cyelin itu.
"Bang, jujur nih ya! pantes aja abang dibilang cupu, penampilan aja kayak kakek lampir gitu. Kalau kacamatanya di lepas, dijamin deh ga kayak cupu lagi!" seru Desy, adik Keiro.
Keiro menatap tajam adiknya, tapi ia hanya bisa terdiam dan tidak menjawab. Setelah itu, Keiro meninggalkan adiknya pergi ke halte untuk menaiki bus menuju sekolah.
"Ish Abang...dibilangin gak nurut!" gumam Desy.
Sesampainya di sekolah..
"Weh lihat tuh anak cupu, udah di bully habis-habisan kan waktu itu sama geng Robi? Eh masih berani banget dateng ke sekolah" bisik salah satu wanita pada temannya.
"Iya yah, emang gak punya malu tuh" sahut temannya.
Geng Robi yang datang menghampiri Keiro tiba-tiba saja menghajar Keiro habis-habisan. Tapi, berbeda dari biasanya, Keiro bisa menghajar mereka sampai babak belur dan tidak terluka sama sekali.
Kepala sekolah, yang merupakan ayah Robi yang mengetahui hal itu membuat ia marah dan menghukum Keiro untuk berdiri di tengah lapangan sampai jam sekolah selesai. Sementara geng Robi yang mengalami luka-luka di tubuhnya dibawa ke UKS untuk pengobatan.
Kringg...tak terasa, istirahat pun tiba. Semua murid keluar dari kelasnya ke kantin untuk jajan.
"Hei Kei!" teriak seorang gadis seumuran dengan Keiro, dialah Anna. Satu-satunya wanita yang mau berteman dengan Keiro.
"Nih lontong! Makan dulu nanti pingsan" ucap Anna.
"Gak makasih" Keiro menolak.
"Hey! Makanlah walau hanya satu! Kalau pingsan jangan salahkan aku"
"Hem, baiklah aku ambil tahu ini saja" jawab Keiro.
Anna juga membawakan botol Aqua yang masih dingin dan memberikannya pada Keiro.
"Nih, minumlah!" Ucap Anna lagi.
"Makasih" ucap Keiro.
Tak lama kemudian, istirahat selesai, dan setelah 6 jam berlalu sekolah pun juga ikut selesai. Semua murid pulang ke rumahnya dan hukuman untuk Keiro pun juga sudah selesai.
"Kei, mau pulang bareng gak? Kebetulan aku juga naik bus hari ini" tanya Anna.
"Boleh" jawab Kei datar.
"Hem itu, kakimu bengkak?" Tanya Anna.
"Ya sedikit" sahut Kei dingin.
"Ambil ini, oleskan di kakimu dijamin gak nyampe dua hari udah sembuh!" ucap Anna.
"Oh" jawab Keiro singkat sembari mengambil obat oles itu.
Keiro dan Anna pergi ke halte dan pulang ke rumah mereka.
Esok harinya...
Di sekolah, hari ini pulang lebih cepat karena sedang ada pembangunan di sekolah. Akan dibuat lapangan basket agar murid-murid lebih mudah belajar basket di sekolah.
"Woe main bola basket yok! Kan sekarang ada lapangan basket broo!" ajak Robi dengan percaya diri nya.
"Eh tapi bro, kan baru dibangun. Gapapa tuh kalo kita main disitu?" tanya Ledo, anak buah Robi.
"Gapapa lah! Ayah gue aja kepala sekolah disini! Jangan takut bro" ucap Robi.
Akhirnya, Robi dan ketiga anak buahnya pergi ke lapangan basket yang baru dibangun itu saat para pekerjanya sedang istirahat. Mereka bermain dengan senangnya disana.
Pak Jon yang melihat kelakuan empat pria itu berlari cepat menuju mereka. Bola basket yang memantul dari sana bisa saja terkena kepala orang lain, karena lapangan basket itu dekat dengan jalan tempat murid-murid pulang. Ditambah, banyak murid wanita yang menyaksikan idolanya bermain basket itu, yaitu Robi.
"Anak-anak! Keluar dari sana!" Teriak Pak Jon yang melihat keempat pria itu.
Pak Jon berusaha lari dan menghentikan mereka yang sedang asik bermain basket.
WUSHH...benar saja, bola basket terpental dan hampir mengenai kepala wanita disana, yaitu Cyelin.
TAP.. seorang pria tampan menangkap basket itu tepat di tangannya.
Pak Jon yang cemas pun merasa lega akan hal itu.
"Wahh tampan sekali, siapa namamu?" tanya para wanita disana termasuk Cyelin yang terus menggoda pria itu.
"Gajelas" ucap pria itu.
"Su-suaranya mirip..." Ucap salah seorang wanita.
Ya..dia adalah Keiro yang telah melepas kacamatanya sehingga terlihat sangat tampan itu.
"Gue Keiro!" Ucap Keiro memutar bola matanya.
"Hah? Kei?" Tanya Anna yang juga disana menemani temannya melihat Robi dan anak buah.
"Lo jangan ngaku-ngaku deh jadi Kei! Gak sebanding Lo sama Kei" bantah Anna.
"Terserah, orang gue emang Kei" ucap Keiro.
"Eumm, ganteng, kamu ganteng! Ada juga murid disini namanya Keiro tapi dia cupu heheh" ucap Cyelin sambil bergelayut manja.
"Najis, pergi Lo!" Ucap Keiro mendorong tubuh Cyelin
Keiro mengambil kacamata dari tasnya dan memakainya.
"Nih gue, Keiro!" Setelah melihat Keiro yang memakai kacamata, semua murid baru sadar...itu memang Keiro.
"Eh Lo beneran Keiro?" Tanya Anna.
"Ya, gue Keiro"
"Gak! Masa sih" Anna tampaknya masih kurang percaya.
"Atau..Lo orang yang suka bully Kei terus operasi? Jawab Lo, ngaku! Gajelas! Kei jauh lebih ganteng dari Lo najiss" ucap Anna.
Keiro menunjukan gelang yang Anna berikan padanya, Anna yang melihatnya lalu baru percaya dan mukanya memerah karena tadi secara tidak sadar dia memuji Keiro.
"O-oh iya, ya..yaudah gue pulang duluan, bye!" Ucap Anna yang masih malu.
"Na!" Panggil Keiro.
"Hum, ya?" Sahut Anna.
"Na, Lo mau jadi pacar gue gak?" Tanya Keiro.
DEGGG...
"Kei, Lo Jangan bercanda gak lucu"
"Gue serius, selama ini gue suka sama Lo tapi..gue jelek jadi takut Lo gak suka sama gue!" ucap Keiro.
"Eh mana mungkin! Gue terima Lo apa adanya kok, upss gawat!"
"Hum? Mau?" Tanya Keiro.
"I-iya deh"
Semua murid bersorak Sorai pada pasangan baru itu. Sementara, Robi buru-buru pergi karena merasa malu.
"Rob! Lo mau kemana?" Tanya Keiro.
"Gu-gue mau pulang!"
"Heh, malu ya?" Keiro tertawa kecil.
Robi tertunduk malu dan tidak bisa berkata apapun. Pada akhirnya, yang jahat akan selalu kalah.