Entah sudah berapa kali aku mematut diriku di depan cermin. Bahkan sepertinya cermin di kamarku ini sudah sangat bosan melihat wajahku. Aku masih merasa jika pakaian yang aku pakai saat ini masih belum sesuai. Ingin berganti baju lagi, tapi hari sudah siang dan aku tidak mau terlambat. Aku yang sedang membenarkan make up yang kupakai mendadak terhenti.
“Kenapa gue girang banget?” tanyaku mengernyitkan dahi. “Inget Marisa, ini cuma kencan bohongan.”
Benar, saat ini aku hanya diminta bersandiwara demi Kevandra. Bocah itu benar-benar membuatku pusing. Pertemuan pertama kami sangat tidak menguntungkan. Bocah itu tiba-tiba muncul dihadapanku dan berteriak jika aku adalah mamanya.
Aku terlonjak kaget saat mendengar suara klakson mobil yang dibunyikan dengan tidak sabaran. Dengusan keluar dari hidungku, aku segera mengambil tasku dan keluar. Tidak enak dengan para tetangga yang pastinya sangat terganggu dengan suara klakson itu.
“Mama!” teriak Kevandra memanggilku.
Aku tersenyum paksa mendengar panggilan itu. Segera masuk ke dalam mobil dengan ekspresi yang aneh.
“Lama! Kamu tidak bisa tepat waktu? Bagaimana kamu bisa menjadi karyawan saya kalau tidak bisa tepat waktu?” tanya pria di belakang kemudi dengan ekspresi datarnya.
“Maaf, Pak,” ucapku tidak ikhlas.
“Ayo, Pa. Kita berangkat, Kevan mau lihat ikan hiu,” ucap Kevandra riang.
Sepertinya aku harus berterimakasih pada bocah itu. Berkat Kevandra suasana menjadi sedikit lebih cair. Hari ini memang kmai berencana mengunjungi akuarium raksasa yang ada di kota ini. Sebenarnya aku tidak ingin ikut serta, karena hari liburku sangat berharga. Namun, desakan dari Kevandra membuatku luluh. Bocah lucu itu berhasil membuatku luluh. Tidak membutuhkan waktu yang lama hingga kami sampai di tempat ini. Akuarium ini cukup ramai karena hari ini memang hari libur.
“Ayo cepat! Kevan mau lihat ikan,” ucap Kevandra begitu turun dari mobil.
“Hati-hati, Kevan! Jangan lari-lari!” peringat pria itu yang tidak lain adalah atasanku di kantor. Kevin namanya, pria kaku tanpa ekspresi.
Kevandra segera menggandeng tanganku juga tangan Pak Kevin. Bocah itu menuntun kami masuk ke dalam akuarium. Jujur saja aku baru pertama kali ke tempat seperti ini. Setelah datang ke kota ini aku belum pernah berkeliling.
“Dasar anak itu! Hei! Sudah Papa bilang jangan lari-lari!”
Selama mengenal mereka berdua, hanya peringatan dan teriakan saja yang sering kudengar. Bahkan aku sempat berpikir jika mereka bukan ayah dan anak kandung. Namun, kemiripan keduanya mematahkan asumsiku itu.
Aku mengikuti langkah keduanya. Pak Kevin dan Kevandra kini sedang berdiri di depan sebuah akuarium yang berisi ikan pari raksasa. Kevandra digendong oleh Pak Kevin, mata bocah itu terlihat sangat senang. Mulutnya tidak berhenti mengoceh. Tiba-tiba saja hatiku terasa menghangat melihat pemandangan itu.
“Mama!”
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Pak Kevin.
Aku gelagapan karena sepertinya tertangkap basah sedang memperhatikan mereka berdua. Sementara Pak Kevin masih menatapku penuh tanda tanya.
“Ah, saya teringat laporan yang belum saya kerjakan.”
“Tinggalkan dulu pekerjaanmu di rumah.”
Aku hanya mengangguk. Beruntung aku segera terpikirkan alasan masuk akal. Kami berkeliling cukup lama di tempat ini. Kevandra jug terlihat sangat bahagia, tanpa sadar aku tersenyum melihat bocah itu tertawa riang.
“Papa dan Mama ayo berdiri di sana. Kevan mau foto Papa dan Mama,” ucap Kevandra tiba-tiba.
Bocah itu mendorongku dan juga Pak Kevin untuk berdiri di depan sebuah akuarium yang entah berisi ikan apa.
Akhirnya aku berdiri bersebelahan dengan Pak Kevin.mendadak suasana menjadi canggung. Aku menjaga jarak dengannya. Namun, kami sama-sama terkejut saat Kevan meraih tangan Pak Kevin dan meletakkannya di pinggangku. Aku terdiam kaku dan sedikit melirik pada pria di sebelahku ini.
“Aktingmu sangat buruk,” ucap Pak Kevin tersenyum miring. Sementara aku hanya mendengus, kuakui aktingku memang sangat payah.
“Mama! Hadap sini!” pinta Kevandra yang memegang ponsel milik Pak Kevin
“Besok ayo kita kencan lagi,” kata Pak Kevin.
“Hah?” Spontan aku menoleh menatap wajah Pak Kevin yang tatapannya mengarah lurus ke depan. Wajah kagetku sangat kentara bersamaan dengan blitz kamera yang menyilaukan.
♥️♥️♥️