Aku seorang yang sangat suka malam, malam memberiku ketenangan. Ketenangan dari penatnya pagi dan siang hari. Hari ini tepat tengah malam dan aku baru saja sampai rumah. Aku menatap langit yang terlihat cerah dengan taburan benda langit yang sangat indah.
Semua rasa lelahku sirna setelah melihat bintang-bintang itu bersinar terang. Aku segera masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Namun ketika hendak merebahkan tubuh, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kuraih ponsel yang selalu berada dekat tempat tidur. Aku membuka aplikasi note di ponsel. Menggulir layar untuk mencari agenda yang pernah kusimpan.
‘Hujan meteor Orionid tanggal 21 Oktober tahun XXXX.’
Aku kembali terduduk setelah membaca agenda itu. Ternyata hari ini akan ada hujan meteor. Salah satu informasi tentangku, aku juga seorang pemburu hujan meteor. Aku tidak akan pernah melewatkan hujan meteor di mana pun itu. Aku rela menghabiskan uangku untuk itu. Namun, semuanya akan terbayarkan ketika melihat cahaya-cahaya itu jatuh dari langit.
“Masih ada waktu,” gumamku.
Aku segera bersiap untuk menuju sebuah tempat yang paling pas untuk menyaksikan hujan meteor malam ini. Kali ini aku bisa melihat hujan meteor ini dengan mata telanjang tanpa memerlukan alat apapun.
Sebelum pergi aku sempatkan untuk mengirim beberapa kata pada seseorang. Seseorang yang selama beberapa tahun ini tidak pernah lagi kutahu kabarnya. Helaan napas keluar dari mulutku. Lagi-lagi hanya centang satu yang menandakan dia masih belum aktif. Fotonya juga tidak ada, sempat berpikir jika nomorku telah diblokir olehnya.
Namun, aku selalu berpikir positif. Kami tidak sedang bertengkar, jadi tidak mungkin jika dia tiba-tiba memblokir nomorku tanpa alasan. Dia bukan orang yang seperti itu. Mengabaikan rasa sedih karena teringat sosoknya, aku segera menuju tempat untuk menonton hujan meteor malam ini. Waktu yang paling pas untuk menyaksikan hujan meteor Orionid adalah pukul dua dini hari.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagiku untuk sampai di tempat ini. Tempat yang penuh dengan kenangan dan tentu saja menjadi tempat ternyamanku selain di rumah. Sebuah lahan kosong dengan ilalang yang tumbuh liar setinggi lutut. Walau begitu, tempat ini sangat bersih.
Cahaya dari mobilku adalah satu-satunya penerangan di sini. Aku duduk di sebuah kursi panjang yang berada tepat di bawah pohon. Kursi yang sudah usang, tapi maish kuat bertahan hingga saat ini. Aku kembali melihat ponselku, berharap dia membaca chat yang tadi aku kirimkan. Namun, nihil.
“Lagi-lagi aku harus menontonnya sendiri tanpa hadirmu,” gumamku.
Pikiranku segera teralihkan saat beberapa cahaya melewati langit. Aku mendongak, mataku berbinar melihat cahaya-cahaya itu. Ada sebuah senyum terbit dari bibirku, tapi dalam kepalaku ada sekelebat bayangan yang muncul. Bayangan beberapa tahun silam bersama dengan sosok cinta pertamaku. Tiba-tiba saja aku merindukannya. Dia yang tiba-tiba menghilang kini kurindukan kehadirannya. Teringat kembali momen ketika melihat hujan meteor bersama di tempat ini.
Kini hanya aku seorang diri di sini. Cahaya-cahaya itu masih terus terlihat, entah berapa ribu meteor yang sedang jatuh saat ini. Dalam hati aku berdoa, doa yang sama selalu aku minta. Berharap agar dirinya kembali bersamaku, sungguh aku snagat merindukannya.
“Lyra,” panggil sebuah suara.
Aku mendengar suara itu, suara yang sudah sangat kuhapal dan aku tidak akan pernah melupakannya. Kubuka mata yang sejak tadi tepejam, lalu aku mencari keberadaannya.
“Leo?”
“Maaf, telah membuatmu lama menunggu. Sekarang kita bisa melihat hujan meteor bersama lagi. Seperti dulu,” ucapnya disertai senyuman manis yang masih lekat dalam ingatanku.
Aku berdiri dan segera berlari memeluknya. Melebur semua rasa rinduku saat ini. Tidak penting lagi rasa penasaranku saat ini mengapa dia tiba-tiba pergi, karena yang terpenting saat ini adalah dirinya telah kembali lagi. Bersamaku.
🌠🌠🌠